menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 : keindahan yang terlupakan dan ikan pari perak
Saat gerbang batu besar tertutup rapat di belakangnya, Raja Xavier tertegun sejenak.
Ia menyangka akan disambut oleh pemandangan yang suram, kering, dan penuh tulang belulang seperti yang diceritakan legenda gelap. Namun, apa yang ia lihat justru membuat napasnya tercekat.
Ini adalah dunia yang abadi dalam cengkeraman malam. Tidak ada matahari, tapi langit dipenuhi bintang-bintang yang berkilau jauh lebih terang dan lebih banyak daripada di mana pun. Cahaya remang-remang yang indah menerangi seluruh wilayah, menciptakan suasana yang misterius namun sangat damai.
Di kejauhan, berdiri megah Istana Obsidian. Bangunan itu menjulang tinggi dengan arsitektur yang rumit dan anggun, terbuat dari batu hitam yang berkilau seperti kaca.
Dan tepat di puncak menara tertinggi, Xavier bisa melihatnya dengan jelas.
Itu adalah Sentinel, Naga Batu Raksasa yang selama ini ia baca di buku. Tubuhnya yang besar melingkar di atas atap menara, kepalanya tertunduk, tampak sedang tertidur lelap. Meskipun sedang tidur, aura kekuatan yang dipancarkannya masih sangat terasa, namun kali ini tidak terasa mengancam, justru terasa seperti penjaga yang sedang beristirahat dengan tenang.
"Indah..." bisik Xavier pelan, matanya berbinar. "Jadi begini rupa rumahmu, Elara..."
🌸 Desa yang Sunyi namun Rapi
Xavier mulai melangkah perlahan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu halus.
Ia melewati sebuah pemukiman atau desa yang terletak di kaki bukit menuju istana. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu gelap dan batu, tertata rapi berderet rapi. Namun, desa itu kosong. Tidak ada satu pun penduduk yang terlihat. Sunyi sekali.
Tapi yang membuat Xavier terharu adalah perawatannya.
Meskipun kosong, desa itu tidak terlihat terbengkalai. Jalanan bersih dari rumput liar, dan di setiap pot bunga serta di sepanjang pagar, tumbuh subur berbagai jenis tanaman. Ada Mawar Hitam, Anggrek Bulan, dan Kaktus Kristal yang mekar dengan indah.
Warnanya tidak secerah dan semarak di kerajaannya, tapi ada keindahan tersendiri yang tenang, elegan, dan misterius.
"Mereka bilang tempat ini mengerikan..." gumam Xavier sambil menyentuh kelopak bunga kaktus yang dingin namun halus. "Tapi menurutku, ini sangat cantik. Terawat dan bersih. Pasti Golom Krisan dan para penjaga yang selalu merawatnya dengan baik meski tidak ada orang yang tinggal di sini."
Hati Xavier semakin hangat. Ia merasa semakin dekat dengan Elara. Wanita ini benar-benar mencintai keindahan, meskipun ia memegang kendali atas kematian.
🌊 Penjaga Jembatan Lunaris
Setelah melewati desa, Xavier tiba di tepi sebuah danau yang sangat luas dan tenang. Air danau itu berwarna hitam pekat namun jernih, memantulkan cahaya bintang di langit seperti cermin raksasa.
Di seberang danau itulah istana utama berada. Namun, untuk mencapainya, ia harus melewati sebuah jembatan batu yang panjang. Sayangnya, jembatan itu tampak rusak dan putus di tengah-tengah, seolah sengaja diputus untuk menghalangi jalan.
Xavier berhenti di tepi air, berpikir bagaimana cara menyeberang.
Tiba-tiba...
Byuuuur...
Air danau beriak tenang. Sesuatu yang besar dan gelap muncul perlahan dari kedalaman air.
