NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 pembataian dua penguasa dan tatapan dari langit tinggi

Debu kemerahan yang bercampur dengan abu hitam sisa pembakaran Puppet Iblis perlahan melayang jatuh, menodai lantai marmer arena yang kini telah hancur total. Di tengah kawah runtuhan tersebut, Yan Xinghe berdiri tegak. Tangan kanannya menggenggam santai gagang kulit *Pedang Berat Tanpa Bilah*. Guratan emas-merah di permukaan logam hitam itu berdenyut ritmis, memancarkan hawa panas yang mendistorsi udara di sekitarnya.

Suasana di Stadion Besar Aliansi sedemikian sunyi hingga suara angin yang bersiulan melewati celah tembok tribun terdengar jelas. Puluhan ribu penonton mematung. Otak mereka menolak memproses apa yang baru saja terjadi. Sebuah senjata hidup yang energinya setara dengan praktisi Alam Pembukaan Meridian Tingkat Puncak, hancur menjadi abu hanya dalam satu tebakan horizontal tanpa seni yang rumit.

Tantangan terbuka yang dilontarkan Xinghe bergema, menusuk ego dua penguasa tertinggi Kota Awan Mengambang.

Di tribun utama, Mu Canghai berdiri perlahan. Wajahnya yang biasanya dipenuhi kalkulasi politik kini sepenuhnya berubah menjadi topeng kemurkaan yang mengerikan. Seluruh helai rambutnya berdiri, memancarkan energi hitam pekat yang berbau busuk—esensi dari *Seni Iblis Tulang Hitam* yang baru saja ia pelajari. Kematian putra tunggalnya dan hancurnya aset terbesar keluarganya memastikan bahwa tidak ada lagi jalan mundur.

"Bocah Keparat..." suara Mu Canghai berat, menggetarkan pilar giok di belakangnya. "Hari ini, jika aku tidak menguliti dagingmu untuk dijadikan makanan anjing, aku bersumpah klan Mu akan menghapus namanya dari benua ini!"

*SWUSSH!*

Mu Canghai melompat dari atas tribun setinggi tiga puluh meter. Tubuhnya diselimuti kabut hitam kental, mendarat di sisi timur arena dengan dentuman yang membelah sisa-sisa batu granit.

Di sisi lain, Jian Feng, Ketua Sekte Pedang Angin Musim Gugur, menghela napas panjang. Sebagai pemimpin faksi bela diri terbesar, ia mencoba tetap rasional. Hanya saja, kehancuran murid nomor satunya, Jian Chen, dan penghinaan terhadap Tetua Jian Wu sebelumnya telah meruntuhkan wibawa sektenya hingga ke titik terendah. Jika ia membiarkan pemuda berjubah hitam ini berjalan keluar dari arena dalam keadaan hidup, Sekte Pedang tidak akan lagi memiliki hak untuk menarik upeti dari kota ini.

Jian Feng mencabut pedang panjangnya. Bilah pedang itu tipis, transparan bagai kaca, memancarkan pendar cahaya kebiruan yang sangat dingin. Pusaran angin puyuh miniatur melingkari kakinya saat ia melayang turun dengan anggun, mendarat di sisi barat Xinghe.

Dua penguasa besar, dua praktisi di puncak kekuasaan lokal, kini mengepung seorang pemuda yang secara resmi hanya berada di Alam Penyempurnaan Tubuh. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Kota Awan Mengambang.

Lin Zheng yang menonton dari tribun Paviliun Awan Putih mencoba bangkit, tangannya meraba gagang senjatanya. "Muxue, siapkan pasukan pelindung. Kita tidak bisa membiarkan Penatua Yan dikeroyok secara hina seperti ini."

"Jangan bergerak, Ayah," Lin Muxue menahan pundak ayahnya, matanya menatap lurus ke arah punggung tegap Xinghe di tengah arena. Ada secercah keyakinan fanatik yang menyala di sepasang mata indahnya. "Penatua Yan bukan orang yang bertindak ceroboh. Jika dia menyuruh mereka turun bersama, itu berarti... di matanya, mereka berdua memang tidak lebih dari kerikil yang sama."

