NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Setelah sholat subuh, Asya merapikan peralatan sholatnya. Ia bersiap akan ke dapur untuk memasak. Tapi sebelum itu, ia mendengar langkah kaki seseorang yang terdengar sangat tergesa-gesa.

Ceklek. Suara pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Alif yang terlihat sangat cemas. Asya menatap heran suaminya.

"Ada apa, Mas?," tanya Asya

"Kita harus ke Bandung saat ini juga," ajak Alif

"Kok mendadak?," tanya Asya heran

"Nanti kamu akan tau sayang," jelas Alif

"Abi dan umi baik-baik saja kan?," tanya Asya cemas

"Alhamdulillah mereka baik-baik saja," ucap Alif sambil tersenyum

"Tapi-,"

"Kita berangkat sekarang ya," ucap Alif tegas sambil tersenyum resah

Mau tak mau Asya harus menuruti suaminya. Ia tak bertanya lagi kepada Alif. Mereka dalam perjalanan ke Bandung. Hanya keheningan terjadi di dalam mobil. Sejujurnya hati Asya sangatlah cemas tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya.

Mobil memasuki area pesantren. Banyak orang berlalu lalang. Mata Asya membulat saat melihat bendera kuning terpasang. Ia memandang suaminya lalu memegang tangannya. Alif menggandeng tangan Asya untuk masuk ke ndalem.

Asya melihat Raffa yang begitu rapuh di samping jenazah. Terlihat abi dan umi yang sedang membacakan ayat suci alquran. Asya berjalan pelan menuju jenazah itu. Asya menggelengkan kepalanya. Ia mencoba menepis pikiran buruk itu.

Raffa menggeser sedikit tubuhnya begitu menyadari kehadiran adik bungsunya. Asya membuka perlahan kain itu. Ia terkejut saat tau wajah kakak iparnya. Asya menutup mulutnya tak percaya. Wajah pucat tapi tersenyum damai. Lisa telah meninggal dunia. Sosok kakak ipar yang penyayang itu telah pergi.

"Kak Lisa," ucap Asya sambil bergetar

Alif mengusap pundak istrinya. Ia menyalurkan kekuatan untuknya.

"Kak Lisa pendarahan hebat. Dia keguguran," ucap Raffa bergetar

"Pendarahan? Kak Lisa sedang mengandung?," tanya Asya pelan

Raffa hanya menganggukkan kepalanya. Alif mengusap pundak kakak iparnya itu. Asya juga melakukan hal yang sama.

"Kami berdua bahkan nggak tau kalo ada janin yang sudah tumbuh itu," ucap Raffa lirih

"Allah pasti menyiapkan kebahagiaan untuk Abang setelah ini," ucap Asya menguatkan

"Serahkan semua kepada Allah Sang Maha Pencipta," timbal Alif

Raffa memeluk Asya dan Alif. Ia merasa sangat beruntung mempunyai adik dan adik ipar yang menyayanginya.

Setelah pemakaman dan acara tahlil malam hari, semua pelayat sudah mulai berkurang. Hanya tinggal kerabat yang memilih menginap di pesantren.

Raffa duduk di sofa dekat jendela kamarnya. Ia terlihat memegang dan menatap foto Lisa dengan kosong. Hatinya terasa sakit saat ditinggal secara tiba-tiba dengan separuh hidupnya.

Asya dan Alif masuk ke kamar Raffa setelah dipersilakan oleh sang pemilik kamar. Baru kali ini Asya melihat kerapuhan dalam diri abang kesayangannya.

"Abang makan dulu. Itu Asya bawakan makanan kesukaan Abang," ucap Asya pelan

"Nanti aja, Dek. Tinggalkan aku sendiri," ucap Raffa

"Abang kok cuek sama aku," ucap Asya pura-pura kesal

"Abang pengen sendiri dulu, Dek. Kalian keluarlah!," ucap Raffa datar

"Abang kok usir aku sih," kesal Asya

Raffa menghela napasnya. Ia memandang Asya datar.

'Aku benci wajah rapuh itu' batin Asya

"Abang kalo mau nangis ya nangis aja. Gak usah pura-pura kuat," ucap Asya lirih

Raffa menghela napasnya. Ia memeluk erat adik bungsunya itu. Bahu Raffa bergetar hebat. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Ia tak bisa ditinggal pergi secara tiba-tiba oleh orang yang dicintainya.