Bukan monster buas, melainkan seekor Ikan Pari Raksasa yang sangat megah. Tubuhnya lebar dan besar, sirip-siripnya indah seperti sayap, dan sisiknya berwarna perak kebiruan yang berpendar lembut dalam gelap. Matanya besar, bulat, dan terlihat sangat bijaksana serta lembut.
Makhluk itu mengapung di permukaan air, tepat di hadapan Xavier, wajahnya setinggi dada sang Raja.
"Halo..." suara itu lembut, lirih, dan terdengar seperti gemericik air yang sangat enak didengar. "Kau siapa, wahai Cahaya yang bersinar terang? Jarang sekali ada orang yang bisa melewati gerbang Aetheris dan sampai ke sini."
Xavier tersenyum ramah, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Salam, makhluk yang indah. Aku Xavier. Aku datang untuk bertemu dengan Ratu Elara."
Ikan pari itu mengedipkan matanya yang besar, lalu ia menggerakkan tubuhnya berputar perlahan mengelilingi Xavier di dalam air, mengamati aura sang Raja dengan saksama.
"Aku Lunaris, penjaga danau ini dan penjaga jembatan ini. Aku adalah penghubung antara desa dan istana Tuanku," jawabnya pelan. "Banyak orang jahat yang datang ke sini, membawa niat buruk, membuat air danau ini menjadi keruh dan panas. Tapi kau... kau berbeda."
Lunaris mendekatkan wajahnya, menatap mata Xavier dengan dalam.
"Aura mu bersih dan hangat. Hatimu tenang seperti air danau ini. Tidak ada kebencian, tidak ada keserakahan. Hanya ada rasa ingin tahu dan... rasa sayang yang besar."
Lunaris tersenyum, mulutnya membentuk lengkungan yang manis.
"Kau mencintai Tuanku, kan?"
Pertanyaan itu dilontarkan begitu saja, begitu tulus, membuat Xavier sedikit tersipu tapi ia mengangguk tegas.
"Ya. Aku mencintainya. Aku ingin bertemu dengannya."
"Bagus..." gumam Lunaris bahagia. "Sudah sangat lama tidak ada orang yang datang ke sini dengan perasaan seindah ini. Tuanku pasti akan senang."
🌉 Jembatan yang Tersambung Kembali
"Lunaris, bisakah kau membantuku menyeberang?" tanya Xavier sopan. "Jembatan itu tampaknya sudah putus."
Lunaris tertawa kecil, suaranya terdengar seperti lonceng perak.
"Itu karena aku yang memisahkannya untuk menahan orang jahat. Tapi untukmu... aku akan sambungkan kembali."
Tiba-tiba, tubuh Lunaris memancarkan cahaya biru perak yang terang. Ia mengibaskan sirip besarnya ke arah jembatan yang putus.
DUNG...!
Dari dalam air, batu-batu besar dan akar-akar pohon kuno bergerak dengan sendirinya. Potongan-potongan jembatan yang hancur melayang perlahan, menyusun diri kembali, menyambung satu sama lain hingga menjadi sebuah jembatan yang utuh, kokoh, dan indah melintasi danau.
"Silakan lewat, Raja Xavier," ucap Lunaris sambil menunduk hormat. "Jalan sudah aman. Aku harap kau bisa membuat Tuanku tersenyum lagi. Sudah sangat lama aku tidak mendengar tawanya..."
Xavier mengangguk penuh terima kasih. "Terima kasih banyak, Lunaris. Aku janji akan melakukan yang terbaik."
Xavier melangkah menaiki jembatan batu itu. Setiap langkahnya terasa ringan. Ia tahu, setiap makhluk yang ia temui—Aetheris, dan sekarang Lunaris—semuanya menyayangi Elara dengan tulus. Itu membuktikan betapa baiknya hati sang Ratu di balik sikap dinginnya.
Di seberang jembatan, istana megah itu semakin terlihat jelas. Dan di sana, di singgasana yang tinggi, Ratu Elara pasti sudah menunggu... atau mungkin baru saja sadar kalau tamu istimewanya sudah datang.
Bersambung...