NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8.5 – Tempat Aku Menunggu Tanpa Nama

POV Airi

Rooftop selalu menjadi tempat paling sunyi di sekolah.

Bukan karena tidak ada yang tahu keberadaannya, melainkan karena tidak banyak yang benar-benar ingin naik ke sana. Tangga besinya tersembunyi di ujung gedung lama, pintunya sering berderit seperti orang tua yang kelelahan, dan anginnya terlalu kencang untuk mereka yang hanya ingin bercanda sepulang sekolah.

Justru karena itulah aku menyukainya.

Di sana, tidak ada yang mencariku.

Tidak ada yang menatap terlalu lama.

Tidak ada suara yang memaksaku untuk menjawab.

Sore itu, aku berdiri di dekat pagar besi rooftop, memeluk tasku di dada. Seragamku masih rapi, pita masih terikat dengan benar, tapi kepalaku penuh oleh hal-hal yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.

Langit di atas berwarna abu-abu pucat, seperti kertas kosong yang belum diputuskan akan digambar apa.

Rooftop bukan tempat favoritku.

Terlalu terbuka.

Terlalu dekat dengan langit.

Tapi sore itu, aku tidak punya pilihan lain.

Ren bilang latihan basketnya mendadak ditambah. Katanya pelatih ingin mempersiapkan tim untuk turnamen antar sekolah. Ia mengatakannya sambil mengikat tali sepatunya, seolah itu bukan hal besar.

Aku mengangguk saja.

Namun dalam hatiku, aku sudah menghitung.

Kalau aku turun dan menunggu di depan gerbang sekolah, aku akan berdiri terlalu lama di tengah keramaian. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak wajah. Terlalu banyak kemungkinan seseorang menyapaku, menatapku, atau bertanya hal-hal yang tidak ingin kujawab.

Dan aku tidak suka keramaian.

Keramaian membuat dadaku sesak tanpa alasan yang jelas.

Jadi aku naik ke rooftop.

Ren belum datang.

Aku duduk di lantai, menyandarkan punggung ke pagar besi. Anginnya dingin, tapi tidak menusuk. Rasanya seperti sentuhan yang mengingatkanku bahwa aku masih ada.

Aku menunggu.

Menunggu Ren selesai latihan.

Menunggu waktu bergerak.

Menunggu pikiranku berhenti berisik.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas, membuka aplikasi rekaman suara. Tidak ada lagu tertentu. Tidak ada tujuan. Aku tidak berniat menyimpan apa pun.

Aku hanya ingin mengeluarkan sesuatu dari dadaku.

Dan tanpa sadar, aku mulai bernyanyi.

Pelan.

Hampir berbisik.

Bukan lagu populer. Bukan lagu yang pernah kupelajari dengan benar. Hanya rangkaian nada yang mengalir begitu saja, mengikuti napasku yang naik-turun tidak teratur.

Aku menatap langit sambil bernyanyi, membayangkan suaraku naik perlahan, lalu menghilang di antara awan-awan yang menggantung rendah.

Aku bernyanyi tentang hal-hal yang tidak bisa kuceritakan pada siapa pun.

Tentang rasa sesak yang datang tanpa aba-aba.

Tentang ingatan yang tiba-tiba muncul saat aku sendirian.

Tentang ketakutan yang tidak pernah benar-benar pergi—hanya bersembunyi, menunggu saat aku lengah.

Dengan bernyanyi, aku merasa aman.

Namun ternyata aku salah.

Aku tidak sadar bahwa ada orang lain di sana.

Sampai pintu rooftop berderit pelan.

Suaraku terhenti seketika.

Aku menoleh.

Untuk sesaat, dunia seperti berhenti bergerak.

Seorang kakak kelas berdiri di dekat pintu. Seragamnya berbeda—kelas tiga. Posturnya tegap, tinggi di atas rata-rata. Wajahnya terlihat tenang, namun matanya jelas terkejut, seolah tidak menyangka akan menemukan siapa pun di sana.

Rasa panik menjalar cepat di dadaku.

