Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
“Tuan, tersenyumlah sedikit. Kau terlihat sangat canggung,” bisik Zara di sela-sela senyum lebarnya.
“Aku benci lampu-lampu bodoh ini,” geram Benedict rendah, nyaris tidak terdengar di tengah hiruk pikuk wartawan.
“Mr. Franklin tolong lebih dekat dengan istrimu!” teriak salah satu fotografer.
Mendengar itu, Zara semakin mempererat gandengannya dan sengaja memberikan pose yang lebih intim, memaksa Benedict untuk tetap berdiri di bawah kilat flash. Benedict bisa merasakan keuangannya tubuh Zara yang begitu dekat dengannya.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya berhasil melewati barisan pers dan masuk ke dalam aula gala yang megah. Begitu pintu tertutup, Benedict langsung menarik napas panjang dan melonggarkan sedikit kerah kemejanya yang terasa mencekik.
“Bukankah kau terlalu berlebihan tadi?,” ucap Benedict tajam.
Zara mengedikkan bahunya dengan santai. “Aku hanya melakukan apa yang kau minta,” sahut Zara. “Istri yang terlihat mencintai suaminya, ingat?”
Sebelum sempat Benedict membalas, seorang usher dengan sarung tangan putih menghampiri mereka.
“Mr. Franklin, meja anda sudah siap di barisan depan. Mari saya antar.”
Mereka diarahkan menuju aula utama yang memiliki langit-langit setinggi katedral yang megah. Meja mereka tepat di depan panggung utama.
Acara inti malam itu adalah lelang amal. Namun bagi para elite, ini bukan sekedar tentang menyumbang, tapi ini adalah panggung untuk memamerkan siapa yang memiliki taring paling tajam.
Lampu perlahan meredup, menyisakan cahaya yang fokus pada juru lelang di panggung.
“Barang ke sepuluh malam ini,” seru juru lelang dengan nada dramatis.
“Kalung Hope diamond atau blue hope, berlian biru paling langka dan legendaris di dunia. Kita mulai dari tiga ratus juta dolar.”
Suasana ruangan mendadak panas. Angka-angka bertentangan. Seorang pria bernama Henry terus menaikkan penawaran hingga angkat tiga ratus dua puluh juta dolar. Pria itu melirik ke arah meja Benedict dengan senyum menantang.
Sementara Benedict sama sekali tidak menoleh. Ia bahkan tidak menyentuh papan tawaran di mejanya. Ia hanya memberikan isyarat kecil, hanya sedikit anggukan kepala ke arah Luca yang berdiri di belakangnya.
“Tiga ratus dua puluh lima juta dolar,” ucap Luca dengan suara bariton, mewakili tuannya.
Ruangan itu seketika hening. Henry, yang mulai terpojok, mencoba menaikkan lagi. Namun, sebelum juru lelang sempat menyelesaikan hitungannya, Luca kembali bersuara atas perintah isyarat mata Benedict.
“Tiga ratus lima puluh juta dolar” ucap Luca.
Angkat itu melonjak begitu jauh hingga menciptakan gumaman kaget di seluruh ruangan. Henry terdiam, wajahnya memerah padam, dan ia perlahan menurunkan papan tawarannya.
Benedict tetap diam, menyesap wine nya dengan gerakan elegan, seolah uang tiga ratus lima puluh juta dolar hanyalah butiran debu di lengannya.
“Tiga ratus lima puluh juta dolar! Terjual kepada Mr. Franklin!”
Semua orang bertepuk tangan. Juru lelang kemudian mengumumkan sesuatu yang akan membuat Zara terkejut.
“Sesuai permintaan khusus Mr. Franklin, perhiasan ini akan langsung dipakaikan kepada Mrs. Franklin di tempat, sebagai bentuk apresiasi tertinggi malam ini.”
Zara menoleh ke arah Benedict, matanya membelalak tak percaya.
“Apa yang kau lakukan? Tiga ratus lima puluh juta dolar hanya untuk sebuah kalung?” bisiknya dengan nada panik yang tertahan. “Kau gila?.”
“Dunia harus tahu bahwa aku memperlakukanmu bak seorang ratu, Zara” sahut Benedict datar.
Benedict berdiri saat seorang asisten membawakan kotak beludru hitam berisi berlian biru yang berkilauan itu ke meja mereka.
