Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Hal Kecil yang Membuat Sesak
Supermarket pagi itu tidak terlalu ramai. Lagu pelan terdengar dari speaker atas, bercampur suara roda troli dan beberapa orang yang sibuk memilih kebutuhan mereka masing-masing.
Ana berjalan pelan sambil mendorong troli yang sudah hampir penuh.
Ia sedang sibuk membandingkan harga beberapa bahan pokok dan bahan kue untuk toko kecilnya. Sesekali wanita itu membuka catatan di ponselnya lalu kembali menghitung sesuatu pelan.
Tanpa Ana sadari…
sedari tadi ada seseorang yang terus mengikutinya dari kejauhan.
Damar.
Pria itu berdiri di ujung lorong supermarket sambil memperhatikan kakaknya diam-diam.
Dan entah kenapa… semakin lama melihat Ana, dadanya semakin terasa sesak.
“Aduh…” Ana menghela napas kecil sambil mengambil dua kotak susu lalu memasukkannya ke troli. “Ternyata susu adek naik lagi harganya.”
Ia mengomel sendiri pelan sambil kembali menghitung total belanjaannya.
Damar yang mendengar itu langsung menunduk diam.
Sakit.
Karena dulu… Dariela bahkan tidak pernah perlu memikirkan harga barang sedikit pun.
Namun sekarang wanita itu harus menghitung diskon satu per satu demi kebutuhan rumah dan kedua anaknya.
Tiba-tiba suara ponsel Damar berbunyi.
Pria itu refleks menjauh sedikit sebelum Ana menyadari keberadaannya.
Saat melihat nama penelepon di layar, Damar langsung menghela napas panjang.
Asisten pribadinya.
“Ya?” jawab Damar pelan.
“Halo, Tuan. Apa urusan Tuan sudah selesai?” suara asistennya terdengar mengeluh dari seberang sana. “Saya di sini diganggu terus sama Nyonya. Beliau nanya Tuan ada di mana.”
Damar memijat pelipisnya pelan.
Lagi-lagi bundanya mencarinya.
“Bilang aja saya lagi ada urusan penting.” suara Damar terdengar lelah. “Sebentar lagi juga pulang.”
“Baik, Tuan.”
Telepon pun dimatikan.
Saat Damar kembali mencari Ana, wanita itu ternyata sudah berada di depan kasir dengan beberapa kantong belanja besar di tangannya.
“Ya ampun…” Ana mengeluh kecil sambil melihat semua belanjaannya. “Ternyata banyak juga. Tau gitu ngajak anak-anak biar bisa bantu.”
Damar langsung berjalan mendekat sambil sedikit menundukkan topinya agar wajahnya tidak terlalu terlihat.
“Biar saya bantu, Mbak.”
Ana langsung menoleh kaget.
“Eh? Nggak usah, nanti malah repot.”
Namun sebelum Ana sempat menolak lagi, Damar sudah lebih dulu mengambil beberapa kantong belanjaannya.
Gerakannya cepat dan terbiasa.
Ana hanya bisa berkedip bingung beberapa detik sebelum ikut berjalan di samping pria asing tersebut keluar supermarket.
Sesampainya di depan, Damar langsung mengangkat tangan menghentikan sebuah taksi yang lewat.
Ana langsung panik kecil.
“Eh? Kan aku nggak naik taksi…” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Namun kalimat itu terdengar jelas oleh Damar.
Pria itu menoleh pelan.
“Memangnya Mbak naik mobil sendiri?” tanyanya hati-hati.
Ana terkekeh kecil sambil menggeleng.
“Enggak. Saya biasa naik bus.”
Tatapan Damar langsung jatuh pada kantong belanja yang cukup banyak di tangan wanita itu.
“Dengan belanja sebanyak ini?” ucapnya pelan.
Ana ikut melihat belanjaannya lalu tertawa kecil malu.
“Eh… iya juga ya.”
Beberapa detik kemudian ia akhirnya mengangguk kecil.
“Yaudah deh, saya naik taksi aja.”
Ana menatap Damar sambil tersenyum sopan.
“Terima kasih banyak ya, Pak.”
Wanita itu sedikit menundukkan kepala sebelum masuk ke dalam taksi bersama belanjaannya.
Dan Damar… hanya berdiri diam di luar.
Matanya terus memperhatikan mobil itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Damar sadar satu hal.
Kakaknya benar-benar hidup tanpa mereka selama ini.