"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Narno pasrah
"Ada perlu apa ya pak, bapak memanggil kami?" tanya Liam
"Iya, Narno datang untuk melamar satu perempuan dari kampung ini, aku mengatakan kalau Listiani juga sedang mencari jodoh jadi aku minta Listiani berkenalan dengan Narno" jawab Karman
Narno menatap perempuan yang sedang menunduk di depannya, wajahnya pastilah cantik dan khas perempuan kampung Mahoni, tapi pakaian Listiani tidak seperti warga kampung yang memakai kebaya dan kain lengkap dengan selendang yang di pakai untuk menutupi rambut mereka, Listiani memakai rok panjang dengan atasan kaos berlengan panjang dan rambutnya tergerai indah.
"Waduh pak, masa Listiani di kasih Om Om" bisik Liam sedikit maju ke arah Karman membuat Karman menahan tawanya.
"Bapak punya tujuan untuk semua ini, ini demi dua kampung supaya tidak berperang dan supaya Kinanti aman di sana, Listiani bisa melakukan tugas ini" jawab Karman
"Tapi pak, Listiani kan Islam" bisik Liam
"Mereka juga Islam meskipun hanya KTP, kita buat mereka tobat nanti" bisik Karman karena Narno masih terlihat mengobrol dengan Lintang dan Listiani.
"Listiani ini lulusan S2 jurusan pertanian, dia bisa membantu pertanian di kampung cadas yang memang punya banyak kebun dan sawah" ucap Lintang
"Tapi dia tinggal di kota, tahu sendiri pergaulan orang kota" ucap Narno
"Listiani tinggal di rumah Daddy saya Mbah, dan tidak keluar rumah setelah pulang kuliah, rajin juga dan bisa melakukan semua tugas rumah tangga" jawab Lintang
"Aku menyewa orang untuk membersihkan rumahku, istriku hanya akan menemaniku saja nanti dan merawat anak anak kami" jawab Narno
"Wah.. lelaki idaman sekali Mbah ini, memang begitu seharusnya laki-laki, saya jadi tambah kagum dengan Mbah Narno dan saya bisa mempercayakan Listiani pada Mbah setelah mertua saya meninggal tiga tahun lalu" ungkap Lintang begitu manis membuat Narno senang dan sedikit melupakan patah hatinya.
"Listiani, cium tangan calon suami kamu dek" ucap Laily dan Listiani dengan sopan mencium tangan Narno yang menatapnya dengan tatapan serius karena wajah Listiani tidak kalah cantik dari Kinanti, bahkan punya usia yang sudah matang dan pastinya akan di hormati warga kampung cadas.
"Bagaimana Narno?" tanya Karman
"Saya... saya terima Mbah tapi saya mau menikah hari ini juga" jawab Narno
"Bagaimana nak, kamu sudah siap?" tanya Karman
"Insya Allah Mbah" jawab Listiani dengan suara lembutnya
"Kak, kasihan Listiani yang lembut itu menikahi aki aki, suaranya saja begitu adem di hati tidak seperti Kinanti yang seperti toa masjid" bisik Kaelan yang bisa di dengar Kinanti
"Aws!" pekik Kaelan saat Kinanti mencubit perutnya dengan kencang.
"Kenapa?" ledek Liam
"Kinanti juga katanya mau menikah hari ini, tapi Kaelan bilang nanti saja kalau Kaelan sudah gajian" jawab Kaelan kembali di geplak Kinanti.
Plak.
"Ya ampun Kinanti, Kita belum menikah tapi aku sudah babak belur kamu siksa!" pekik Kaelan
"Biarin!" bentak Kinanti mengambil Kalingga dan pergi dari sana
"Maaf ya semuanya, biasa perempuan kalau ngambek seperti itu, kalau tidak ngambek tidak afdhol" ucap Kaelan menyusul Kinanti.
"Pak, apa Beno juga menikah hari ini?" tanya Beno
"Tidak nak, kamu nanti setelah Kaini berusia tujuh belas tahun supaya Kaini bisa punya KTP dan pernikahan kalian sah secara negara juga, setelah itu tidak ada yang bisa memisahkan kalian" jawab Narno dan Beno mengangguk.
"Maskawin apa yang kamu siapkan untuk Listiani?" tanya Karman
"Saya berikan lima ratus gram emas Mbah" jawab Narno
"Listiani kamu menerima itu?" tanya Narno
"Listiani terima Mbah" jawab Listiani membuat Narno tersenyum bangga karena dia tidak akan pulang dengan tangan kosong.
Flashback off.
"Maryani, aku ingin ijin menikah lagi, sudah empat bulan aku menunda pernikahan dengan Kinanti karena aku masih punya ganjalan dalam hatiku, tapi kamu datang dalam mimpiku dan mengatakan kalau kamu ikhlas, jadi aku ingin ijin padamu sekarang" ungkap Kaelan mengusap rumput di atas makam Maryani bahkan Kalingga duduk di atas makam itu sambil rebahan karena dia memang sering seperti itu saat ke makam Maryani.
