NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Romantis yang Berujung Baku Hantam

​Vila tua di pinggiran Tuscany itu tampak anggun di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan. Setelah berhari-hari hidup dalam ketegangan desing peluru dan aroma mesiu, Bianca merasa bahwa kesehatan mentalnya—dan kesehatan mental klan De Luca—sedang berada di titik kritis.

​"Mas Lorenzo," panggil Bianca (dalam tubuh kekar Lorenzo) sambil melangkah masuk ke ruang kerja darurat. "Kita butuh makan malam yang bener. Bukan cuma roti panggang sisa atau pasta instan yang teksturnya kayak karet ban."

​Lorenzo (dalam tubuh Bianca) yang sedang serius menatap peta satelit hanya bergumam, "Kita sedang dalam persembunyian, Bianca. Makan malam mewah hanya akan menarik perhatian."

​"Dih, pelit amat sama diri sendiri. Kita punya kebun anggur, kita punya pemandangan, dan saya nemu stok wagyu beku di freezer bawah. Kita bikin makan malam romantis. Buat kita berempat. Biar Mas Dante sama Mas Valerio nggak kaku kayak kanebo kering terus."

​Lorenzo akhirnya menghela napas. Menatap wajahnya sendiri yang sedang memohon dengan ekspresi anak anjing itu selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya. "Baiklah. Satu jam. Tapi pastikan pengamanan tetap aktif."

​Satu jam kemudian, meja kayu panjang di teras belakang vila telah disulap. Bianca menggunakan taplak meja putih yang ia temukan di lemari tua, lilin-lilin aromaterapi yang ia susun rapi, dan tentu saja, sebotol anggur merah tahun 1998 yang diambil dari gudang bawah tanah tanpa izin Dante.

​Dante dan Valerio datang dengan wajah bingung. Dante membawa tabletnya, sementara Valerio masih mengenakan sarung pistol di bahunya.

​"Apa ini? Apakah ada yang berulang tahun?" tanya Dante sambil menyesuaikan letak kacamatanya.

​"Ini namanya quality time, Mas Dante!" Bianca (tubuh Lorenzo) menarik kursi untuk mereka. "Ayo duduk. Malam ini dilarang bahas strategi, dilarang bahas Isabella, dan dilarang pegang senjata."

​Valerio mendengus. "Meletakkan senjata sama saja dengan menyerahkan leher pada serigala."

​"Duduk aja sih, Mas Val! Bawel deh," Bianca mendorong bahu Valerio hingga pria itu terduduk.

​Makan malam dimulai dengan suasana yang... aneh. Bianca menyajikan steak dengan saus jamur yang aromanya sangat menggoda. Di bawah cahaya lilin, sosok "Lorenzo" yang gagah tampak sangat sibuk memotong daging dengan penuh perasaan, sementara "Bianca" (Lorenzo asli) duduk dengan anggun namun tetap memancarkan aura mengintimidasi.

​"Anggur ini enak," gumam Dante setelah menyesap sedikit. "Tunggu, ini kan botol koleksi dari rak ketiga yang seharusnya tidak disentuh?"

​"Udah, Mas, diminum aja. Daripada lumutan di gudang," sahut Bianca santai.

​Suasana mulai menghangat. Bianca mulai bercerita tentang kehidupannya di Indonesia—tentang macetnya Jakarta, tentang lezatnya nasi goreng pinggir jalan, dan tentang bagaimana ia sering dihukum dosen karena telat mengumpulkan tugas. Ketiga pria De Luca itu mendengarkan dengan saksama. Bagi mereka, cerita Bianca adalah jendela menuju dunia yang sangat sederhana dan damai, sesuatu yang tidak pernah mereka miliki.

​"Jadi, kau benar-benar bahagia hanya dengan makan nasi goreng di pinggir jalan?" tanya Valerio dengan nada yang tidak lagi sinis.

​"Banget, Mas Val! Bahagia itu simpel, yang susah itu gengsinya," Bianca tersenyum lebar.

​Tepat saat Bianca hendak mengangkat gelas untuk bersulang, sebuah getaran aneh terasa di lantai teras. Gelas-gelas anggur mulai berdenting halus.

​Krak.

​Cahaya lilin tiba-tiba mati secara bersamaan.

​"Semuanya merunduk!" teriak Lorenzo (tubuh Bianca) dengan suara yang meledak penuh otoritas.

