NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 SWMU

Malam itu, badai besar melanda wilayah sekitar Mansion Mahendra. Suara angin menderu-deru di antara pepohonan pinus, terdengar seperti jeritan ribuan jiwa yang tersesat di tengah hutan. Petir sesekali menyambar, menerangi kamar Nadia dengan cahaya putih yang menyilaukan dan seketika diikuti oleh dentuman petir dan yang menggetarkan kaca jendela.

Nadia Clarissa meringkuk di bawah selimut sutranya yang tebal. Ia baru saja tertidur setelah berjam-jam menangisi foto ibunya, namun tidurnya jauh dari kata damai. Di alam bawah sadarnya, ia kembali berada di dalam mobil sedan hitam milik ayahnya. Ia melihat ibunya tertawa, melihat ayahnya fokus pada kemudi. Lalu, tiba-tiba pemandangan berubah. Rem mobil menjerit, ayahnya berteriak, dan dunia mulai berputar-putar. Suara benturan logam yang mengerikan memenuhi telinganya, diikuti oleh keheningan yang menyesakkan dan bau bensin yang menyengat.

"Ibu! Ayah!" teriak Nadia dalam tidurnya.

Dalam mimpinya, ia melihat sosok pria berdiri di kejauhan di tengah kobaran api. Pria itu bukan ayahnya. Pria itu tinggi, tegap, dan memegang sebuah kunci emas di tangannya. Pria itu hanya diam memperhatikan mobil yang hancur itu, sementara Nadia kecil terjebak di dalam, menggedor-gedor kaca jendela yang tak mau pecah.

"Tolong! Tolong aku!"

Nadia tersentak bangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi kening dan lehernya. Kamarnya gelap gulita karena listrik tampaknya padam akibat badai. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak. Isak tangis yang tersisa dari mimpinya pecah kembali. Ia merasa sangat rapuh, sangat kecil, dan sangat ketakutan.

"Ayah... Ibu... tolong Nadia..." rintihnya sambil memeluk lututnya sendiri.

Tiba-tiba, ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Nadia tersentak, mengira itu adalah hantu dari masa lalunya atau musuh yang diceritakan Bramantya. Namun, sebuah cahaya remang dari lampu sentral yang ditenagai generator darurat mulai menerangi lorong, dan sesosok pria masuk dengan langkah terburu-buru.

"Nadia? Kau baik-baik saja?"

Itu suara Bramantya. Suaranya tidak sedingin biasanya; ada nada kecemasan yang nyata di sana. Pria itu mengenakan jubah tidur sutra hitam, rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja bangkit dari tempat tidurnya sendiri—atau mungkin, seolah ia baru saja berhenti mengawasi layar monitornya karena melihat Nadia memberontak dalam mimpi.

Bramantya duduk di tepi tempat tidur. Nadia secara refleks mundur hingga punggungnya menempel pada sandaran ranjang yang dingin.

"Pergi... jangan mendekat," isak Nadia, meskipun suaranya tidak memiliki kekuatan untuk menolak.

"Kau bermimpi buruk, kecilku. Aku mendengarmu berteriak," ucap Bramantya lembut. Ia tidak memedulikan penolakan Nadia. Ia justru mengulurkan tangannya yang besar dan menarik Nadia ke dalam dekapannya.

Nadia sempat mencoba memberontak, memukul dada Bramantya dengan kepalan tangan kecilnya yang lemah. "Lepaskan aku! Kau monster! Ini semua salahmu!"

Bramantya tidak marah. Ia justru mengeratkan pelukannya, membiarkan Nadia meluapkan kemarahannya. "Ssst... tidak apa-apa. Kau aman di sini. Paman di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu."

Kehangatan tubuh Bramantya perlahan-lahan mulai menembus rasa dingin yang menyelimuti Nadia. Aroma cendana yang kini bercampur dengan aroma sabun mandi yang segar memberikan sensasi ketenangan yang paradoks. Di tengah ketakutannya pada pria ini, Nadia menemukan bahwa pelukan ini adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dan kokoh di dunia yang sudah hancur ini.

