Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Yakin Zira?
Xander melangkah keluar dari kamarnya dengan gerakan perlahan, ia berniat pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokannya terasa sangat kering malam ini, seolah rasa haus itu tak bisa lagi ditoleransi, sementara persediaan air di teko kamarnya sudah habis tak bersisa. Maka, di tengah kesunyian malam yang merayap, ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah.
Namun, seperti kebiasaannya setiap kali terbangun di tengah malam, langkah kaki Xander tidak langsung menuju dapur. Ia membelokkan arah menuju kamar cucu kembarnya. Ia ingin menengok keadaan kedua bayi mungil itu, memastikan mereka terlelap dengan nyaman tanpa gangguan nyamuk atau selimut yang tersingkap.
Cklek!
Perlahan dan penuh kehati-hatian, Xander membuka pintu kamar. Telinganya yang tajam langsung menangkap suara gemerincing mainan yang sangat ia kenali. Pria paruh baya itu tersenyum tipis, ia sudah tahu siapa pelakunya. Dengan langkah ringan, ia mendekati salah satu ranjang bayi dan melihat sesosok bayi mungil yang sedang membelakanginya, sibuk menggoyangkan mainan di tangannya seolah sedang berpesta sendirian di tengah kegelapan.
"Rey, kok belum tidur?" suara berat Xander yang rendah memenuhi ruangan.
Bayi itu tersentak kaget. Tubuh mungilnya berputar cepat, menoleh menatap sang kakek yang tiba-tiba saja muncul di samping ranjangnya. Untungnya, bocah itu tidak menangis. Sebaliknya, ia justru memberikan senyuman lebar hingga gusi merahnya yang tanpa gigi itu terlihat dengan jelas.
"Kenapa? Kebangun lagi yah?" Xander meraih tubuh gembul itu ke dalam gendongannya. Ia mengecup gemas pipi bulat sang cucu dan membiarkan tangan kecil Reynard memainkan ujung bajunya.
Reynard Axel Lergan memang punya kebiasaan unik, selalu terbangun tepat di tengah malam. Xander seolah sudah hafal dengan ritme cucunya ini. Bagusnya, Reynard bukan tipe bayi yang rewel setelah terbangun. Ia hanya akan sibuk dengan mainan atau benda-benda di sekitarnya sampai rasa kantuk kembali menjemputnya secara alami. Xander pernah mengira Reynard lapar, tapi ketika disodorkan botol susu, bayi itu justru menolak dengan tegas.
"Ikut Opa yuk," ajak Xander pelan. Pria itu membawa sang cucu keluar kamar, berniat membawanya ke ruang keluarga sambil menanti bayi itu mengantuk lagi.
Namun, saat kakinya baru saja menapak di lantai bawah, matanya menangkap pemandangan yang tidak terduga. Pintu utama terbuka, dan dari sana terlihat Kayden serta Zira berjalan masuk. Mereka berjalan bersisian dengan jemari yang saling bertautan erat, ditambah senyuman yang merekah begitu cerah di wajah keduanya.
"Kalian?" ucap Xander yang seketika membuat langkah Kayden dan Zira terhenti mendadak.
Zira yang terkejut refleks mencoba menarik tangannya karena merasa canggung tertangkap basah oleh sang ayah. Namun, Kayden justru mempererat genggamannya, menahan jemari Zira dengan kuat seolah sedang bermaksud sesuatu.
"Aku sudah melamar Zira secara pribadi, Yah," ucap Kayden dengan nada lantang yang membuat Xander terbelalak kaget bukan main.
"Apa?" Xander hampir saja melepaskan pegangannya pada Reynard jika saja ia tidak waspada.
Zira menatap Kayden dengan penuh kecemasan. Ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan hal sebesar itu, apalagi di tengah malam buta saat ayahnya baru saja bangun. Namun, Kayden sepertinya sudah tidak peduli lagi. Pria itu sudah bulat dengan pilihan hatinya.
"Aku akan menikahi Zira sebentar lagi, Yah," tegas Kayden lagi.
"Sadar dengan apa yang kamu katakan, Kayden? Usia kalian terlampau jauh!" Xander mencoba mengingatkan dengan nada tertahan, takut suaranya akan membangunkan penghuni rumah yang lain.
"Aku sangat sadar."
"Lalu, kenapa kamu melakukannya? Zira ... Zira itu anak Ayah. Dia keponakanmu secara silsilah keluarga besar. Kita ini sepupu, Kayden!" ucap Xander dengan tatapan tak percaya, mencoba mencari celah agar logika Kayden kembali bekerja.
"Zira tidak punya hubungan darah sedikit pun dengan Ayah, dia putri sambungmu. Dan kita juga hanya sepupu, bukan saudara kandung. Tidak ada larangan agama maupun hukum, jadi tidak ada yang bisa melarang hal itu, bukan?" sahut Kayden dengan nada tegas yang menantang.