Benedict mengambil kalung itu, lalu melangkah ke belakang kursi Zara. Ruangan itu mendadak sunyi, semua orang menahan napas menyaksikan momen tersebut.
Saat ia mengunci kaitan perak kalung itu, Benedict menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Zara.
“Harga ‘rantai’ 'ini sangat mahal bukan? jadi jangan berpikir kau bisa melepaskan diri dariku,” bisik Benedict sangat pelan, suaranya serak dan dalam.
Zara terdiam. Ia merasa berlian itu dingin dan berat di lehernya. Juru lelang tidak membiarkan Benedict kembali duduk begitu saja, ia mengarahkan perhatian seluruh aula pada sang pemenang lelang.
“Mr. Franklin, sebagai donatur utama malam ini, publik tentu ingin mendengar satu dua patah kaya dari anda.”
Benedict menerima mikrofon dengan gerakan tenang dan penuh wibawa. Ia berdiri tegak di samping kursi Zara, satu tangannya dengan posesif bertumpu pada sandaran kursi istrinya. seluruh ruangan mendadak sunyi senyap.
“Donasi ini adalah untuk tujuan amal yang kita dukung malam ini, dan kalung ini….. telah menemukan tempat yang tepat”
Benedic menjeda kalimatnya. Ia menunduk perlahan, menatap tepat ke arah Zara yang juga sedang menatapnya.
“Kalung ini bukan di maksudkan untuk disimpan dalam kotak kaca, melainkan untuk melingkar di leher istriku. Di situlah tempat yang seharusnya.”
“Terima kasih atas malam yang luar biasa. Mari kita lanjutkan acaranya” ia menyerahkan kembali mikrofon tersebut.
Riuh tepuk tangan kembali pecah, jauh lebih keras dari sebelumnya. Mereka berbisik kagum, terpesona oleh cara Benedict memuja istrinya. Mereka mengira itu adalah pernyataan cinta yang paling menakjubkan.
Setelah lelang selesai, sesi jamuan dimulai. Aula itu kini dipenuhi dengan suara denting gelas kristal. Benedict segera dikerumuni oleh pria-pria berjas hitam yang ingin membahas investasi atau sekedar mencari perhatiannya.
Zara setia berdiri di sampingnya, meski perlahan rasa bosan mulai merayap. Ia harus terus mempertahankan senyumnya, mengangguk pada sapaan orang-orang yang bahkan tidak ia kenal namanya.
Setelah hampir satu jam, Zara memutuskan untuk sedikit menjauh ke sisi meja yang lebih sepi saat Benedict sedang serius menanggapi seorang senator.
Seorang perempuan muda, mungkin seumuran dengannya, mendekat dengan langkah anggun. Ia mengenakan gaun koktail merah.
“Pemandangan yang luar biasa di panggung tadi,” ucap perempuan itu ramah.
“Jennifer. Jennifer Vanderbuilt,” ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan.
“Zara,” jawab Zara pendek, menjabat tangannya.
“Aku tahu siapa kau, seluruh ruangan ini tahu,” Jennifer terkekeh pelan, menyesap wine nya sambil menatap lurus ke arah Benedict.
Ia kembali menoleh pada Zara. “Aku hampir pingsan melihat berlian itu. Tapi lebih dari itu, aku iri melihat bagaimana pria sedingin Benedict Franklin bisa menatap seseorang seperti itu.”
Zara tertawa kecil. “Dia sangat pandai membuat kejutan.”
Tatapan Jennifer menyapu wajah Zara dengan teliti. “Kau sangat cantik, Zara. Benar-benar mempesona. Sejujurnya, New York sempat gempar karena mendengar Benedict menikah.”
“Tapi melihatmu secara langsung malam ini, aku jadi mengerti. Wajar saja jika pria dengan….. preferensi berbeda seperti Benedict akhirnya memutuskan untuk menyerah dan menikah. Siapa pun pasti akan goyah melihat kecantikanmu.”
Zara tertegun. Ia memegang gelasnya lebih erat. “Preferensi berbeda? Apa maksudmu?”
Jennifer hanya tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah Benedict yang masih dikelilingi kolega pria, lalu kembali menatap Zara dengan tatapan penuh arti.