NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:894
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 : Pesan sebuah darah

Brakk!!

Dentuman keras menghantam ruangan pribadi itu. Suara kayu berderak, menimbulkan getaran yang membuat beberapa berkas di meja jatuh berserakan. Di dalam sana, udara seolah mengeras. Seorang pria dengan raut tegang berdiri memukul meja, urat di lehernya menegang, nafasnya berat seolah baru saja menahan sesuatu yang lama tertahan. Dialah Manager Henry.

Di kursi kulit hitam yang megah, Alexander duduk dengan ekspresi datar. Mata hitamnya tajam, namun tak menunjukkan emosi sedikit pun. Ia hanya menatap Henry yang penuh gejolak, membiarkan ledakan itu mengalir begitu saja. Asistennya yang berada di sisi kanan kursi terlihat canggung, sesekali menunduk sambil merapikan catatan di tangannya, seolah mencari perlindungan dari ketegangan yang merayap.

“Tugas rahasianya!! Tidak ada tugas seperti itu!!” Suara Henry menggema, parau, bergetar di antara dinding tebal ruangan.

“Asal tuduhan tanpa bukti tidak akan membawa kita kemana pun, Tuan Henry.” Suara Alexander tenang, nyaris datar, namun di balik kalimat itu terkandung tekanan yang sulit dipahami.

Asisten Alexander, yang tak tahan dengan keheningan panjang itu, membuka suara. “Namun… rekaman CCTV sudah jelas. Dokter Mily berulang kali terekam memasuki ruang konsultasi psikologis pada jam yang sama setiap malam.”

Henry menoleh cepat, tatapannya liar, penuh kecurigaan. “Bagaimana dengan rekan-rekannya?”

“Kami sedang melakukan interogasi. Setiap orang diperiksa, setiap detail dicatat. Mohon sabar, kami sedang mengumpulkan potongan-potongan yang hilang,” jawab sang asisten dengan nada hati-hati.

Namun bukannya tenang, tubuh Henry justru semakin gelisah. Nafasnya semakin memburu. Tangannya menggenggam meja begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya bergerak cepat, berpindah-pindah seolah menghindari sesuatu yang tak terlihat. Peluh menetes di keningnya, jatuh ke kertas laporan yang tergeletak.

Pemandangan itu membuat Alexander menyipitkan mata, bingung oleh kegugupan yang berlebihan.

“Manager Henry, tenanglah,” ujar Alexander pelan, hampir seperti bisikan. “Kasus ini… bukan pembunuhan berantai. Kami akan temukan pelakunya, dengan cara yang lebih jelas.”

Kata-kata itu melayang di udara, namun tak menyentuh hatinya. Henry justru semakin resah, napasnya tersengal, jemarinya mengetuk meja dengan ritme tak beraturan. Hingga Alexander sadar, tak ada gunanya melanjutkan percakapan ini. Ia berdiri perlahan, menatap asistennya dengan singkat. Isyarat halus itu dipahami.

Mereka berdua segera meninggalkan ruangan, langkah kaki bergema di lantai marmer, semakin menjauh hingga suara pintu menutup rapat.

Kini hanya kesunyian yang tertinggal. Henry berdiri terpaku beberapa detik, tubuhnya gemetar. Tangannya terulur, meraih buku catatan kecil yang tadi ditinggalkan di atas meja. Ia menatapnya sekilas, lalu melemparkan keras-keras ke dinding. Buku itu terpelanting, halaman-halamannya terbuka, menebar seperti lembaran rahasia yang tak ingin dibaca siapapun.

“Lebih baik bajingan kecil itu mati… daripada membocorkan sesuatu di interogasi,” desisnya, penuh amarah bercampur ketakutan.

Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, Alexander dan asistennya berjalan perlahan melewati lorong panjang menuju lobi. Wajah Alexander begitu tenang, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang berat, seakan kasus ini hanya menuntunnya pada jalan buntu. Mereka meninggalkan gedung itu dengan langkah lesu.

Udara pagi menyambut, dingin menusuk kulit. Angin berhembus, membawa aroma obat-obatan dari dalam rumah sakit. Alexander berhenti sejenak di ambang pintu besar. Ia menarik napas panjang, menatap kosong ke depan, seakan pekerjaan malam ini berakhir sia-sia.

Namun, ketenangan itu runtuh seketika.

Suara sirine meraung, memecah ketenangan di udara. Ambulans melaju kencang, remnya berdecit di depan pintu utama. Pintu belakang terbuka, beberapa paramedis dengan wajah tegang segera menurunkan stretcher. Di atasnya, seorang pria tergeletak tak sadarkan diri, tubuhnya hampir tak berbentuk.

Lengan kanannya hancur, robek parah. Dagingnya terbelah nyaris tak bersisa, seperti dihantam ledakan dari jarak dekat. Darah menetes tanpa henti, menggenang di bawah tandu. Setiap kain perban yang menutup lukanya langsung basah, tak mampu menghentikan arus merah yang terus keluar.

Alexander terperangah. Matanya melebar ketika mengenali wajah pucat itu. “A-Apa… itu…”

Sosok di atas tandu bukan orang asing. Ia adalah petugas cleaning service yang beberapa jam lalu masih ia interogasi.

Tanpa pikir panjang, Alexander berlari mengikuti paramedis yang mendorong stretcher masuk ke ruang IGD. Bau darah yang menyengat menusuk hidungnya, membuat langkahnya semakin cepat. Detak jantung pasien semakin lemah, monitor di sampingnya hanya memancarkan bunyi samar.

Langkah Alexander terasa berat, seolah setiap hentakan kakinya menenggelamkannya ke dalam jurang yang lebih dalam. Saat matanya tertuju pada luka mengerikan di lengan pria itu, sebuah kesimpulan dingin muncul di pikirannya, seseorang sedang mengirim pesan. Pesan yang berlumur darah.

“Tidak mungkin…”

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!