NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

[25] Perasaan Apa Ini?

"Woah!" Pertama kali masuk kamar Bumi, Langit langsung terbengong sepersekian detik. Matanya menyapu kamar yang sangat rapi itu. Bahkan semua barang terletak di tempatnya.

Kasur yang rapi seperti tidak abis ditempati. Selimut yang sudah dilipat. Meja belajar yang tidak berantakan karena buku, dan lantai yang bersih dan kinclong. Mungkin kalau dia colek pakai tangan. Gak akan ada debu yang nempel saking bersihnya.

Sebagai cewek, Langit mendadak insecure sekaligus beruntung. Dia yang berantakan dipertemukan dengan laki-laki yang sangat rapi.

Langit berjalan ke dekat kasur. Di dinding sampingnya ada beberapa foto yang terpajang. Kebanyakan foto Bumi sama ibu. Ada foto cowok itu kecil dipeluk Ibu, ada juga ada foto berdua berlepotan kue dan yang paling langit suka foto Bumi bayi.

Anak kecil berwajah tembek terlihat menggemaskan di sana. Kulitnya putih wajahnya aja udah tampan dari kecil. Bumi good looking dari kecil.

Dia beralih pada wanita berwajah cantik yang memangku Bumi. Senyumnya amat manis dan tulus. Tatapannya penuh kelembutan. Ibu Bumi. Langit jadi membayangkan gimana rasanya disenyumin ibu.

Hah

Jika ibu di sini. Mungkin rumah ini tidak sepi. Langit tidak bisa membayangkan gimana Bumi sendirian di rumah. Cowok itu tentu merasa sangat sepi.

Mungkin itu sebabnya Bumi banyak menghabiskan waktu di luar. Lagipula melihat foto ibunya. Pasti akan membuat cowok itu merasa berat.

Dia jadi mikir. Apa dia sering ke sini aja ya biar Bumi ada temannya?

"Ibu memang secantik itu."

Langit menoleh. Bumi sudah berdiri saja

Di belakangnya. Tersenyum dengan sorot lurus pada foto Ibu. Entah sejak kapan dia masuk.

"Gak heran anaknya ganteng gini, kan?"

Bumi menatapnya dengan sebelah mata berkedip.

Langit mendengus namun tersenyum kemudian. "Gue jadi pengen Ibu ada di sini juga," ucapnya. Selang beberapa detik, Langit menyesali ucapannya karena sorot kornea hitam milik Bumi malah menyendu.

"Em maksud gue-"

"Gue juga pengen."

Langit mengigit bibir bagian bawahnya.

"Ibu pasti bakal kumpul di sini lagi kok. Bentar lagi Ibu pasti bakal bangun dan ada di sini."

Langit tersenyum lebar, mencoba menghibur Bumi.

Bumi tersenyum kecil dan mengangguk.

"Hm. Ibu bakal bangun dan nanti bakal buat rumah berisik lagi dengan omelannya di pagi hari."

Hatinya berdenyut nyari mendengar itu.

Netra Langit menatap dalam mata Bumi.

Menyelami kornea hitam itu. Memang ada kesedihan yang tersimpan, tapi Bumi ahli menyimpan luka yang dia simpan.

Selama ini Langit hidup bersama orang tua yang lengkap. Punya papa di saat dia baru lahir hingga kini. Punya mama Orlin yang menyayanginya. Mama yang walaupun suka mengomel, tapi hingga detik ini untukmu. Dia juga punya tiga adik.

Tapi Bumi sendiri.

Di saat dia tidak kenal ayahnya sejak melihat dunia. Ia hanya punya ibu yang berjuang untuknya. Tapi kini satu-satunya orang tua yang dia punya tidak terbangun 3 tahun lamanya.

Jika posisinya dibalik. Apa Langit sangup melewati hidup seperti Bumi?

Karena mereka masih anak-anak yang butuh orang tua.

"Ibu juga pasti bangga dapat menantu secantik gue."

Bumi memutar bola matanya jengah.

"Gue serius ya. Gue itu beruntung dimiliki. Udah cantik, em terus-"

"Terus bandel sama galak lagi," sambung Bumi.

Langit memberikan cengiranya. "Heran.

Ternyata kelebihan gue cuman satu hehe." Dia mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Biar nambah. Nurut gih sama gue. Itu termasuk kelebihan."

"Nurut kok gue. Dikit aja yang gak."

"Nurut apanya. Dibilang lawan mulu lo."

"Itu kan karena lo suaminya."

"Jadi kalau Dokter Biru suami lo. Bakal nurut?" Bumi berkacak pinggang.

"Ih enggak kok. Guee bercanda. Lo cemburu ya?" Langit tersenyum menggoda. Ia mencondongkan wajahnya. "Ululu Bumi cemburu. Aa tayang tayang.

Telunjuk Bumi mendorong dahi Langit pelan. "Gak usah dekat-dekat."

