Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Heh! Kamu pasti yang cerita sama Tante Wulan, kan, kalau aku lagi hamil?"
Vina baru saja memarkirkan motornya di depan warung, ketika Disa ngomel-ngomel. Vina bingung, kenapa Disa selalu langsung memarahinya saat ia datang? Padahal dalam waktu tiga hari ini, mereka tidak bertemu.
"Kenapa sih kamu, Dis? Kesurupan?" sahut Vina santai sambil mengambil duduk di salah satu bangku. Kebetulan, warung sore itu sedang dalam keadaan sepi. Vina pun datang masih memakai seragam kerjanya.
"Kesurupan kesurupan!" Disa melotot. "Kamu tuh mulutnya ember banget!"
"Coba jelasin pelan-pelan," pinta Vina. Ia mengambil satu gorengan bakwan, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Mulut Disa terbuka, ingin menjelaskan masalah yang membuatnya marah, namun Vina mencegahnya dengan berkata, "bentar! Bikinin aku es teh dulu dong, Dis, haus banget nih."
"Haish!" Disa mendengkus. Meskipun jengkel, Disa tetap membuatkan minuman untuk Vina karena sore ini Disa kebagian jatah menjaga warung.
"Ibu di mana, Dis, kok nggak keliatan?" tanya Vina.
"Lagi kondangan."
"Yahh... Padahal aku mau beli pecel."
"Ntar aku yang buatin."
"Ah gak mau!"
Jawaban Vina itu membuat Disa menoleh cepat dengan kening mengernyit. Kenapa tidak mau?
"Bikinan kamu sama bikinan ibu itu beda. Enakan bikinan ibu, bumbunya banyak, lebih kerasa," tutur Vina menjelaskan alasannya mengapa ia tidak mau dibuatkan pecel oleh Disa.
"Sialan!" desis Disa. Ia meletakkan segelas es teh yang baru saja ia buat di depan Vina.
Vina tergelak. "Hahaha. Jadi, kenapa kamu marah-marah? Sini ngomong sama aku kenapa? Siapa yang bikin marah?"
Disa mulai menjelaskan, "Tante Wulan tau kalau aku lagi hamil. Pasti kamu, kan, yang ngasih tau," tuding Disa.
Ooh, rupanya itu? Vina angguk-angguk kepala tanpa merasa berdosa. "Iya," akunya.
"Ember banget sih kamu tuh! kenapa coba ngasih tau ke Tante Wulan segala?"
"Lho emang kenapa? Orang-orang nantinya juga bakalan tau kalau kamu hamil, Dis. Perutmu itu udah mulai kelihatan, gak bakal bisa kamu sembunyikan terus," kata Vina membela dirinya sendiri.
"iya sih," Disa mendesah. "Tapi tetep aja aku jadi malu."
"Malu kenapa? Wong kamu hamil juga pas udah nikah, ada suami, nggak hamil di luar pernikahan. Ngapain malu?"
"Ya masalahnya .... " Disa mendadak berhenti. Ragu-ragu untuk menjelaskan kalau yang membuat ia malu bukan karena Tante Wulan, melainkan karena Rayyan. Gara-gara itu, Rayyan jadi tahu kalau Disa sudah cerai dalam keadaan bunting.
"Masalahnya apa?" ulang Vina sambil mengunyah goreng ketiga yang baru saja ia ambil.
"Ah, gak papa," Disa mengibaskan tangannya. Malu juga mengakui sebab akibatnya karena Rayyan.
"Dih, gak jelas," cibir Vina.
Orang yang baru saja Disa pikirkan, tiba-tiba muncul di warung. Dengan baju santainya dan celana pendek. Disa terkejut, sempat merasa takut Rayyan mempunyai indera ke enam yang bisa membaca pikiran seseorang.
Untungnya Disa ingat, Rayyan manusia normal biasa yang tidak memiliki keistimewaan seperti yang Disa takutkan.
"Hai," sapa Rayyan.
"Halo Captain Rayyan," balas Vina sekaligus menggoda Rayyan tipis-tipis. Vina tahu, Rayyan akan merasa salah tingkah kalau ada orang-orang di tempat tinggalnya yang memanggilnya kapten.
"Apaan sih," Rayyan berdecak, melirik Vina malas, lalu berbicara dengan Disa, "Ibu di mana, Dis?"
Disa mendadak gugup, "Eum ... Itu, ibuk lagi kondangan. Kamu mau beli sesuatu?"
"Kamu bisa bikinnya?"
"Apa dulu?"
"Nasi ayam goreng."
"Kalau itu bisa. Bentar ya. Berapa Ray?"
"Dua porsi, ya."
"Oke."
Kalau untuk ayam goreng, ibunya sudah menyediakan stoknya. Disa hanya perlu membungkus lalapan dan sambalnya, kemudian memasukkan ke dalam styrofoam.
Rayyan duduk di sebelah Vina. Langsung saja Vina puas-puas menggodanya.
"Masih di rumah, Capt?"
"Hmmm."
"Belum berangkat lagi, Capt?"
"Belum."
"Pramugarinya cantik-cantik nggak, Capt? Pasti ada nih salah satu pramugari yang diincar," Vina terkikik.
