Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di antara Dua Arah
Sore itu tidak benar-benar bergerak maju.
Aurora masih berdiri di tempat yang sama, seolah waktu menahannya di satu titik yang tidak memberi pilihan mudah. Angin berhembus pelan, tapi tidak cukup untuk menghilangkan rasa tegang yang tiba-tiba memenuhi udara di sekitarnya.
Di depannya, Rayden mulai melangkah mendekat. Wajahnya masih santai, tapi sorot matanya berubah begitu menangkap satu hal yang sebelumnya tidak ia perhatikan.
Tatapannya bergeser ke belakang Aurora.
“Ra… Itu siapa?” panggilnya pelan, alisnya sedikit berkerut.
Aurora menelan ludah. Pertanyaan yang sebenarnya sederhana itu tiba-tiba terasa berat.
Ia melirik ke belakang sebentar, lalu kembali menatap Rayden, “Oh itu…”
Aurora menarik napas pelan, mencoba terdengar biasa saja, “Itu atasan aku. Pak Zayn namanya.”
Rayden mengangguk pelan, meskipun jelas ia sedang menilai sesuatu. Pandangannya berpindah ke Zayn yang berdiri tidak jauh dari sana.
“Oh…” ucapnya singkat.
Zayn tidak membalas sapaan itu. Ia hanya menatap Rayden dengan ekspresi datar, tanpa senyum, tanpa kata. Tatapan yang terlalu tenang untuk dianggap biasa.
“Jadi ini orang yang dimaksud Evan?” batin Zayn.
Beberapa detik hening.
Lalu Zayn melangkah mendekat satu langkah. Tidak terburu-buru, tapi cukup untuk mengubah suasana.
“Kamu pulang sama siapa?” tanyanya.
Nada suaranya tetap datar, seperti biasa. Tapi entah kenapa, pertanyaan itu terdengar lebih berat dari seharusnya.
Aurora terdiam, “Aduh, harus pilih siapa nih? Kenapa sih ini harus terjadi? Nyebelin” batinnya.
Belum sempat Aurora menjawab, Rayden sudah lebih dulu angkat suara.
“Ya sama gue lah. Gue pacarnya” katanya ringan, tapi ada nada tegas di dalamnya.
Udara langsung terasa berbeda.
Aurora langsung menoleh ke arah Rayden, sedikit panik dengan jawabannya yang terlalu cepat.
Namun yang paling berubah adalah tatapan Zayn.
Untuk pertama kalinya, sorot matanya tidak sepenuhnya datar, melainkan tajam.
Zayn menatap Rayden beberapa detik, lalu berkata singkat, “Saya tanya Aurora. Bukan anda.”
Nada suaranya tetap rendah. Tidak tinggi, tidak kasar. Tapi cukup untuk membuat suasana langsung mencekam.
Rayden tidak langsung menjawab. Rahangnya sedikit mengeras, tapi ia masih menahan diri.
Aurora berdiri di antara mereka, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Ia tersenyum kecil, canggung, mencoba mencairkan suasana yang jelas tidak bisa dicairkan dengan senyuman.
“I-itu…” Aurora membuka suara, tapi kata-katanya tidak benar-benar keluar.
Dan tepat di saat itulah, “Aurora?”
Suara lain muncul dari samping.
Aurora langsung menoleh, seolah menemukan jalan keluar di detik terakhir.
“Sheila…”
Sheila berdiri beberapa langkah dari mereka, menatap situasi itu dengan ekspresi bingung yang jelas.
“Ini… ada apa sih?” tanyanya, matanya bergantian melihat Aurora, Rayden, lalu Zayn.
Aurora tidak menunggu lama. Tanpa banyak pikir, ia langsung meraih tangan Sheila.
“Eh, kamu datang juga! Aduh, aku baru inget. Kita kan mau ke mal!” ucap Aurora cepat, nada suaranya dibuat seceria mungkin.
Sheila langsung mengernyit, “Hah? Kita-”
Belum selesai ia bicara, tangan Aurora sudah menutup mulutnya cepat.
“Yuk, kita jalan sekarang aja, keburu rame nanti” lanjut Aurora tanpa memberi ruang.
Sheila hanya bisa berkedip, jelas kebingungan.
Aurora sudah menariknya pelan menjauh.
Sebelum benar-benar pergi, Aurora sempat menoleh sebentar. Ia mengangkat tangannya kecil, “Aku duluan ya…”
Senyumnya tipis, terlalu cepat, terlalu dipaksakan. Lalu ia benar-benar pergi.
Meninggalkan dua pria dengan suasana yang belum sempat selesai.
Beberapa menit kemudian, Aurora dan Sheila sudah berada di dalam mobil Sheila.
Pintu tertutup, dan keheningan langsung terasa berbeda. Bukan tegang, tapi penuh tanda tanya.
Sheila langsung menoleh tajam, “Oke. Jelasin.”
Aurora menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke kursi, “Itu tadi… Aku juga nggak ngerti” gumamnya pelan.
Sheila menyilangkan tangan, “Nggak ngerti gimana? Itu jelas banget kayak drama kok.”
Aurora menutup matanya sebentar, lalu mulai bercerita tentang beberapa hari terakhir, tentang Zayn yang tiba-tiba berubah.
Tentang perban, tentang makan siang, tentang tatapan-tatapan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Sheila mendengarkan tanpa menyela. Tapi dari ekspresinya, jelas ia sudah punya kesimpulan sendiri.
Setelah Aurora selesai, hening sejenak. Lalu Sheila tertawa kecil.
Aurora langsung membuka mata, “Kok kamu malah ketawa?”
Sheila menggeleng, masih tersenyum, “Ya gimana nggak ketawa. Kamu tuh polos banget sih.”
Aurora mengernyit, “Apaan sih?”
Sheila menoleh, menatapnya langsung, “Itu bukan perhatian biasa, Ra.”
Aurora langsung menggeleng cepat, “Nggak, Sheila. Mungkin dia cuma ngerasa bersalah aja. Kan gara-gara dia juga aku jadi luka.”
Sheila menghela napas pelan, “Oke, misalnya iya. Tapi menurut kamu orang kayak dia bakal repot-repot sejauh itu cuma karena rasa bersalah?”
Aurora terdiam. Ia tidak punya jawaban.
Sheila melanjutkan, “Dari cara dia lihat kamu, dari cara dia ngomong, itu bukan sekadar tanggung jawab.”
Aurora menunduk, memainkan jari-jarinya, “Tapi dia tuh masih dingin banget ke aku” gumamnya pelan.
Sheila tersenyum tipis, “Justru itu.”
Aurora menoleh.
“Orang dingin kalau udah mulai perhatian, biasanya nggak setengah-setengah, Ra. Dan ya mungkin sifat dinginnya itu karena gengsi doang.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Aurora tidak langsung membalas. Pikirannya kembali ke satu hal.
Cara Zayn memegang tangannya tadi siang, cara dia memindahkan makanan tanpa bicara, dan cara dia bertanya dengan nada yang tidak bisa ia abaikan.
Aurora menggeleng pelan, “Nggak, nggak mungkin.”
Sheila hanya mengangguk kecil, tidak memaksa.
“Iya, kalau kamu anggapnya cuma menebus menebus kesalahan yaudah” ucap Sheila santai, meskipun jelas ia tidak sepenuhnya setuju.
Mobil terus berjalan.
Di luar, langit mulai berubah warna.
Dan di dalam mobil itu, Aurora hanya bisa diam. Karena untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya selalu ia tolak.
Dan mungkin, jawabannya tidak akan sesederhana yang ia kira.