Xander terdiam seribu bahasa. Sebenarnya ia tahu sejak lama bahwa Kayden menyimpan perasaan khusus pada Zira. Namun, hubungan ini terasa begitu rumit di matanya. Ditambah fakta bahwa Zira lebih tua dari Kayden dengan jarak usia yang lumayan jauh. Belum lagi posisi Kayden sebagai pewaris tunggal keluarga besarnya yang pasti akan menuntut kehadiran seorang keturunan.
"Kay ...,"
"Aku mencintai Zira, dengan atau tanpa adanya keturunan nantinya. Aku paham betul akan risikonya, dan aku sendiri yang akan bicara serta meyakinkan keluarga besar pradipta," ucap Kayden dengan lantang, membuat Xander tak bisa lagi mendebat argumen pria itu.
Xander kemudian mengalihkan pandangannya pada Zira. Sorot matanya berubah lembut sekaligus penuh selidik. "Zira, apa kamu merasa terpaksa?"
Zira menggeleng pelan, ia menunduk dalam. "Aku ingin mencoba, Yah. Mencoba membuka hati dan mencintai Kay," lirihnya.
"Zira, pernikahan ini bukan ajang coba-coba," tegur Xander pelan.
"Ayah tidak suka sekali kalau aku dan Kak Zira menikah? Apa perjuanganku selama ini masih kurang untuk membuktikan bahwa aku layak ada di sisinya?!" sentak Kayden dengan penuh emosi. Amarahnya sedikit terpantik karena merasa tidak mendapat dukungan.
Xander akhirnya menatap Kayden dengan tajam, matanya berkilat penuh emosi. "Ayah hanya ingin memastikan jika putri kesayangan Ayah tidak hancur untuk kedua kalinya, Kay! Jika kelak persoalan anak kembali menjadi beban dan kalian harus berpisah, Ayah tidak akan bisa lagi hidup dengan tenang! Ayah tidak bisa melihat diri Ayah sendiri gagal menjaga kebahagiaan seorang putri yang sudah dititipkan pada Ayah!" seru Xander dengan suara yang sedikit meninggi.
Baby Rey yang berada dalam dekapan Xander sampai terdiam. Bayi itu menatap wajah kakeknya dengan tatapan penuh selidik, seolah sedang berusaha membaca ketegangan yang terjadi di antara orang-orang dewasa di hadapannya.
"Ayah ...," Air mata Zira akhirnya luruh. Ia merasa sangat tersentuh. Meskipun Xander bukan ayah kandungnya, namun cinta yang diberikan pria itu selama ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi tangki cintanya.
"Jika kamu memang percaya dengan kata hatimu, baiklah. Ayah hanya memintamu berpikir panjang sekali lagi. Ayah hanya ingin kamu bahagia, Zira," ucap Xander final. Ia melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, membawa Baby Rey yang mulai merengek karena merasa suasana di sekitarnya sedang tidak nyaman.
Zira berdiri terpaku, menatap punggung ayahnya yang menjauh dengan air mata yang terus mengalir. Hatinya campur aduk antara bahagia karena cinta Kayden dan sedih karena kekhawatiran ayahnya.
Kayden tersenyum lembut melihat kekalutan Zira. Ia mengelus puncak kepala Zira dan meng3cup keningnya dengan penuh perasaan. "Gak apa-apa, besok aku akan bicara lagi dengan Ayah dan meyakinkan keluargaku. Tenanglah," bisiknya menenangkan.
"Mana telol gulung Zayla?"
"Eh?!"
Suara mungil yang tiba-tiba muncul dari bawah membuat keduanya tersentak dan menoleh serentak. Terlihat Zayra yang baru saja bangun tidur, berdiri dengan rambut acak-adakan sambil menadahkan tangan mungilnya di depan Kayden.
"Telol gulung? Kapan nitipnya?" tanya Kayden bingung, mencoba mengingat-ingat.
Zayra membulatkan matanya, wajahnya langsung cemberut total. "OOOO BAPAK NDA BENEEEEEL! Tadi Zayla kan titip beli, eh ...,"
Anak itu tiba-tiba terdiam, ia tampak berpikir keras sambil mengerucutkan bibirnya dengan sangat gemas.
"Titipnya di mimpi tapi maca nda campai ke otak Papa," lirihnya dengan nada kecewa yang luar biasa. Ia menyadari bahwa ia hanya memesan telur gulung itu di dalam mimpinya sendiri.
Kayden dan Zira yang mendengarnya tak bisa lagi menahan tawa. Ketegangan yang tadi sempat menyelimuti ruangan seolah mencair begitu saja hanya karena polah ajaib Zayra. Kayden segera menggendong putrinya itu, mengakhiri malam yang penuh drama tersebut dengan sisa tawa di bibir mereka.
___________________
udh ga segan lg gendong anak org..