Di tengah arena, Xinghe melirik sekilas ke kiri dan ke kanan. Posturnya tetap rileks, pedang beratnya diturunkan hingga ujung tumpulnya menyentuh tanah, menciptakan parit kecil akibat beban lima ribu kati.

Di dalam tubuhnya, *Tubuh Fana Tanpa Cacat*—Tingkat Kesepuluh dari Penyempurnaan Tubuh—berputar di tingkat efisiensi maksimal. Sembilan Meridian Petir berlapis emas-biru mengalirkan energi campuran guntur dan api Gagak Emas dengan ritme yang sangat sinkron. Tidak ada rasa sesak atau kejang otot; keseimbangan Yin-Yang yang ia dapatkan dari Teratai Salju telah mengubah fisiknya menjadi wadah yang sempurna untuk menampung sisa kesadaran kaisarnya.

"Dua ahli meridian yang fondasinya keropos," batin Xinghe mengevaluasi musuhnya dengan kejam. "Yang satu memakan racun untuk meningkatkan tenaga, yang satu menggunakan teknik angin yang terlalu banyak hiasan visual. Menghadapi manusia-manusia seperti ini, satu ayunan murni sudah cukup."

"Mati!"

Mu Canghai tidak membuang waktu. Ia menerjang maju dengan kecepatan ledakan. Tangan kanannya berubah warna menjadi hitam pekat menyerupai cakar tengkorak, melepaskan jurus *Cakar Iblis Perobek Jiwa*. Kabut hitam yang dibawanya mengandung racun korosif yang sanggup melelehkan zirat besi hanya melalui kontak udara.

Di saat yang bersamaan, Jian Feng bergerak dari arah belakang Xinghe. Pedang tipisnya berputar cepat, menciptakan formasi *Sembilan Bilah Angin Musim Gugur*. Sembilan lintasan cahaya biru melesat dari sudut yang berbeda, mengunci semua titik mati pergerakan Xinghe. Serangan terkoordinasi ini memanfaatkan kelebihan jumlah; satu menekan dari depan dengan racun, satu mengeksekusi dari belakang dengan ketajaman.

Para penonton menahan napas, beberapa menutup mata, meyakini bahwa pemuda misterius itu akan segera terkoyak menjadi serpihan daging beracun.

Xinghe tidak melompat mundur. Kuda-kudanya tetap kokoh, kakinya seolah tertanam menembus inti bumi. Ia menarik pedang beratnya ke belakang menggunakan tangan kanan, membiarkan dadanya terbuka lebar menyambut Cakar Iblis Mu Canghai.

Saat cakar beracun itu hanya berjarak se jengkal dari ulu hatinya, Xinghe menghentakkan kaki kirinya ke depan.

**"Seni Pedang Berat: Hantaman Runtuhnya Gunung!"**

Ia tidak menebas horizontal. Xinghe mendorong pedang beratnya ke depan secara lurus, menggunakan permukaan datar ujung balok logam hitam itu seperti perisai bergerak yang membawa momentum ledakan.

*BUMMMM!*

Cakar hitam Mu Canghai menghantam permukaan datar *Meteorit Bintang Kegelapan*. Reaksi yang terjadi sungguh di luar perkiraan sang Kepala Keluarga Mu. Energi iblisnya tidak mampu mengikis logam dewa tersebut; sebaliknya, berat absolut lima ribu kati ditambah daya ledak *Tubuh Fana Tanpa Cacat* memantulkan kembali seluruh tenaganya secara instan.

Suara remuknya tulang rawan terdengar mengerikan. Seluruh jari tangan kanan Mu Canghai hancur, lengannya menekuk ke belakang secara tidak wajar hingga tulang siku menembus kulit rompi kulitnya. Pria paruh baya itu menjerit histeris, tubuh besarnya terlempar ke belakang layaknya karung beras yang bocor.

Xinghe tidak berhenti untuk menikmati kemenangannya. Tanpa membalikkan badan, ia memutar poros tubuhnya seratus delapan puluh derajat menggunakan tumit kaki kirinya sebagai tumpuan. Gerakan memutar ini membawa serta berat pedang besarnya, menciptakan pusaran angin guntur vertikal yang menyambut kedatangan sembilan bilah angin milik Jian Feng.