"Kenapa? Terpesona sama kecantikan

Gue?" Mata Langit berkedip-kedip. Ia menangkup pipinya. "Gue emang cantik. Banget. Makanya banyak yang naksir."

Bumi menelan salivanya. Dia membuang wajah dan memilih berjalan ke arah nakas mengambil jam tangan.

"Mau ke rumah sakit sekarang gak?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Ayuk!"

"Duplikat kunci dulu ya?"

Langit mengangguk mantap.

"Besok-besok kalau mau ke sini, datang aja. Kalau mau gue jemput, bilang."

"Iya."

"Kalau gue ada niat keluar tengah malam buat balapan tidurnya di sini kali ya? Biar gak repot kabur diam-diam dari rumah." Langit duduk di tepi kasur bersepai abu-abu itu. Dia memberikan cengiran karena Bumi menyipit menatapnya.

"Mau ikut balapan sama siapa?"

"Sama lo dong. Ya? Kita balapan yuk!"

"Gak."

"Dih gak asik lo."

"Malam itu tidur. Bukan balapan.."

"Kayak lo gak aja."

"Gue balapan cari uang bukan kesenangan doang," jawab Bumi membuat Langit terdiam.

"Biaya rumah sakit Ibu?"

Bumi diam sesaat sebelum memberi anggukan pelan. "Gaji part time gak cukup."

"Keluarga yang lain enggak ada yang bisa bantu?"

"Nyokap yatim piatu. Gue gak pernah di kenalin ke keluarga ayah. Lebih tepatnya ibu gak pernah mau cerita."

Semakin mengenal Bumi dia semakin banyak tahu tentang cowok itu.

"Yuk, abis ini ke tempat Ibu." Bumi beranjak ke depan lemari dan mengambil jaketnya di sana. Langit memperhatikan Bumi lalu menatap lagi foto ibu dengan lama.

"Munah. Ayo!"

Dia lekas berdiri. "Bum?"

"Hm?"

"Gimana kalau gue yang bawa motor?" tawarnya mendapat pelototan.

"Gak gak!"

"Ish lo mah."

"Masa gye dibonceng cewek."

"Gak apa kali. Gue juga jago bawa motor."

"Gak ada."

"Tapi mau."

"Gak sekarang. Ayo." Bumi menarik tangannya dan mengenggamnya. Jari-jari cowok itu masuk ke sela-sela jarinya menghadirkan getaran aneh ke dadanya.

Tangan itu dingin. Tapi tubuhnya jadi panas dingin.

Langit menarik tangannya gugup. Melihat itu Bumi malah menarik lagi tangan Langit.

"Ig gak usah pegangan," Langit menarik

Lagi tangannya. Tapi Bumi menolak melepas. Digenggam erat.

"Pegangan aja. Biar gue ingat udah punya istri. Takutnya khilaf godain cewek lain," matanya mengerling.

"Bilang aja lo mau pegang tangan gue."

"Kalau gak gitu. Kapan kita nyamannya?"

Bumi bertanya hal yang buat langit bungkam.

"Hal sekecil ini bagus buat hubungan kita."

"Kalau ada yang lihat?"

"Gue genggam tangan lo juga sampai depan rumah munah. Sampai naik motor."

"Tapi tangan lo dingin."

"Tapi nyaman kan?"

Kalau ditanya Langit lebih ke gugup.

Pertama kalinya tangannya digenggam cowok selain papanya. Gimana gak ketar-ketir.

"Siapa bilang," jawabnya engan mengakui.

"Gue. Gue nyaman pegang tangan lo Langit."

Gak usah Terang-terangan Bumi!

Jerintnya dalam hati. Bumi kalau jadi gini sejak menikah, dianya yang makin susah bersikap seperti biasa.

Dia tertegun saat tangan Bumi yang lain naik mengusap lembut kepalanya.

Deg!

Jantungnya berdetak. Ia membeku menatap senyuman yang Bumi berikan.

Senyuman yang terlihat berbeda dari biasanya. Reaksi tubuhnya juga makin aneh.

Perasaan apa ini?

"Ayo sayang kita berangkat."

Langit mengerjap lalu buru-buru menjauhkan tangan itu. "Dih sayang-sayang. Apaan sih. Buruan berangkat. Ntar kira kesiangan." Ia berjalan cepat keluar. Tapi tubuhnya tertahan karena lupa, tangannya kan masih dipegang Bumi.

Langit mengerutu. Bumi nenyeringai seraya mengangkat tangan mereka yang saling berpegangan ke atas. Dua alisnya naik.

Langit menghela nafas.

"Slow." Bumi tertawa. Dia baru melangkah duluan diikuti Langit. Sepanjang jalan tatapan Langit pada genggaman tangan mereka dan pada punggung lebar Bumi.

Dekat sama Bumi makin gak aman!

Kunci pintu aja mereka masih

genggaman. Baru dilepas saat Bumi

mengambil helm yang bertengger di spion.

