“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 14.
Tuan Besar menyipitkan mata. Tidak banyak orang yang berani menyebut keluarga Salendra gila tepat di depan wajahnya. Meski begitu, ia hanya mengembuskan napas pelan dan membiarkannya lewat. Sulit membantah ketika kenyataan memang tidak jauh berbeda dari yang dikatakan Liora.
"Tepat sekali."
"Kontrak ini terdengar seperti lowongan pekerjaan yang sangat buruk."
"Makanya aku bilang sejak awal, kamu cocok." Keivan tertawa kecil, baru kali ini Liora mendengar anak itu tertawa.
Liora kembali membaca sampai halaman terakhir, ekspresinya perlahan berubah. Karena di bagian paling bawah terdapat satu kalimat tambahan. Selama masa pernikahan berlangsung, seluruh hak saham milik Dewangga dan hak perwalian sementara Keivan tidak dapat dialihkan kepada pihak mana pun tanpa persetujuan tertulis darinya.
"Kalian benar-benar mempercayakan ini padaku? Pada orang yang baru kalian kenal?" Liora tampak masih belum bisa percaya.
"Kami percaya pada orang yang benar-benar melindungi Dewangga, dan orang itu... adalah kamu." Ucap Tuan besar.
Sementara itu, Dewangga yang sama sekali tidak memahami pembicaraan mereka tampak bosan. Pria itu lalu menarik pelan ujung gaun Liora untuk mencari perhatian.
"Liora."
“Ya...“
Dewangga terlihat berpikir sejenak sebelum bertanya dengan polos. "Kalau sudah menikah, Liora berarti tidur di kamar Dewangga kan?"
Liora berkedip beberapa kali. "Kata siapa?"
"Dewangga nonton, menikah itu tinggal satu rumah, makan bareng, terus tidur bareng." Pria itu masih menatap Liora dengan penuh rasa ingin tahu, benar-benar menunggu jawaban.
Liora mendengus pelan sambil memijat pelipisnya. Tiba-tiba ia merasa mengurus saham dan menghadapi perebutan kekuasaan keluarga Salendra terdengar jauh lebih sederhana, daripada menjawab pertanyaan Dewangga.
Untungnya, Tuan Besar berdeham pelan dan menarik kembali fokus pembicaraan.
"Kita kembali ke masalah utama."
Liora langsung bersyukur dalam hati.
Pria tua itu mendorong map hitam di atas meja ke arahnya. "Pelajari seluruh isi kontrak itu malam ini. Kalau ada yang ingin diubah, katakan sebelum pernikahan dilaksanakan."
Liora membuka beberapa halaman lagi. Semakin banyak ia membaca, semakin ia menyadari bahwa keluarga Salendra benar-benar tidak main-main.
"Tiga hari lagi Dewangga akan ikut menghadiri rapat tahunan, aku ingin kau ikut mendampinginya."
"Apa itu benar-benar perlu?"
"Sangat perlu."
"Tapi dia bahkan tidak mengerti apa yang akan dibicarakan."
"Dia tidak perlu mengerti semuanya." Tatapan Tuan Besar berubah tajam. "Yang perlu mereka lihat adalah Dewangga masih ada."
Liora perlahan mulai memahami maksud pria tua itu. Selama setahun terakhir, banyak orang memanfaatkan kondisi Dewangga. Mereka menganggap pewaris utama keluarga Salendra sudah tidak lagi menjadi ancaman. Dan sekarang, Tuan Besar ingin mengingatkan semua orang bahwa Dewangga masih memiliki tempat di keluarga ini.
Meskipun pikiran dan perilaku Dewangga berubah seperti anak kecil, dan banyak orang menganggap Dewangga tidak berguna, tapi statusnya tetap tidak berubah. Pria itu tetap Dewangga Salendra, pewaris utama keluarga Salendra.
"Lalu apa yang harus saya lakukan di rapat itu?" tanya Liora.
"Sederhana, lindungi dia"
"Kalau ada yang mencoba mempermalukannya?"
"Hadapi!"
"Kalau ada yang menyerangnya?"
"Balas!"
Liora berkedip beberapa kali, ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari Tuan Besar. "Entah kenapa, ucapan Anda terdengar seperti memberikan izin pada saya untuk membuat keributan."
"Jika kau bisa mengatur segalanya dengan baik, keributan apapun bisa ditangani." Tuan Besar terlihat sama sekali tidak bercanda.
Di saat yang sama, tidak ada seorang pun di ruangan itu yang menyadari bahwa di balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat, seseorang sedang berdiri dalam diam. Orang itu menempelkan telinganya ke pintu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari dalam.
Dan ketika mendengar nama Dewangga disebut sebagai peserta rapat tahunan tiga hari lagi, wajahnya langsung berubah. Tanpa membuang waktu, ia segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor. Satu-satunya pikiran yang memenuhi kepalanya adalah... jika Dewangga benar-benar muncul di rapat itu, maka rencana yang telah disusun selama setahun terakhir bisa hancur dalam sekejap.
Tak berapa lama, sebuah teriakan panjang terdengar dari luar ruangan. Membuat Liora, Keivan, dan Tuan Besar langsung menoleh bersamaan. Pembicaraan mereka seketika terputus. Liora mengernyit, merasa suara itu terdengar tidak asing. Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, ia menyadari sesuatu yang membuat jantungnya langsung berdegup kencang. Dewangga tidak ada di dalam ruangan.
Perempuan itu refleks menoleh ke arah sofa tempat Dewangga tadi duduk, dan tempat itu kosong. Tatapannya segera menyapu seluruh ruangan, tetapi pria bertubuh besar itu benar-benar telah menghilang entah sejak kapan. Karena terlalu fokus pada obrolan, tak seorang pun menyadari kepergian Dewangga. Sementara para pengawal sejak awal memang tidak berada di dalam ruang kerja, karena pembicaraan yang berlangsung bersifat pribadi.
“Argghhh!!“
Teriakan itu kembali terdengar dari arah koridor luar, wajah Liora langsung berubah.
"Dewangga!"
Tanpa berpikir panjang, ia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras di lantai. Perempuan itu segera berlari keluar ruangan, bahkan tidak sempat menunggu siapa pun. Keivan yang juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres langsung menyusul dari belakang, sementara Tuan Besar bangkit dari kursinya dengan wajah yang mendadak mengeras.
Ketiganya memiliki firasat yang sama, sesuatu telah terjadi pada Dewangga.
sebab, dia takut
korupsi di perusahaan akan terungkap
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala