NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: DINDING KACA DI ATAS RANJANG

DINDING KACA DI ATAS RANJANG

​Lampu kristal di langit-langit kamar utama sudah dimatikan, menyisakan lampu tidur di sisi ranjang yang membiaskan cahaya jingga temaram. Suasana sunyi, hanya suara putaran pendingin ruangan yang mendengung halus. Aris sudah berbaring, punggungnya menghadap Amira, terbungkus selimut sutra kelabu. Ia tampak sudah memejamkan mata, namun napasnya yang tidak teratur menandakan ia belum benar-benar terlelap.

​Amira duduk di tepi ranjang. Ia baru saja selesai mengoleskan losion ke tangannya yang kasar, berusaha menghilangkan bau bawang yang seolah sudah menyatu dengan pori-porinya. Ia menatap punggung suaminya dengan tatapan rindu yang menyayat.

​"Mas..." panggil Amira lirih. Suaranya pecah di tengah keheningan malam.

​Aris tidak bergerak, namun ia menghela napas panjang—tipe helaan napas yang menunjukkan keberatan karena istirahatnya diganggu. "Apa lagi, Mir? Ini sudah jam sebelas. Aku harus bangun pagi besok."

​Amira memberanikan diri. Ia bergeser sedikit mendekat, meletakkan tangannya di bahu Aris, namun suaminya itu sedikit bergeming seolah menolak sentuhan itu.

​"Mas, boleh kita bicara sebentar? Sepertinya sudah lama sekali kita tidak benar-benar mengobrol sejak Lista masuk ke kantor," ucap Amira, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil.

​Aris membalikkan badannya, menatap Amira dengan mata yang nampak lelah dan sedikit kesal. "Mau bicara apa? Soal Ibu lagi? Soal piring yang belum dicuci?"

​"Bukan, Mas. Soal kita," Amira menatap langsung ke mata Aris. "Soal anak... Ibu terus-terusan menyudutkanku, Mas. Aku tahu kita sudah berusaha, tapi aku merasa sendirian menghadapi tuntutan Ibu. Kamu tidak pernah benar-benar ada di sampingku saat Ibu mulai bicara kasar."

​Aris memijat pangkal hidungnya. "Mir, kamu tahu Ibu itu orangnya bagaimana. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri saja. Lagipula, mungkin Ibu benar. Kamu terlalu stres di rumah. Makanya belum jadi-jadi."

​Hati Amira mencelos. Terlalu stres di rumah? Siapa yang membuat stres itu kalau bukan ibunya?

​"Kalau begitu, Mas... biarkan aku bekerja lagi," pinta Amira mendadak. Matanya berbinar penuh harapan. "Sebelum kita menikah, aku punya karier yang bagus. Aku bisa membantu di kantor, atau mungkin aku bisa kembali mengurus riset pasar untuk produk baru Snack kita. Kamu ingat kan, Mas? Varian kripik tempe pedas yang jadi best seller tahun lalu itu adalah hasil racikan riset yang aku buat di dapur ini."

​Wajah Aris seketika mengeras. Ia bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk bersandar di kepala ranjang. "Bekerja? Mir, lupakan itu. Ibu tidak akan setuju. Istri seorang Aris Pratama tidak perlu berkeringat di kantor. Tugasmu itu di rumah, mengurus Ibu, mengurus rumah ini. Soal riset pasar, sekarang sudah ada departemennya sendiri. Sudah ada Lista yang jauh lebih paham tren anak muda zaman sekarang."

​"Tapi Mas, aku yang membangun pondasi riset itu bersamamu dari nol! Sebelum kita punya gedung kantor mewah itu, aku yang menghitung margin keuntungan tiap kemasannya di meja makan ini! Aku tahu seluk beluk operasional Snack kita, Mas. Aku merasa otakku mulai tumpul karena hanya digunakan untuk memikirkan menu arisan Ibu."

​"Cukup, Amira!" Aris meninggikan suaranya satu oktavi. "Kamu mulai cerewet. Kamu itu kenapa sih? Iri dengan Lista karena dia lebih berguna di kantor? Kamu merasa tersaingi?"

