NovelToon NovelToon
Samudra Di Atas Langit

Samudra Di Atas Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.

Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan

Lampu kristal setinggi tiga meter menggantung megah di tengah ruang makan mansion utama Keluarga Samudra, memantulkan cahaya pada meja panjang berbahan marmer Italia. Di ujung meja, Kakek Wijaya Samudra duduk tegak, meski tangan kanannya bertumpu pada tongkat kayu cendana berukir kepala naga. Aura kepemimpinannya masih mampu membungkam ruangan. Di sisi kanannya, Tuan Baskara Samudra duduk bersama istrinya, Nyonya Shinta. Keduanya lebih banyak diam, namun sorot mata menyiratkan luka yang tak kunjung kering.

"Wah. Hidangan malam ini luar biasa, Ayah," suara melengking Tante Ratna, adik Tuan Baskara, memecah kesunyian.

Ia memotong daging steak-nya dengan gerakan elegan yang dibuat-buat. "Sayang sekali jika suasana hangat ini tidak dibarengi dengan pembahasan masa depan Samudra Group."

Baskara meletakkan sendoknya perlahan, denting logam yang beradu dengan piring porselen itu terdengar tajam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Suami Ratna, Om Bramantyo, berdehem sambil membetulkan arah kacamatanya. "Begini Ayah. Kita harus realistis. Kak Baskara memang kuat memimpin sekarang, tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa... yah, Samudra Group butuh kepastian. Mengingat Kak Baskara sudah tidak memiliki keturunan lagi setelah tragedi itu."

Nyonya Shinta tersentak. Tangannya yang memegang serbet gemetar hebat dibawah meja. Kalimat itu seperti menyiramkan air raksa pada luka lama akibat kehilangan dua putranya belasan tahun lalu. Tuan Baskara segera menggenggam tangan istrinya, meremasnya lembut untuk memberi kekuatan, meski rahangnya sendiri mengeras menahan amarah.

"Jaga bicaramu, Bram!" desis Tuan Baskara dengan suara rendah yang mengancam.

"Kenapa? Bram benar, Kak!" sahut Tante Ratna tak mau kalah. Ia melirik putranya, Kenzo Pratama Samudra yang sedari tadi asyik bermain ponsel.

"Kenzo sudah dewasa. Dia calon mahasiswa baru di universitas kita. Dia punya darah Samudra. Bukankah, sudah saat Kenzo ditetapkan sebagai Putra Mahkota?"

Kakek Wijaya masih terdiam, menyesap tehnya dengan tenang, namun matanya yang tajam bak elang mengawasi setiap gerak-gerik di meja itu.

"Ratna," suara Kakek Wijaya berat dan berwibawa.

"Bukankah, ayah sudah memberimu sepuluh persen kekayaan Samudra Group? Kalian juga sudah menempati mansion mewah di pusat kota. Bahkan, suamimu, Bramantyo, sudah kupercaya menjadi pemimpin dan mengelola kampus yang kudirikan. Apa itu belum cukup?"

Bramantyo tertawa hambar, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh.

"Ayah, mengelola kampus itu kecil. Kami bicara tentang takhta nomor satu di negeri ini. Kita tidak ingin Samudra Group goyah karena dianggap tidak punya penerus langsung, kan?"

Ratna menyenggol lengan Kenzo dengan siku, memberikan kode mata yang tajam. Kenzo yang sedang asyik mengirim pesan singkat langsung tersentak. Ia meletakkan ponselnya, lali memasang wajah manis yang dibuat-buat ke arah sang kakek.

"Kakek," panggil Kenzo dengan nada manja yang khas.

"Kenzo janji akan belajar lebih giat di kampus nanti. Kenzo ingin cepat-cepat bantu Kakek di kantor pusat biar Kakek tidak capek lagi." ia mencoba meraih tangan kakeknya, pura-pura perhatian.

Kakek Wijaya menatap cucunya itu datar. Ia tahu betul Kenzo adalah remaja yang hobi foya-foya di club malam dan tidak punya jiwa pemimpin sedikit pun. "Jiwa pemimpin itu lahir dari keringat, Kenzo. Bukan dari pamer mobil sport setiap bulan," ujar Kakek pedas.

Ratna meradang melihat anaknya disindir. "Ayah! Kenzo hanya butuh kesempatan! Selama ini Ayah terlalu memanjakan kenangan tentang... mereka yang sudah tiada. Kak Baskara dan Kak Shinta harus menerima kenyataan bahwa garis keturunan mereka sudah terputus!"

BRAK!

Tuan Baskara memukul meja, membuat gelas-gelas kristal berdenting keras. "Cukup, Ratna! Jangan pernah kau sebut-sebut anak-anakku dengan mulutmu yang serakah itu!"

Suasana menjadi mencekam. Nyonya Shinta tertunduk, air mata mulai jatuh di pipinya. Ia merindukan Langit yang telah tiada, dan merindukan si bungsu yang di sembunyikan. Ia ingin berteriak bahwa pewaris itu masih ada. Namun, ia harus tetap diam demi keselamatan putranya.

Kakek Wijaya berdiri perlahan, bertumpu pada tongkatnya. Ia menatap Tante Ratna dan Om Bramantyo dengan tatapan dingin yang membuat mereka menciut. "Keputusan tentang pewaris adalah hak mutlakku. Selama Baskara masih mampu berdiri, dia adalah pemimpin kalian. Jangan sekali-kali mencoba melangkahiku."

Kakek menoleh ke asisten pribadinya yang berdiri di sudut ruangan, memberi isyarat samar yang hanya dimengerti oleh mereka yang tahu rahasia besar itu. Ratna mendengus kesak, menyambar tas bermereknya sambil menghentakkan kaki.

"Ayo, Kenzo, kita pulang! Percuma bicara dengan orang yang hidup di masa lalu!" seru Ratna kasar.

Setelah mereka pergi, ruangan itu kembali sunyi. Kakek Wijaya menatap Baskara dan Shinta yang masih terguncang. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara yang lebih lembut namun tegas, "Waktunya sudah tiba. Hubungi Cakrawala. Suruh dia pulang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!