Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kukuruyuk.
Suara kokok ayam hutan terdengar nyaring dari arah perbukitan, memecah kabut pagi yang menyelimuti Desa Qingshui. Matahari perlahan naik, membiaskan cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun zamrud Pohon Ajaib di halaman belakang Lin Ye.
Lin Ye terbangun dengan napas yang teratur. Dia meregangkan otot-ototnya, merasakan aliran tenaga yang penuh di sekujur tubuhnya. Tidak ada rasa pegal dari petualangan menambang semalam, dan pikirannya sangat jernih.
"Hari ini adalah waktunya bekerja besar-besaran. Aku sudah punya alatnya, sekarang aku butuh benihnya," ucap Lin Ye sambil bangkit dari tempat tidur kayunya.
Setelah mencuci muka dan meneguk secangkir air dari sumur abadi, Lin Ye duduk di kursi teras belakang. Dia memusatkan pikirannya.
"Sistem, buka Toko Level 1. Tampilkan benih tanaman yang memiliki nilai jual tinggi dan bisa dipanen dalam jumlah besar," perintah Lin Ye.
Sring.
Layar hijau tembus pandang muncul di depannya. Daftar benih yang tersedia kini terlihat lebih panjang dari sebelumnya.
"Benih Jagung Emas. Harga 30 Koin Alam per bungkus. Waktu tumbuh normal 14 hari. Jagung ini memiliki bulir yang bersinar seperti emas, rasanya sangat manis dan mengandung energi murni yang bagus untuk pencernaan."
"Benih Stroberi Pemulih. Harga 40 Koin Alam per bungkus. Waktu tumbuh normal 10 hari. Buah stroberi merah pekat yang jika dikonsumsi dapat menyembuhkan kelelahan fisik instan dan mencerahkan kulit."
"Jagung Emas dan Stroberi Pemulih. Dua komoditas ini pasti akan membuat Tang Wanjin semakin tergila-gila pada pasokan ladangku," kata Lin Ye dengan senyum penuh perhitungan. "Sistem, beli dua bungkus Benih Jagung Emas dan dua bungkus Benih Stroberi Pemulih. Lalu tambahkan satu lagi Bambu Pengembun Otomatis."
"Konfirmasi Transaksi: Total belanja 190 Koin. Saldo Koin Alam Anda saat ini adalah 183 Koin. Transaksi ditolak karena saldo tidak mencukupi."
Lin Ye menepuk dahinya pelan. "Ah, aku lupa menghitungnya. Kalau begitu, batalkan pembelian Bambu Pengembun. Aku hanya akan membeli benihnya saja. Pengairan bisa aku atasi secara manual menggunakan air dari sumur abadi. Total 140 Koin Alam untuk benih, proses sekarang."
"Transaksi berhasil. Saldo Koin Alam saat ini: 43 Koin. Barang telah dimasukkan ke dalam inventaris."
Sebuah cahaya kecil berkedip di atas meja, meninggalkan empat kantong kertas kecil berisi bibit unggul. Lin Ye mengambil kantong-kantong itu dan menyimpannya di saku celemek berkebunnya. Dia kemudian meraih Cangkul Tembaga Hitam Level 2 yang bersandar di dekat pintu.
Logam paduan tembaga dan besi hitam itu terasa dingin di tangannya, namun memancarkan aura kekuatan yang solid.
Lin Ye melangkah ke bagian tengah ladang yang masih dipenuhi semak belukar liar dan rumput ilalang setinggi lutut. Area ini terletak tepat di luar jangkauan efek Bambu Pengembun Otomatis yang pertama.
"Mari kita lihat seberapa hebat kemampuan Ayunan Area dari cangkul baru ini," gumam Lin Ye.
Dia mengangkat cangkulnya tinggi-tinggi, memusatkan pandangannya pada petak tanah kosong di depannya, lalu mengayunkannya dengan tenaga penuh.
Wushhh. Trak.
Begitu mata cangkul berbahan tembaga hitam itu menghantam permukaan tanah, sebuah gelombang kejut transparan menyebar dalam radius tiga meter persegi. Tanah keras yang dipenuhi akar ilalang itu seolah meledak ke atas dalam gerak lambat. Rumput-rumput liar tercerabut hingga ke akarnya dan hancur menjadi debu, sementara tanah liat yang mengeras langsung terbalik dan menjadi gembur seketika.
