NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:849
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Hati Antara Dua Wanita

​Langkah kaki Bunga menggema lembut di atas lantai kayu Cafe Nuansa. Sepatu hak tingginya beradu dengan papan-papan kayu vintage, menciptakan ritme yang terdengar seperti ketukan palu hakim bagi hati Rahmi. Setiap langkah gadis itu mendekat ke arah meja pojok mereka, semakin terasa pula udara di sekitar Rahmi menipis, disedot habis oleh kehadiran sang primadona dari masa lalu Alan.

​Di meja itu, waktu seolah berhenti berdetak. Ardi dan Randi, yang sedetik lalu masih meributkan soal jaringan WiFi dan gim daring mereka, kini terdiam membeku dengan mulut sedikit terbuka. Mereka menatap Bunga dengan pandangan tak berkedip, terpesona oleh keanggunan alami yang dipancarkan gadis itu. Bunga tidak memakai pakaian yang mencolok, hanya dress selutut berwarna krem dengan kardigan rajut, namun auranya membuat seluruh lampu di kafe itu terasa redup jika dibandingkan dengannya.

​Dan Alan… pemuda itu adalah yang paling parah. Alan terdiam kaku layaknya patung pahatan es yang mendadak disiram air hangat. Matanya yang biasanya memancarkan ketajaman, kedinginan, dan kewaspadaan terhadap dunia luar, kini sepenuhnya terbuka lebar, merekam setiap inci pergerakan Bunga. Ada binar kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. Ada seulas senyum tipis di sudut bibirnya yang terbentuk tanpa ia sadari.

​Bunga terus berjalan mendekat. Senyum manisnya tak lepas dari wajahnya yang memukau. Namun, saat jaraknya tinggal beberapa langkah dari meja beton tersebut, ekor mata Bunga tanpa sengaja menangkap sosok Rahmi. Rahmi duduk menunduk di seberang Alan. Tangan gadis berkemeja flanel itu bergerak mekanis, mengocek-ocek minumannya yang es batunya sudah lama mencair. Putaran sedotan plastik di dalam gelas kaca itu terlihat aneh, terlalu cepat, terlalu kaku, seolah Rahmi sedang melampiaskan seluruh keputusasaannya ke dalam pusaran air teh lemon tersebut.

​Bunga adalah gadis yang cerdas. Ia memiliki kepekaan emosional yang tinggi. Meski ia tidak mengenal Rahmi dengan baik, bahasa tubuh gadis tomboi itu meneriakkan suatu kecanggungan yang teramat sangat. Namun, Bunga memilih untuk bersikap natural. Ia kembali menatap Alan yang masih terpaku.

​Sesampainya di depan meja, aroma parfum floral musk milik Bunga seketika menginvasi udara, menyingkirkan aroma kopi yang biasanya mendominasi meja itu. Bunga memiringkan kepalanya sedikit, menatap Alan dengan senyum menggoda yang bersahabat.

​"Udah mulai kerjanya?" sapa Bunga dengan nada lembut yang mengalun indah bagaikan melodi di telinga Alan.

​Alan terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, namun pita suaranya seolah putus. Otaknya yang biasanya mampu menghitung rumus akuntansi paling rumit dalam hitungan detik, kini mendadak konslet. Ia dilanda kegugupan yang luar biasa. Ia tak menyangka Bunga akan benar-benar datang menemuinya ke tempat kerjanya secepat ini.

​Melihat Alan yang malah mematung seperti orang bodoh, Bunga terkekeh pelan. Tawa renyahnya terdengar begitu merdu. Ia lalu mengangkat tangan kanannya yang lentik dan mengipaskan jari-jarinya tepat di depan wajah Alan.

​"Lan..." panggil Bunga lagi, suaranya sedikit dipanjangkan, penuh dengan kelembutan yang menyentuh relung hati pemuda itu. "Kamu udah mau kerja apa belum, heh? Kok malah bengong ngeliatin aku terus?"

