NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:37.3k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menerobos Lampu Merah

Ajakan Siska yang tiba-tiba itu membuat Banyu terperangah. Ia bertanya dengan lidah yang mendadak kelu, "Ke... ke tempatmu? Maksudnya ke mana?"

"Tentu saja ke Perumahan Taman Danau!" Siska melirik tajam ke arah Banyu, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Jangan berpikir yang macam-macam ya! Aku mengajakmu ke sana supaya kau tahu lokasinya, jadi kalau nanti polisi datang menyelidiki lagi, alibi kita tidak akan berantakan karena kau tidak tahu jalan!"

Meskipun Siska berusaha bicara dengan nada rasional, rona merah di pipinya tidak bisa berbohong. Vila di Perumahan Taman Danau itu adalah properti yang dibeli Siska dua tahun lalu dan sangat ia cintai. Tempat itu adalah ruang privasi absolutnya; selain ayahnya dan Melati, ia tidak pernah mengizinkan siapa pun apalagi seorang pria muda untuk menginjakkan kaki di sana. Saat ini, bahkan Siska sendiri hampir tidak percaya bahwa ia baru saja melontarkan ajakan tersebut di tengah malam buta.

Banyu tentu saja menyadari gejolak emosi Siska. Namun, ia tahu betul bahwa dalam situasi seperti ini, bersikap sok polos adalah strategi terbaik. Ia pun langsung setuju tanpa banyak tanya. Jalanan Bandung di jam operasional hantu ini sangat lengang. Hanya butuh waktu setengah jam bagi mereka untuk tiba di gerbang Perumahan Taman Danau.

Kompleks ini terletak di pinggiran danau yang tenang di utara kota, sebuah lokasi premium yang menawarkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk Bandung. Hanya orang-orang dari kalangan atas yang mampu memiliki hunian di sini. Begitu mereka tiba di depan Vila Nomor 16 milik Siska, Banyu tak kuasa menahan decak kagum.

"Wah, gila... keren banget tempatmu! Kalau dibandingkan dengan ini, pesanggrahan di Lahan Mustika punyaku jadi kelihatan kayak kandang burung!" puji Banyu tulus.

"Jangan berlebihan," jawab Siska serius sambil membuka pintu rumah. "Menurutku tempatmu justru jauh lebih asri. Dikelilingi gunung, airnya jernih, udaranya segar, dan kalau lapar tinggal jalan kaki sebentar sudah ada makanan organik yang enak-enak. Jujur saja, waktu aku membawa Melati ke sana, kami berdua sangat bahagia."

Mendengar pujian Siska tentang tempat tinggalnya, Banyu terkekeh nakal. "Kalau kau memang sesuka itu dengan Lahan Mustika, gimana kalau kita tukaran saja?"

Setiap kali berduaan dengan Banyu, aura kaku dan otoritas Siska sebagai "Wanita Besi" perlahan melunak, memancarkan pesona feminin yang sangat memikat. Ia mendelik manja ke arah Banyu. "Enak saja! Tempatmu itu kan bisa kukunjungi kapan saja, memangnya kau berani mengusirku? Buat apa aku harus tukaran?"

"Ckckck... dasar wanita karier kelas elit, hitung-hitungannya jago banget!" Banyu menggelengkan kepala sambil menghela napas dramatis. "Pokoknya semua keuntungan diborong sendiri!"

Siska tersenyum penuh kemenangan, namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah menjadi penuh penyesalan. "Banyu... beberapa hari terakhir ini aku terus-terusan merutuki kebodohanku. Kalau saja setelah Melati didiagnosis aku langsung mencarimu, dia tidak perlu menderita sakit sebanyak itu."

Banyu mendengus pelan, setengah menyindir. "Hmph, itu tandanya kau belum sepenuhnya percaya padaku. Sama seperti saat di rumah sakit tempo hari. Makanya waktu Rendi mengancam soal hak asuh, kau langsung panik setengah mati, kan?"

Siska menundukkan kepalanya, suaranya pelan dan tulus. "Aku benar-benar minta maaf. Aku janji tidak akan begitu lagi."

Siska yang biasanya tampil bak ratu yang tak tersentuh, kini menunjukkan sisi rapuh dan penurut. Perubahan drastis ini tak hanya membuat Banyu kaget, tapi juga memicu percikan api gairah yang mulai membara di dalam dadanya. Ia memandang lekat-lekat ke arah Siska yang tampak begitu menggoda di bawah cahaya lampu ruang tamu yang temaram. Banyu menyeringai nakal.

"Berani-beraninya tidak percaya padaku... sepertinya kau butuh sedikit hukuman supaya kapok!"

