Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. Jangan-jangan?
Hari berganti hari, Minggu berganti minggu. Setelah kejadian itu, Vincent menjadi jarang pulang ke rumah. Ia yang baru saja mengalami patah hati hebat karena ditinggal pergi Alicia ke luar negeri itu lebih sering pulang ke salah satu apartemen miliknya. Ia sadar, emosinya sedang labil. Tiap malam ia sering menghabiskan waktunya di club dan pulang dalam kondisi mabuk. Ia tak mau kebodohannya kembali melukai Alina. Laki-laki itu sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Alina bahkan hingga saat kontrak kerja Alina habis. Wanita itu pulang tanpa berpamitan dengan sang majikan. Vincent pun juga tak muncul saat Alina pamit pulang. Ia hanya memberikan sejumlah uang yang ia titipkan pada Supri. Uang itu adalah gaji Alina selama seminggu. Sudah dikasih cek tempo hari, Vincent masih menambahnya dengan gaji pokok Alina.
Kini waktu terus berjalan. Alina sudah kembali ke kampung halamannya. Semua berjalan normal tanpa ada tanda-tanda masalah apapun. Alina yang sudah dua kali dijamah sang mantan majikan memilih menutup semua rahasia ini rapat-rapat. Tidak ada satu orang pun yang tahu, termasuk Adit maupun kedua orang tuanya.
Uang hasil kerjanya yang jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari gaji pokok yang semestinya ia dapat sebagian diberikan untuk orang tuanya. Sebagian ia pakai untuk keperluannya. Dan sebagian besar lainnya ia tabung. Tentu, dengan tujuan modal tambahan untuk lamaran.
Alina sudah sangat siap untuk dilamar. Uang hasil kerjanya sebenarnya juga sudah sangat cukup. Adit juga sudah berjanji akan datang menemui keluarga Alina dua Minggu dari sekarang. Ah, bahagianya. Akhirnya hari yang Alina tunggu-tunggu akan segera tiba.
Pagi ini, di sebuah pasar tradisional. Alina tengah menemani sang ibu berbelanja sayuran.
"Berapa, Bu?" tanya Bu Yanti, ibunda Alina.
"Semuanya lima puluh dua ribu, Bu," jawab si penjual sayur.
"Biar Al saja yang bayar, Bu," ucap Alina seraya merogoh tas selempang nya. Bu Yanti diam. Alina membayar semua barang belanjaan itu lalu berlalu dari tempat tersebut bersama sang ibunda.
"Uangmu masih banyak, Al?" tanya Bu Yanti.
Alina tersenyum manis. "Nggak banyak, tapi masih ada, Buk," jawabnya.
"Jangan boros-boros, Al," ucap Bu Yanti.
"Enggak kok, Buk," jawabnya. Sepasang ibu dan anak itu melanjutkan langkah mereka.
"Buk..." ucap Alina memulai perbincangan kembali.
"Ya..."
"Emm...kemarin Mas Adit bilang sama Al. Dua Minggu dari sekarang, dia pengen main ke rumah, Buk," ucap gadis itu.
Bu Yanti menghentikan langkahnya. "Ngapain?"
Alina diam-diam meremas kedua telapak tangannya. "Emm...Mas Adit mau minta izin untuk melamar Alina, Buk."
Bu Yanti masih diam.
"Menurut Ibuk, gimana?"
"Gimana apanya?" tanya wanita itu lagi.
"Ya...Ibuk merestui, nggak, kalau Al dilamar Mas Adit?" tanya Alina.
Bu Yanti tersenyum. "Kalau mau datang ya datang dulu. Jangan terlalu terburu-buru minta pendapat kalau belum kejadian. Pamali!"
"Tapi Mas Adit sudah janji kok, Buk!"
"Janji manusia bisa diingkari, Al. Niatan seseorang bisa berubah-ubah. Dan takdir Tuhan itu tidak terduga. Bisa mengejutkan kita tiba-tiba!" jawab sang ibu seraya kembali melanjutkan langkahnya.
Alina terdiam.
"Kita beli daging dulu ya, Al. Bapak minta dibuatkan soto daging," ucap wanita paruh baya itu.
"Iya, Buk!" jawab Alina. Sepasang ibu dan anak itu pun lantas bergegas menuju kios daging yang berada di dalam pasar. Sebelum melewati kios daging keduanya melewati kios buah-buahan. Alina mendadak berbinar. Melihat buah-buahan yang segar rasanya ingin sekali ia membeli semuanya. Panas panas seperti ini sepertinya nikmat jika membuat rujak dari buah-buahan ini. Namun belum sempat ia membeli, sang ibu sudah menarik tangannya mendekati kios daging.
Pemandangan buah-buahan yang segar pun hilang. Kini berganti pemandangan daging-daging merah dengan baunya yang khas.
Alina yang berbinar entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi pucat. Ia merasa mual. Padahal ini bukan kali pertama ia masuk ke kios daging. Ia sudah sangat sering berbelanja di tempat ini.
"Mas, daging sapinya sekilo," ucap Bu Yanti pada sang penjual daging. Belum sempat penjual itu menjawab, tiba-tiba...
"Hoek..."
Bu Yanti dan sang penjual menoleh.
"Al?" ucapnya.
"Hoek..."
"Kamu kenapa?" tanya wanita paruh baya itu pada sang putri.
"Em...nggak tahu, Buk. Tiba-tiba mual. Kayaknya aku masuk angin," ucap Alina.
"Perasaan tadi dari rumah nggak kenapa-kenapa," jawab Bu Yanti.
"Nggak tahu," jawab Alina lagi.
"Nyidam, Mbak?" celetuk sang penjual daging membuat Alina dengan cepat menoleh ke arahnya.
"Apasih, Mas. Nikah aja belum, kok!" jawab Bu Yanti. "Paling juga masuk angin, kecapean!"
"Ooalah...kirain isi. Hehehe," ucap si penjual. "Maaf loh, Mbak. Saya Ndak tahu."
Alina menyunggingkan sebuah senyuman terpaksa.
"Nggak apa-apa, Mas," ucapnya berpura-pura tenang. Namun dalam hatinya kini bergejolak tak tenang. Apa jangan-jangan yang dikatakan penjual daging itu benar?
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/