Aku tidak suka ditemukan saat bernyanyi.

Rasanya seperti bagian diriku yang paling rapuh tiba-tiba terbuka tanpa izin.

Aku ingin mengatakan bahwa aku mungkin telah mengganggunya.

Aku ingin meminta maaf.

Aku ingin menjelaskan.

Namun kata-kataku tercekat.

Aku hanya berdiri diam. Bahuku sedikit menegang. Keterkejutanku pasti terlihat jelas.

Ia langsung mengangkat tangan, sedikit kikuk.

“Maaf,” katanya refleks. “Aku… nggak sengaja.”

Nada suaranya tidak menekan.

Tidak menghakimi.

Aku menarik napas perlahan, mencoba menenangkan diriku sendiri. Setelah detak jantungku sedikit lebih teratur, aku mengangguk pelan.

“Nggak apa-apa.”

Hanya dua kata, tapi itu cukup membuat dadaku sedikit lebih longgar.

“Aku Haruto,” katanya setelah jeda singkat. “Kelas tiga.”

“Airi,” jawabku pelan. “Kelas dua.”

Namaku terdengar asing di telingaku sendiri, seolah aku sedang memperkenalkan versi diriku yang sangat kecil—versi yang jarang keluar.

Kami berdiri berdampingan, dengan jarak yang aman. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Angin berhembus pelan, membawa suasana hening yang entah bagaimana terasa nyaman.

Aku merasa canggung.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Aku takut kata-kata yang keluar justru akan merusak ketenangan ini.

Angin kembali berhembus. Aku menggigil sedikit.

Haruto menatap langit.

“Kayaknya bakal hujan,” katanya.

“Kamu sebaiknya segera pulang.”

Nada suaranya setengah bercanda, setengah serius.

“Kalau hujan turun, ribet.”

Aku mengikuti arah pandangnya. Awan memang terlihat lebih gelap dari sebelumnya.

“Iya,” jawabku.

Namun kakiku tidak bergerak.

Entah kenapa, aku tidak ingin langsung pergi.

Ia tersenyum kecil, seolah menyadari kebimbanganku.

“Bukan ngusir,” katanya cepat. “Cuma… takut kamu kehujanan.”

Aku menunduk, lalu tersenyum tipis tanpa sadar.

“Makasih.”

Sore itu, kami turun bersama tanpa banyak bicara.

Dan tanpa kusadari, sejak hari itu, rooftop tidak lagi hanya milikku.

Aku mulai sering ke rooftop setiap kali Ren sibuk dengan klub basketnya.

Kadang Ren selesai lebih cepat, lalu kami pulang bersama.

Ia sering berkata, “Tunggu di kelas aja.”

Namun kelas terlalu ramai.

Terlalu banyak suara.

Terlalu banyak tatapan.

Kadang aku memilih langsung turun dan menunggu di depan gerbang. Tapi setiap kali latihan basket Ren mendadak diperpanjang, atau aku merasa terlalu lelah untuk menghadapi dunia di bawah sana, kakiku akan membawaku naik ke rooftop.

Dan entah bagaimana, Haruto sering ada di sana.

Kadang ia datang lebih dulu.

Kadang aku yang lebih dulu.

Kami tidak pernah janjian, tapi rasanya seperti ada kesepakatan tak tertulis di antara kami.

Kami berbincang.

Ia bercerita bahwa ia sering mencuri waktu dari urusan OSIS.

Mantan ketua OSIS, katanya.

Namun sikapnya tidak seperti orang yang suka menjadi pusat perhatian. Ia lebih sering berdiri bersandar di pagar, atau duduk sambil memandangi langit—sama sepertiku.

Kami jarang membicarakan hal besar.

Kami bicara tentang cuaca.

Tentang guru yang terlalu banyak memberi tugas.

Tentang sekolah yang terasa lebih sepi menjelang sore.

Ia tidak pernah memaksaku bicara.

Dan itu membuatku nyaman.

Namun ada saat-saat ketika ia mencoba bertanya lebih jauh.