Merasakan aura "berbahaya" dari nada bicara Banyu, Siska mendongak dengan tatapan bingung. "Hukuman? Kau mau apa... KYAA!"

Belum sempat Siska menyelesaikan kalimatnya, Banyu sudah menarik lengannya dengan gesit. Dengan satu gerakan santai namun bertenaga, Banyu membalikkan tubuh Siska dan merebahkannya di atas pangkuannya, lalu mengangkat telapak tangannya.

PLAK!

Bunyi tamparan yang cukup nyaring bergema di ruangan itu. Telapak tangan Banyu mendarat di bokong Siska yang terbungkus rok span ketat. Sentuhan kenyal dan elastis itu membuat Banyu terhanyut. Tanpa sadar, ia mendaratkan beberapa pukulan ringan lagi sambil berseru sok galak, "Ini hukuman karena sudah meragukan kekuatanku!"

Awalnya Siska sempat memberontak secara simbolis, namun ia segera menyerah pada kekuatan fisik Banyu yang mendominasi. Meskipun area itu terasa sedikit panas dan berdenyut, Siska merasakan getaran aneh yang menjalar ke seluruh sarafnya, membuat tubuhnya mendadak terasa lemas dan hangat di bagian bawah.

Dengan wajah semerah kepiting rebus, Siska menoleh ke belakang dan memprotes dengan suara manja yang bergetar, "Banyu... berhentilah... jangan dipukul lagi!"

Di mata Banyu, protes Siska itu sama sekali tidak terdengar seperti penolakan, melainkan sebuah undangan terang-terangan. Ia tak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Setelah mendaratkan satu tepukan terakhir yang cukup keras, ia memutar tubuh Siska, menariknya ke dalam pelukan, dan langsung melumat bibir wanita itu tanpa ragu.

Siska hanya mengerang pelan, lalu kedua lengannya secara otomatis mengalungi leher Banyu, membalas ciuman panas itu dengan gairah yang meluap. Tak butuh waktu lama bagi setelan jas bermerek milik Siska untuk berakhir mengenaskan di lantai. Hanya dalam balutan pakaian dalam, Siska bersandar lemas di pelukan Banyu, memancarkan daya tarik wanita dewasa yang matang sepenuhnya.

Melihat ekspresi Siska yang sayu namun penuh gairah, Banyu nyaris kehilangan kendali. Namun, saat ia hendak melangkah lebih jauh, Siska menahan tangan Banyu dan berbisik mantap, "Jangan di sini... ayo ke kamar di lantai atas!"

Kalimat itu adalah tanda penyerahan mutlak Siska. Tanpa membuang waktu, Banyu menggendong tubuh molek Siska layaknya pengantin, menaiki tangga dengan langkah lebar, dan menerjang masuk ke dalam kamar utama. Ia merebahkan Siska dengan lembut di atas ranjang king size yang empuk, lalu ikut melompat ke atasnya dengan penuh antusiasme.

Segera saja, sisa-sisa kain yang menutupi tubuh mereka lenyap tak berbekas. Menatap lekuk tubuh sempurna Siska yang dipadukan dengan wajah dingin yang kini memancarkan rasa malu yang menggoda, akal sehat Banyu menguap total. Dengan satu geraman rendah, ia langsung menindih tubuh Siska...

Segala sesuatunya mengalir secara alami. Meskipun ini adalah pengalaman tempur perdana bagi Banyu di dunia nyata, namun berkat insting kelaki-lakian dan "pelatihan intensif" menonton film dewasa selama bertahun-tahun, ia berhasil bertransformasi menjadi pria sejati dengan sangat mulus.

Satu hal yang sempat membuat Banyu heran adalah Siska awalnya terlihat sangat kaku dan canggung, bahkan sempat meringis menahan sakit yang cukup hebat di awal. Namun, di tengah panasnya pergulatan gairah, Banyu tidak punya waktu untuk memikirkan alasan di baliknya. Ia segera tenggelam dalam lautan kelembutan Siska.

Keduanya saling memuaskan, mencoba mengukir memori terindah satu sama lain. Seiring dengan gairah yang mencapai puncaknya, Siska tak kuasa menahan lenguhan panjang yang tinggi, sementara Banyu menggeram rendah saat mereka berdua bersama-sama mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa.

Setelah badai gairah itu mereda, Banyu memeluk tubuh polos Siska di dalam dekapannya, membisikkan kata-kata cinta yang manis tepat di telinganya. Entah kapan ia berhenti bicara, yang pasti Banyu dan Siska akhirnya tertidur lelap dalam pelukan masing-masing.

