Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Pengaruh Nyonya Jenderal
"Pergi!"
Para penjaga itu terlihat begitu garang.
Pelayan Shen Meiren bahkan didorong sangat kasar sampai jatuh.
Brukk
"Pergi kalian!"
Dan begitu mereka berhasil mengusir Shen Meiren dan pelayan setianya. Toko itu langsung di tutup.
Jangan tanya seperti apa wajah Shen Meiren. Sudut bibirnya yang semula terangkat anggun mulai menegang, turun menjadi garis tipis yang dingin. Rahangnya mengeras begitu jelas sampai garis di bawah pipinya tampak menonjol. Lubang hidungnya mengembang pelan, menahan napas yang naik turun karena amarah yang hampir meluap.
Bola matanya menatap daun pintu toko yang sudah tertutup rapat itu tanpa berkedip, seakan ingin menembus kayu tebal tersebut hanya dengan pandangan. Di balik sorot matanya, tampak rasa terhina yang membakar lebih panas daripada marah itu sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang wanita sepertinya selain dipermalukan di tempat umum.
"Berani sekali kalian memperlakukan aku seperti ini! aku akan adukan pada jenderal!" teriaknya.
Tapi sepertinya teriakannya percuma. Jendela dan pintu toko tidak bergerak sama sekali. Tanda orang di dalam toko itu memang sama sekali tidak memperdulikan Shen Meiren.
Chuying, pelayan Shen Meiren bangkit dan segera menghampiri majikannya.
"Nyonya, toko ini mungkin pemiliknya adalah orangnya nyonya jenderal! makanya dia bersikap seperti itu pada kita!" kata Chuying.
Shen Meiren mendengus kesal.
"Benar! satu toko menolak kita kenapa? aku hanya tinggal mengadu saja nanti pada jenderal. Kita ke toko yang lain!"
Shen Meiren sepertinya belum paham. Tadi, pelayan toko itu juga sempat menyebutkan tentang putri daerah Chenping. Artinya semua wilayah di sini, di bawah naungan kekuasaan sang putri. Tapi, karena Shen Meiren berpikir, jenderal saja takluk padanya, tidak mungkin orang-orang disini menolak uang kan?
Shen Meiren dan pelayan kembali naik kereta kuda. Mereka mencari toko yang lebih besar lagi. Tak jauh dari toko sebelumnya, ada toko dengan lantai tiga yang begitu besar.
Kereta kuda Shen Meiren berhenti di depan toko itu. Mereka turun dan masuk ke dalam toko itu. Bahkan kain yang di pajang di toko itu, lebih bagus dan indah dari toko yang sebelumnya.
Sayangnya bahkan di toko itu dia kurang beruntung. Sekarang pelayan memperhatikan kereta yang tadi Shen Meiren gunakan.
"Permisi, dari kediaman jenderal?" tanya pelayan itu.
"Benar, nyonya ku dari kediaman jenderal. Ambilkan semua kain terbaik di toko ini!!" kata Chuying dengan angkuh pada pelayan toko.
Tapi tatapan pelayan toko itu langsung aneh.
"Biasanya Fu Mama yang memilih kain untuk kediaman jenderal?" tanya pelayan itu.
Shen Meiren memutar bola matanya malas. Yang benar saja, kain-kain itu standarnya sama semua. Sebenarnya dia juga sudah dapat dua kain sutra. Tapi tidak terlalu bagus. Dia ingin yang istimewa yang bisa membuatnya lebih mencolok daripada Mei Huarin dan Lu Yanzhi.
"Kamu itu hanya pelayan, tinggal keluarkan saja kainnya maka kami akan membayar!" Chuying juga sama tidak sopannya dengan tuannya.
"Keluarkan kain yang terbaik, yang tidak pernah di miliki oleh nyonya jenderal!" kata Shen Meiren.
Pelayan itu akhirnya paham.
"Kamu pasti wanita dari perbatasan itu ya? yang di bawa pulang jenderal?"
"Sudah tahu kan? nyonya ku ini adalah calon nyonya jenderal. Jadi cepat keluarkan kain yang paling bagus!" kata Chuying dengan cepat.
"Tidak ada kain untuk kalian! pergi!"
Mata Shen Meiren kembali dibuat terbelalak. Pelayan di depannya bahkan terlihat lebih sinis dari pelayan di toko sebelumnya.
"Apa-apaan ini..."
"Kami tidak menjual kain pada orang yang telah membuat nyonya jenderal kami tidak senang! pergi!"
"Kalian pikir aku akan gunakan uang di kediaman jenderal? aku tidak akan gunakan uang mereka. Aku akan bayar kainnya dengan harga yang lebih mahal 5 kali lipat!" kata Shen Meiren.
Harga dirinya dipertaruhkan disini, kalau sampai dia di usir lagi. Dia benar-benar akan kehilangan harga dirinya.