*PRANG! PRANG! PRANG!*

Sembilan lintasan cahaya biru itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan lingkaran pelindung pedang berat Xinghe. Jian Feng yang sedang meluncur turun membelalakkan mata ngeri melihat serangannya disapu bersih dengan begitu mudah. Belum sempat ia mengubah arah lintasannya di udara, bilah tumpul pedang hitam Xinghe telah melesat naik mengincar pinggangnya.

Dalam kepanikan mutlak, Jian Feng menggunakan teknik pelarian darurat, meledakkan setitik esensi darahnya untuk memaksakan tubuhnya bergeser tiga kaki ke atas di udara.

*ZRAASH!*

Pedang berat Xinghe meleset dari tubuh Jian Feng, sapuan angin tebalnya memotong jubah biru tua sang Ketua Sekte hingga robek menjadi dua, meninggalkan goresan memar kemerahan di sepanjang paha kanannya hanya karena tekanan udara.

Jian Feng mendarat dengan terhuyung-guh, napasnya memburu kacau, wajahnya dipenuhi keringat dingin. Dua tarikan napas penuh, dan dua penguasa kota telah dipaksa berada di ambang maut.

"Monster... dia benar-benar monster!" bisik seorang ketua keluarga kecil di tribun penonton, tubuhnya menggigil hebat.

Mu Canghai berjuang bangkit di ujung arena. Lengan kanannya hancur total, menggantung lemas mengeluarkan darah hitam berbau busuk. Kesadarannya telah dikuasai oleh kegilaan racun iblis. Ia merogoh cincin penyimpanannya menggunakan tangan kiri yang tersisa, mengeluarkan sebuah tengkorak kecil berwarna hitam yang memancarkan jeritan jiwa-jiwa mati.

"Yan Xinghe! Aku akan mengorbankan sisa umurku untuk mengutukmu ke neraka!" Mu Canghai menggigit lidahnya, menyemburkan darah segar ke atas tengkorak tersebut.

Tengkorak itu meledak, berubah menjadi awan hantu raksasa berbentuk iblis bawah tanah yang tingginya mencapai sepuluh meter. Iblis itu meraung, membawa hawa kematian murni yang membuat rumput dan tanaman di sekitar stadion layu seketika. Ini adalah *Kutukan Tulang Jiwa Mati*, serangan spiritual tingkat tinggi yang mengabaikan pertahanan fisik, langsung menghancurkan kesadaran target dari dalam.

Melihat serangan spiritual tersebut, Jian Feng juga mengambil keputusan ekstrem. Ia menyilangkan sisa pedangnya di depan dada, matanya memancarkan ketegasan murni.

"Seni Pedang Rahasia: Badai Pemusnah Sembilan Langit!"

Jian Feng memobilisasi seluruh energi Dantian di Alam Meridian Tingkat Sembilannya, menciptakan badai puyuh angin setinggi belasan meter yang mengurung tubuh Xinghe dari segala arah, bekerja sama dengan kutukan spiritual Mu Canghai untuk memastikan tidak ada rute pelarian.

Dua serangan terkuat dari dua faksi besar menyatu, menciptakan kiamat kecil di dalam Stadion Aliansi.

Yan Xinghe berdiri di pusat badai angin dan bayangan hantu kutukan. Caping bambunya telah terbang entah ke mana, menyingkap wajah pucatnya yang dihiasi senyum sinis sedingin es abadi.

"Serangan jiwa? Di hadapan Kaisar Pedang, berani-beraninya kau memamerkan mainan spiritual serendah ini?!"

Xinghe melepaskan pegangannya dari pedang beratnya, membiarkan senjata raksasa itu menancap dalam di marmer arena. Kedua tangannya membentuk segel pedang yang sangat rumit di depan dadanya. Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasinya, ia melepaskan **Sepuluh Persen Niat Pedang Pembelah Langit** miliknya yang sesungguhnya.

Tidak ada ledakan energi spiritual berwarna-warni. Sebaliknya, sebuah tekanan tak kasat mata yang luar biasa agung memancar dari tubuh kurusnya, menyebar ke seluruh pelosok Kota Awan Mengambang.

