NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

"Loe beneran serius sama apa yang loe teriakkan di kantin tadi?"

Suara angin sepoi-sepoi di bawah pohon beringin tua di sudut paling belakang sekolah menyamarkan getaran dalam suaraku. Aku berdiri menyandar pada batang pohon yang kasar, membiarkan kulit kayu itu menusuk punggungku—sedikit rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa perih yang lebih dalam di dada. Di depanku, Bara berdiri dengan satu tangan bertumpu pada batang pohon, mengurungku dalam ruang sempit yang hanya berisi aroma tembakau dan sisa hujan yang menempel di jaket kulitnya.

Bara tidak langsung menjawab. Ia justru menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin melarikan diri, namun sekaligus membuatku merasa... terlihat. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti bayangan yang transparan.

"Kenapa? Loe ngerasa gue cuma cari gara-gara sama si Pangeran Kodok itu?" Bara menyahut, suaranya rendah dan serak. Ia mengeluarkan sebatang rokok, tapi urung menyalakannya saat melihatku sedikit terbatuk. Benda itu hanya ia selipkan di balik telinga, sebuah gestur kecil yang entah kenapa terasa begitu menghormatiku.

"Semua orang mengira begitu, Bara," aku mendongak, menatap mata liarnya yang tidak pernah bisa kubaca. "Mereka pikir kamu cuma mau menginjak harga diri Alvaro dengan cara mengklaim barang yang dia buang. Aku... aku nggak mau jadi alat balas dendam kamu."

Bara mendekatkan wajahnya, hanya menyisakan jarak beberapa senti. Aku bisa melihat pantulan wajahku yang kusam di matanya yang gelap. "Gue nggak butuh alat buat ngehancurin orang kayak Alvaro, Ra. Gue punya kepalan tangan buat itu. Apa yang gue omongin tadi... itu bukan gertakan."

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang selama ini terkubur di bawah dominasi keluarga Maheswari. "Aku mau menikah sama kamu, Bara."

Gerakan Bara terhenti. Matanya sedikit membelalak, tidak menyangka aku akan melontarkan kalimat itu dengan begitu lugas. Namun, aku belum selesai.

"Tapi bukan sekarang. Bukan Aira yang sekarang," lanjutku, suaraku kini lebih stabil, lebih dingin. Aku meremas ujung rok seragamku hingga buku-buku jariku memutih. "Aku mau suami yang sukses. Aku mau pria yang pintar, yang punya kuasa lebih dari sekadar otot. Aku mau seseorang yang bisa bikin keluargaku malu karena sudah meremehkanku selama belasan tahun. Aku mau mereka semua—Ayah, Ibu, Airin, dan bahkan Alvaro—suatu hari nanti harus mendongak hanya untuk menatap bayangan kita."

Aku menatapnya tajam, menantang setiap inci keberaniannya. "Kamu bisa? Kamu bisa jadi pria yang kusebutkan tadi? Atau kamu cuma bisa jadi preman sekolah yang masa depannya berakhir di balik jeruji besi?"

Hening menyergap. Hanya suara gesekan daun beringin yang terdengar seperti bisikan rahasia. Aku tahu permintaanku gila. Meminta seorang berandal yang hobi bolos dan berkelahi untuk menjadi pria sukses adalah sebuah kemustahilan di mata dunia. Tapi aku lelah menjadi korban. Jika aku harus menyerahkan masa depanku pada seseorang, aku ingin orang itu menjadi pedang yang paling tajam.

Bara menatapku lama, seolah sedang menakar bobot luka yang tersimpan di balik kalimatku. Tiba-tiba, ia menyeringai. Bukan seringai beringas seperti biasanya, melainkan sebuah senyuman miring yang tampak sangat tampan dan penuh tekad.

"Loe minta gue jadi menteri? Atau CEO yang bisa beli perusahaan bokap loe?" Bara tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat jantan di telingaku. Ia menegakkan tubuhnya, menatap ke arah gedung sekolah yang megah di kejauhan. "Gue jabanin, Ra. Gue nggak pernah sekolah beneran karena gue pikir dunia ini nggak punya tempat buat orang kayak gue. Tapi kalau loe minta gue jadi tangga buat loe naik ke atas... gue bakal jadi tangga paling kokoh yang pernah ada."