​Teguran lembut beserta kibasan tangan Bunga itu seakan menjadi mantra pembangun bagi Alan. Pemuda itu tersentak, bahunya berjengit kaget. Kesadaran tiba-tiba menghantamnya dengan keras. Rona merah seketika menjalar dari leher hingga ke ujung telinganya. Alan salah tingkah luar biasa, hal yang sangat langka dan nyaris mustahil terjadi pada dirinya.

​"Ben.. bentar lagi," jawab Alan terbata-bata, lidahnya kelu. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan canggung, merutuki dirinya sendiri yang bersikap konyol. "Bentar lagi udah mulai jam kerja, Nga. Baru mau persiapan."

​Mendengar jawaban itu, senyum Bunga semakin lebar. Tanpa meminta izin, Bunga berbalik sedikit ke arah meja kosong di samping mereka. Dengan gerakan yang tetap terlihat anggun, ia menarik sebuah kursi kayu kosong dari sana dan membawanya ke meja mereka. Ia meletakkan kursi itu tepat di samping Alan, hanya berjarak beberapa jengkal dari pemuda itu, lalu duduk dengan santai.

​"Bentar lagi ya? Berarti belum kan?" ucap Bunga sambil menyilangkan kakinya. Matanya menatap Alan lekat-lekat. "Cukup kayaknya buat ngobrol sebentar. Boleh kan aku gabung di sini dulu sebelum kamu sibuk bikin kopi?"

​Kehadiran Bunga yang tiba-tiba menduduki kursi di samping Alan itu memicu reaksi berantai di bawah meja. Rahmi menahan napasnya, cengkeramannya pada gelas minumannya semakin menguat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

​Sementara itu, Randi yang otaknya cukup cepat menangkap situasi 'pedekate' ini, langsung mengambil inisiatif. Di bawah kolong meja, Randi mengayunkan kaki kanannya dan dengan sengaja menginjak punggung kaki Ardi dengan cukup keras.

​"Aw—!" Ardi nyaris menjerit, namun Randi memelototinya dengan isyarat mata yang sangat jelas: 'Jangan ganggu, biarin si Alan berduaan, lu pura-pura sibuk aja bego!'

​Ardi yang awalnya kebingungan dengan injakan kaki Randi, perlahan mulai mengerti maksud dari sahabatnya itu. Ia melihat Randi yang mendadak menunduk dalam-dalam, mengarahkan seluruh fokusnya pada layar ponselnya, jempolnya bergerak liar kembali bermain game online meski sebenarnya karakternya sedang berdiam diri di base.

​Tidak ingin merusak momen langka Alan, Ardi pun segera mencari pelampiasan. Ia menarik laptopnya mendekat, membesarkan volume sedikit, dan memasang wajah seolah ia sedang menyaksikan adegan paling menegangkan dalam sejarah peradaban manusia.

​"Waduh! Rajanya sadis nih anime! Gila, gila, combo-nya mematikan bener, parah!" seru Ardi dengan nada yang terlalu dibuat-buat, memaksakan matanya menatap layar laptop yang sedang memperlihatkan adegan ksatria melawan raja iblis. "Wah, kalah ini mah ksatrianya, Ndi! Liat noh!"

​Randi hanya bergumam, "Hmmm... iya, gila, sadis," tanpa menatap Ardi sama sekali, terus berpura-pura sibuk.

​Alan melirik kedua sahabatnya itu dengan ujung matanya. Ia tahu persis apa yang sedang Ardi dan Randi lakukan. Mereka memberikannya ruang privasi di tengah keramaian kafe. Alan merasa bersyukur, namun di saat yang sama, jantungnya semakin berdebar tak karuan karena kini fokus Bunga sepenuhnya hanya tertuju padanya.

​"Iya, bisa sih," jawab Alan akhirnya, suaranya sudah mulai sedikit lebih tenang, meski debaran di dadanya masih berpacu liar layaknya kuda pacuan. Ia menoleh menatap Bunga, memberanikan diri menyelami sepasang mata indah itu. "Emang mau ngobrol apa, Nga? Ada yang penting? Kok kamu sampai repot-repot nyamperin ke sini?."

​Bunga tersenyum tipis. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Alan dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara nostalgia, ketertarikan, dan sebuah harapan yang baru saja kembali tumbuh.

​"Gak ada yang terlalu penting sih," ucap Bunga dengan nada santai, namun kata-katanya diatur sedemikian rupa. Ia terdiam sejenak, memainkan ujung kardigannya. "Cuma mau nanya... akhir pekan sekarang, kamu ada waktu kosong gak, Lan?"

​Deg!

​Dunia di sekitar Alan terasa berhenti berputar untuk kedua kalinya. Angin dari kipas gantung di atas mereka terasa berhenti berembus. Kebisingan pengunjung kafe lainnya menguap menjadi dengungan sunyi. Pertanyaan sederhana itu menghantam telinga Alan bagai petir di siang bolong.

​Alan terdiam kaku. Ia menatap Bunga tak percaya. Kepalanya mulai memproses informasi itu dengan kecepatan maksimal.

​'Kenapa tiba-tiba Bunga menanyakan waktu kosong?' batin Alan menjerit penuh tanda tanya. Hatinya mulai membumbungkan harapan setinggi langit. 'Akhir pekan? Di waktu libur? Sama gue? Apa... apa jangan-jangan dia mau ngajak jalan? Bunga, gadis yang dulu cuma bisa gue curi pandang dari balik rak buku perpustakaan sekolah, sekarang ngajak gue jalan duluan?'

​Alan menelan ludah. Jakunnya naik turun dengan susah payah. Tangannya yang bersembunyi di balik celemek kerjanya saling meremas satu sama lain untuk menyalurkan kegugupan. Ia harus menjawab dengan hati-hati. Ia tidak boleh terlihat terlalu antusias, tapi ia juga sangat tidak ingin menolak kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali ini.

​"Hari Minggu sekarang kosong sih," jawab Alan, suaranya sedikit serak, berusaha keras mengontrol intonasinya agar terdengar kasual. "Gue... eh, aku off kerja kalau hari Minggu."

​Alan buru-buru mengoreksi panggilan 'gue' menjadi 'aku', menyesuaikan dengan bahasa yang Bunga gunakan. Ia tak ingin merusak keintiman percakapan mereka.

​"Tapi..." Alan melanjutkan ucapannya, matanya sesekali melirik ke arah Ardi dan Randi yang masih pura-pura sibuk, "...kalau minggu-minggu depan, ada acara sama anak-anak ini buat pergi ke tempat wisata bareng. Udah direncanain dari jauh-jauh hari soalnya."

​Bunga mengangguk pelan, senyumnya semakin mengembang mendengar bahwa hari Minggu ini Alan tidak memiliki jadwal apa pun. "Hari Minggu sekarang ya? Pas banget dong. Kalau gitu—"

​Di saat Bunga akan melanjutkan kalimatnya, sebuah tragedi kecil yang memilukan sedang terjadi di seberang meja mereka, tak tersentuh oleh indahnya perbincangan dua insan yang sedang merajut masa lalu itu.

​Sementara Alan dan Bunga asyik mengobrol, Rahmi masih duduk mematung. Kepalanya tertunduk dalam, poninya jatuh menutupi sebagian besar wajahnya. Tangan kanannya masih terus mengocek-ocek minumannya dengan sedotan plastik. Putarannya semakin melambat, seiring dengan tenaga di tubuhnya yang seakan terkuras habis tanpa sisa.

​Telinga Rahmi menangkap setiap kata yang keluar dari mulut Bunga dan Alan. Setiap huruf, setiap jeda, setiap nada lembut yang Alan gunakan untuk Bunga—nada yang tidak pernah sekalipun Alan gunakan untuk dirinya—terasa seperti belati berkarat yang ditusukkan perlahan-lahan ke ulu hatinya, lalu diputar dengan kejam tanpa belas kasihan.

​'Aku', batin Rahmi mengulang kata ganti yang baru saja Alan ucapkan. 'Dia pakai kata aku. Kepada Bunga, Alan yang keras kepala dan gengsian itu rela mengganti cara bicaranya. Sedangkan sama gue, sampai detik ini, dia cuma pakai gue-lu. Sekeras apapun gue berusaha jadi feminin, gue akan tetap jadi temen cowok buat dia.'

​Dada Rahmi terasa sangat sesak, seolah-olah tulang rusuknya menyempit dan meremukkan paru-parunya sendiri. Ia mencoba menarik napas panjang, namun yang masuk hanyalah udara yang terasa menyayat tenggorokannya. Ia memejamkan mata kuat-kuat di balik poni rambutnya, menahan rasa panas yang sejak tadi membakar pelupuk matanya.

​Namun, pertahanan Rahmi hancur. Hati manusia memiliki batas kapasitas untuk menahan rasa sakit, dan kapasitas Rahmi telah meluap.

​Tanpa Rahmi sadari, setetes air mata bening lolos dari sudut matanya. Air mata itu meluncur turun melewati pipinya yang pucat, jatuh menetes bebas ke bawah...

​Tes.

​Tetesan air mata itu jatuh tepat ke dalam gelas minumannya. Membaur bersama cairan teh lemon dan es batu yang mencair, menciptakan riak kecil yang sunyi. Namun bagi Rahmi, suara tetesan itu terasa sangat memekakkan telinga.

​Rahmi tersentak kaget. Ia membuka matanya dan melihat bayangan wajahnya sendiri yang menyedihkan terpantul di permukaan meja yang terbuat dari kaca buram. Kepanikan seketika melanda dirinya.

​'Enggak, enggak, gue gak boleh nangis di sini. Gak di depan Alan, apalagi di depan Bunga!' rutuk Rahmi dalam hati dengan panik.

​Dengan gerakan refleks yang kasar dan terburu-buru, Rahmi mengangkat tangannya dan mengusap kedua matanya dengan punggung tangan kirinya. Ia menggosoknya dengan kuat, berusaha menghapus jejak air mata dan mengusir cairan bening yang masih menggenang di sana. Namun karena gerakannya terlalu kasar, hal itu justru membuat area sekitar matanya menjadi kemerahan.

​Gerakan tiba-tiba dan kasar dari Rahmi itu menarik perhatian Alan. Ekor mata Alan, yang meskipun sejak tadi berfokus pada Bunga, menangkap pergerakan aneh dari arah Rahmi. Insting kepedulian yang selalu tertanam dalam diri Alan terhadap sahabatnya itu otomatis menyala.

​Alan menghentikan percakapannya dengan Bunga. Ia menoleh sepenuhnya menatap Rahmi. Keningnya berkerut dalam, melihat wajah sahabatnya yang memerah, bahunya yang sedikit bergetar, dan tangannya yang masih sibuk mengucek mata.

​"Kenapa lu, Mi?" tanya Alan spontan, nada suaranya berubah drastis dari yang tadinya lembut dan malu-malu menjadi tegas dan penuh kekhawatiran.

​Pertanyaan itu membuat seluruh tubuh Rahmi menegang kaku. Tangannya yang sedang berada di depan wajah membeku di udara. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat karena ketakutan.

​'Gimana ini?' batin Rahmi menjerit histeris. 'Gue gak mau Alan tahu kalau gue nangis! Gue gak mau dia tahu kalau gue tanpa sadar udah netesin air mata gara-gara cemburu denger dia mau diajak jalan sama Bunga! Kalau dia tahu, persahabatan kita bakal hancur. Dia bakal ngejauh. Gue bakal kelihatan sangat menyedihkan!'

​Rahmi buru-buru menurunkan tangannya, menelan ludah yang terasa seperti menelan kerikil tajam, dan memaksakan wajahnya mendongak menatap Alan. Matanya merah berair, hidungnya sedikit memerah.

​"Enggak... gak apa-apa," jawab Rahmi dengan suara yang bergetar hebat. Ia mencari alasan paling logis yang bisa otaknya pikirkan dalam keadaan panik. Ia menunjuk gelas di depannya dengan tangan gemetar. "Ini, Lan... ini barusan kecipratan air minuman ini ke mata gue pas gue lagi ngocek es batunya. Perih banget."