​Insting mafia mereka mengambil alih dalam sepersekian detik. Bianca yang tadinya memegang garpu steak, kini ditarik oleh Lorenzo ke balik meja kayu yang tebal. Dante dan Valerio sudah berguling ke arah pilar marmer, masing-masing sudah memegang senjata yang entah sejak kapan mereka sembunyikan di balik jas mereka.

​PRANG!

​Dinding kaca besar yang membatasi teras hancur berantakan. Dari kegelapan kebun anggur, beberapa sosok berpakaian hitam dengan topeng taktis melompat masuk. Mereka bukan membawa senapan, melainkan tongkat listrik dan jaring kawat yang dialiri energi biru—energi yang sama dengan artefak Vatikan.

​"Mereka mau menangkap kita hidup-hidup untuk ritual Isabella!" teriak Dante sambil melepaskan tembakan peringatan.

​"Jangan gunakan peluru tajam terlalu banyak! Jika kristal di dalam jaring mereka meledak, area ini akan hancur!" Lorenzo memperingatkan.

​Makan malam romantis itu resmi berubah menjadi arena baku hantam yang kacau.

​Bianca (dalam tubuh Lorenzo) mendapati dirinya berhadapan dengan seorang pria bertubuh besar yang mencoba melilitnya dengan jaring kawat. "Waduh! Mas, saya belum mau jadi ikan jaring!"

​Dengan refleks yang kini semakin menyatu dengan otot Lorenzo, Bianca melakukan gerakan ducking rendah. Ia meraih botol anggur mahal yang tadi ia sajikan dan menghantamkannya ke kepala lawan.

​PYARR!

​"Maaf ya botol mahal, kamu berkorban demi negara!" teriak Bianca.

​Di sisi lain, Valerio sedang terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang brutal. Ia bergerak secepat kilat, memberikan serangkaian pukulan kombinasi ke arah ulu hati dan rahang musuh. Gerakannya efisien dan mematikan. Namun, jumlah lawan terus bertambah.

​Dante menggunakan tabletnya untuk mengaktifkan sistem pertahanan rahasia vila. "Valerio! Geser ke arah jam dua! Aku akan mengaktifkan sprinkler!"

​Seketika, air menyembur deras dari langit-langit teras. Namun, ini bukan air biasa. Dante telah mencampurnya dengan zat konduktif cair.

​"LORENZO, SEKARANG!" teriak Dante.

​Lorenzo (tubuh Bianca) melihat sebuah kabel listrik yang menjuntai dari lampu hias yang pecah. Dengan keberanian yang gila, ia meraih kabel itu menggunakan serbet basah dan melemparkannya ke genangan air di tengah teras.

​BZZZZZT!

​Suara sengatan listrik yang hebat memenuhi ruangan. Para penyusup yang mengenakan peralatan logam langsung kejang-kejang dan jatuh bergelimpangan. Namun, karena Bianca berada di tubuh Lorenzo yang besar, ia juga merasakan aliran listrik statis yang membuat rambutnya berdiri.

​"Aduh! Mas Lorenzo! Gigi saya bergetar semua!" teriak Bianca sambil melompat ke atas meja kayu untuk menghindari air.

​Di tengah kekacauan itu, seorang wanita masuk dengan tenang melewati reruntuhan kaca. Isabella Moretti. Ia mengenakan setelan kulit hitam, memegang sebuah cambuk pendek yang ujungnya bersinar biru elektrik.

​"Menarik sekali," ucap Isabella, suaranya tenang namun tajam. "Makan malam keluarga yang sangat menyentuh. Sayang sekali aku tidak membawa kado."

​Isabella mengibaskan cambuknya, menghancurkan meja kayu tempat Bianca berlindung menjadi dua bagian.

​"Isabella, hentikan ini sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku!" ancam Lorenzo (tubuh Bianca) sambil melangkah maju, meskipun ia berada di tubuh wanita yang lebih kecil.

​Isabella tertawa. "Kau pikir aku takut pada 'jiwa' yang terperangkap dalam wadah yang lemah? Aku tahu rahasiamu, Lorenzo. Aku tahu kau dan gadis Jawa ini sedang berbagi rasa. Jadi, jika aku menyiksa salah satu dari kalian, yang lain akan merasakannya, bukan?"

​Isabella mengarahkan cambuknya ke arah Bianca (tubuh Lorenzo). "Ayo kita lihat seberapa besar rasa sakit yang bisa ditanggung oleh tubuh berotot ini."

​CTAR!

