Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain pagi itu terasa lebih riuh dari biasanya. Kabar mengenai hadirnya dosen baru untuk mata kuliah Sejarah Seni telah menyebar cepat, memicu bisik-bisik penasaran di sepanjang koridor. Zivara melangkah masuk ke dalam kelas, memilih kursi di barisan tengah yang tidak terlalu mencolok. Jemarinya yang memegang buku sketsa terasa sedikit dingin; ada kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan sejak semalam.
Keheningan seketika menyergap saat seorang pria dengan kemeja flanel gelap yang digulung hingga siku melangkah masuk. Aura pria itu tenang, namun menyimpan karisma yang tajam. Ia meletakkan tas kulitnya di atas meja dosen, lalu menuliskan satu nama dengan spidol hitam di papan tulis: Adrian Marcelino.
Jantung Zivara seolah berhenti berdetak saat membaca nama itu.
Seluruh memori dari kehidupan lamanya menghantam tanpa ampun. Di masa lalu, Adrian adalah hantu yang menghancurkan pernikahannya. Pria itu adalah cinta pertama Luna—pria yang sangat dicintai Luna hingga keberangkatannya ke Italia meninggalkan lubang hitam di hati gadis musik itu. Hancur karena patah hati ditinggal pergi oleh Adrian ke Italia, Luna kehilangan akal sehatnya. Meski saat itu ia masih berstatus sebagai kekasih Kaizar, ia merasa terbebani dan ingin segera mengakhiri hubungan tersebut demi mengejar bayang-bayang Adrian. Dengan rencana yang licik dan keji, Luna memanfaatkan ketulusan Zivara.
Pada malam kelulusan, Luna menjebak Kaizar dan Zivara agar berada dalam satu kamar hingga terjadi hubungan satu malam yang tidak pernah mereka inginkan. Skema ini sengaja Luna susun agar ia bisa putus dari Kaizar dengan alasan perselingkuhan, sekaligus memaksa Kaizar untuk bertanggung jawab menikahi Zivara. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas reruntuhan harga diri Zivara dan rasa muak Kaizar.
Akan tetapi, ada satu hal yang salah. Sangat salah.
Seharusnya Adrian tidak ada di sini, batin Zivara berteriak. Di kehidupan sebelumnya, Adrian tidak akan pernah kembali ke Indonesia. Tapi mengapa sekarang pria itu muncul sebagai dosennya di saat ia baru berusia delapan belas tahun?
"Selamat pagi. Saya Adrian, dan saya akan memandu kalian memahami bahwa seni bukan hanya soal estetika, tapi soal bagaimana kita merekam luka," suara bariton Adrian menggema di ruangan, membuat beberapa mahasiswi di barisan depan terpesona.
Mata Adrian menyapu seluruh penjuru kelas, hingga akhirnya berhenti tepat pada mata Zivara. Pria itu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tampak ramah bagi orang lain, tapi terlihat seperti peringatan bagi Zivara.
Zivara merasa dunianya miring. Apakah keputusannya untuk berubah di kehidupan ini telah memicu efek domino yang merusak seluruh skenario masa lalu? Jika Adrian kembali sekarang, maka Luna tidak akan sedih. Jika Luna tidak sedih, ia tidak akan menjebak Kaizar. Dan jika semua itu berubah, apakah rencana Zivara untuk menjauh dari Kaizar justru akan membawanya ke dalam masalah yang lebih besar?
"Zivara Arthea?" panggil Adrian tiba-tiba.
Zivara tersentak, wajahnya memucat. "I-iya, Pak?"
"Saya melihat portofoliomu di ruang kaprodi pagi tadi," ujar Adrian sambil berjalan mendekat ke arah meja Zivara. "Lukisanmu bagus, tapi penuh dengan kemarahan yang ditekan. Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan melalui garis-garismu?"
Pertanyaan itu membuat seisi kelas menoleh pada Zivara. Di barisan belakang, Dina menyenggol lengan Zivara dengan wajah kagum, sementara Zivara hanya bisa meremas pensilnya hingga ujungnya patah.