​Itu adalah kebohongan yang sangat bodoh. Bagaimana mungkin sedotan yang diputar pelan bisa memercikkan air hingga masuk ke mata? Namun, dalam kepanikannya, hanya itu yang bisa Rahmi katakan.

​Mendengar hal itu, Alan tidak berpikir panjang, apalagi menganalisis kebohongan logis tersebut. Yang ada di kepalanya hanyalah sahabatnya sedang kesakitan. Alan yang selalu menempatkan dirinya sebagai pelindung bagi Rahmi (sebagai seorang teman laki-laki), langsung bereaksi.

​"Lagian lu ngapain sih ngocek minuman tenaga dalam begitu?" omel Alan pelan, namun tangannya dengan sigap meraih kotak tisu yang ada di tengah meja.

​Ia menarik beberapa lembar tisu. Tanpa ragu, Alan mencondongkan tubuhnya melintasi meja, mendekat ke arah Rahmi. Jarak mereka tiba-tiba terpangkas menjadi sangat dekat.

​"Sini, gue lihat," ucap Alan dengan nada memerintah yang khas.

​Ia mengangkat tangannya yang memegang tisu, bersiap untuk mengusap area mata Rahmi. Tidak hanya itu, Alan bahkan sedikit memajukan wajahnya, memoncongkan bibirnya, bersiap untuk membantu meniup mata Rahmi jika ada debu atau tetesan air teh yang membuat mata gadis itu perih.

​Di saat yang bersamaan, aroma maskulin dari sabun mandi murah dan keringat Alan menguar, bercampur menjadi wangi khas yang selalu membuat Rahmi merasa aman. Napas hangat Alan menyapu pelan dahi Rahmi saat pemuda itu bersiap untuk meniup matanya.

​Bagi orang lain, itu mungkin terlihat seperti perhatian yang manis. Namun bagi Rahmi, di detik itu, tindakan Alan adalah sebuah siksaan yang teramat kejam.

​Disaat Alan mengambil tisu... disaat Alan mau membantu untuk meniup sambil mengusap air yang katanya bekas minuman itu... Rahmi tidak sanggup lagi. Jarak yang sedekat ini membunuhnya. Perhatian dari Alan ini adalah kepalsuan yang menyakitkan. Kepedulian yang Alan berikan saat ini murni karena ia menganggap Rahmi sebagai 'bro'-nya yang sedang kelilipan, sementara hati pemuda itu, cinta pemuda itu, sudah jelas tertuju pada gadis cantik yang kini duduk diam menonton mereka di samping Alan.

​Rahmi merasa seperti diberi racun yang dibungkus madu. Ia tidak bisa menerima perhatian ini di depan Bunga. Harga dirinya menolak untuk terlihat lemah dan dikasihani.

​Sebelum tangan Alan yang memegang tisu itu sempat menyentuh kulit wajahnya, Rahmi segera memalingkan wajahnya dengan kasar, menepis udara kosong di antara mereka.

​"Gue..." Rahmi berucap dengan suara yang sangat serak, tenggorokannya tercekat oleh tangis yang mendesak naik. Ia langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat mendadak, membuat kursi kayunya berderit nyaring di atas lantai. "Gue... gue mau ke toilet dulu."

​Tanpa menunggu balasan, persetujuan, atau reaksi apa pun dari Alan, Ardi, Randi, maupun Bunga, Rahmi membalikkan badannya dan melangkah dengan setengah berlari menjauhi meja tersebut. Langkahnya terburu-buru, kepalanya menunduk dalam-dalam menyembunyikan isak tangisnya yang hampir meledak, menabrak perlahan bahu seorang pelayan yang sedang membawa nampan, namun Rahmi tidak memedulikannya. Ia terus berlari menuju lorong belakang tempat toilet berada.

​Alan tertinggal dengan tubuh yang masih mencondong ke depan dan tangan memegang tisu yang menggantung di udara. Ia mengerjap bingung, menatap kepergian Rahmi punggung Rahmi yang menghilang di balik lorong.

​"Kenapa anak itu?" gumam Alan pelan, menarik kembali tubuhnya untuk duduk bersandar. "Perasaan tadi baik-baik aja, kecipratan doang kok sampai kabur gitu."

