Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari hiburan
Dengan cepat Naya mendorong tubuh Mahen agar menjauh lalu turun dari mobil dengan tergesa-gesa.
"Pak bukain!" Naya memanggil satpam.
Kemudian Mahen ikut turun dan menghampiri Naya. "Terima kasih atas tumpangan dan traktirnya juga, ya."
"Yaudah sana pulang!" usir Naya.
Mahen melambaikan tangannya dan berlalu pergi. Dari rumah Naya ke jalan raya cukup lumayan jauh, membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Dengan segala kebaikan yang telah Mahen lakukan, Naya tidak tega melihatnya sudah malam jalan kaki mencari taksi.
"Tunggu ..." panggil Naya.
Mahen menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi?" sahutnya.
"Pak. Bapak kesini pakai motor, kan?" tanya Naya pada satpam penjaga rumahnya.
"Iya, non."
"Saya pinjam motornya dong, buat teman saya pulang," pinta Naya.
"Tapi Non, motor saya akan baik-baik saja, kan?"
"Tenang saja, kalau motor bapak sampai ilang, saya gak akan bayar gaji dia!" cetus Naya. Kemudian ia mengambil kunci motor dari tangan pak satpam dan berjalan mendekat pada Mahen.
"Nih, pake motor pak satpam. Kalau sampe ilang, saya gak akan bayar gaji kamu!" menyodorkan kuncinya pada Mahen.
Mahen mengambilnya dengan tersenyum. "Pasti khawatir banget padaku, ya? Agh kamu perhatian sekali," ujar Mahen.
"Tidak usah kepedean! Yaudah kalau gak mau. Saya ambil lagi." Naya hendak mengambil kembali kunci motor itu, tapi Mahen berhasil mempertahankannya.
"Jangan ... Aku akan pulang sekarang. Terima kasih, besok aku kembalikan motornya." Mahen menaiki motor yang sudah pak satpam keluarkan dan berlalu pergi seraya melambaikan tangannya.
"Hmmm ... Ada-ada saja tuh bocah!" cetus Naya.
"Pak parkirin mobilku dong. Aku capek ..." Naya berlalu masuk ke rumah.
Alih-alih masuk ke dalam rumah untuk istirahat, ia malah di todong dengan pertanyaan-pertanyaan oleh kedua orangtuanya yang terlihat kesal.
"Naya ... Kenapa kamu menggagalkan perjodohan dengan Pratama?" cetus Ilham meradang.
"Jangan keras-keras," bisik Suci.
"Pa ... Apa gak ada cowok lain lagi? Pak Pratama itu sudah tua. Aku tidak suka!" ujar Naya.
Ilham meremat wajahnya kasar. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi putri semata wayangnya itu.
"Ma ... Bilangin papa dong, aku tidak mau di jodohkan dengan siapapun itu!" rengek Naya.
"Naya, ini demi kebaikan keluarga kita. Demi perjuangan kakek juga," bujuk Suci.
"Biarlah paman Ilyas yang memimpin. Biar tau rasa, kok main-main sama tanggung jawab. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pernikahan," cerocos Naya.
Naya cukup keras kepala sama seperti ayahnya. Bujukan apapun tidak akan mempan, semua argumentasi itu akan sangat mudah di bantahnya.
"Oke ... Papa tidak akan jodohkan kamu lagi, tapi dengan syarat kamu cari pasanganmu sendiri. Kamu harus menikah! Dengan siapapun pilihanmu, papa pasti akan setuju," tutur Naya.
"Nah, itu benar, sayang ..." timpal Suci.
"Pa, Ma ... Tolong mengerti diriku saat ini, bukan hal yang mudah untuk membuka hati kembali setelah apa yang aku alami sebelumnya. Aku mohon ... Jangan paksa aku akan hal ini, tolong ..." ujar Naya.
Kemudian Ilham memeluk putrinya itu, mengelus pucuk kepalanya dengan lembut.
"Eh iya, tadi pratama bilang kamu menemui dia bawa pacar? Apakah benar?" tanya Suci.
"Tidak. Itu hanya rekam kerjaku, aku mengelabui pak Pratama agar segera pergi!" jawab Naya.
"Yasudah. Sana kamu istirahat," titah Suci.
Ilham masih tetap ingin bicara, tapi Suci menahannya. "Sudahlah jangan di paksa dulu."
"Hmmm ... Resiko ini sangat besar, jika putri kita tidak segera menikah. Bagaimana kita bisa bertahan di keluarga? Bahkan mungkin jika Ilyas yang mengambil posisiku, pasti dia tidak akan membiarkan kita ada di kota ini lagi," tutur Ilham.