Adrian kini berdiri tepat di depan mejanya, aroma parfum kayu cendana yang kuat menguar dari tubuh pria itu.
"Seni tidak pernah berbohong, Zivara. Sama seperti takdir, ia selalu menemukan jalannya, meskipun kita mencoba menghapusnya berkali-kali."
Kalimat itu bukan sekadar kritik seni; itu adalah sebuah pesan personal yang hanya dipahami oleh Zivara.
**
Gedung Manajemen Bisnis Internasional masih tampak sibuk saat jarum jam menunjukkan waktu makan siang. Di selasar utama, Luna berdiri dengan keanggunan yang dipaksakan. Sesekali ia merapikan rambutnya yang tertiup angin, sembari matanya tak lepas menyisir setiap mahasiswa yang keluar dari ruang kuliah utama.
Begitu sosok tinggi tegap dengan rahang tegas itu muncul, mata Luna berbinar. Kaizar Ravindra keluar dengan langkah lebar, wajahnya tampak kaku seolah sedang memikul beban pikiran yang berat.
"Kaizar!" panggil Luna, segera melangkah mendekat dan menyambutnya dengan senyum termanis yang ia miliki.
Kaizar menghentikan langkahnya, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit dibaca—datar, namun ada semburat kelelahan di sana.
"Luna. Ada apa?"
"Makan siang bersama, yuk? Ada restoran baru di daerah Dago yang sedang viral. Aku sudah buatkan reservasi untuk kita," ajak Luna sembari mencoba meraih lengan Kaizar secara alami.
Secara halus, Kaizar menarik lengannya sebelum jemari Luna sempat menyentuh kain kemejanya.
"Aku tidak bisa. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan sekarang," tolaknya singkat.
Senyum di wajah Luna perlahan memudar, digantikan oleh gurat kekecewaan yang nyata. Ini bukan kali pertama dalam minggu ini Kaizar menolaknya. Pria yang dulunya akan membatalkan janji apa pun demi dirinya, kini seolah membangun tembok raksasa yang tak tertembus.
"Urusan apa lagi, Kai? Belakangan ini kamu selalu sibuk," tuntut Luna, suaranya mulai naik satu oktaf. "Kenapa sekarang kamu berubah drastis? Apa ini semua gara-gara Zivara?"
Mendengar nama Zivara disebut, rahang Kaizar mengeras. Ia menatap Luna tepat di mata, sebuah tatapan yang membuat nyali Luna sedikit menciut.
"Ini tidak ada hubungannya dengan siapa pun, Luna. Terutama bukan urusan Zivara," jawab Kaizar dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan. "Aku hanya sedang ingin sendiri. Tolong, jangan menggangguku dulu."
Luna terperangah. Kata 'mengganggu' yang keluar dari mulut Kaizar terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
"Kamu bilang aku mengganggu? Kai, aku kekasihmu!"
Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Kaizar membalikkan badan. Ia melangkah pergi meninggalkan Luna yang mematung di tengah kerumunan mahasiswa, mengabaikan seruan kecil yang memanggil namanya.
Luna menatap punggung Kaizar yang menjauh dengan perasaan campur aduk—kesal, malu, dan yang paling mendominasi adalah kecurigaan yang membakar. Ia ingat betul, setiap kali Kaizar sulit dihubungi atau mendadak dingin, nama Zivara Arthea selalu terselip di antaranya.
Ada apa dengan kalian berdua? batin Luna penuh amarah. Tangannya meremas tali tasnya kuat-kuat. Ia merasa ada sesuatu yang lepas dari kendalinya, sebuah rahasia yang disembunyikan Kaizar darinya, dan ia bersumpah akan mencari tahu apa itu sebelum semuanya terlambat.
**
Aroma cat minyak dan tiner yang kuat menyambut Kaizar begitu ia menginjakkan kaki di selasar gedung DKV. Langkah kakinya yang berat bergema di koridor yang mulai sepi, membawa beban kecemasan yang bahkan ia sendiri sulit jelaskan. Mengabaikan Luna di depan gedung Manajemen Bisnis tadi seharusnya memberikan sedikit ketenangan, tetapi pikirannya justru tertinggal pada satu nama: Zivara Arthea.