​Amira tertegun. "Tersaingi? Mas, dia itu sepupuku. Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu. Saat kita adalah tim. Akhir-akhir ini kamu dingin sekali. Kamu pulang malam, langsung tidur, atau kalau tidak, kamu bicara soal kerjaan dengan Lista lewat telepon di balkon. Aku ini siapa, Mas? Istrimu atau hanya pengurus rumah?"

​"Kamu istriku! Tapi kalau kamu terus-terusan menuntut dan membanding-bandingkan diri dengan orang yang bekerja keras, aku jadi pusing!" Aris turun dari ranjang, ia berjalan menuju meja rias dan mengambil botol parfumnya, menyemprotkannya ke pergelangan tangan dengan kasar seolah ingin membuang aroma Amira dari hidungnya.

​"Bagaimana kemajuan kerja sama dengan distributor di Jawa Timur, Mas?" tanya Amira tiba-tiba, berusaha mengganti topik ke hal yang lebih teknis. "Aku dengar mereka minta potongan margin lima persen. Kalau kamu berikan itu, cash flow kita akan terganggu di kuartal kedua karena biaya bahan baku sedang naik."

​Aris berbalik dengan tatapan tak percaya. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Dari mana kamu tahu soal margin lima persen itu? Itu rahasia perusahaan, Amira!"

​Amira sedikit gugup. "Aku... aku tidak sengaja melihat berkasnya di meja kerjamu kemarin saat membersihkan debu. Mas, saran aku, jangan berikan potongan itu. Lebih baik tawarkan sistem buy one get one untuk produk baru, itu akan menekan biaya promosi tanpa merusak margin utama."

​Aris justru tertawa sinis. Tawa yang sangat menyakitkan bagi Amira. "Oh, jadi sekarang kamu merasa lebih pintar dari aku? Lebih pintar dari tim analis kantor? Mir, urus saja rendangmu di dapur. Urusan margin, distributor, dan strategi itu urusan laki-laki. Kamu itu cuma lihat sekilas, jangan merasa sudah jadi ahli."

​"Tapi Mas, dulu kamu selalu dengar saranku..."

​"Itu DULU! Saat perusahaan kita masih kecil!" potong Aris tajam. "Sekarang perusahaan ini sudah besar. Tantangannya beda. Jangan sok tahu. Kamu itu sudah ketinggalan zaman. Kamu tidak tahu apa-apa soal dunia luar."

​Amira terdiam seribu bahasa. Ia menatap Aris yang kini kembali ke ranjang dan menarik selimutnya dengan kasar sampai ke dada. Aris memunggunginya lagi, seolah ada dinding beton yang tiba-tiba tumbuh di antara mereka.

​"Matikan lampunya. Aku mau tidur. Jangan buat aku pusing dengan kecerewetanmu yang tidak penting itu," gumam Aris dingin.

​Amira perlahan mematikan lampu tidur. Kegelapan menyergap. Ia berbaring di sisi ranjang yang paling pinggir, takut menyentuh kulit suaminya yang kini terasa seperti orang asing.

​Air mata Amira mengalir dalam diam, membasahi bantal sutranya. Ia teringat bagaimana dulu ia merelakan tabungan masa depannya untuk modal awal usaha Snack suaminya. Ia teringat bagaimana ia begadang menyusun proposal bisnis saat Aris hampir menyerah.

​Tanpa andil Amira, Snack Pratama mungkin tidak akan pernah ada. Namun sekarang, setelah semuanya sukses, Amira justru dianggap sebagai gangguan. Sebuah beban yang cerewet dan tidak tahu apa-apa.

​Di tengah isak tangisnya yang tertahan, Amira teringat ucapan Lista tadi sore di dapur. “Mas Aris suka perempuan yang segar.”

​Amira tersadar satu hal. Sepertinya, Aris bukan hanya menyukai perempuan yang segar, tapi Aris juga mulai menyukai pikiran yang "segar"—pikiran yang ia temukan pada diri Lista, wanita yang sengaja mencitrakan diri sebagai sosok cerdas namun tetap "tunduk" padanya.

​Malam itu, di kamar yang mewah itu, Amira menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan kasih sayang suaminya, tapi juga kehilangan pengakuan atas identitasnya sendiri. Dan yang paling menakutkan adalah, ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan di balik bayang-bayang rumahnya sendiri sebelum Lista benar-benar menarik Aris keluar dari jangkauannya selamanya.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!