​Ardi dan Randi saling berpandangan dalam diam. Meskipun mereka laki-laki yang sering tidak peka, kejadian barusan terasa sangat aneh. Namun, mereka tidak berani berkomentar apa pun karena ada Bunga di sana. Ardi kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop, dan Randi kembali sibuk dengan ponselnya.

​Di kursi sebelahnya, Bunga tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis dengan dress krem itu duduk tenang, tatapannya mengikuti kepergian Rahmi hingga gadis tomboi itu lenyap dari pandangan. Wajah Bunga tidak menunjukkan kepanikan atau kebingungan seperti Alan. Sebaliknya, raut wajah Bunga terlihat tenang, namun matanya memancarkan sebuah analisis yang tajam.

​Bunga adalah wanita. Dan sesama wanita, ia memiliki intuisi yang tidak bisa dibohongi.

​Bunga terdiam sejenak. Ia melihat sisa minuman di gelas Rahmi, lalu menatap tisu di tangan Alan. Senyum manisnya memudar selama sekian detik, digantikan oleh tatapan simpatik yang bercampur dengan tanda tanya besar.

​'Aku rasa itu bukan karena terkena cipratan minuman,' kata Bunga dalam batinnya dengan sangat yakin. Mata indahnya menyipit sedikit, menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang baru saja terjadi di hadapannya.

​'Gerakannya terlalu panik. Matanya merah bukan karena perih benda asing, tapi merah karena menahan gejolak emosi. Aku tahu persis mana air mata kesakitan fisik dan mana air mata kesedihan. Itu air mata kesedihan,' lanjut Bunga dalam hatinya, akal sehatnya bekerja sempurna.

​Tatapan Bunga kemudian beralih menatap profil samping wajah Alan. Pemuda tampan yang masih terlihat bingung menatap ke arah lorong toilet. Pemuda yang dulu di SMA selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh pada semua perempuan.

​'Ada hubungan apa Alan dengan Rahmi sebenarnya?' batin Bunga bertanya-tanya. 'Alan bilang mereka cuma sahabat satu geng. Tapi cara gadis itu menatap Alan... cara gadis itu hancur saat mendengar Alan mau pergi denganku... itu bukan tatapan seorang teman biasa. Rahmi menyimpan perasaan yang sangat dalam untuknya. Dan ironisnya...' Bunga menghela napas tipis nyaris tak terdengar, '...Alan yang pintar ini sepertinya sama sekali tidak menyadarinya.'

​Di bagian belakang kafe, di dalam toilet wanita yang berukuran tidak terlalu besar, suara kucuran air dari wastafel terdengar menderas.

​Rahmi berdiri di depan cermin, mencengkeram pinggiran wastafel keramik itu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Air keran mengalir deras, membasuh apa saja yang ada di bawahnya, namun suara gemericik air itu kalah oleh suara isak tangis yang tertahan di tenggorokan Rahmi.

​Dada Rahmi naik turun dengan cepat. Ia baru saja membasuh wajahnya dengan air dingin secara kasar, berharap suhu dingin itu bisa memadamkan api cemburu dan rasa sakit yang membakar seluruh isi rongga dadanya. Namun percuma. Air hanya membersihkan kulit luar, tak mampu menyentuh luka di hatinya yang kini robek parah.

​Perlahan, Rahmi mengangkat kepalanya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin besar di hadapannya.

​Di sana, ia melihat seorang gadis dengan kemeja flanel kebesaran yang lengannya digulung asal-asalan. Gadis dengan rambut sebahu yang sedikit basah tak beraturan di bagian poninya. Gadis yang wajahnya tidak dihiasi makeup mahal, hanya pelembap bibir seadanya. Gadis dengan mata cokelat yang kini bengkak kemerahan dan terus memproduksi air mata tanpa bisa dicegah.

​Rahmi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan suara isakannya agar tidak terdengar ke luar pintu. Ia memejamkan mata, membiarkan setetes air mata lagi jatuh membasahi pipinya.