Lin Ye menatap hasil tebasannya dengan mata terbelalak.
"Ini gila. Hanya dengan satu ayunan santai, tanah seluas tiga kali tiga meter langsung siap tanam. Tidak perlu mencabuti rumput, tidak perlu membolak-balik bongkahan tanah berulang kali. Ini benar-benar keajaiban mesin pertanian dalam bentuk cangkul tangan," Lin Ye tertawa keras, merasa sangat puas dengan investasinya.
Tanpa membuang waktu, Lin Ye terus melangkah maju dan mengayunkan cangkulnya secara berirama.
Trak. Trak. Trak.
Suara hantaman cangkul terdengar teratur. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, area seluas lapangan basket yang tadinya merupakan hutan semak berduri, kini telah berubah menjadi hamparan tanah hitam gembur yang sangat rapi. Garis-garis bedengan tanah terbentuk secara otomatis akibat efek pasif cangkul tersebut. Keringat hanya sedikit membasahi dahi Lin Ye, membuktikan efek pengurangan kelelahan hingga tujuh puluh lima persen itu bekerja dengan sempurna.
"Sekarang tanahnya sudah siap. Waktunya menabur uang," kata Lin Ye.
Dia mengambil kantong Benih Jagung Emas, membuat lubang-lubang kecil dengan jarinya, dan mulai menanam benih tersebut di sebelah kiri ladang. Setelah itu, dia beralih ke sebelah kanan ladang untuk menanam Benih Stroberi Pemulih.
Matahari semakin tinggi, namun Lin Ye bekerja dengan ritme yang sangat efisien. Setelah semua benih tertanam, dia mengambil dua buah ember kayu dan berjalan menuju sumur.
Lin Ye menimba air dari sumur abadi yang memancarkan cahaya kebiruan itu. Dia menyirami setiap petak tanah yang baru ditanaminya dengan sangat hati-hati. Begitu air sumur yang kaya energi itu menyentuh tanah gembur, tanah itu langsung menyerapnya dengan cepat.
Sringgg. Drrrtt.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki Lin Ye bergetar pelan. Getaran itu bukan berasal dari gempa bumi, melainkan dari arah Pohon Ajaib yang menjulang tinggi di pinggir ladang.
Lin Ye meletakkan embernya dan menoleh ke arah pohon tersebut.
Seluruh daun zamrud pada pohon raksasa itu memancarkan cahaya hijau terang yang menyilaukan. Akar-akar besar yang menyembul di atas permukaan tanah tampak berdenyut, seolah sedang menyerap aliran energi kehidupan yang sangat masif dari tanah ladang yang baru saja diperluas dan disirami oleh air sumur abadi.
Layar hijau sistem tiba-tiba muncul secara otomatis.
"Resonansi Energi Bumi Terdeteksi."
"Ekspansi lahan pertanian dan penggunaan air elemen murni telah memberikan nutrisi skala besar kepada Pohon Ajaib Warisan."
"Pohon Ajaib Warisan sedang melakukan proses Evolusi Tingkat Pertama."
Cahaya hijau itu semakin terang, membuat Lin Ye harus menutupi matanya dengan sebelah tangan. Angin kencang berhembus berputar mengelilingi batang pohon tersebut.
Kreeek. Kreeek.
Terdengar suara kayu tua yang bergesekan. Akar terbesar yang terletak tepat di dasar batang pohon itu perlahan bergerak membelah, menciptakan sebuah rongga kecil seukuran rumah anjing. Di dalam rongga yang diselimuti cahaya hijau hangat itu, terlihat sebuah siluet kecil yang bergerak-gerak.
Cahaya perlahan meredup. Angin kencang pun berhenti berhembus.
Lin Ye berjalan mendekati rongga akar tersebut dengan langkah waspada. Dia menggenggam erat gagang cangkulnya, bersiap untuk segala kemungkinan. Namun, apa yang dilihatnya sama sekali bukan monster.