NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertarungan Rio vs Dika

Kembali ke masa kini, di bawah naungan pohon beringin, Dinda menatap Bara dengan mata berbinar campur kagum dan cemas.

"Lo beneran mikirin semuanya sampai sedetail itu ya, Bang?" bisik Dinda pelan. "Sampe jalur air, sampe guru, sampe Gilang diajak... gue jadi tenang dikit. Tapi... lo yakin Rio bisa ngalahin Dika? Dika itu gila kuatnya lho."

Bara menghela napas panjang, matanya tertuju lekat pada punggung Rio yang tampak kecil di tengah lapangan luas itu. Ada kekhawatiran di sana, tapi lebih banyak lagi keyakinan.

"Gue gak tau, Din," jawab Bara jujur, suaranya pelan namun tegas. "Secara fisik, Rio kalah jauh. Dika itu punya massa otot tiga kali lipat Rio. Pukulan dia bisa ngerobohin tembok bata. Tapi... Rio punya sesuatu yang gak punya Dika, gak punya kita semua. Rio punya ketenangan. Dia punya kendali diri yang gila. Dika bertarung pake emosi, pake nafsu menang. Rio bertarung pake logika, pake insting, pake prinsip. Dan satu lagi... Rio berantem bukan buat gengsi, tapi buat melindungi orang yang dia sayang. Itu bahan bakar tenaga yang gak ada habisnya."

Tiba-tiba, Dika mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Suasana seketika hening mutlak. Bahkan suara jangkrik seolah berhenti berbunyi.

Dika menatap Rio, senyum lebar mengembang di bibirnya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seolah menantang angin.

"Oke, Rio! Ini saatnya!" seru Dika dengan suara lantang yang menggema ke seluruh penjuru lapangan. "Aturan gue tetep berlaku: satu lawan satu, gak ada bantuan, gak ada senjata. Yang nyerah atau gak bisa bangun lagi... dia kalah. Yang kalah... dia harus nurut sama pemenang. Gilang udah ada di sana di pinggir, dia jadi saksi dan wasit. Gilang yang bakal mutusin kapan berhenti. Setuju?!"

Rio mengangguk pelan, mengubah posisi kakinya sedikit, membuka kuda-kuda dasar yang sederhana namun kokoh. Matanya mengunci pergerakan bahu dan pinggang Dika, mencari celah sekecil apa pun.

"Setuju, Bang Dika. Gue siap," jawab Rio tenang.

Dika tertawa keras, lalu perlahan-lahan senyum itu hilang, digantikan oleh ekspresi serius yang mengerikan. Aura kebesaran dan kekuatan murni meledak dari tubuhnya.

"BAGUS! MULAI DARI SEKARANG... GAK ADA KAWAN, GAK ADA KELAS, GAK ADA KELompOK... CUMA ADA DUA LAKI-LAKI YANG PENGEN TAU SIAPA YANG LEBIH KUAT! MULAI!"

Bersamaan dengan teriakan itu, Dika yang bertubuh raksasa itu melesat maju dengan kecepatan yang sama sekali tidak terduga dari ukuran badannya. Ia tidak berjalan, ia berlari. Langkahnya panjang, berat, dan cepat. Dalam sekejap mata, ia sudah berada tepat di depan wajah Rio. Tangan kanannya yang besar mengepal keras, terayun ke atas dengan gerakan memutar, menghantam ke arah rahang Rio dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan tulang pipi orang biasa.

DUK!

Suara hantaman keras terdengar... tapi tidak mengenai apa-apa. Rio sudah tidak ada di sana. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat mata, Rio meluncur mundur selangkah, menghindar persis di saat yang paling kritis, membiarkan kepalan tangan Dika menghantam udara kosong, hanya menyisakan hembusan angin kencang yang menerpa wajah Rio.

Di balik pohon, Dinda menutup mulutnya dengan tangan, napasnya tertahan karena kaget.

"Gila... cepet banget Dika lari-nya! Hampir aja Rio kena!"

Bara diam saja, matanya tidak berkedip. Ia melihat sesuatu yang lain. Ia melihat bagaimana Rio menghindar bukan dengan panik, tapi dengan perhitungan. Rio mundur bukan ke belakang jauh-jauh, tapi cukup sejengkal saja, tetap berada dalam jangkauan serangan balik.

Dika sedikit terkejut, tapi rasa kaget itu langsung berubah menjadi semangat yang membara. Dia tidak marah karena serangannya meleset, dia malah senang.

"Bagus! HINDARAN YANG BAGUS!" teriak Dika antusias. "Tapi lo kira cuma segitu doang kemampuan gue? Cobain ini!"

Tanpa memberi waktu bernapas, Dika menyerang lagi, kali ini dengan rentetan pukulan bertubi-tubi. Kiri, kanan, atas, bawah. Gerakannya kasar, besar, dan sangat kuat. Setiap pukulan yang meleset menimbulkan suara angin yang berdesing mengerikan. Rio terus bergerak, melangkah miring, menunduk, memiringkan badan, bergeser ke kiri dan kanan. Dia seperti daun kering yang terombang-ambing di depan badai. Dika adalah badainya—besar, kuat, dan menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Namun Rio... Rio terus bertahan, tidak tersentuh sedikit pun.

Di atas atap gudang, pengintai memberi kode tangan: "AMAN. BELUM ADA GERAKAN MENCURIGAKAN DARI LUAR."

