NovelToon NovelToon
NIRWANA BERDARAH

NIRWANA BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No Plagiat 🚫

NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau

“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”

Yi Ling adalah anomali.

Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.

Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.

Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.

Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.

Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.

Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.

Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nisan Para Dewa dan Darah Hitam

Langkah kaki Yi Ling dan Zhi Yue bergema di atas tanah hitam Makam Kaisar Langit yang terasa seperti abu yang dipadatkan. Atmosfer di sini begitu pekat dengan energi Resentful Qi (energi dendam), hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca panas. Di sekeliling mereka, nisan-nisan raksasa setinggi bangunan bertingkat berjajar tidak beraturan, banyak di antaranya sudah retak, namun masih memancarkan aura tekanan yang sanggup meremukkan tulang pendekar tingkat rendah.

"Jangan menyentuh nisan mana pun," peringat Yi Ling, suaranya pelan namun tajam. "Setiap nisan di sini adalah segel bagi jiwa-jiwa prajurit langit yang jatuh. Jika segelnya terganggu, mereka akan bangkit sebagai Ethereal Husk—raga tanpa jiwa yang hanya tahu cara membunuh."

Zhi Yue menggenggam gagang pedangnya lebih erat. Pandangannya menyapu cakrawala yang tidak pernah terang. "Tempat ini... tidak memiliki kehidupan. Bahkan serangga pun tidak berani merayap di sini."

Tiba-tiba, seruling giok di pinggang Yi Ling bergetar hebat. Zhui Hai mengirimkan sinyal peringatan melalui resonansi jiwa. "Tuan Muda! Di depan! Ada pergerakan di balik Nisan Patah!"

Sepersekian detik kemudian, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Sebuah nisan raksasa di depan mereka meledak, bukan karena dihancurkan dari luar, melainkan karena didorong dari dalam. Dari balik reruntuhan itu, muncul sesosok makhluk setinggi tiga meter. Tubuhnya terdiri dari baju zirah kuno yang sudah berkarat, namun di dalamnya tidak ada daging—hanya asap hitam pekat yang membara dengan api ungu di bagian matanya.

Itu adalah Wali Makam: Sang Penjagal Langit.

"Penyusup..." suara makhluk itu terdengar seperti gesekan logam berat di atas batu. "Tanah ini suci... nyawa kalian... adalah tumbalnya!"

Wali Makam itu mengayunkan kapak raksasanya yang berkarat. Angin dari ayunan itu saja sudah cukup untuk membelah tanah hitam di depan Yi Ling.

"Zhi Yue, ke kiri!" teriak Yi Ling sambil melompat ke udara.

Zhi Yue bergerak dengan ketangkasan seorang Jenderal perang. Ia meluncur di bawah ayunan kapak, lalu melompat dan mendaratkan tendangan di lutut zirah makhluk itu. Namun, seolah menabrak gunung besi, tendangannya tidak membuat makhluk itu bergeming.

"Senjata biasa tidak akan melukainya, Zhi Yue! Gunakan energi murni!" Yi Ling menarik seruling gioknya. Ia tidak meniupnya kali ini, melainkan menggunakannya sebagai tongkat pendek. Dengan aliran tenaga dalam hijau zamrud, ia menghantam bagian dada zirah sang Wali.

DUMMM!

Gelombang kejut terpental. Wali Makam itu mundur dua langkah, mengeluarkan suara raungan yang memekakkan telinga.

"Grrrr... Tuan Muda, biarkan aku membantumu!" suara Xiān Yǔ meledak dari dalam sukma Yi Ling.

Cahaya perak memancar dari punggung Yi Ling, membentuk siluet kepala serigala raksasa yang transparan. Xiān Yǔ melesat maju dalam wujud proyeksi energi, menggigit lengan zirah sang Penjagal dan menyeretnya hingga keseimbangan makhluk itu goyah.

"Sekarang, Zhi Yue!" seru Yi Ling.

Zhi Yue memahami kode itu. Ia memusatkan seluruh energi Qi-nya ke mata pedang. Bilah bajanya berpendar dengan cahaya putih menyilaukan. Dengan satu teriakan perang yang menggetarkan lembah, ia melesat seperti kilat.

Teknik Pedang Badai: Tebasan Pemutus Takdir!

