NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Selamat atas keterpurukanmu, Mas!

Setelah acara pengajian selesai, Hanum diminta untuk tetap diam saja di sofa. Sementara Bunda dan Bi Inah merapikan bekas piring dan gelas ke dapur. Devan menggulung karpet bulu yang cukup lebar dan mengangkatnya.

Sepiring kue-kuean di depan Hanum tak satu pun ia sentuh. Juga teh hangatnya yang ia biarkan menguar begitu saja.

"Hanum?" Devan yang baru saja kembali selepas menyimpan karpet duduk di depannya.

"Kamu mau istirahat dulu?" katanya.

"Devan, aku jadi gak enak deh sama kamu. Aku udah mendingan kok..," kata Hanum.

Devan tersenyum. "Sudah tidak apa-apa, kalau ada yang mau kamu minta bilang saja ya."

Sudah kesekian kalinya Hanum mendengar ucapan itu dari Devan. Membuatnya semakin merasa bersalah.

"Besok aku boleh temuin Mas Bram, gak?" tanya Hanum pada Devan.

"Boleh kok, asal kamu betulan mendingan. Jangan dipaksakan."

"Aku gapapa kok, insyaallah besok udah mendingan."

"Oke, besok kita ke sana ya."

Hanum merasa lega, tersenyum menatap Devan yang kini sedang duduk mengunyah kue bolu pandan di tangannya. Merasa diperhatikan, Devan menatap balik Hanum sehingga mereka berdua saling bertatapan.

"Jangan tatap aku seperti itu, Hanum," ucapnya kemudian.

Hanum yang sadar pun memalingkan wajahnya yang tampak bersemu merah.

"Maaf."

"Kalau kamu tatap aku seperti itu, lama-lama aku makin jatuh hati ke kamu," ucap Devan dengan spontan.

Hanum tak menggubrisnya sama sekali. Yang dia rasakan hanyalah ketulusan, murni dari hati seorang pria yang benar-benar mencintainya.

"Devan, aku mau tanya satu hal lagi."

"Tanya apa pun itu boleh."

"Kamu serius mau menikahi aku.., dua bulan lagi?" tanyanya.

Devan terdiam sejenak. "Iya, aku serius. Apa kamu keberatan?"

"Bukan kah itu terlalu cepat? Maksudku, kamu gak papa kan?" Tampak keraguan pada diri Hanum.

"Aku gak masalah, Hanum. Aku menerima kamu apa adanya. Kalau kamu masih ragu, apa lagi yang harus aku buktikan untuk menunjukkan perasaanku?" Devan berkata dengan mantap.

Hanum terdiam saja, tak mampu menjawabnya.

"Anak-anak, Bunda. Maksudnya, anak dan menantu Bunda mau makan malam sama apa?" ucap Bunda yang kini berdiri di dekat mereka.

"Hanum udah kenyang, Bun. Minum obat saja nanti," kata Hanum menjawab.

"Makan bubur dulu ya.., habis itu minum obat," Bunda memperbaiki ucapan Hanum, memintanya agar makan lagi.

"Kalau anak Bunda ini apa?"

"Udah kenyang, Bun. Palingan gak makan lagi," kata Devan.

"Ya udah," timpal Bunda pura-pura tak peduli. Membuat Hanum tertawa kecil.

"Ingat, kamu harus jaga kesehatan kamu ya sayang ya. Calon menantu Bunda harus sehat! Jangan paksakan apa pun dulu, kalau ada yang diperlukan bilang saja sama calon suami kamu," ucap Bunda untuk pertama kalinya. Kelihatannya Bunda sangat antusias menyambut pernikahan mereka berdua.

Devan pun tak habis pikir dibuatnya. Benar dia mengatakan hendak menikah, tapi Bundanya ini se excited ini!

"Devan, bawa calon istri kamu ke kamar," kata Bunda menyuruh Devan.

Akhirnya, Hanum kembali berbaring di ranjangnya. Setelah memakai piyama dibantu oleh Bi Inah tadi. Devan tampak senyum-senyum sendiri saat Hanum menatapnya.

"Kenapa, Van?"

"Kamu panggil aku Mas mulai sekarang."

"Mas??"

"Iya.., Mas Devan."

Tampak dia tersipu malu mendengar ucapan Devan. "Mending kamu tidur dulu.., Mas," ucap Hanum malu-malu.

"Siap, Calon istri ku," kata Devan sambil berpaling pergi meninggalkan ruangannya.

"Ya ampun apa-apaan tadi?!" Hanum merutuki dirinya sendiri.

...****************...

Hanum turun dari mobil dengan bantuan Devan yang telah menyiapkan kursi roda untuknya. Sesuai permintaan Hanum, hari ini dia ingin menemui Bramasta di sel tahanan..

"Kamu tunggu di luar aja ya, Van. Máaf, Más."

"Kamu yakin? Kalau ada apa-apa bagaimana?"

Hanum tersenyum. "Gak bakalan, Mas. Yakin aja lagian dijaga juga," kata Hanum.

Akhirnya, Devan pun membolehkannya. Dia membantu dorong kursi roda Hanum hingga masuk ke dalam ruangan. Lalu membiarkan perempuan itu bergerak dengan kursi rodanya menuju ruang temu tahanan.

Bramasta tampak lusuh, tetapi ketampanannya masih seperti biasanya. Dia terkejut saat Hanum datang mendekat ke arahnya.

"Hanum..," ucapnya pelan.

"Apa kabarmu, Mas?" Hanum memperbaiki posisi duduknya. Menatap Bramasta yang menatap balik kepadanya.

"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," ucap Bramasta dengan santai.

