Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"Apa-apaan sih lo, Nat?!" teriak Galen sambil berdiri, wajahnya merah padam menahan amarah melihat Zoya yang basah kuyup.
Natasya tidak gentar, dia justru balik membentak dengan nada tinggi yang melengking. "Kamu yang apa-apaan! Kenapa kamu ikut campur? Ini urusan gue sama dia! Kalau dia yang punya masalah, harusnya dia yang urus sendiri, jangan jadi benalu!"
Di tengah ketegangan yang memuncak itu, sebuah bayangan meluncur mulus ke arah meja Amours. Melody, dengan jiwa "ibu-ibu komplek tukang gosip" yang sudah mendarah daging, mendekat tanpa rasa takut. Dia menarik kursi tepat di samping Jigar, duduk dengan santai sambil mendekap sebungkus keripik pedas.
Kriuk... kriuk...
Jigar menoleh perlahan, matanya melongo lebar melihat Melody yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya sambil asyik mengunyah. "Buset, kapan lo nyampe sini, Mel?!" bisik Jigar kaget setengah mati.
"Hustt! Diem, nonton aja. Seru nih, resolusi 4K tanpa iklan," sahut Melody tanpa mengalihkan pandangan dari drama di depannya. Sesekali dia menyodorkan bungkus keripiknya ke arah Jigar. "Mau? Lumayan buat ganjel perut pas adegan jambak-jambakan."
Di meja seberang, Rere dan Rhea cuma bisa tepok jidat melihat kelakuan sahabatnya yang benar-benar tidak punya urat malu itu.
"Buset, kapan dia ada di sana?!" tanya Rhea bingung, mengucek matanya berkali-kali. "Tadi kan masih di sini?"
"Kagak tau! Pake ilmu telekomunikasi kali dia!" jawab Rere asal.
"Teleportasi, Rhea! Teleportasi ege!" geram Rere sambil menoyor pelan kepala sahabatnya itu.
Sementara itu, suasana makin panas. Natasya sudah mengangkat tangannya hendak menunjuk wajah Zoya lagi, tapi matanya tak sengaja melirik ke arah Melody yang sedang asyik makan keripik sambil menontonnya dengan muka datar bin meremehkan.
"LO NGAPAIN DI SITU?!" bentak Natasya yang merasa terganggu jadi tontonan.
Melody berhenti mengunyah sebentar. "Lanjutin aja, Nat. Anggap gue pajangan kantin. Tadi sampe mana? Oh iya, bagian 'jangan jadi benalu'. Action!" ucap Melody santai, lalu kembali memasukkan keripik ke mulutnya.
Kaisar yang sedari tadi diam, melirik Melody dari sudut matanya. Sudut bibirnya hampir saja terangkat melihat tingkah absurd gadis yang baru saja diciumnya di perpustakaan itu. Benar-benar gangguan yang sangat menghibur.
Zoya melirik ke arah Melody dengan mata berkaca-kaca, seolah memberikan kode agar Melody maju sebagai pahlawan dan membelanya.
"Apa?" tanya Melody ketus saat sadar sedang ditatap. "Lawan dong! Ngomong! Kalau dia kasar, balas kasar. Punya mulut kan?" Melody menyemangati, tapi nada bicaranya lebih terdengar seperti sedang menonton pertandingan bola daripada sedang berempati.
Bukannya melawan, Zoya malah menunduk dan tangan kecilnya meraih ujung baju Kaisar, meremasnya pelan seolah meminta perlindungan. Melihat itu, Melody memutar bola matanya malas. "Tinggal ngomong aja susah amat, pakai acara pegang-pegang baju orang segala," batinnya sinis.
Natasya tertawa mengejek melihat tingkah Zoya. "Dan lo sekarang berharap Kaisar bela lo, hah?" bentak Natasya. "Gara-gara lo juga, si Melody ditolak mentah-mentah sama Kaisar!"
Deg. Gerakan mengunyah keripik Melody terhenti.
"Ingat nggak, pas Melody mau nyatain cinta ke Kaisar dulu? Elo malah bisik-bisik ke Kaisar, bilang kalau Kaisar pacaran sama Melody, nanti Kaisar nggak bisa temenan lagi sama lo karena Melody cinta mati dan bakal posesif. Makanya Kaisar langsung nolak dia kan?" Natasya membongkar semuanya di depan kantin yang ramai.
Melody terdiam. Keripik di tangannya hampir jatuh. "Jadi... ni cewek beneran polos-polos bangsat?" batin Melody geram. Ternyata penolakan menyakitkan yang diterima Melody asli di masa lalu adalah hasil adu domba halus si "protagonis" ini.
"Bukan gitu, Mell... Aku cuma nggak mau kita jauh," ucap Zoya lirih, mencoba meraih tangan Melody.
Melody dengan cepat menarik tangannya. Jiwa aktrisnya mendadak bangkit. Dia tidak mau terlihat marah, dia ingin memainkan peran 'korban yang tersakiti' agar bisa keluar dari drama membosankan ini.
"Nggak apa-apa, Zoy," ucap Melody dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar dan sendu. Dia menatap Zoya dan Kaisar bergantian dengan pandangan "terluka". "Kalian emang cocok kok. Gue sadar diri sekarang. Gue emang nggak pantes buat Kaisar."
Melody berdiri, meninggalkan keripiknya yang masih sisa setengah. Dengan kepala menunduk dan langkah yang dibuat seolah-olah hatinya hancur berkeping-keping, dia berjalan pergi meninggalkan kantin.
"Hahaha, akting gue juara! Mampus lo semua terjebak rasa bersalah!" batin Melody kegirangan sambil tetap memasang wajah sedih sampai dia hilang di balik belokan koridor.
Sementara itu di meja kantin, Jigar dan David melongo, Galen menatap iba, sedangkan Kaisar? Cowok itu menatap punggung Melody dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Dia tahu gadis itu sedang berakting, tapi entah kenapa, kalimat "gue nggak pantes buat Kaisar" barusan membuat hatinya sedikit tidak nyaman.