Ia kembali menatapku, kali ini dengan kilat mata yang benar-benar baru. "Mulai besok, gue nggak akan bolos lagi. Gue bakal duduk di belakang loe, dengerin semua omongan guru yang bikin ngantuk itu, dan gue bakal pastiin otak gue cukup pinter buat bawa loe keluar dari neraka itu."

"Janji?" bisikku, hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

"Janji preman itu lebih berharga dari janji politikus, Aira," Bara mengulurkan jari kelingkingnya yang kasar ke arahku. "Loe punya gue sekarang. Dan gue bakal punya masa depan yang bikin mereka semua sujud di kaki loe."

Aku mengaitkan jari kelingkingku pada kelingkingnya yang besar. Rasanya hangat. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sebuah harapan yang nyata. Aku tidak lagi peduli apakah ini cinta atau hanya aliansi dua orang yang terbuang. Yang aku tahu, di bawah pohon ini, sebuah takdir baru sedang ditulis dengan tinta keberanian.

*

(POV ALVARO)

Aku berdiri mematung di balik tembok bata yang memisahkan area belakang sekolah dengan taman beringin. Tanganku yang terkepal di samping tubuh bergetar hebat. Aku tidak tahu kenapa kakiku membawaku ke sini. Seharusnya aku sedang berada di kelas, menemani Airin yang sedang 'trauma' karena kejadian di kantin tadi.

Tapi setiap kata yang keluar dari mulut Aira barusan... setiap kalimat yang ia ucapkan dengan nada penuh luka namun bertenaga itu, menghantam dadaku lebih keras daripada pukulan Bara mana pun.

"Aku mau suami yang sukses... yang bisa bikin keluargaku malu..."

Suaranya tidak lagi terdengar seperti Aira yang lemah yang selalu kulihat menangis di pojok gudang. Suara itu... suara itu mengingatkanku pada "Ai" kecil yang dulu pernah berjanji akan menjadi desainer hebat untuk menghapus air mataku. Nada bicaranya yang penuh tekad, cara dia memberikan syarat pada Bara... itu semua terasa begitu familiar, namun sekaligus terasa sangat jauh.

Kenapa dadaku terasa sesak tanpa alasan yang jelas?

Aku menatap tembok di depanku dengan tatapan kosong. Rasa sakit ini... ini bukan kemarahan karena Aira bergaul dengan berandal. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti aku baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, namun aku sendiri yang membuangnya ke tempat sampah.

"Varo? Kamu di sana?"

Suara Airin memanggil dari kejauhan, tapi aku tidak bergeming. Aku tetap terpaku, mendengarkan suara tawa pelan Bara di balik tembok. Tawa seorang pria yang baru saja mendapatkan 'syarat' untuk menjadi lebih baik demi seorang gadis yang selalu kusebut sampah.

Aku meraba dadaku, tepat di tempat jantungku berdegup dengan irama yang menyakitkan. Aku mencintai Airin. Aku yakin Airin adalah "Ai" yang kucari. Tapi kenapa saat mendengar Aira merencanakan masa depannya dengan pria lain, aku merasa seolah seluruh duniaku baru saja runtuh berkeping-keping?

Aku menarik napas dengan susah payah, mencoba mengusir sesak yang kian mencekik. Aku harus pergi dari sini sebelum mereka melihatku. Namun, bayangan Aira yang menatap Bara dengan binar harapan di bawah pohon beringin itu terus menghantuiku. Sebuah binar yang belum pernah ia tunjukkan padaku, bahkan di saat-saat paling damai dalam kebersamaan kami selama ini.

Aku berbalik dengan langkah gontai, meninggalkan tembok itu. Di dalam kepalaku, suara Aira terus bergema, menelanjangi semua kemunafikanku dan membuatku menyadari satu hal yang paling kutakuti: Mungkin, orang yang paling kuremehkan itulah satu-satunya orang yang benar-benar memiliki kunci dari hatiku yang selama ini terkunci rapat. Dan sekarang, kunci itu sudah berada di tangan pria lain.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!