"Kamu bohong, Mas," ucap Hanum sembari meletakkan sebuah wadah berisi makanan di atas meja. "Ini buat kamu, Mas."

Bramasta tersenyum melihatnya. "Makasih ya. Aku sudah menduga kamu akan datang, Hanum..," ucapnya dengan senang.

"Jangan salah paham dulu, Mas. Ini untuk terakhir kalinya aku kesini," balas Hanum yang kini menatap Bramasta tak suka. "Setelah ini, aku gak akan kesini lagi sekali pun kamu kenapa-napa, Mas."

Seketika keheningan menyelimuti suasana pembicara mereka berdua. Lalu Bramasta tertawa. "Aku terlalu berekspektasi tinggi rupanya," katanya.

"Baiklah, aku terima apa kata kamu, Hanum. Kamu begini karena merasa sudah mendapatkan pengganti yang kamu mau kan? Setelah kamu membuang aku?" kata Bramasta dengan angkuh.

Hanum merogoh tas nya. Mengeluarkan cermin persegi kecil dan mensejajarkan posisinya di depan wajah pria itu. "Ngaca dulu, Mas."

"Udah?"

Bramasta terdiam.

"Semua yang kamu katakan itu dusta, Mas. Aku bahkan gak merasakan arti pernikahan kita dahulu. Membuang kata mu? Kamu yang sudah membuang aku, Mas! Kamu selingkuhan sama wanita murahan itu dan merebut usaha aku sendiri."

"Sekarang aku yang membuang mu. Supaya lebih adil. Bukan kah begitu, Tuan Bramasta?" Hanum berusaha menahan emosinya yang kini meluap.

"Selamat atas keterpurukanmu, Mas!" ucapnya kemudian. Lalu tak lama kemudian Devan berjalan ke arahnya, membawa Hanum pergi meninggalkan Bramasta yang dibawa masuk ke sel penjara oleh penjaga.

"Brengsek kau, Devan! Awas kalian berdua!" teriak Bramasta.

Hanum tak banyak bicara saat Devan membawanya pulang ke rumah. Sedari tadi dia hanya melamun menatap hamparan bangunan kota dan ramainya orang-orang.

"Kita mau kemana, Mas?" tanya Hanum saat menyadari mereka tak lagi mengarah ke rumah.

"Kita ke pantai sebentar," ucap Devan.

Hanum menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul dua belas siang.

"Tengah hari begini?" Hanum keheranan.

"Kita Zuhur di Masjid dekat pantai itu ya?" tawar Devan lagi. "Aku yakin kamu pasti suka."

Hanum tak masalah sebenarnya, sebab dia sendiri merasa bosan jika terus-terusan menghabiskan waktu di rumah saja. Setibanya di masjid yang dimaksud, dia melihat kerumunan anak-anak perempuan yang sedang bermain pasir di halaman masjid.

"Anak-anak, ayo masuk ke mesjid!" seru salah satu wanita berpakaian gamis dan hijab yang panjang.

"Sebentar lagi, Ustadzah!!"

"Ya Allah..," kata Ustadzah itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mobil mereka merapat di parkiran masjid. Devan membantu Hanum untuk turun. Tak lama kemudian Ustadzah itu melihat kedatangan mereka.

"Eh, Bang Devan?" ucap perempuan yang disebut Ustadzah oleh anak-anak itu.

"Hanum, perkenalkan ini Aisha. Dia junior waktu aku kuliah. Sekarang udah jadi istri salah satu teman kantor aku," kata Devan memperkenalkan Aisha.

"Saya Hanum, senang bertemu dengan kamu, Aisha," kata Hanum tersenyum.

"Wah, Kak Hanum. Namanya cantik sekali. Panggil aku "Ai" aja kak, kalo anak-anak biasanya manggil Ustadzah Ai hehe," kata Aisha.

"Hanum, kamu sama Ai dulu ya. Mas mau ketemu sama teman Mas dulu," Devan pun pergi meninggalkan mereka berdua.

"Sebentar ya kak, Ai panggil anak-anak dulu buat masuk." Ai membantu Hanum untuk duduk di salah satu kursi teras masjid. Lalu memanggil anak-anak itu untuk masuk ke dalam masjid. Mengarahkan mereka untuk tadarus. Setelah itu kembali menemui Hanum.

"Mereka anak-anak didikan kamu, Ai?" tanya Hanum.

"Kurang lebih seperti itu, Kak. Mereka anak-anak yang kurang mampu, kebanyakan yatim piatu yang aku jumpai di jalanan, Kak. Aku rawat mereka agar mereka bisa sekolah dan melanjutkan kehidupan yang layak. Ya.., meski kadang harus ngomel-ngomel kayak tadi sih, Kak hehe," kata Ai.

Dalam hatinya, Hanum mengagumi perbuatan Ai tersebut.

"Ah iya, Mas Devan sama Kak Hanum sudah menikah ya?" kata Ai penasaran.

Hanum tersenyum. "Masih calon, Ai. Kami berencana menikah dua bulan lagi."

"Oh begitu.., semoga dilancarkan ya, Kak. Ai dulu juga begitu, Kak. Suami Ai, Mas Raka dulu seperti itu juga."

"Ya sudah, kita masuk ke dalam dulu yuk, Kak! Sudah mau Zuhur," ucap Ai sambil membantu Hanum berjalan.

Hanum tersenyum, entah mengapa dia seperti menemukan sahabat yang begitu akrab baginya.

Note Author:

*Tinggalkan komen/ like nya ya best! Bakalan Up deh terus agar tahu dimana letak salahnya

*Update tiap hari, di jam 4-6 sore

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!