Cahaya putih melintas secara horizontal, menebas leher zirah sang Wali Makam. Kepala zirah itu terlepas dan jatuh berdentum di tanah. Namun, makhluk itu tidak mati. Asap hitam dari tubuhnya justru semakin beringas, mencoba menyatukan kembali bagian tubuh yang terpisah.

"Dia meregenerasi diri dari energi makam ini!" ucap Zhi Yue, napasnya mulai terengah.

"Tidak jika aku memutus sumbernya," Yi Ling mendarat di atas salah satu nisan kecil. Ia mengangkat seruling gioknya ke bibir.

Alunan nada yang ditiupkan Yi Ling kali ini sangat berbeda. Bukan nada merdu yang menenangkan, melainkan nada rendah yang disonansi, penuh dengan getaran yang menghancurkan.

Gema Seruling Lembah Sunyi: Ritme Pemurnian Jiwa!

Setiap nada yang keluar berubah menjadi jarum-jarum cahaya hijau yang menghujam asap hitam di dalam zirah sang Wali. Zhui Hai, dari dalam seruling, membantu memfokuskan energi tersebut agar tepat sasaran.

Asap hitam itu mulai meronta, menjerit dalam frekuensi yang menyakitkan. Di bawah tekanan melodi Yi Ling dan serangan beruntun dari proyeksi perak Xiān Yǔ, zirah raksasa itu akhirnya hancur berkeping-keping. Asap hitamnya menguap, meninggalkan keheningan yang lebih mencekam dari sebelumnya.

Zhi Yue menyarungkan pedangnya, dahinya bersimbah keringat. "Baru satu penjaga, dan kita sudah hampir menghabiskan setengah tenaga dalam."

Yi Ling menatap ke arah depan, di mana sebuah bukit kecil yang terbuat dari tengkorak kristal terlihat di kejauhan. Di puncaknya, terdapat sebuah kolam kecil yang memancarkan cahaya putih keperakan—itulah Tanah Penciptaan.

"Kita tidak punya waktu untuk beristirahat," ujar Yi Ling. "Kematian Wali Makam ini akan memicu alarm bagi penjaga lainnya. Kita harus sampai ke puncak itu sebelum seluruh nisan di sini bangkit."

Zhi Yue menatap Yi Ling, melihat ketegasan yang tidak tergoyahkan. Ia tahu, bagi Yi Ling, raga Zhui Hai adalah segalanya. Ia hanya bisa tersenyum pahit, mengagumi sekaligus merasa perih melihat betapa besarnya pengabdian pria ini.

"Kalau begitu, mari kita berlari, Yi Ling," ucap Zhi Yue. "Aku akan memastikan tidak ada satu pun bayangan yang menyentuh punggungmu saat kau membangun raga itu nanti."

Mereka berdua kembali melesat di antara nisan-nisan raksasa. Di belakang mereka, suara nisan yang retak mulai terdengar satu demi satu. Ribuan Ethereal Husk mulai merangkak keluar dari kegelapan, mata ungu mereka menyala karena lapar akan nyawa.

Perjalanan ini bukan lagi sekadar pencarian, melainkan perlombaan melawan maut di tanah yang menolak kehidupan. Yi Ling tahu, satu kesalahan kecil akan membuatnya menjadi salah satu nisan di tempat ini, namun selama suara Zhui Hai masih terdengar dan pedang Zhi Yue masih melindunginya, ia tidak akan berhenti—bahkan jika ia harus menantang kaisar langit sekalipun.

1
Aman Wijaya
mengatur keseimbangan diri dari tubuh Yo Ling
Xue Lian: Mc nya lagi berjuang buat hewan kontrak nya sama Roh seruling senjatanya
total 1 replies
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut
Xue Lian: hahaha...semoga suka sama ceritanya
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz jooooz gandos lanjut terus Thor
Xue Lian: makasih...siap lanjut 😍
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor
Dao Biru
Sudah bagus kak, hanya saja istilah modern "Mekanis" kurang dapat feel-nya. Awalnya aku cocok aja bacanya, tapi pas ada penulisan kata Mekanis jadi gak dapet aura kuno nya...
Xue Lian: makasih,udah diingatkan nanti author revisi ulang😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!