Malam itu benar-benar menguras stamina mereka. Saat Banyu terbangun, matahari sudah bersinar terik. Siska yang biasanya selalu tampil rapi dan perfeksionis kini masih terlelap nyaman di sisinya. Bahkan dalam tidurnya, sudut bibir Siska sedikit terangkat membentuk senyuman manis. Selimut tipis yang menutupi mereka tidak sanggup menyembunyikan lekuk tubuh Siska yang aduhai, yang bagi Banyu masih memiliki daya tarik mematikan.

Mengingat betapa panasnya Siska semalam, gairah di perut Banyu kembali bangkit. Ia mengulurkan tangannya untuk membelai lembut bagian dada Siska yang membusung indah. Namun, baru saja jemarinya menyentuh kulit halus itu, Siska tersentak bangun. Siska menatap Banyu dengan senyum malu-malu, namun ia segera menyadari ada bagian tubuh Banyu yang kembali menegang dan panas. Ia buru-buru menarik tubuhnya menjauh dengan wajah tegang. "Sekarang tidak bisa!"

"Kenapa tidak bisa? Aku kan belum bilang mau apa-apa!" Banyu mencubit gemas bagian sensitif di dada Siska, lalu menyeringai nakal. "Memangnya kau sedang membayangkan apa, hm?"

Sadar bahwa dirinya sedang digoda, Siska mencubit pinggang Banyu dengan kesal. "Sudah, jangan dibahas lagi!"

Banyu tahu kapan harus berhenti bercanda. Ia tertawa pelan dan menutup mulutnya. Namun, saat matanya tak sengaja melirik ke arah seprai yang sedikit berantakan, ia tertegun seketika. Di atas kain putih itu, terdapat noda merah yang membentuk pola seperti bunga melati yang merekah tidak banyak, namun sangat kontras dan jelas terlihat.

Siska menyadari perubahan sikap Banyu dan mengikuti arah pandangannya. Begitu melihat noda tersebut, wajah Siska langsung berubah semerah tomat. Ia buru-buru menutupi mata Banyu dengan telapak tangannya. "Apa yang kau lihat?! Jangan lihat ke sana!"

Meski matanya tertutup, mulut Banyu tetap mengeluarkan gumaman tak percaya. "Gila... tak kusangka pengalaman pertamaku di dunia nyata ternyata harus sampai 'menerobos lampu merah'!"

Siska tentu paham apa arti istilah "menerobos lampu merah" yang dimaksud Banyu. Wajahnya semakin panas. Mengabaikan fakta bahwa dirinya masih polos tanpa busana, ia terduduk dan menutup mulut Banyu dengan telapak tangannya, lalu mendesis tajam, "Apa maksudmu menerobos lampu merah?! Aku juga ini pengalaman pertama, tahu!"

Banyu tersentak kaget bukan main. "Hah?! Kau juga baru pertama kali?! Mana mungkin?!"

Siska cemberut, tatapannya tidak senang. "Kenapa? Kau tidak percaya padaku?"

"Ini bukan soal percaya atau tidak," Banyu mencoba menjelaskan dengan logika. "Tapi kau kan sudah punya Melati... Secara medis dan ilmiah, ini benar-benar tidak masuk akal!"

Siska menatap mata Banyu dalam-dalam untuk waktu yang lama, lalu berbisik pelan, "Sebenarnya... Melati bukan anak kandungku."

Informasi itu bagaikan ledakan bom di telinga Banyu. Ia mematung cukup lama sebelum akhirnya bertanya dengan nada sangat terkejut, "Maksudmu... Melati itu anak angkat? Tapi... ini benar-benar gila!"

"Melati adalah anak kandung Rendi dengan mantan kekasihnya yang dulu," Siska menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. "Dulu, entah setan apa yang merasukiku, aku termakan oleh kata-kata manis Rendi. Aku nekat menikah dengannya meskipun ayahku melarang keras."

Meskipun Banyu tahu hubungan Siska dan Rendi sudah lama berakhir, mendengar fakta itu tetap saja membuat hatinya terasa sesak oleh rasa cemburu. Ia hanya bisa mendengus pelan.

Siska menyadari bahwa Banyu cemburu karena sangat memedulikannya. Ia mengecup pipi Banyu sebagai tanda penenang, lalu melanjutkan, "Tapi, tepat saat aku sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, aku baru tahu kalau Rendi punya kekasih lain yang sudah dipacarinya bertahun-tahun. Bukan hanya itu, tepat beberapa minggu sebelum kami mendaftarkan pernikahan, wanita itu melahirkan seorang anak perempuan untuk Rendi."

"Anak itu adalah Melati?" sela Banyu. "Lalu di mana ibu kandung Melati sekarang? Kenapa dia meninggalkan bayinya?"

"Karena..." Suara Siska mulai bergetar karena emosi. "Ibu kandung Melati meninggal dunia karena bunuh diri!"

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!