“Rumah kamu di mana?”

“Kamu anak pertama atau kedua?”

“Kamu suka musik dari kapan?”

Pertanyaan-pertanyaan yang wajar.

Namun setiap kali, dadaku terasa sedikit sesak.

Jadi setiap kali Haruto bertanya terlalu jauh, aku akan mengalihkan pembicaraan.

“Eh, kak Haruto mau lanjut ke mana setelah lulus?”

“Atau… kak Haruto capek nggak sih jadi anak OSIS?”

Bukan karena aku tidak percaya padanya.

Tapi karena aku takut.

Takut jika aku mulai bicara tentang diriku, aku akan membuka pintu yang selama ini kukunci rapat. Pintu yang di baliknya ada ingatan yang belum siap kuhadapi.

Masa lalu bukan kenangan bagiku.

Ia seperti ruangan gelap yang jika dibuka, akan menelan semuanya.

Bernyanyi membantuku bertahan.

Namun menceritakan diriku sendiri—itu hal yang berbeda.

Aku takut Haruto melihat retakan itu.

Dan pergi.

Sepertinya ia menyadari batas itu.

Ia berhenti bertanya.

Satu tahun terasa berlalu terlalu cepat.

Aku masih kelas dua.

Haruto sudah sibuk dengan kelulusan.

Aku bisa merasakan jarak itu tumbuh pelan-pelan. Ia tidak selalu datang ke rooftop lagi. Jadwalnya padat. Wajahnya sering terlihat lelah.

Namun setiap kali kami bertemu, ia tetap menatapku dengan cara yang sama.

Seolah aku bukan seseorang yang harus ia pahami sepenuhnya—cukup seseorang yang keberadaannya ingin ia jaga.

Hari kelulusan datang.

Sekolah penuh tawa dan kamera.

Aku berdiri di atas rooftop seperti biasa, memandang kerumunan di bawah yang dipenuhi canda, haru, dan semangat untuk melangkah ke masa depan.

Aku sedang menunggu Ren.

Lalu aku melihat Haruto.

Ia berdiri di antara para lulusan—tinggi, rapi, dikelilingi teman-temannya. Ia terlihat gelisah, seolah mencari sesuatu.

Dan dengan insting yang tidak bisa kujelaskan, ia menoleh ke arah rooftop.

Mata kami bertemu sesaat.

Ia mengisyaratkan agar aku tetap di atas.

Namun pintu rooftop yang terbuka bukan pintu yang biasa Haruto pakai.

Ren muncul.

Ia melangkah ke arahku sambil berkata,

“Kau sering ke sini waktu menungguku, ya?”

Aku terdiam.

Sebelum aku menjawab, ia menambahkan,

“Pemandangan di sini bagus. Sejuk. Pantas kamu suka.”

Ren berdiri di sampingku, lalu mengambil tasku.

“Airi, ayo pulang,” katanya.

“Nanti ibumu khawatir.”

Aku mengangguk.

Saat kami berjalan pergi, aku menoleh sekali lagi.

Di belakang kami, pintu rooftop yang biasa Haruto lewati berderit pelan.

Haruto berdiri diam, menatap ke arah kami.

Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan.

Aku hanya tahu—aku tidak sempat mengucapkan apa pun.

Malam itu, sebelum tidur, aku membuka ponsel.

Rekaman suara lama masih ada.

Aku memutarnya pelan.

Suaraku terdengar lebih jujur di sana.

Lebih berani.

Aku menutup mata.

Aku tidak tahu apakah aku akan bertemu Haruto lagi.

Aku tidak tahu apakah aku ingin bertemu.

Namun di dalam hati kecilku, aku berharap—

Jika suatu hari aku bernyanyi lagi,

ada seseorang yang mengingat suaraku

bukan sebagai luka,

melainkan sebagai sesuatu yang layak dipertahankan.

Dan rooftop itu…

akan selalu menjadi tempat aku menunggu—

bukan hanya Ren,

melainkan versi diriku

yang belum sepenuhnya berani keluar.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!