Mulanya Langit mengira Bumi memakain helm sendiri, tapi lagi dia dibuat membeku saat Bumi memakaikan helm dan merapikan hijabnya.

Ya Tuhan Bumi kenapa jadi gini?

Netra Langit tidak lepas dari raut serius Bumi. Dibanding dia yang mendadak jadi kepiting rebus, Bumi tampak santai. Cowok itu kemudian memakai helmnya sendiri dan naik ke motor sport hitam.

Langit yang masih memperhatikan Bumi sampai gak sadar dia harusnya juga ikut naik.

"Munah!" Bumi menjetiklan jarinya hingga Langit mengerjap. "Ayo naik. Ngapain lo bengong?"

"Aa- iya," ucaknya tergagap dan memegang bahu Bumi untuk naik. Langit menjaga jarak untuk duduk. Tunggu. Dia perlu menetralkan debaran yang mendadak hadir setiap kali Bumi memperlakukannya seperti tadi.

"Pegangan, Muk," Bumi menatapnya dari balik kaca spion.

"Gak. Gue gak bakal jatoh."

"Gue ngebut."

"Gue udah biasa. Nyebut gak bakal bikin gue jatuh. Udah deh, lo jalan aja." Langit tidak berani menatap mata Bumi dari balik spion.

Dia menatap arah lain.

Bumi menarik satu sudut bibirnya.

Tangannya menarik gas hingga motor itu melaju kencang meninggalkan halaman rumah.

"Bumiii!" Langit yang kaget berteriak dan memeluk erat.

Dibalik helm full facenya, Bumi menyeringai senang.

***

"Katanya gak mau peluk. Tapi meluknya erat ya?" Bumi mengejek saat mereka duduk menunggu duplikat kunci rumah.

Langit melirik jengkel. "Itu karena lo ya!"

"Yang katanya gak bakal jatoh dan udah biasa ngebut. Kenapa? Lo emang mau meluk gue kan?"

"Pede lo. Siapa juga yang mau peluk. Gue itu gak ada pilihan sja."

"Gak ada pilihan atau emang karena manfaatkan situasi?" Buni gencar membuat Langit kesal. Cewek itu mengeluarkan jurusan mautnya. Memukul Bumi.

"Lo tuh!"

"Aduh Nak. Kasian pacarnya dipukulin."

Bapak tukang duplikat kunci menatap mereka. Langit sontak menarik tangannya lagi.

"Dia gak pacar saya Pak!!"

"Tapi saya suami dia," lanjut Bumi. Langit melotot.

"Wah udah nikah ya. Nah kalau suami mah disayang atuh Nak. Kalau gak gitu entar bisa nyantol ke cewek lain."

"Dengerin." Bumi berbisik senang ada tim yang bela. Tangannya naik mengacak puncak kepala Langit. "Disayang ya sayang. Bukan dipukul."

"Hehe. Lo!" Langit memaksakan senyumnya tapi kakinya menginjak kaki Bumi hingga cowok itu menahan sakit.

"Nah udah beres nih." Suara bapak itu membuat Langit menjauhkan kakinya dan berdiri. Dia menerima kunci tersebut dan menatapnya senang.

Bumi mengusap kakinya sebelum berdiri.

"Kenapa kakinya Nak?"

"Diinjek tikus lewat Pak. Tikusnya jelek lagi." Bumi mengeluarkan dompetnya. Dia menatap Langit dengan ekspresi galaknya. Udah kayak mau makan orang.

"Besar ya tikusnya sampai sakit gitu."

"Besar banget Pak. Besar. Berapa Pak?"

"Oh 20.000 aja Nak."

Bumi mengangguk dan menyerahkan uang 20.000 pas. Dia dan Langit lalu berbalik menuju motor. Dengan wajah sehal Langit naik. Bumi menahan tawa.

Kini dia memacu motornya menuju rumah sakit. Tempat Ibu dirawat selama ini. Gedung bercat putih menyambut mereka selang beberapa saat kemudian.

"Kenapa tuh wajah cemberut?"

"Nyebelin lo. Gue dibilang tikus. Jelek lagi. Gue secantik ini kok dibilang tikus."

"Kapan gue bilang lo tikus?"

"Dih pura-pura lupa."

"Ngambek?"

"Nanya lagi."

Bumi tertawa. Keduanya melangkah bersama memasukki gedung rumah sakit itu dan menuju Lift.

"Masih ingat ruang Ibu kan?"

"Masih."

"Duluan aja, gue mau bayar biaya rumah sakit Ibu."

Langit mengangguk. Ia perhatikan Bumi yang melangkah ke bagian administrasi.

Netranya memerhatikan cowok itu yang kemudian mengeluarkan dompet.

Dia ingin bantu Bumi. Tapi bagaimana caranya?

1
Akira Kun
kalau seru jangan lupa like, ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!