[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
:**: ariel malu?!
Kepalan tangan [y/n] yang tadinya mengeras di sisi jaketnya perlahan mengendur. Kata-kata Ariel—"Capek, kan?"—seolah meruntuhkan tembok pertahanan yang sudah ia bangun bertahun-tahun. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menuntutnya untuk tersenyum.
Ariel tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan yang terasa agak kaku dan canggung, dia meraih tangan [y/n]. Tangannya yang besar dan kasar karena sering berkelahi itu terasa hangat saat bersentuhan dengan kulit [y/n] yang dingin.
Ariel merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah plester luka dan sebotol kecil antiseptik yang sepertinya selalu ia bawa sebagai "perlengkapan tempur" sehari-hari.
"Diem. Jangan banyak gerak," gumam Ariel ketus, tapi matanya fokus menatap luka goresan di telapak tangan [y/n].
Dia meneteskan antiseptik itu ke kapas kecil. [y/n] sempat meringis saat cairan itu menyentuh lukanya yang masih basah.
"Psh... perih," desis [y/n] pelan.
"Tahan. Makanya jangan sok jagoan mungutin kaca pakai tangan kosong," gerutu Ariel. Meskipun mulutnya pedas, gerakannya saat mengusap luka [y/n] sangat hati-hati, seolah dia takut kalau sedikit saja dia menekan, [y/n] akan hancur berkeping-keping.
[y/n] hanya bisa terdiam, matanya menatap lekat ke arah Ariel yang sedang menunduk mengobatinya. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma rokok yang samar bercampur dengan bau sabun maskulin dari baju Ariel.
Dia juga bisa melihat betapa telatennya Ariel memasangkan plester di tangannya.
"Kenapa lu bantu gua, Riel?" tanya [y/n] lirih. "Padahal lu bilang sendiri, lu nggak suka sama orang berisik kayak gua."
Ariel menyelesaikan pasang plesternya, lalu perlahan melepaskan tangan [y/n]. Dia tidak langsung menjawab. Dia memasukkan kembali peralatan obatnya ke saku, lalu menatap lurus ke mata cokelat [y/n].
"Gua nggak suka orang berisik," sahut Ariel datar. "Tapi gua lebih benci liat orang yang punya 'bau' yang sama kayak gua harus menderita sendirian."
Ariel membuang muka, telinganya sedikit memerah—mungkin karena dia malu sudah bersikap terlalu perhatian.
"Duit itu... simpen aja. Buat lu makan siang. Kalau lu pingsan di kelas, nanti malah bikin repot satu sekolah," tambahnya lagi, kembali ke mode ketusnya untuk menutupi rasa canggung.
"Hihihi..." kekeh [y/n] rendah, suaranya terdengar kecil tapi sangat renyah di tengah keheningan rooftop.
Mendengar tawa kecil itu, Ariel menoleh dengan cepat. Dia yang tadinya memasang wajah kaku dan galak, tiba-tiba terdiam seribu bahasa.
Ariel terpana. Matanya yang gelap membelalak kecil saat menatap wajah [y/n].
Itu bukan senyum lebar "palsu" yang dipakai [y/n] saat menyapa semua orang di koridor tadi pagi. Itu adalah senyum tipis yang tulus, yang membuat matanya yang masih basah itu sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya, Ariel melihat binar kecil di mata cokelat [y/n] yang tadi terlihat kosong.
[y/n] kemudian menyeka sisa-sisa air matanya dengan punggung tangan yang tidak diperban. Dia menarik napas panjang, merasa seolah beban di dadanya sedikit terangkat setelah meledak tadi.
"Lu aneh banget, Riel," ucap [y/n] sambil masih terkekeh pelan. "Ngomongnya kasar banget, kayak mau ngajak berantem, tapi tangan lu pas ngobatin gua... lembut banget. Lu lebih cocok jadi dokter daripada jadi berandalan sekolah tahu nggak?"
Ariel berdehem keras, buru-buru membuang muka ke arah pagar pembatas.
Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah sampai ke telinga. Dia merasa sangat canggung karena "ketahuan" perhatian.
"Berisik lu. Gua cuma nggak mau darah lu nempel di tangan gua, nanti disangka gua yang abis mukul lu," gumam Ariel ketus, mencoba mempertahankan harga dirinya yang sudah runtuh di depan [y/n].
[y/n] tidak marah. Dia malah berjalan mendekat dan berdiri di samping Ariel, ikut menyandarkan lengannya di pagar pembatas, menatap pemandangan kota dari ketinggian.
"Makasih ya, Riel," ucap [y/n] tulus. Kali ini suaranya tenang, tanpa beban. "Makasih buat uangnya, buat gelangnya... dan buat nggak mandang gua rendah meskipun lu udah liat seberapa 'hancur' rumah gua."
Ariel terdiam lama. Dia merasakan kehadiran [y/n] di sampingnya, dan anehnya, dia tidak merasa terganggu. Biasanya dia benci kalau ada orang yang berdiri terlalu dekat dengannya, apalagi di tempat persembunyiannya ini. Tapi dengan [y/n], semuanya terasa... pas.
"Jangan sok tahu," sahut Ariel akhirnya, suaranya melunak. "Gua nggak mandang lu rendah karena rumah gua nggak jauh beda sama neraka tempat lu tinggal. Kita cuma... dua orang yang kebetulan lagi di neraka yang sama."