*Deg!*

Setiap praktisi di stadion merasa jantung mereka berhenti berdetak sesaat. Pedang-pedang yang berada di dalam sarung milik puluhan ribu penonton dan pengawal mulai bergetar hebat, mengeluarkan suara dengungan ketakutan seolah sedang bersujud menyambut penguasa tertinggi mereka.

Bayangan hantu kutukan raksasa milik Mu Canghai yang sedang menerjang maju tiba-tiba membeku di udara. Mata merah iblis itu memancarkan kengerian telanjang. Sebelum sempat menyentuh Xinghe, tubuh hantu itu retak, terbelah menjadi jutaan partikel cahaya sebelum akhirnya lenyap ditiup angin, hancur murni oleh kedaulatan mental seorang kaisar.

Badai angin puyuh Jian Feng juga terhenti, terpotong rapi secara horizontal menjadi dua bagian oleh garis tak kasat mata di udara sebelum akhirnya bubar menjadi embusan angin biasa.

"T-Tidak mungkin..." Mu Canghai membelalakkan mata, kutukan yang hancur memberikan umpan balik yang meledakkan Dantiannya. Ia jatuh berlutut, memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak.

Xinghe kembali meraih gagang pedang beratnya dengan tangan kanan. Ia melangkah maju perlahan mendekati Mu Canghai.

"Perjalanan keluargamu berakhir di sini, Mu Canghai," ucap Xinghe datar.

Ia mengayunkan pedang beratnya dalam satu pukulan vertikal yang santai dari atas ke bawah. Mu Canghai tidak mencoba menghindar; jiwanya telah dihancurkan oleh tekanan Niat Pedang sebelumnya.

*BUM!*

Kepala Keluarga Mu itu hancur menjadi debu di bawah berat absolut *Meteorit Bintang Kegelapan*, mengakhiri eksistensi faksi terbesar kedua kota dalam satu ketukan pedang.

Jian Feng yang menyaksikan pembantaian itu kehilangan seluruh sisa keberaniannya. Mengabaikan statusnya sebagai Ketua Sekte, ia berbalik arah dan mencoba melompat melarikan diri ke arah luar stadion menggunakan teknik meringankan tubuh maksimal.

"Kau juga tidak memiliki kualifikasi untuk pergi," suara Xinghe terdengar tepat di belakang telinga Jian Feng.

Jian Feng menoleh ngeri. Xinghe telah melesat berada di sampingnya di udara, pedang berat hitamnya diayunkan secara horizontal menyapu dada sang Ketua Sekte.

*KRAAAK!*

Seluruh zira perak, tulang rusuk, dan organ dalam Jian Feng hancur berantakan. Tubuhnya terlempar lurus menghantam lantai arena dengan keras, menciptakan kawah baru sedalam dua meter. Pria paruh baya itu terbaring kaku, napasnya tersengal parah di ambang kematian, meridiannya telah hancur total akibat sisa energi guntur yang merambat dari pedang Xinghe.

Dua penguasa Kota Awan Mengambang telah tumbang. Satu mati menjadi debu, satu lumpuh menanti ajal.

Seluruh stadion mematung dalam keheningan neraka. Yan Xinghe berdiri di tepi kawah tempat Jian Feng terkapar, ia tidak menyarungkan senjatanya. Sebaliknya, pandangan gelapnya mendongak menatap lurus ke arah lapisan awan tebal di langit tertinggi di atas stadion.

"Dua serangga kecil telah selesai dibersihkan," suara Xinghe mengalun tenang, memecah kesunyian langit fajar. "Kalian yang bersembunyi di balik awan sejak awal pertunjukan... apakah kalian tidak lelah menonton dari tempat yang begitu jauh?"

Mendengar perkataan Xinghe, Lin Zheng, Muxue, dan seluruh petinggi faksi yang masih hidup terkejut. Ada pihak lain yang mengawasi pertarungan ini?

Dari balik lapisan awan mendung setinggi ribuan meter, sebuah tawa renyah yang dipenuhi keangkuhan kosmik murni perlahan bergema, mengguncang seluruh kubah langit Kota Awan Mengambang.