Rayyan melirik perempuan sekaligus teman masa kecilnya ini tajam, namun tidak tajam-tajam banget.
"Atau jangan-jangan lo punya pacar pramugari lagi? Iya? Berapa? Dua? Tiga?"
Tidak tahan, Rayyan menjitak kepala Vina yang suka seenaknya kalau bicara. Vina langsung meringis dan mengusap-usap kepalanya.
"Gue bukan pemain wanita asal lo tau."
"Hehehehehe, bercanda, captain."
Disa sudah selesai membuat makanan pesanannya Rayyan. Dua porsi nasi ayam itu sudah terbungkus di dalam styrofoam yang kemudian dimasukkan ke dalam plastik.
"Ray, ini pesanan kamu." Disa berkata sambil meletakkan pesanan Rayyan di meja.
"Berapa, Dis? Harga teman kan ya?"
"Iyeee, sama kamu jadi lima ratus ribu aja."
"Kalau harga mantan berapa?" sela Vina.
"Lima juta!"
"Cieeeee, kalian manggilnya aku kamu nih ye," Vina lagi-lagi menemukan celah untuk menggoda Disa dan Rayyan. Disa dan Rayyan kompak memutar kedua bola mata.
"Cie kompak banget. Jangan-jangan jodoh lagi."
Kali ini kedua sejoli itu sama-sama melototi Vina. Kompak memilih untuk mengabaikan kehadiran Vina.
"Ini, Dis, uangnya," Rayyan memberikan uang lima puluh ribuan.
"Makasih ya, Ray."
"Sama-sama. Dis, aku boleh minta nomor hape kamu?"
"Boleh kok, boleh, boleh banget malah!" Yang berseru menjawab adalah Vina, bukan Disa. Dia mewakilkan Disa, mengeluarkan ponselnya lalu mencari nomor Disa. Menyuruh Rayyan untuk segera mencatatnya.
"Jangan lupa chat dan telpon Disa every night ya," pesan Vina setelah Rayyan selesai menyalin nomor Disa di ponselnya sendiri.
Tanpa berkata-kata lagi, Rayyan segera pergi dengan wajah yang merah padam.
Disa? Tidak tahu harus bagaimana, dia hanya diam. Vina meraih gelas es tehnya, mulai minum lewat sedotan. Namun, saat segarnya es teh menyapa mulutnya, Vina langsung melepehkannya.
"Kok rasanya aneh gini sih, Dis? Kamu ngerjain aku ya!" tuding Vina.
Disa tergelak. "Makanya jangan suka isengin orang."
"Sialan! Bukan es teh manis tapi ini es teh asin."
Kurang ajar Disa. Bukannya mencampurkan gula pasir di minumannya, ia malah mencampurkannya dengan garam.
*
Cakra sedang dalam perjalanan keluar dari gedung kantornya bersama Hadrian. Keduanya baru memasuki lift ketika Cakra dikejutkan dengan pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari papanya.
"Kamu nggak pernah ketemu sama Disa, Cak?"
"Enggak," jawab Cakra ragu-ragu. Ada apa papanya tiba-tiba menanyakan Disa? Iya, Cakra tahu, Disa adalah menantu kesayangan Hadrian. Pria itu sangat menyayangkan Cakra yang memilih melepas Disa dan mempertahankan Risa.
"Nggak apa-apa. Jangan kaget nanti kalau ketemu sama Disa, ya," pesan Hadrian sambil tersenyum miring.
Cakra mengernyit, tidak mengerti. "Emangnya kenapa? Ada apa sama Disa?"
Hadrian mengangkat kedua bahunya. "Pokoknya jangan kaget aja nanti kalau ketemu sama Disa," ulangnya, sambil mengingat saat ia tidak sengaja bertemu dengan Disa di klinik. Dikarenakan hamil kembar, perut Disa sudah kelihatan membuncit meskipun kehamilannya masih berusia muda.
Gara-gara perkataan misterius papanya, Cakra jadi penasaran dengan kehidupan Disa yang sekarang. Apa sesuatu telah terjadi pada mantan istrinya itu? Semenjak mereka resmi bercerai, Cakra sama sekali tidak pernah bertemu dengan Disa baik sengaja maupun tidak disengaja.
Sidang akhir perceraian mereka, menjadi hari terakhir Cakra melihat Disa.
Cakra menghampiri mobilnya, Hadrian pun sama, ia membawa mobil sendiri. Dan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing.
Cakra terheran saat melihat Risa. Ini sudah satu minggu semenjak mereka membeli perhiasan yang Risa mau. Tetapi, Cakra tak pernah sekali pun melihat Risa memakai kalung tersebut.
"Kalungnya nggak pernah kamu pakai?" tanya Cakra saat Risa sedang membuatkan minuman untuknya.
Perlahan, kepala Risa menoleh. "Mmm... Emang belum aku pakai, Mas."
"Kenapa nggak dipakai? Dipakai dong, kamu yang milih sendiri kan itu."
"Iya besok aku pakai, Mas."
"Pakai malam ini, aku mau liat," tandas Cakra.
Risa menegang.
...****************...
lanjut g pake lama
pokonya jngn sampe disa celaka
AYO TAKBIR
biarin kebalik ke risa
risa aja tuh ya dibikin keguguran
biar g ba punya anak