​Cambuk itu mengenai lengan Bianca. Bianca berteriak kesakitan, dan secara bersamaan, Lorenzo (tubuh Bianca) terjatuh sambil memegang lengannya sendiri yang terasa panas seperti terbakar, meskipun tidak ada luka fisik di sana.

​"Koneksi batinnya... dia memanfaatkannya!" bisik Dante dengan panik.

​Valerio yang melihat kakaknya disakiti, menggeram marah. Ia menerjang Isabella dengan pisau komandonya. Pertarungan antara Valerio dan Isabella sangat intens. Isabella sangat lincah, gerakannya seperti penari balet yang mematikan, sementara Valerio adalah badai serangan yang tak kenal ampun.

​Bianca, sambil menahan perih di lengannya, menatap sisa-sisa steak di piringnya. Ia melihat saus jamur yang sangat licin di lantai yang basah. Sebuah ide konyol muncul di kepalanya.

​"Mas Val! Mundur!" teriak Bianca.

​Bianca menendang piring besar berisi steak dan saus berminyak itu tepat ke arah kaki Isabella yang sedang melakukan manuver putaran.

​SLREEEET!

​Isabella yang sedang dalam posisi tidak stabil langsung terpeleset dengan gaya yang sangat tidak elegan. Tubuhnya terhempas ke lantai yang teraliri air konduktif sisa sengatan listrik tadi.

​BZZZTT!

​"AAAGH!" Isabella memekik saat energi listrik dari cambuknya sendiri berbalik menghantam tubuhnya akibat kontak dengan air.

​"Sekarang! Valerio, ikat dia!" perintah Lorenzo.

​Namun, Isabella adalah seorang Moretti. Sebelum Valerio bisa menjangkaunya, ia melemparkan sebuah granat cahaya yang membutakan seluruh ruangan.

​BOOM!

​Saat penglihatan mereka kembali normal, Isabella sudah menghilang, meninggalkan sisa-sisa mawar hitam yang terbakar dan aroma steak yang kini bercampur dengan bau kabel gosong.

​Hening kembali menyelimuti teras. Hujan rintik mulai turun, membasuh sisa-sisa pertempuran. Bianca duduk di lantai yang basah, menatap steaknya yang kini terinjak-injak.

​"Makan malam romantis saya... hancur," gumam Bianca dengan nada sedih yang terdengar lucu di suara berat Lorenzo.

​Valerio mendekati Bianca, membantunya berdiri. Ia melihat lengan Bianca yang memerah. "Kau... kau menyelamatkan kami lagi dengan cara yang sangat... tidak lazim."

​Dante menghampiri mereka, wajahnya terlihat sangat pucat. "Koneksi batin kalian semakin kuat. Isabella akan menggunakan itu untuk menyiksa kalian tanpa perlu menyentuh kalian secara langsung. Kita harus menemukan cara memutus koneksi itu atau menyelesaikan pertukaran ini secepatnya."

​Lorenzo (tubuh Bianca) berjalan mendekati Bianca. Ia mengambil sehelai kain bersih dan membalut lengan Bianca dengan lembut. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi Bianca bisa merasakan rasa penyesalan dan kasih sayang yang mendalam mengalir melalui koneksi mereka.

​"Mas Lorenzo, maaf ya steaknya jadi nggak enak," bisik Bianca.

​Lorenzo menatap mata Bianca. "Dagingnya memang hancur, Bianca. Tapi aku baru sadar... keberanianmu jauh lebih mahal daripada anggur tahun 1998 yang kau curi itu."

​Bianca tersenyum tipis. "Besok-besok kalau makan malam lagi, kita pesen nasi box aja ya? Biar kalau ada musuh tinggal dilempar box-nya."

​Valerio tertawa pendek, Dante menggelengkan kepala, dan Lorenzo hanya bisa menghela napas. Di tengah reruntuhan makan malam yang romantis itu, klan De Luca menyadari bahwa selama Bianca ada di antara mereka, tidak ada malam yang benar-benar tenang, tapi tidak ada pula malam yang benar-benar gelap.

​Namun di kegelapan hutan, Isabella Moretti menatap vila itu dengan penuh kebencian. Ia memegang lengannya yang masih gemetar karena sengatan listrik. "Saus jamur... kau mempermalukanku dengan saus jamur? Aku bersumpah, Bianca... kau akan memohon padaku untuk mengakhiri hidupmu sebelum matahari terbit di Vatikan."

​Pertempuran berikutnya tidak akan lagi soal otot atau peluru, melainkan soal siapa yang sanggup bertahan dalam siksaan perasaan yang terbagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!