Lambat laun, pukulan Nadia melemah. Ia akhirnya menyerah, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bramantya dan menangis sejadi-jadinya. Tangannya mencengkeram erat kemeja sutra pria itu, seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan kembali terlempar ke dalam jurang kecelakaan yang mengerikan itu.

Bramantya mengelus rambut Nadia dengan gerakan yang sangat lembut dan ritmis. "Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik. Paman tidak akan pergi."

"Kenapa... kenapa mereka pergi, Bram?" tanya Nadia di sela isakannya, suaranya parau dan kekanak-kanakan karena duka.

Bramantya terdiam sejenak. Ia mencium puncak kepala Nadia, sebuah kecupan yang terasa begitu protektif namun juga sangat posesif. "Terkadang dunia mengambil sesuatu agar kita bisa menemukan tempat yang lebih baik, Nadia. Ayahmu... dia tidak bisa menjagamu selamanya. Tapi aku bisa."

Nadia tidak peduli pada maksud di balik kata-kata itu saat ini. Ia hanya ingin rasa sakit di dadanya berkurang. Ia memejamkan matanya, menikmati detak jantung Bramantya yang tenang dan teratur. Anehnya, detak jantung pria yang ia sebut monster ini memberikan irama yang menenangkan baginya.

"Paman tidak akan membiarkanmu sendirian lagi," bisik Bramantya. Ia merengkuh tubuh Nadia sepenuhnya, seolah ingin menyerap semua kesedihan gadis itu ke dalam tubuhnya sendiri. "Rumah ini mungkin besar dan sepi, tapi mulai sekarang, kau tidak akan pernah tidur dalam ketakutan lagi. Aku akan menjagamu dari setiap mimpi buruk yang berani mendekat."

Bramantya perlahan-lahan merebahkan tubuh Nadia kembali ke atas bantal, namun ia tidak melepaskan pelukannya. Ia ikut berbaring di samping Nadia, mendekap gadis itu dari belakang, memberikan kehangatan yang menyeluruh.

"Tidurlah, Nadia," bisik Bramantya tepat di telinganya. "Aku di sini. Aku tidak akan mengunci pintu malam ini jika itu membuatmu merasa lebih tenang. Tapi percayalah, tidak ada tempat yang lebih aman bagimu selain di sampingku."

Dalam pengaruh rasa lelah yang luar biasa dan rasa aman yang semu, Nadia perlahan-lahan mulai terlelap kembali. Ia tidak memikirkan tentang cermin dua arah, tidak memikirkan tentang obat tidur, atau tentang bagaimana Bramantya memanipulasi hidupnya. Yang ia rasakan hanyalah lengan yang kokoh yang melingkari pinggangnya, melindunginya dari dinginnya malam dan hantu-hantu masa lalu.

Nadia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang kali ini. Namun, jika ia tetap terjaga, ia akan melihat bahwa Bramantya Mahendra sama sekali tidak memejamkan mata. Pria itu menatap wajah tidur Nadia dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh intensitas. Ia menyentuh bibir Nadia dengan ujung jarinya, lalu beralih ke liontin gembok di leher gadis itu.

"Kau adalah milikku sekarang, Nadia," gumam Bramantya dalam kegelapan yang sunyi. "Bahkan dalam mimpimu pun, aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik orang lain."

Di luar, badai mulai mereda, meninggalkan suara rintik hujan yang lembut. Di dalam kamar yang sunyi itu, Nadia Clarissa tertidur di pelukan pamannya, tanpa menyadari bahwa rasa aman yang ia rasakan malam ini adalah jerat paling kuat yang pernah dipasang Bramantya. Pelukan yang menenangkan itu bukan hanya obat bagi mimpi buruknya, tapi juga awal dari ketergantungan emosional yang akan membuatnya sulit untuk membedakan antara pelindung dan penculik.

Malam itu, air mata Nadia kering di dada Bramantya, namun benih-benih obsesi yang lebih dalam telah tertanam di dalam mansion megah yang terlalu besar untuk satu orang itu.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!