Asya mengusap punggung abangnya itu. Ia ikut meneteskan air matanya. Alif yang melihat pemandangan itu juga tak kuasa menahan air matanya begitu melihat kerapuhan kakak iparnya. Alif juga mengusap tangan kakak iparnya.

"Lisa pergi, Dek. Dia telah dipanggil oleh Allah lebih dulu. Dia pergi membawa anak kami. Abang bahkan tidak tau kehadiran janin itu. Abang bahkan tidak diberi kesempatan untuk dipanggil ayah. Allah uji aku dengan memanggil orang yang ku cintai. Lisa pergi secara tiba-tiba. Sakit hati Abang, Dek. Lisa curang banget. Dia pergi dengan senyuman tapi membuat orang yang menyayanginya menangis terluka karena kepergiannya," ucap Raffa lirih

Nyesek. Penuturan Raffa begitu pilu. Laki-laki yang dikenal tegas itu sekarang dalam titik rapuhnya.

"Abang harus ikhlas. Kak Lisa pasti sedih kalo lihat abang rapuh kayak gini. Sekarang kita hanya bisa mendoakannya," ucap Asya

"Abang gak bisa. Lisa bahkan tidak mengajarkan bagaimana caranya hidup tanpa dia. Bagaimana hari-hari selanjutnya? Abang merasa nggak bisa karena ini terlalu sakit," ucap Raffa begitu lirih

"Abang kuat kok. Abang itu hebat. Abang itu panutan loh," ucap Asya menghibur

"Sakit, Dek," ucap Raffa lirih

"Kak Lisa pergi dalam keadaan tersenyum. Anggap saja tugasnya di dunia sudah selesai. Sekarang kak Lisa sudah dipanggil untuk menghadap Sang Pencipta. Serahkan semua kepada Allah. Setiap manusia akan kembali kepada-Nya. Kita hanya menunggu giliran saja, Bang," ucap Asya

Raffa melepaskan pelukannya. Ia mengusap sisa-sisa air mata. Ia merasa bangga dengan adik bungsunya yang sudah dewasa itu. Raffa memandang Alif lalu tersenyum.

"Alif, tolong jaga adikku baik-baik ya. Jangan sekali-kali menyakitinya," ucap Raffa sambil memegang pundak Alif

"Tenang saja, Bang. Aku akan berusaha membahagiakan amanah itu. Tidak akan ada air mata kesedihan di matanya. Hanya akan ada kebahagiaan saja," ucap Alif tulus

Raffa memeluk Alif. Ia merasa bersyukur jika Asya mempunyai pendamping hidup seperti Alif. Terlepas dari luka masa lalu, ternyata Allah telah mempersiapkan hadiah terbaik untuk Asya.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan ketiganya. Terlihat 4 orang tua memasuki kamar Raffa. Abi, umi dan kedua orang tua Lisa.

Asya dan Alif segera berdiri. Kedua orang tua Lisa duduk di sebelah kanan dan kiri Raffa. Ayah Lisa tersenyum sambil menepuk pundak Raffa pelan.

"Nak, kamu sudah berhasil mendidik Lisa dengan baik sehingga dia telah menjadi istri yang solehah. Terima kasih karena begitu sabar dengan anak ayah dan bunda," ucap ayah Lisa sambil tersenyum

"Raffa akan tetap menjadi anak bunda dan ayah. Silaturahmi ini tidak akan pernah terputus," sahut bunda Lisa sambil tersenyum

"Jika suatu hari nanti Raffa mendapatkan pengganti Lisa, ayah dan bunda akan selalu mendukung. Raffa berhak mendapatkan kebahagiaan. Hubungan kita akan selamanya menjadi anak dan orang tua," ucap ayah Lisa tulus

"Ayah dan bunda akan tetap menjadi orang tua juga buat Raffa," sahut bunda Lisa

"Terima kasih, Yah, Bun," ucap Raffa bergetar

Ayah Lisa memeluk Raffa. Ia menyalurkan kekuatannya untuk menantunya itu. Ia juga kehilangan seorang anak. Tapi di sisi lain, menantunya kehilangan pasangan hidup.

'Semoga setelah ini abang mendapatkan kebahagiaan' batin Asya

1
Mrs. Ren AW
selamat asya... semoga bahagia selalu beesama alif... 😍
Shofiyah 19: Terima kasih😍 jangan lupa gift nya kakak🙏🤭
total 1 replies
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!