NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaris Terungkap

Pagi ini Nayra bangun lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya terasa berat, seperti habis berlari jauh padahal semalaman ia hanya berbaring di kamar. Tenggorokannya kering, kepalanya sedikit pusing, dan perutnya… kembali memberi sinyal yang sudah mulai ia kenal.

Ia duduk pelan di tepi ranjang, satu tangan menekan pelipis.

“Kenapa tiap pagi begini…” gumamnya pelan.

Belum sempat ia berdiri, rasa itu datang lagi. Lebih cepat. Lebih kuat. Nayra langsung menutup mulutnya dan bergegas ke kamar mandi.

Suara muntah terdengar lagi.Lebih lama dari biasanya. Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan wastafel, napasnya masih tidak beraturan. Wajahnya semakin pucat.

“Kalau kayak gini terus…” bisiknya pelan, " Aku bisa ketahuan.” Pikiran itu langsung membuat dadanya sesak.

“Na! Kita telat!”

Suara Sinta dari luar membuat Nayra tersadar.

“Iya! Bentar!” jawabnya cepat. Ia membasuh wajah sekali lagi, lalu keluar.

Sinta langsung menatapnya tajam. “Lo muntah lagi?”

Nayra berhenti. “Sedikit…”

Sinta menghela napas panjang. “Ini bukan sedikit, Na.”

Nayra hanya tersenyum lemah. “Udah biasa.”

“Justru itu yang nggak boleh dianggap biasa,” balas Sinta.

Nayra tidak menjawab. Ia hanya mengambil tasnya.

“Udah, ayo,” katanya pelan.

Di kampus, suasana hari itu terasa lebih padat. Ada presentasi kelompok di salah satu mata kuliah. Dan Nayra… ada di dalamnya. Ia berdiri di depan kelas bersama dua temannya. Tangannya memegang kertas. Sedikit gemetar.

“Kamu bisa?” bisik salah satu temannya.

Nayra mengangguk cepat. “Bisa.” Padahal… tidak sepenuhnya.

Dosen duduk di depan, memperhatikan.

“Silakan mulai,” ucapnya.

Temannya mulai berbicara. Nayra mencoba fokus. Menunggu gilirannya.

Namun tubuhnya terasa tidak nyaman.

Panas. Dingin. Bercampur.

“Selanjutnya, Nayra,” kata temannya.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Nayra maju sedikit. Menelan ludah.

“Baik… saya akan menjelaskan bagian—” Kalimatnya terhenti. Perutnya kembali terasa bergejolak. Ia menahan. Berusaha tetap berdiri.

“Bagian… analisis…” lanjutnya pelan. Suara mulai bergetar.

Dosen memperhatikan. “Suara kamu kurang jelas,” ucapnya.

“Iya, Pak…” Nayra mencoba lagi.

Tapi rasa mual itu semakin kuat. Kepalanya mulai pusing.Pandangan sedikit berputar.

“Na…” bisik Sinta dari bangku belakang.

Nayra mencoba bertahan. Namun— Tiba-tiba tubuhnya goyah. Kertas di tangannya jatuh. Dan dalam hitungan detik— Ia hampir terjatuh.

“Na!” Sinta langsung berdiri.

Beberapa mahasiswa lain ikut terkejut.

Dosen ikut bangkit dari kursinya. “Bawa ke luar!” perintahnya cepat.

Koridor kampus terasa dingin saat Nayra didudukkan di bangku panjang.

Sinta berada di sampingnya, wajahnya panik.

“Na, kamu denger aku nggak?”

Nayra membuka mata pelan. “Iya…” Suaranya lemah.

“Kamu kenapa sih?!” Sinta hampir setengah berteriak.

“Pusing…”

“Ya jelas pusing! kamu dari tadi maksa!”

Nayra menutup mata lagi. “Maaf…”

Sinta menghela napas, mencoba menenangkan diri. “Jangan minta maaf, Na… tapi kamu juga jangan kayak gini.”

Nayra tidak menjawab.

Beberapa mahasiswa lewat, melirik ke arah mereka. Tatapan-tatapan itu membuat Sinta semakin tidak nyaman.

“Kamu harus ke klinik,” kata Sinta tegas.

“Enggak usah…”

“Na!” Nada suara Sinta meninggi.

Nayra membuka mata. “Kalau kita ke klinik… nanti ditanya-tanya,” ucapnya pelan.

Sinta terdiam. Ia tahu maksudnya.

“Terus kamu mau pingsan tiap hari?” tanya Sinta.

Nayra tidak menjawab. Karena ia sendiri… tidak tahu.

Beberapa menit kemudian— Nayra sudah sedikit membaik. Namun suasana di sekitar terasa berbeda.

Beberapa teman mendekat.

“Na, kamu nggak apa-apa?” tanya Rina.

Nayra tersenyum tipis. “Iya… cuma pusing.”

“Kamu pucet banget,” tambah yang lain.

“Iya, mungkin kecapekan,” jawab Nayra.

Rina menyipitkan mata. “Kamu akhir-akhir ini sering banget sakit, ya…”

Kalimat itu membuat Nayra sedikit tegang. “Enggak juga…”

“Sering mual juga, kan?” lanjut Rina.

Sinta langsung menyela, “Dia lagi masuk angin.”

Rina melirik Sinta. “Masuk angin tiap hari?”

Sinta tersenyum tipis. “Ya kalau kecapekan bisa.”

Rina masih terlihat belum puas.

Ia kembali menatap Nayra. “Na… kamu nggak hamil, kan?”

Deg.

Jantung Nayra seperti berhenti.

Sinta langsung membeku.

Suasana mendadak hening. Beberapa detik terasa sangat lama.

Nayra menatap Rina. Lalu tertawa kecil. “Ngaco kamu,” katanya, mencoba santai.

Rina masih menatapnya. “Serius?”

“Iya lah,” jawab Nayra cepat. “Aku aja belum punya pacar.”

Kalimat itu keluar lancar. Terlalu lancar.

Sinta meliriknya.

Rina akhirnya mengangkat bahu. “Ya udah… gue cuma nanya.”

Suasana kembali normal.

Tapi bagi Nayra— Tidak. Tangannya dingin.

Napasnya tidak teratur. Ia hampir saja… terbongkar.

Setelah teman-teman pergi—Sinta langsung menatap Nayra. “Tuh kan…” bisiknya.

Nayra menunduk.

“Aku bilang juga apa…”

“Aku tahu…” jawab Nayra pelan.

Sinta menghela napas. “Ini baru awal, Na.”

Nayra menggenggam tangannya erat. “Aku harus lebih hati-hati…”

“Iya.”

“Aku nggak boleh sampai ketahuan.”Nada suaranya berubah. Lebih tegas. Lebih takut.

Sinta menatapnya. “Na… kamu nggak bisa sembunyi selamanya.”

Nayra terdiam. Kalimat itu… benar. Tapi belum siap ia terima.

Di kantor Arsen

Arsen duduk di ruangannya.Data terbaru sudah ada di depannya. Beberapa nama mahasiswa. Salah satunya—bNayra Anastasya

Raka berdiri di sampingnya. “Kita sudah dapat beberapa kandidat dari kampus itu, Pak.”

Arsen menatap layar. “Yang paling mendekati?”

Raka menunjuk satu nama.

“Ini.”

Arsen menyipitkan mata. “Mau saya selidiki lebih dalam?”

Arsen tidak langsung menjawab. Beberapa detik. “Iya.”

Raka mengangguk. “Baik.”

Arsen bersandar di kursinya.

“Aku hampir menemukannya…” Suaranya pelan. Penuh keyakinan.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!