Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alas Kaki Taktis dan Harga Diri
Rumah mewah Alistair di Mayfair biasanya sunyi seperti kuburan aristokrat, tapi sejak Sloane datang, suaranya lebih mirip bengkel mesin yang sibuk. Di ruang cuci yang canggih, Sloane sedang melakukan "operasi darurat" terhadap jas charcoal Alistair yang terkena noda oli kemarin.
"Noda ini... kau benar-benar membuat ku kesal. Alistair berdiri di pintu ruang cuci, masih mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung. Ia memperhatikan Sloane selama beberapa menit tanpa suara. Di mata Alistair, Sloane tampak sangat kontras dengan mesin cuci digital seharga ribuan poundsterling di belakangnya—gadis kecil itu tampak begitu tulus mengurusi sebuah jas seolah-olah jas itu memiliki nyawa untuk di selamat kan.
"Nona Sterling," suara Alistair memecah keheningan, kaku seperti biasanya.
Sloane tersentak, hampir menjatuhkan sikatnya ke dalam ember.
"Maaf. Saya hanya ingin memastikan bahwa... jas tersebut masih dalam kondisi bisa diselamatkan secara estetika."
Sloane mendengus, kembali menyikat. "Jas ini aman, Tuan Kaku. Tapi kakimu tidak. Kau lihat apa yang kau pakai?"
Alistair melihat ke bawah, ke arah sepatunya. "Ini Sepatu rumah berbahan kulit domba. Apa ada yang salah?"
"Salah? Kau jalan di atas lantai yang baru aku pel dengan sepatu kulit dombamu yang berbulu.berapa banyak lagi kau akan merusak sandal mahal mu itu. belum lagi helaian bulunya akan meninggalkan jejak. dan membuat lantai ku tidak lagi mengkilap!"
Alistair terdiam. Secara logis, ia memiliki setidaknya lima puluh pasang sepatu di ruang ganti. Tapi ia baru menyadari bahwa sepatu Sloane—sepatu kets tua yang ia pakai sejak hari pertama—tampak sangat mengenaskan. Solnya hampir habis dan warnanya sudah tidak jelas.
Alistair tidak berkata apa-apa. Ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Satu jam kemudian, Alistair memanggil Sloane ke ruang tengah. Di atas meja marmer—yang sudah dilap Sloane sampai mengkilap—terdapat sebuah kotak sepatu berwarna oranye terang dengan merek yang sangat terkenal.
"Apa lagi ini?" Sloane mendekat dengan curiga, tangan kanan masih memegang kemoceng. "Kalau ini hadiah lagi, aku sudah bilang aku tidak menerima sedekah!"
Alistair berdeham, ia memperbaiki posisi kacamatanya yang sebenarnya sudah lurus. "Ini... bukan hadiah. Berdasarkan evaluasi keselamatan kerja di kediaman Thorne, saya menemukan bahwa alas kaki Anda saat ini tidak memiliki koefisien gesek yang memadai untuk lantai marmer Italia ini."
Sloane mengerutkan kening. "Ko-apa? Gesek?"
"Lantai ini licin, Nona Sterling. Jika Anda jatuh dan terluka, efisiensi pembersihan mansion ini akan menurun drastis. Secara administratif, itu akan merugikan saya. Jadi, ini adalah 'Alas Kaki Taktis Anti-Slip' yang wajib Anda gunakan selama jam operasional di mansion ini."
Sloane membuka kotaknya. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu lari tercanggih dengan teknologi sol paling mutakhir. Warnanya putih bersih, tampak sangat mahal dan nyaman.
"Ini bukan sepatu taktis! Ini sepatu lari mahal yang sering dipakai atlet!" Sloane menatap Alistair dengan tajarganya sudah termasuk dalam biaya pemeliharaan infrastruktur rumah. Tidak perlu ada pemotongan gaji. Anggap saja ini seperti membeli cairan pembersih, tapi untuk kaki Anda."
Sloane menatap sepatu itu, lalu menatap Alistair. Ia tahu pria kaku ini sedang mencoba memberi perhatian padanya, tapi cara penyampaiannya benar-benar seperti sedang membacakan peraturan penjara. Sloane merasa harga dirinya sedikit terusik karena merasa "dibelikan", tapi penjelasan "efisiensi administrasi" Alistair entah kenapa membuatnya sulit menolak.