​'Mi...' panggil Rahmi pada dirinya sendiri dalam batinnya. Suara hatinya terdengar begitu menyedihkan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang telah hancur berserakan di lantai kafe depan. 'Lu harus kuat, Mi. Lu gak boleh nyerah. Lu udah sejauh ini. Lu udah bertahan selama lebih dari setahun berdiri di samping dia. Lu gak boleh nyerah cuma karena masa lalunya datang.'

​Rahmi membuka matanya, menatap tajam pantulan matanya sendiri. Namun, ketegaran palsu itu runtuh secepat ia membangunnya. Pertanyaan-pertanyaan menyakitkan yang sedari tadi ia tahan akhirnya menyerbu pikirannya bagai sekawanan serigala lapar.

​'Tapi... kenapa?' batinnya menjerit memilukan. Air mata mengalir semakin deras. 'Kenapa tatapan Alan sangat berbeda terhadap Bunga? Kenapa harus selembut itu? Mana Alan yang dulu? Mana Alan yang selama ini gue kenal sangat dingin, cuek, dan ketus terhadap semua cewek di kampus? Mana Alan yang selalu menolak mentah-mentah saat diajak ngobrol oleh senior cantik? Mana Alan yang langsung buang muka saat didekati cewek lain selain aku?'

​Rahmi memukul pinggiran wastafel dengan kepalan tangannya yang lemah. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

​'Selama ini gue bangga,' lanjut Rahmi dalam hati, isakannya mulai lolos dari sela-sela bibirnya. 'Gue ngerasa spesial karena gue satu-satunya perempuan yang selalu ada di sampingnya. Gue satu-satunya yang dia izinin masuk ke kehidupannya yang keras. Gue temenin dia kerja, gue perhatiin makannya, gue relain mobil gue jadi angkot buat dia. Gue pikir... perlakuan kasarnya ke gue itu karena dia nyaman, karena gue satu-satunya sahabatnya.'

​Rahmi terdiam mematung. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya membulat menatap kosong ke arah cermin setelah dalam batinnya ia mengucapkan satu kata itu.

​'Sahabat.'

​Kata itu bergema berulang kali di dalam tempurung kepalanya. Menampar kewarasannya berulang-ulang tanpa ampun.

​'Sahabat...' gumamnya pelan, sangat pelan hingga nyaris berupa hembusan napas yang putus asa.

​Senyum miris, getir, dan penuh kepedihan yang luar biasa, perlahan terukir di bibir Rahmi yang pucat. Sebuah tawa tanpa suara yang menyedihkan keluar dari mulutnya, mengejek kebodohannya sendiri yang telah ia pelihara selama berbulan-bulan.

​Ia kembali menatap bayangannya di cermin, air mata membanjiri wajahnya tanpa henti.

​'Iya... sahabat,' Rahmi berkata lagi dalam batinnya, kali ini dengan nada yang mematikan seluruh harapannya. Ia akhirnya menyadari posisinya di papan catur kehidupan Alan.

​'Gue hanyalah seorang sahabat. Seorang sahabat yang menutupi perasaan cintanya dengan candaan kasar. Seorang sahabat yang diam-diam jatuh cinta sedalam samudra, yang mengorbankan segalanya untuk selalu ada di sampingnya, mendukung mimpinya, meringankan bebannya. Seorang sahabat yang mencintainya dalam diam, yang sampai kapan pun... selamanya... tidak akan pernah disadari oleh Alan. Karena di mata Alan, aku adalah bahunya untuk bersandar, sementara Bunga... Bunga adalah detak jantung yang selama ini ia cari.'

​Di dalam bilik toilet yang dingin itu, diiringi suara aliran air yang tak kunjung dimatikan, Rahmi menangis sejadi-jadinya. Membiarkan seluruh hatinya hancur lebur di bawah bayang-bayang Bunga yang sempurna, menyadari bahwa cinta dalam diamnya telah kalah sebelum ia sempat memulai peperangan. Babak ini bukan hanya tentang hati yang tak tersampaikan, melainkan tentang realita bahwa menjadi yang paling lama menemani, tidak selalu menjamin akan menjadi yang paling dicintai.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!