*WHOOOSH!*

Awan-awan mendung itu terbelah menjadi dua jalur yang rapi, menyingkap tiga sosok manusia yang sedang meluncur turun dari angkasa. Mereka tidak menggunakan burung spiritual atau alat terbang; mereka berjalan di atas udara kosong seolah-olah ada tangga transparan yang menopang kaki mereka. Kemampuan terbang absolut tanpa batasan luar—ranah legendaris **Alam Melangkah Langit**.

Ketiga pendatang baru itu mengenakan jubah sutra putih bersih yang dihiasi sulaman benang emas berbentuk gerbang surgawi di dada kiri mereka. Lambang dari **Tanah Suci Gerbang Langit Abadi**, faksi kultivator raksasa yang menguasai seluruh pusat Benua Tanah Spiritual.

Pemimpin mereka adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan wajah tampan yang luar biasa feminin, memancarkan aura arogansi yang membuat Jian Feng tampak seperti pelayan sipil. Dua sosok di belakangnya adalah tetua paruh baya dengan tatapan mata sedalam lautan, bertindak sebagai pengawal pribadi sang pemuda.

Ketiganya mendarat dengan ringan di tepi atas tribun penonton, memandang ke bawah ke arah arena dengan pandangan meremehkan seolah sedang menatap kolam ikan peliharaan.

Pemuda tampan itu memainkan lencana giok di tangannya, matanya yang berkilat meneliti sosok Yan Xinghe dengan minat yang mendalam.

"Luar biasa," pemuda berbaju putih itu bersuara, nadanya dipenuhi nada merendahkan yang natural. "Di benua pinggiran yang kotor dan miskin energi spiritual seperti ini, tidak kusangka aku, Tuan Muda Gongsun Zhi dari Tanah Suci, bisa menemukan sepotong batu permata mentah yang memiliki pemahaman Niat Pedang sedalam ini."

Gongsun Zhi melangkah maju di tepian tribun, menatap Xinghe layaknya seorang kolektor menemukan barang antik yang unik.

"Bocah berjubah hitam, kau telah membunuh anjing-anjing pengumpul upeti kami di kota ini. Normalnya, aku akan menghapus sembilan keturunanmu sebagai hukuman. Hanya saja, aku sedang kekurangan seorang pelayan pedang di istanaku. Berlututlah, bersujudlah sembilan kali di hadapanku, serahkan pedang besi hitammu itu sebagai upeti kesetiaan, dan aku akan membawamu masuk melewati gerbang Tanah Suci Gerbang Langit Abadi hari ini."

Tawaran itu bagaikan petir di siang bolong bagi puluhan ribu penonton yang tersisa. Masuk ke Tanah Suci, meskipun hanya sebagai pelayan pedang, adalah kesempatan langka yang bahkan tidak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan faksi di Kota Awan Mengambang. Itu adalah akses menuju keabadian sejati.

Lin Muxue menahan napas, tangannya meremas pakaiannya erat-erat. Ia takut Xinghe akan menerima tawaran tersebut dan meninggalkan mereka, menyadari bahwa langit pemuda itu memang berada jauh di atas awan.

Xinghe menatap Gongsun Zhi. Ujung *Pedang Berat Tanpa Bilah* miliknya diangkat perlahan, menunjuk tepat ke arah wajah tampan sang Tuan Muda Tanah Suci.

"Pelayan pedang?" Xinghe mendengus pelan, seutas senyum penghinaan mutlak terukir di bibirnya. "Bahkan leluhur pendiri Tanah Sucimu sepuluh ribu tahun lalu harus berlutut selama tiga hari tiga malam di luar gerbang istanaku hanya untuk memohon dikesampingkan sebagai pelayan pembersih debu pedangku. Makhluk ingusan sepertimu... berani memintaku berlutut?"

Kata-kata itu meluncur dingin, meruntuhkan seluruh martabat Tanah Suci Gerbang Langit Abadi dalam satu tarikan napas di depan publik.

Dua tetua pengawal di belakang Gongsun Zhi seketika membelalakkan mata, aura pembunuhan berskala raksasa meledak dari tubuh mereka, membekukan seluruh udara di dalam stadion. Badai sesungguhnya dari dimensi yang lebih tinggi telah tiba di Kota Awan Mengambang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!