Namun Bara tidak lengah. Dia tahu, semakin lama pertarungan berlangsung, semakin lelah Rio, semakin besar kemungkinan Raka berani keluar dari persembunyiannya.

Saat Dika mengayunkan pukulan kanan terkuatnya, Rio melihat celah itu. Saat tangan kanan Dika melaju ke depan, sisi kiri tubuhnya terbuka lebar karena keseimbangannya terbuang ke kanan. Rio tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melangkah masuk ke dalam jangkauan serangan, lebih dekat dari sebelumnya, terlalu dekat bagi orang biasa, tapi jarang sempurna bagi Rio.

Dengan kecepatan kilat, tangan kiri Rio menepis lengan Dika ke samping, sementara tangan kanannya mengepal dan meluncur lurus ke depan, menghantam tepat ke ulu hati Dika—titik pusat keseimbangan dan pernapasan.

PLAK!

Suara hantaman padat terdengar jelas. Tubuh raksasa Dika tersentak hebat, matanya membelalak kaget dan kesakitan. Napasnya seolah terputus seketika. Ia mundur terhuyung dua langkah ke belakang, tangannya mencengkeram dadanya, menatap Rio dengan tatapan tak percaya.

Satu pukulan itu tidak melukai parah, tapi efeknya luar biasa. Dika sadar betul: kalau Rio mau, pukulan itu bisa dia arahkan ke rahang, ke leher, atau ke bagian vital lain. Rio memilih ulu hati untuk melumpuhkan napas, bukan untuk melukai parah. Itu tanda bahwa Rio bisa saja menjatuhkannya kapan saja, tapi masih menghargainya sebagai lawan.

"GILA...!" gumam Dika terengah, wajahnya mulai memerah bukan karena marah, tapi karena rasa hormat yang tumbuh. "Lo nahan tenaga lo ya? Lo bisa aja mukul muka gue tadi kan?!"

Rio masih dalam posisi kuda-kuda, napasnya sedikit memburu namun masih teratur. Wajahnya tenang.

"Gue gak mau nyakitin lo parah, Bang. Lo lawan yang jantan. Gue cuma mau ngebuktiin kalau lo gak bisa ngalahin gue cuma pake tenaga doang."

Kata-kata itu memicu api semangat yang lebih besar di dada Dika. Rasa hormat berubah menjadi tekad baja. Dika melempar sisa kewaspadaannya. Dia tahu dia tidak bisa menang dengan cara biasa. Dia harus mengerahkan segalanya.

"MAKIN BAGUS!!" teriak Dika, suaranya menggelegar. "KALO GITU... GUE GAK AKAN NAHAN TENAGA GUE LAGI! LO HARUS PAKAI SEGALANYA YANG LO PUNYA, RIO! KARENA GUE UDAH SIAP NGELUARIN SEGALANYA!"

Kali ini Dika tidak menyerang dengan pukulan. Dia menundukkan badannya sedikit, merentangkan tangannya lebar-lebar, lalu melesat maju seperti banteng yang mengamuk. Dia mau menabrak, mau menangkap, mau menjepit Rio dengan pelukan beruangnya yang mematikan. Jika Rio tertangkap di lengan Dika, pertarungan selesai saat itu juga. Tidak ada manusia yang bisa melepaskan diri dari cengkeraman otot baja milik Dika.

Rio menyadari bahaya itu. Dia tidak bisa menghindar selamanya, dan dia tidak bisa menahan kekuatan tabrakan itu. Dia harus mengubah strategi. Dia harus membalikkan kekuatan Dika sendiri melawan Dika.

Di balik pepohonan, Bara mulai tegang. Dia melihat bayangan-bayangan samar mulai bergerak di pinggir hutan, di luar pagar sekolah. Bara mengenali gaya berjalan itu. Itu anak buah Rian, anggota Serigala Abu-abu. Mereka mulai berani mendekat, melihat pertarungan semakin panas dan Rio semakin dekat dengan kemenangan.

Bara mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat rahasia ke pasukan cadangan di belakang. Kode itu berbunyi: "SIAP-SIAP. MUSUH SUDAH DEKAT."

"Rio... ayo... sadar... momen ini..." bisik Bara pelan, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

Di lapangan, jarak antara Dika dan Rio tinggal tiga meter, dua meter... Satu meter! Dika melompat sedikit, berusaha menangkap bahu Rio. Namun saat itulah, Rio tidak mundur. Dia justru melangkah maju, masuk tepat ke titik buta di bawah dada Dika. Dia menangkupkan kedua tangannya, menekuk lututnya, dan menggunakan momentum lari Dika itu sendiri. Dengan gerakan memutar yang cepat dan presisi, Rio mengaitkan pinggangnya ke pinggang Dika, memanfaatkan hukum keseimbangan, dan—

BRUK!!

Suara benturan dahsyat mengguncang seluruh lapangan. Tubuh raksasa Dika, yang beratnya hampir dua kali lipat Rio, terangkat melayang di udara, berputar di atas punggung Rio, dan jatuh menimpa lantai semen dengan keras sekali. Debu beterbangan tinggi menutupi pandangan.

Keheningan mutlak terjadi. Angin seolah berhenti berhembus. Seluruh anggota Singa Hitam terpaku, mulut menganga tak percaya. Di pinggir lapangan, Gilang yang menjadi saksi, matanya terbelalak kaget sampai kacamatanya hampir melorot.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!