Protagonis wanita secara tidak sengaja berada di tempat yang seharusnya tidak dia kunjungi, dan akhirnya diberi obat tanpa sepengetahuannya. Setelah terbangun, dia menyadari dirinya berada di sebuah kamar mewah, mengenakan gaun pengantin, dengan seorang pria yang sedang menatapnya. Dia menyadari bahwa dia telah menikah dengan seorang pria yang sangat berkuasa, namun dingin dan sombong. Meski begitu, sifat uniknya akan sepenuhnya mengubah dunianya, membangkitkan perasaan di lubuk hati terdalam pria itu serta godaan yang sulit ditolak…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatiana Márquez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Black duduk di ruang tunggu bersama Markus dan beberapa anak buahnya. Ia tidak mengerti bagaimana wanita itu bisa membangkitkan perasaan asing dalam dirinya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Yang ia tahu, ia ingin segera mendengar kabarnya dan mengakhiri rasa gelisah itu.
Ia bukan tipe pria yang sabar menunggu. Namun kali ini, ia hanya diam, menahan diri hingga dokter keluar dari ruang perawatan. Tanpa ekspresi, Black langsung menghampiri dokter tersebut.
"Katakan, bagaimana keadaannya?" tanyanya datar.
Dokter itu tampak gugup, mengingat bagaimana ia sebelumnya dipaksa menangani pasien itu dengan ancaman yang mengerikan. Ia menelan ludah sebelum akhirnya menjawab dengan hati-hati.
"Dia stabil," ujar dokter. "Saat ini masih tertidur karena obat, tidak ada patah tulang, hanya memar, dan lukanya akan pulih dalam satu atau dua minggu."
Ia menarik napas sebelum melanjutkan. "Namun, pasien menunjukkan tanda-tanda awal anemia. Sepertinya dia tidak makan dengan baik."
Black menghela napas lega tanpa menanggapi lebih jauh. Ia langsung masuk ke dalam ruangan, mendekati tempat tidur Karol.
Tatapannya mengeras saat melihat luka dan memar di tubuh wanita itu. Amarah kembali memenuhi dadanya, membayangkan setiap pukulan yang telah ia terima.
Ia ingin membunuh Damián dengan tangannya sendiri.
Black berdiri di samping ranjang, mengamati wajah Karol yang tertidur. Ia tidak mengerti mengapa gadis itu masih menyelamatkan ayahnya, setelah dikhianati sedemikian rupa.
Jika itu terserah padanya, pria itu sudah mati. Namun untuk saat ini, ia hanya akan menggunakan situasi ini demi kepentingannya.
Ia akan menjadikannya istrinya di hadapan komisi dan memastikan klausul terpenuhi. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan lebih banyak kekuasaan dan melindungi adiknya dari ancaman Marc.
Tanpa sadar, tangannya menyentuh tangan Karol sebentar sebelum ia menarik diri. Ia kemudian keluar dari ruangan dan kembali ke Markus.
"Tetap bersamanya. Kali ini jangan gagal," ucap Black dingin. "Dan saat ayahnya keluar dari operasi, pindahkan dia ke rumah sakit lain dengan pengawasan ketat."
"Ya, bos," jawab Markus sambil menunduk.
"Aku akan membayar hutang itu," tambah Black tanpa emosi.
Setelah itu, ia berjalan keluar menuju anak buahnya yang menunggu di pintu masuk. Hari itu terasa panjang, seolah hidupnya diputarbalikkan dalam satu malam.
Di dalam mobil, ia mencoba memejamkan mata dan akhirnya tertidur sejenak. Dalam mimpinya, ia melihat Karol, begitu dekat hingga terasa nyata.
Mereka berciuman intens, hingga ia mendorongnya ke ranjang. Namun ia terbangun saat mobil berhenti, napasnya masih terasa berat.
Ia mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Karol, tanpa sadar, telah menjadi godaan yang tak bisa ia abaikan.
Setibanya di rumah mewahnya, ia langsung menuju ruang bawah tanah. Lorong itu dingin dan lembap, dengan dinding batu tebal yang menambah kesan mencekam.
Beberapa anak buahnya mengikuti di belakang. Di ujung ruangan, Damián terlihat terantai dengan luka tembak di perutnya.
Black menatapnya dengan senyum tipis yang berbahaya. Aura membunuhnya memenuhi ruangan.
"Tolong… aku sudah belajar… jangan bunuh aku," mohon Damián dengan suara gemetar.
Black tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke meja dan memperhatikan berbagai alat di atasnya sebelum memilih sepasang sarung tangan berduri.
Damián langsung panik saat melihatnya. Tubuhnya gemetar, bahkan ia tak mampu menahan rasa takutnya sendiri.
"Lihat dirimu sekarang," ujar Black dingin. "Masih berani meminta kesempatan kedua?"
"Aku bukan Tuhan," lanjutnya. "Dan setiap orang tahu, berurusan denganku selalu punya harga."
Ia mengenakan sarung tangan itu perlahan. "Aku akan membalas setiap pukulan yang kau berikan pada istriku."
Black melangkah mendekat. "Sekarang kau tidak terlihat jantan lagi, ya?"
Tatapannya mengeras. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di bisnisku? Kau salah besar."
Tanpa peringatan, tinjunya menghantam tubuh Damián. Jeritan pria itu menggema di ruangan, sementara Black terus memukul tanpa henti.
Ia tidak berhenti sampai kelelahan. Wajah dan tubuh Damián hancur tak dikenali.
Dengan napas berat, Black melepaskan sarung tangannya dan melemparkannya ke lantai. Darah menetes dari tangannya, menciptakan pemandangan mengerikan.
"Bersihkan semuanya," perintahnya dingin. "Dia sudah merusak pakaianku."
Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan ruangan penuh darah itu. Sesampainya di kamar, ia langsung masuk ke kamar mandi dan membiarkan air mengalir di tubuhnya.
Namun bahkan di bawah pancuran, pikirannya tetap dipenuhi bayangan Karol. Ciuman itu, perasaan itu—semuanya terasa nyata dan mengganggu.
Ia mengingat Nicole, cinta pertamanya, wanita yang pernah ia janjikan untuk setia. Namun kini, bayangan Karol justru lebih kuat menghantuinya.
Ia mencoba tidur, tetapi gagal. Pada akhirnya, ia bangkit dan memutuskan kembali ke rumah sakit.
Sekitar pukul tiga pagi, ia tiba kembali. Markus menyambutnya dan melaporkan bahwa Karol masih tertidur, sementara ayahnya sudah selesai operasi.
Black masuk ke kamar dan duduk di samping ranjang. Ia hanya menatap Karol dalam diam, memperhatikan setiap detail wajahnya.
Tanpa sadar, ia tertidur di kursi. Hingga tiba-tiba, ia merasa seperti ada sentuhan di bibirnya.
Namun saat membuka mata, tidak ada apa-apa. Karol masih terbaring diam, belum sadar.
Ia mengusap wajahnya, merasa pikirannya mulai kacau. Namun saat itu, Karol perlahan membuka mata.
"Bisakah kita berhenti bertemu seperti ini?" bisiknya pelan, suaranya serak dan lemah.