Entah dorongan dari mana, Kaizar merasa kakinya memiliki memori sendiri, membawanya tepat menuju studio lukis yang terletak di sudut paling tenang gedung itu. Sejak pertama kali mata mereka bertemu di rumah setelah time rewind ini, ada ikatan tak kasat mata yang menariknya begitu kuat. Sebuah tarikan magnetis yang terasa seperti kerinduan ribuan tahun, bercampur dengan ketakutan luar biasa akan kehilangan.
Namun, pemandangan di balik pintu studio yang setengah terbuka itu seketika membuat napas Kaizar tercekat.
Di antara jajaran kanvas dan tumpukan palet, Zivara sedang duduk menghadap sebuah lukisan yang masih setengah jadi. Ia tidak sendirian. Adrian berdiri sangat dekat di sampingnya, membungkuk sedikit hingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Tangan Adrian menunjuk ke arah kanvas, sementara Zivara mendengarkan dengan tatapan yang—untuk pertama kalinya—terlihat begitu fokus dan terbuka.
Bara api dalam dada Kaizar mendadak berkobar hebat, membakar habis sisa-sisa logikanya. Rasa cemburu yang primitif dan liar merayapi nadinya. Tanpa memikirkan sopan santun, Kaizar menendang pintu kayu itu hingga membentur dinding dengan dentuman keras.
Langkah lebar Kaizar memangkas jarak di antara mereka dalam hitungan detik.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" geram Kaizar, suaranya parau dan tajam seperti mata pisau.
Adrian menegakkan tubuh, menatap Kaizar dengan ketenangan yang memuakkan. "Kami sedang mendiskusikan teknik komposisi, Kaizar. Apa kau ada urusan di departemen ini?"
"Teknik komposisi atau teknik merayu mahasiswi?" sahut Kaizar dengan nada menghina, matanya beralih menatap Adrian dengan kilat kebencian yang nyata. "Kau baru sehari menjadi dosen di sini, Adrian. Jangan gunakan jabatanmu sebagai kedok untuk memburu mangsa."
Adrian hanya menaikkan sebelah alisnya, senyum tipis yang meremehkan tersungging di bibirnya. Provokasi itu berhasil; Kaizar sudah hampir meraih kerah kemeja Adrian sebelum sebuah suara dingin menghentikan gerakannya.
"Cukup, Kak Kaizar!"
Zivara berdiri dari kursinya, menatap Kaizar dengan sorot mata yang penuh kekecewaan sekaligus ketegasan yang belum pernah Kaizar lihat sebelumnya.
"Jaga bicaramu. Pak Adrian sedang membantuku memperbaiki perspektif yang salah pada lukisan ini. Tidak ada hal kotor seperti yang ada di pikiranmu."
Kaizar terpaku, tangannya yang mengepal di udara perlahan turun. Rasanya lebih sakit daripada dipukul fisik; Zivara baru saja membela pria yang—di ingatannya—adalah duri dalam hidup mereka.
"Vara, kamu tidak mengenalnya. Kamu tidak tahu siapa dia sebenarnya—"
"Dan aku juga merasa tidak benar-benar mengenalmu jika kamu terus bersikap seperti orang kesurupan begini," potong Zivara cepat. Ia berdiri tepat di depan Adrian, seolah sedang melindunginya dari amukan Kaizar. "Tolong keluar, Kak. Kehadiranmu hanya merusak suasana di sini."
Dunia Kaizar seolah runtuh seketika. Ia menatap Zivara, mencari sisa-sisa gadis lembut yang selalu memujanya dulu, tetapi yang ia temukan hanyalah dinding es yang kokoh. Terluka dan merasa dikhianati oleh takdir, Kaizar melangkah mundur tanpa memutuskan kontak mata.
"Kamu akan menyesal karena telah mempercayainya, Vara," bisik Kaizar parau sebelum berbalik dan pergi meninggalkan studio dengan hati yang hancur berkeping-keping.
***
🤣🤣🤣