Suci mengelus punggung suaminya itu dan menenangkannya. "Sudahlah ... aku yakin Tuhan punya hal baik untuk kita kedepannya. Lagi pula, apa kamu tega melihat Naya tidak bahagia?"
Ilham menatap Suci dengan tersenyum. "Terima kasih sudah selalu menjadi penenangku."
"Ayo, kita istirahat juga." ajak Suci.
Naya masih berdiri di tangga menuju kamarnya. Ia mendengar percakapan ayah dan ibunya itu. Hatinya sedikit terenyuh dan merasa tidak bisa berbakti pada mereka.
"Kasihan sekali papa mama ... Pasti mereka juga mendapatkan tekanan dari keluarga. Aghhh ... Apa yang harus aku lakukan? Mau cari cowok dimana?"
Naya masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Lalu berbaring di tempat tidur, berusaha memejamkan mata, tapi sangat sulit apalagi saat perjalanan pulang tadi sudah tidur di mobil.
"Gak bisa! Lama-lama kayak gini yang ada aku stres. Ini semua gara-gara Miko yang berkhianat! Aku harus cari hiburan!" mengambil ponselnya dan menghubungi sahabat karibnya Lusia.
Dengan mengendap-endap, Naya keluar dari rumah. Melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah itu menuju tempat hiburan malam milik suami sahabatnya itu. Naya dan Lusia janjian di tempat itu.
Hal seperti ini sesekali Naya lakukan untuk menghilangkan penat. Dulu jika ada masalah dengan Miko, ia akan medatangi tempat ini dan bisa sampai mabuk apalagi Naya tidak kuat minum.
Lusia sudah menyambutnya, ruangan vip sudah di siapkan.
"Kamu baru ingat menemuiku? Itu si Miko beneran ngumumin pacar barunya si selingkuhan itu?" tanya Lusia.
Naya hanya menjawab dengan mengangguk. Musik galau sudah Naya putar dan itu membuat suasana menjadi dramatis.
"Kalau aku jadi kamu, udah aku sebar tuh bukti-bukti perselingkuhannya! Kenapa kamu nahan-nahan bukti itu sih?" tanya Lusia.
"Bukan itu uang membuatku pusing sekarang!"
"Terus kenapa? Ada masalah apa?"
"Aku di tuntut harus menikah sama mama papaku. Padahal aku tidak ingin menikah!" tutur Naya.
"Kamu cantik, terkenal, pasti banyak yang naksirlah. Hal gampang itu," ujar Lusia.
"Gampang palamu!"
"Atau gini aja, sekarang lagi rame tuh nikah kontrak. Cari cowok buat nikah kontrak aja, gimana?" ide Lusia.
"Aghhh kamu makin ngelantur deh. Kebanyakan nonton drama china nih pasti?" tuduh Naya.
"Ya terus, kamu maunya gimana?"
"Pelayan ambilkan minum!" seru Naya.
"Hehhh ... Kamu gak kuat minum. Jangan nekad deh," larang Lusia.
Tanpa mendengarkan Lusia, Naya meneguk sampai tiga gelas kecil minuman yang pelayan bawa itu. Membuat kepalanya pusing dan keseimbangan tubuhnya goyah.
"Iiihhh udah deh. Tuh, kan, apa kataku. Kamu gak akan kuat, udah agh ayo pulang!" Lusia memapah Naya keluar dari ruangan vip itu.
"Kenapa Naya, sayang?" tanya Rahadi–suami Lusia.
"Kebanyakan minum. Aku mau mengantarnya pulang dulu ..." ucap Lusia.
"Oke. Hati-hati ..." pesan Rahadi.
Menuruni anak tangga dengan susah payah, kesadaran Naya yang semakin hilang membuatnya semakin ngelantur dan membuat tubuhnya sempoyongan. Lusia cukup kewalahan dan pada langkah terakhir, Lusia keseleo dan membuat Naya lepas dari rangkulannya.
"Ehhh ... Ehhh ... Naya ..." ujar Lusia.
Untung saja Naya tidak sampai terjatuh karena sudah di selamatkan oleh seorang pria yang ternyata Mahen.
Naya melihat wajah Mahen samar. Senyuman tersungging di bibirnya lalu meraba wajah tampan itu.
"Iiihhh kamu ternyata tampan juga, ya. Alismu tebal, matamu indah, hidungmu mancung dan bibirmu seksi. Aghhh ..." lalu tangan itu menyusuri leher Mahen dan berhenti pada dada bidang itu.
"Siapa aku?" tanya Mahen.