"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Luka yang Tersembunyi
Mansion megah di puncak bukit itu kini berubah menjadi pangkalan militer yang mencekam. Begitu Maybach hitam yang membawa Xavier dan Aletta melewati gerbang, puluhan pengawal tambahan dengan senjata laras panjang sudah bersiaga di setiap sudut halaman. Lampu-lampu sorot raksasa dinyalakan, membedah kegelapan malam seolah tidak membiarkan ada satu pun celah bagi musuh untuk menyusup.
Xavier turun lebih dulu, lalu membimbing Aletta masuk ke dalam lobi utama dengan kawalan ketat dari Diego. Aura di sekitar Xavier kembali mendingin, memancarkan otoritas mutlak yang tidak boleh diganggu gugat.
"Bawa Nyonya ke kamarnya. Pastikan perimeter sayap kanan dijaga berlapis," perintah Xavier kepada Diego, suaranya terdengar datar namun sarat akan kelelahan yang disembunyikan.
Aletta menatap Xavier. Pria itu langsung berbalik, berniat melangkah menuju ruang kerjanya untuk memimpin operasi penghancuran Kartel El Cuervo. Namun, saat Xavier membelakanginya, mata tajam Aletta menangkap sesuatu yang ganjil pada setelan jas navy yang dikenakan suaminya.
Di bagian bahu belakang sebelah kiri, kain jas mahal itu tampak robek kecil. Dan di sana, warna biru gelap kain tersebut berubah menjadi noda basah berwarna hitam pekat yang perlahan melebar.
Itu darah.
"Xavier, tunggu," panggil Aletta spontan.
Langkah Xavier terhenti. Pria itu menoleh sedikit, menatap Aletta dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa, Aletta? Aku sedang sibuk."
Aletta melangkah mendekat, mengabaikan tatapan heran dari Diego. Tanpa permisi, tangan Aletta terulur menyentuh bahu kiri Xavier. Begitu jarinya merasakan kebasahan yang hangat dan anyir, Aletta menarik tangannya kembali. Telapak jalinya kini ternoda oleh darah segar.
"Kau terluka," bisik Aletta, matanya melebar. "Ini pasti terjadi saat kau mendekapku di butik tadi. Kau terkena pecahan kaca... atau peluru?"
Xavier melirik bahunya sendiri dengan tatapan acuh tak acuh, seolah luka itu hanyalah gigitan nyamuk yang tidak berarti. "Hanya goresan kecil. Bukan masalah besar. Kembali ke kamarmu, Aletta."
"Goresan kecil tidak akan membuat jasmu basah kuyup oleh darah seperti ini, Xavier!" sergah Aletta, amarahnya mendadak tersulut oleh sikap keras kepala pria itu. "Kau baru saja menjadikanku alasan untuk membantai sebuah kartel, tapi kau bahkan tidak peduli dengan nyawamu sendiri?"
Diego yang berdiri di dekat mereka berdeham pelan. "Tuan Xavier, peluru penembak jitu tadi berjenis kaliber besar. Pecahan kaca yang hancur akibat tekanan itu memiliki daya robek yang kuat. Anda harus segera diobati."
"Aku bilang tidak apa-apa, Diego. Urus saja pelabuhan," potong Xavier dengan nada memperingatkan.
"Diego, bawa kotak p3k ke kamar Xavier sekarang," sela Aletta dengan nada suara yang tidak kalah mutlak. Ia menatap Xavier dengan sorot menantang. "Kau bilang aku harus mematuhimu, kan? Sekarang aku mematuhimu untuk naik ke atas. Tapi kau harus ikut denganku dan mengobati luka itu. Aku tidak mau berutang nyawa pada seorang iblis."
Xavier menatap istri kecilnya cukup lama. Di bawah pendar lampu lobi, mata kelabunya yang tajam tampak sedikit terkejut melihat keberanian dan... secercah kepedulian yang tersembunyi di balik mata indah Aletta.
Sudut bibir Xavier perlahan melengkung tipis. "Baiklah. Jika itu yang diinginkan oleh istriku."
Di dalam kamar pribadi Xavier—ruangan yang jauh lebih luas dan bernuansa gelap daripada kamar Aletta—keheningan kembali merayap. Xavier duduk di tepi ranjang setelah melepaskan jas dan kemejanya, menyisakan tubuh bagian atasnya yang telanjang.
Aletta yang memegang kotak p3k sempat terpaku di ambang pintu. Tubuh Xavier dipenuhi oleh otot-otot yang keras, namun yang membuat napas Aletta tertahan adalah banyaknya bekas luka tembak dan sayatan pisau yang menghiasi kulit pria itu. Tato naga hitam di lengannya tampak seolah sedang menjaga seluruh luka perang tersebut.
Dan di bahu kiri Xavier, terdapat robekan menganga sepanjang sepuluh sentimeter akibat pecahan kaca tajam yang tebal. Darah masih mengalir perlahan dari sana.
Aletta menarik napas panjang, menguatkan hatinya, lalu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Xavier. Dengan teliti dan lembut, ia mulai membersihkan darah di sekitar luka menggunakan kapas beralkohol.
Xavier sama sekali tidak melenguh atau meringis. Pria itu justru memiringkan kepalanya, menatap wajah Aletta yang sedang fokus mengobatinya dari jarak yang sangat dekat.
"Tanganmu sangat lembut," bisik Xavier tiba-tiba, suaranya terdengar serak di dalam keheningan kamar. "Biasanya, orang-orang yang menyentuh kulitku hanya ingin menancapkan pisau atau mencabut nyawaku."
Aletta menghentikan gerakannya sejenak, menatap mata kelabu Xavier. "Mungkin karena kau memang pantas mendapatkannya atas semua kekejamanmu."
Xavier terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang menggetarkan dada bidangnya. "Kau benar. Aku memang pantas mendapatkannya. Tapi malam ini, aku terluka karena melindungimu. Apakah kau merasa bersalah, Nona Aletta?"
Aletta kembali melanjutkan tugasnya, menekan sedikit obat antiseptik ke luka Xavier hingga pria itu akhirnya menggeram tertahan.
"Aku tidak merasa bersalah," ucap Aletta tegas, meski tangannya bergerak sangat hati-hati saat mulai membalut luka itu dengan perban bersih. "Tapi aku tahu arti tahu diri. Kau terluka karena menjadikanku tameng. Anggap saja ini caraku melunasi utang budi itu."
Setelah selesai memasang plester terakhir, Aletta berniat bangkit berdiri untuk merapikan kotak obat. Namun, sebelum ia sempat menjauh, tangan besar Xavier yang hangat menangkup pergelangan tangannya dengan cepat.
Xavier menarik tubuh Aletta hingga gadis itu terduduk kembali di atas ranjang, tepat di hadapannya. Xavier menundukkan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Mata kelabu pria itu berkilat oleh emosi yang sangat pekat dan posesif.
"Kau bisa menolakku sesukamu, Aletta. Kau bisa membangun dinding setinggi langit di hatimu," bisik Xavier, ibu jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Aletta yang terpasang cincin berlian biru. "Tapi setiap kali kau merawatku seperti ini, kau hanya sedang memperdalam belenggumu sendiri. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Ingat itu."
Aletta menatap bibir pria itu, merasakan deru napas hangat Xavier yang memabukkan. Di dalam kamar yang sunyi itu, di tengah kepungan dunia luar yang penuh darah, Aletta menyadari bahwa benteng pertahanan hatinya tidak lagi sekadar retak. Benteng itu... sedang perlahan runtuh di hadapan sang iblis.