"Yayaya... dadada"
"Bu... ibu, ini ibunya Kalingga" jawab Kaelan
"Anak kita sudah besar Maryani, dia juga di dampingi qorin kamu yang sekarang mulai genit, aku sering kesal karena mengira qorin itu adalah kamu, maaf ya" ucap Kaelan mengecup pohon kembang kantil yang sudah tumbuh besar di makam Maryani.
"Maryani, aku ingin memindahkan kamu ke kampung Mahoni, tapi kenapa kamu menolak, aku ingin tinggal di sana dengan anak kita nanti"
"Maryani punya tujuan kang dan akang sebaiknya nurut"
"Nurut, kamu saja tidak nurut sama aku" gerutu Kaelan karena sekarang sosok Maryani ikut duduk di samping Kaelan.
"Maryani nurut kang, makanya Maryani tetap di sini menunggu akang tinggal bersama Maryani"
"Maksud kamu apa?"
"Ada deh..."
"Astagfirullah, kamu terlalu banyak bergaul dengan Kaini makanya jadi lebay begitu" gerutu Kaelan karena Maryani kembali menghilang
"Kalingga ayo pulang nak, sudah siang dan kita harus ke rumah bibi Kinanti, besok dia akan jadi ibu kamu" ucap Kaelan
"Baaa...."
"Iya nanti kita ke sini lagi setelah ayah menikah, kamu boleh guling guling di sini" jawab Kaelan menggendong Kalingga
"Hihihihi..."
"Jangan buat orang takut, lihat tuh petugas pemakaman jadi kabur karena kamu"
"Hihihihi..."
Tawa Kalingga malah semakin kencang, bukan hanya terdengar di pemakaman itu tapi juga sampai ke sekitar hutan cadas dan membuat Jayandanu waspada.
Kaelan keluar dari area pemakaman, dia tidak langsung pulang tapi pergi ke rumah Narno terlebih dahulu untuk menjemput Beno yang juga akan menikah dengan Kaini.
"Kamu sudah bersiap? maskawin apa yang akan kamu berikan pada Kinanti?" tanya Narno yang sedang minum kopi di teras rumahnya di temani Listiani yang saat itu sedang hamil empat bulan semakin menambah kebahagiaan Narno setelah memakaikan gelang pernikahan pada Listiani.
Narno bahkan terpaksa belajar shalat karena Listiani mengatakan kalau dia ngidam ingin shalat bersama suaminya itu, membuat Malak tak bisa berada di tubuh Narno saat Narno sedang melakukan shalat.
"Iya Mbah, tidak sehebat dan sebanyak Mbah pada nyi Listiani, saya hanya memberikan sepasang cincin pernikahan dan kalung emas saja Mbah, saya kan sekarang hanya petani" jawab Kaelan
"Hahaha... tidak apa apa, Kinanti yang memilih kamu jadi itu yang dia dapatkan, aku akan menyusul dengan Listiani besok karena aku tidak akan menginap di sana" ucap Narno
"Baik Mbah" jawab Kaelan menatap Listiani yang sepertinya sudah mulai bisa mendapatkan hati Narno, terlihat dari bagaimana Narno begitu menjaga Listiani bahkan tidak memperbolehkan Listiani pergi sendirian.
"Beno, kamu sudah terlihat tampan, kakak titip Kaini ya, kamu jaga dia" ucap Kaelan
"Iya kak" jawab Beno
"Kamu sudah belajar shalat juga?" tanya Kaelan
"Sudah, sudah bisa shalat lima waktu juga, Kaini yang ajari langsung kalau di sekolah" jawab Beno
"Alhamdulillah, kamu sudah hampir dua puluh dua tahun, kamu harus jadi suami yang baik untuk Kaini nanti" ucap Kaelan
"Iya kak"
"Kalau aku menikah dengan Kinanti, kamu berarti panggil aku Om ya dan Kinanti kamu panggil Tante, jangan paman dan bibi supaya kak Kaelan terlihat lebih keren" ucap Kaelan
"Kaini malah maunya panggil paman dan bibi katanya"
"Wah, si Kaini ini memang bocah tengil, masa dia mau panggil kakak paman, dia pikir usia kakak ini sudah tua" gerutu Kaelan
"Hihihi..."
"Jangan meledek Kalingga! kamu sama saja dengan ibu dan bibi kamu itu, sama sama sering buat ayah kesal"
"Hihihihi"
"Eh... malah semakin kencang, lihat tuh warga pada lihat kamu"
"Beno malah sudah terbiasa kak, hanya saja Beno tidak berani gendong Kalingga, takut di hukum bapak" ucap Beno membuat Kaelan lega karena sekarang ada tiga warga yang tidak membenci Kalingga, Wisnu, Tirta dan Beno.