"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah ketegangan pagi hari dengan penagih sewa yang ternyata salah sasaran, sore itu suasana kontrakan terasa sedikit lebih tenang. Hujan turun rintik-rintik, menciptakan simfoni monoton di atas atap asbes yang retak. Udara lembap mulai merayap masuk melalui celah-celah dinding.
Aira berdiri di dapur kecil yang luasnya tak lebih dari dua langkah orang dewasa. Ia menatap nanar ke dalam lemari kayu yang kosong. Hanya ada dua bungkus mi instan rasa soto dan sebutir telur ayam yang ukurannya cukup kecil. Itulah sisa logistik yang mereka miliki setelah perjalanan panjang kemarin.
"Mas, makan malam sudah siap," panggil Aira pelan.
Dewa muncul dari kamar, wajahnya basah setelah berwudu. Ia melihat dua piring di atas meja kayu yang goyang. Di masing-masing piring, hanya ada separuh bagian telur rebus yang memahkotai tumpukan mi instan. Tidak ada sayur, tidak ada kerupuk, apalagi daging.
"Hanya ini yang ada, Mas. Maaf ya, tadi aku belum sempat belanja ke pasar karena uang yang Mas kasih tadi pagi aku simpan untuk jaga-jaga kalau ada keperluan mendadak," ujar Aira sambil menyodorkan garpu plastik.
Dewa menatap piringnya, lalu menatap Aira. Di dunia aslinya, Dewa terbiasa dengan santapan fine dining di mana harga satu piringnya bisa membayar sewa kontrakan ini selama setahun penuh.
Namun, melihat Aira yang begitu telaten menata makanan sederhana itu seolah-olah itu adalah hidangan istimewa, Dewa merasakan tenggorokannya tercekat.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, hanya ditemani suara tetesan air hujan yang masuk ke dalam ember di sudut ruangan.
"Aira," panggil Dewa memecah kesunyian. Ia meletakkan garpunya. "Kenapa kamu tidak marah?"
Aira mendongak, matanya yang jernih menatap Dewa dengan bingung. "Marah untuk apa, Mas?"
"Untuk semuanya. Untuk pernikahan yang mendadak ini. Untuk mahar seratus ribu. Untuk rumah yang bocor ini. Dan untuk suami yang bahkan tidak bisa membelikanmu daging untuk makan malam pertama kita," Dewa meremas tangannya di bawah meja. "Ayahmu menghinaku, adikmu menertawakanmu. Kenapa kamu tidak protes sedikit pun?"
Aira terdiam sejenak. Ia meletakkan garpunya, lalu tersenyum tipis, senyum yang membawa ketenangan sekaligus kepedihan.
"Mas Dewa, sebelum menikah, aku sudah banyak bicara dengan Tuhan dalam sujudku. Aku percaya bahwa pernikahan adalah takdir, dan menjadi istri adalah tanggung jawab. Jika Tuhan mengirimkan Mas sebagai suamiku, maka Mas adalah takdir terbaikku saat ini."
Aira menjeda, matanya mulai berkaca-kaca namun suaranya tetap stabil.
"Aku tidak butuh kemewahan untuk merasa terhormat. Aku hanya butuh seseorang yang tidak membuangku. Ayahku membuangku demi sebuah mitos, tapi Mas datang dan menjadikanku istrimu. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Kita bisa mencari harta bersama-sama, tapi mencari ketulusan itu yang sulit."
Deg.
Jantung Dewa terasa seperti dihantam sesuatu yang sangat keras. Jawaban Aira bukan sekadar kalimat klise, itu adalah sebuah kejujuran murni yang belum pernah ia temui di lingkaran pertemanannya yang penuh dengan intrik dan topeng.
Ia merasa menjadi pria paling jahat di dunia karena sedang memainkan sandiwara kemiskinan di depan wanita semulia ini.
"Maafkan aku, Aira... karena sudah membawamu ke sini," bisik Dewa, suaranya sedikit serak.
"Jangan minta maaf, Mas. Yang penting kita jujur satu sama lain, itu sudah cukup buatku."
Dewa menunduk, tak berani menatap mata istrinya. Kata 'jujur' itu terasa seperti pedang yang siap menebasnya kapan saja.
Malam semakin larut, dan suhu di dalam kontrakan semakin panas karena ventilasi yang buruk.
Aira berkali-kali menyeka keringat di dahinya sambil mencoba memejamkan mata di atas kasur busa yang tipis. Di sudut ruangan, sebuah kipas angin besi tua berdiri membisu. Kabelnya terkelupas dan baling-balingnya sudah macet total.
Dewa melihat istrinya yang gelisah. Tanpa suara, ia berdiri dan mengambil obeng kecil yang tersimpan di tas motornya. Ia duduk di lantai, membongkar mesin kipas angin tua itu di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip.