"Mau kamu keluarkan semua harta kerajaan Yuzhuan mu! kami tidak akan menjual satu kain pun padamu. Pengawal! suruh orang-orang ini pergi! jika tidak mau seret saja! lain kali beri tulisan di depan toko. Kucing betina genit dan anjingg bodohh dilarang masuk ke paviliun Sanzhi kita!"
Pelayan toko itu langsung meninggalkan Shen Meiren dan Chuying. Disusul 4 penjaga yang membawa tongkat datang mendekati mereka.
**
Xueyao yang baru saja mengantarkan persediaan mingguan ke halaman samping segera berlari ruangan belajar dimana Mei Huarin dan Lu Yanzhi berada.
"Nyonya, nyonya jenderal!"
Wajah Xueyao tampak senang. Dia sangat bersemangat untuk menyampaikan apa yang baru saja dia dengar itu kepada Mei Huarin.
"Nyonya!"
"Hati-hati Xueyao!"
"Kakak Xueyao, bersemangat sekali. Habis dengar gosip bagus ya?" tanya Lu Yanzhi.
Mei Huarin hanya tersenyum tipis. Dan Xueyao mengangguk dengan cepat di depan Lu Yanzhi.
"Benar nona. Nyonya, aku dengar dari para pelayan yang melayani halaman samping. Wanita dari keluarga Shen itu baru saja di usir dari toko kain di ibukota. Tidak hanya satu toko. Mereka menolak menjual kain pada wanita bermarga Shen itu!" Xueyao terlihat begitu senang dengan kemalangan yang terjadi pada Shen Meiren dan Chuying.
Lu Yanzhi yang mendengar itu juga tertawa sampai hampir terbahak.
"Yan'er, jangan sampai terbahak!" tegur Mei Huarin.
Lu Yanzhi segera menutup mulutnya.
"Maaf ibu!" katanya pelan sambil berusaha menahan tawa.
"Aku lihat wanita bermarga Shen itu sedang menunggu jenderal. Mungkin dia akan mengadu pada jenderal. Tapi, urusan seperti ini sejak kapan jenderal menanganinya?" tanya Xueyao.
"Benar! selama ini urusan seperti ini mungkin jenderal tidak pernah menanganinya. Tapi, karena wanita selingkuhannya itu sekarang yang bermasalah. Mungkin sebentar lagi nyonya tua dan jenderal akan memanggil kita!"
Lu Yanzhi mengernyitkan keningnya. Mei Huarin yang berasal dari masa depan. Tentu saja sudah paham hal-hal seperti itu. Mertuanya itu, sudah memihak pada Shen Meiren. Itu terlihat sangat jelas.
Alasannya sederhana, semakin berkuasa seorang menantu. Ibu mertuanya akan merasa sangat tidak aman.
Dan dengan memanggil Mei Huarin untuk menemani Shen Meiren membeli kain. Nyonya tua ingin menunjukkan pada semua orang, kalau Mei Huarin memang seorang putri daerah Chenping. Tapi, dia tetap menantu yang harus menurut pada mertuanya.
"Nyonya..."
Ketiganya menoleh ke arah pintu.
"Yao Yao!" sapa Xueyao.
"Nyonya jenderal, nyonya tua memanggil anda ke ruangan utama, sekarang!"
Mei Huarin tersenyum.
Lu Yanzhi tertegun.
"Ibu benar!" katanya takjub.
Mei Huarin tersenyum lagi.
"Kami akan kesana!"
"Ibu, kenapa kita dipanggil?" tanya Lu Yanzhi.
'Tentu saja untuk menunjukkan dominasi mereka. Tapi mungkin mereka lupa, aku Mei Huarin. Tidak ada yang berhak memerintah ku meski itu Kaisar!' batin Mei Huarin teguh.
***
Bersambung...
nanti aku pula lama naik tensi🤦🏻♀️🤦🏻♀️
kayaknya dia pengen mepet sawah terus🤭
Siapa yang mau di paksa..?
Mei Huarin yg bersujud pada kalian semua..?
Yang benar saja.. 🤭
Meski kalian yg bersujud pada nya, Mei Huarin tak kan luluh dengan air mata buaya.. 😏
Karena Mei Huarin sangat tau, kalian adalah orang² yg bermuka dua..
Jadi, buang jauh² mimpi mu Nyonya Tua.. 😝😏
Apalagi kalian memanjakan nya dgn manja² gak menentu, gak terdidik adab & akhlak nya.. habislah.. 🤣🤣
Karena apa yg kau tanamkan sejak dini, seperti itulah kelak anak² akan mencontoh perilaku orang tua nya..
Dan kau lu Yansheng, ortu mu itu ada kurang²nya kalau kulihat.. Seperti orang gila harta, makanya anak lelaki mu punya prinsip yang sama dengan nyonya tua.. 🤦🏻♀️