"Oke! Aku akan memakainya!" Sloane menyambar kotak itu. "Tapi hanya karena aku tidak mau dituduh merusak 'efisiensi' rumahmu yang aman yang luar biasa. sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya yang keras di jalanan.Sloane mencoba sepatu itu. Ia melompat dengan penuh semangat. "benar-benar tidak licin! Lihat ini, Alistair!" Sloane mulai berlari-lari kecil di sekitar alistair. "harap berhati-hati, kecepatannya terlalu—"
SRET!
Belum selesai kalimat yang keluar dari mulut alistair.
Sloane, dalam kecerobohan khasnya, berbelok terlalu tajam dan kakinya tersangkut pada kaki meja kayu ek. Ia limbung dan tubuhnya meluncur tepat ke arah Alistair.
Alistair, dengan refleks gangster tingkat atas, segera menangkap pinggang Sloane dengan kedua tangannya. Sloane menabrak dada bidang Alistair, tangannya secara otomatis mencengkeram kemeja Alistair untuk mencari keseimbangan tubuhnya.
Hening seketika.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Alistair bisa mencium aroma sabun mandi Sloane yang segar dan kuat.
Alistair Thorne membeku. Secara logis, ia harus segera melepaskan Sloane setelah stabilitas tercapai. Namun, tangannya seolah terpaku di pinggang ramping gadis itu. Ia merasa kaku, bingung harus berkata apa dalam situasi non-formal seperti ini.keduanya membeku seolah waktu berhenti sejenak.
"Ehem," Sloane berdehem, wajahnya memerah sampai ke leher. "Sepatunya... benar-benar punya cengkeraman yang bagus. Hanya saja... mejanya yang menyerangku duluan." hehe.. ".Sepatunya sangat berguna.
Alistair perlahan melepaskan pegangannya, berdeham pelan untuk menutupi kecanggungan di antara mereka. "Saya akan... menginstruksikan staf untuk memindahkan meja tersebut agar tidak mengganggu jalur pergerakan Anda, Nona Starling."
"Tidak perlu! Aku bisa menanganinya!" Sloane segera menjauh, berpura-pura sangat sibuk membersihkan vas bunga yang sebenarnya sudah bersih. "Dan hei! Kenapa kau masih berdiri di sana? Kau tidak ada orang untuk ditembak atau apa? Pergi sana!".menggagu pekerjaan ku saja.
Alistair menatap punggung Sloane sejenak. "Saya akan pergi ke kantor. Tapi sebelum itu.Jangan... jangan membakar dapur lagi hari ini."
"AKU TIDAK AKAN MEMBAKAR APA PUN! PERGI SANA, TUAN KAKU!" teriak Sloane tanpa berani menoleh.
Begitu Alistair melangkah keluar pintu, Sloane merosot duduk di lantai, menutupi wajahnya yang panas dengan kemoceng. "Bodoh... kenapa jantungku jadi berisik sekali?" apakah otak ku tertembak atau semacam nya.
Sementara itu, di dalam Rolls-Royce, Alistair Thorne duduk diam. Ia melihat telapak tangannya yang baru saja memegang pinggang Sloane. Ia mencoba menarik napas panjang, namun aroma Sloane seolah masih tertinggal di indra penciumannya.jantungnya berdebar debar.seolah dia baru saja selesai berlari. pengawal yang duduk di depan mencuri pandang lewat spion. ia melihat bosnya itu murung dan hanya menatap kosong ke tangan nya.
"Tuan, apakah Anda ingin kita melewati rute lebih cepat?" tanya pengawalnya gugup."
Alistair menoleh... " Apakah aku perlu memberitahu mu?.
mendapat jawaban cuek seperti biasanya.
Sang pengawal hanya bisa garuk-garuk kepala, sementara Alistair Thorne kembali menatap keluar jendela, menyadari bahwa mansion mewahnya kini terasa jauh lebih "hidup" hanya karena kehadiran seorang gadis jalanan yang berisik dan ceroboh.
Ia berfikir ulang kenapa dulu ia membawa Sloane masuk ke rumah nya. ada perasaan yang menganjal dan membuat nya bingung dengan sikap nya sendiri.
To be Continued.....