Aira yang sebenarnya belum tidur sepenuhnya, mengintip dari balik kelopak matanya. Ia melihat Dewa dengan telaten membersihkan debu-debu hitam dari mesin kipas, menyambung kabel yang putus, dan melumasi bagian yang berkarat dengan sedikit minyak goreng sisa tadi sore.
Ada sesuatu yang sangat maskulin dan menenangkan melihat seorang pria bekerja keras demi kenyamanan kecil istrinya. Aira merasa aman. Ia merasa benar-benar memiliki seorang suami.
Krrr... wusss!
Baling-baling kipas itu akhirnya berputar, mengirimkan embusan angin sejuk ke arah tempat tidur.
Dewa menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju, lalu menoleh ke arah kasur. Saat melihat Aira sudah tampak lebih tenang, ia tersenyum sangat tipis, sebuah senyum tulus yang jarang sekali muncul di wajah sang CEO dingin.
Dewa memastikan posisi kipas angin itu pas mengenai Aira, lalu ia mematikan lampu ruang tengah, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam remang.
Sekitar pukul dua dini hari, saat seluruh gang sudah sunyi dan hanya terdengar suara dengkur tetangga sebelah yang menembus dinding tipis, Dewa bergerak pelan. Ia memastikan napas Aira sudah teratur dan dalam.
Dengan gerakan seringan kucing, ia melangkah keluar dari pintu depan yang berderit pelan. Ia berjalan menuju ujung gang yang gelap, di bawah lampu jalan yang mati-hidup. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel tipis berlapis titanium yang ia sembunyikan di balik baterai ponsel lamanya yang rusak.
Satu panggilan masuk.
"Ya, Bara?" suara Dewa berubah seketika. Dingin, tajam, dan penuh otoritas. Tidak ada lagi sisa-sisa kuli bangunan dalam nada bicaranya.
"Lapor, Tuan Muda," suara Bara di seberang telepon terdengar sangat formal. "Transaksi akuisisi saham di Singapura sudah selesai. Kita berhasil mengamankan 15% saham tambahan dari kompetitor. Keuntungan bersih yang masuk ke rekening utama Anda malam ini diperkirakan mencapai 1,2 triliun rupiah setelah pajak."
Dewa menatap tumpukan sampah di ujung gang dengan tatapan datar. Angka triliunan itu baginya hanyalah barisan angka di layar, jauh lebih tidak berharga dibanding separuh telur rebus yang diberikan Aira tadi sore.
"Bagus. Amankan dana itu ke akun trust atas nama Aira Pradipta. Jangan sampai ada yang tahu sekarang," perintah Dewa.
"Baik, Tuan. Lalu, bagaimana dengan keluarga Tuan Surya? Mereka baru saja mengirim proposal kerjasama ke salah satu anak perusahaan kita. Sepertinya mereka sangat butuh suntikan dana untuk menutupi biaya pernikahan mewah putri kedua mereka."
Dewa menyeringai sinis di kegelapan malam. "Biarkan mereka menunggu. Kirimkan pesan bahwa proposal mereka sedang 'ditinjau'. Aku ingin melihat mereka mengemis sedikit lebih lama sebelum aku menunjukkan siapa sebenarnya menantu yang mereka buang."
"Dimengerti, Tuan. Oh, satu lagi... Nyonya Besar, ibu Anda, sudah mendarat di bandara kota ini. Beliau sangat marah karena Tuan Muda tidak bisa dihubungi dan menikahi wanita tanpa persetujuannya. Beliau sedang menyuruh orang untuk melacak koordinat GPS ponsel ini."
Mata Dewa menyipit. "Blokir sinyalnya. Jangan biarkan siapa pun mengganggu waktuku di sini. Aku akan mengurus Mama nanti."
Dewa mematikan telepon, lalu segera mencopot baterainya. Ia menarik napas panjang, menatap langit malam yang mulai cerah. Ia harus segera kembali ke dalam sebelum Aira bangun.
Namun, saat Dewa berbalik untuk melangkah kembali ke kontrakan, langkahnya membeku.
Di depan pintu rumah yang terbuka sedikit, siluet seorang wanita berdiri mematung. Cahaya bulan yang tipis menyinari separuh wajahnya.
Aira berdiri di sana, mendekap mukenanya erat-erat. Matanya menatap Dewa dengan tatapan yang sangat asing, campuran antara bingung, takut, dan curiga.
"Mas Dewa... kamu bicara dengan siapa malam-malam begini?" suara Aira bergetar. "Dan... apa tadi aku tidak salah dengar? Satu koma dua... triliun?"
Dewa terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang melebihi saat ia melakukan negosiasi bisnis terbesar dalam hidupnya. Rahasia yang ia jaga mati-matian, kini di ambang kehancuran tepat di depan pintu rumah kontrakan mereka yang bocor.
...----------------...
To Be Continue .....