NovelToon NovelToon
Putri Titipan Mantan

Putri Titipan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Karita Ta

"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.

Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.

"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.

Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.

Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM | BAB 28

Langit sore mulai berubah jingga ketika Dinda masih duduk di taman bersama Glenka.

Bayi kecil itu kini duduk manis di atas pangkuannya sambil sibuk memainkan gelembung sabun yang pecah satu per satu di udara.

Sesekali tawanya terdengar kecil dan renyah, membuat siapa pun yang melihatnya ikut gemas sendiri. Sedangkan Dinda—wanita itu tanpa sadar terus tersenyum sejak tadi.

“Kayaknya dia emang betah sama lo.” Suara lembut Raka, membuat Dinda menoleh pelan.

Pria itu berdiri tak jauh dari bangku taman, sambil membawa dua botol kaleng minuman dingin di tangannya. Setelah menyerahkan salah satunya pada Dinda, Raka ikut duduk di sebelah wanita tersebut.

“Makasih,” ujar Dinda pelan.

“Hm, with my pleasure."

Untuk beberapa saat, keduanya hanya memperhatikan Glenka yang terus mengoceh sendiri dengan bahasa bayi yang tidak jelas.

Namun justru suasana sederhana itu terasa sangat nyaman. Tidak berat, tidak melelahkan. Berbeda sekali dengan hidup Dinda beberapa bulan terakhir yang selalu dipenuhi tangis dan tekanan.

“Raka," cicit Dinda dengan suara lirih.

“Hm?” Raka menoleh dengan wajah teduh.

“Kenapa dulu kamu milih nitipin Glenka ke aku?” Pertanyaan dari wanita itu membuat pria tersebut diam sejenak. Tatapannya lurus ke arah danau kecil di depan mereka.

“Aku juga nggak tahu.” Jawaban jujur itu membuat Dinda mengernyit kecil.

“Awalnya cuma kepikiran nama lo aja,” lanjut Raka sambil tertawa kecil hambar. “Padahal kita udah lama nggak ketemu.”

“Tapi entah kenapa...” pria itu menoleh pelan ke arah Dinda. “Aku yakin lo bakal jagain dia dengan baik.”

Deg.

Jantung Dinda berdetak pelan.

Sedangkan Glenka, tiba-tiba memeluk pinggangnya sambil menyandarkan kepala kecilnya nyaman. Dan lagi-lagi, hati wanita itu terasa hangat luar biasa.

“Aku juga nggak ngerti,” gumam Dinda lirih. “Kenapa aku bisa sedeket ini sama dia.”

Raka tersenyum kecil. “Mungkin karena kalian sama-sama lagi nyari tempat pulang.”

Kalimat itu sukses membuat Dinda langsung terdiam. Karena tanpa sadar—itulah yang sedang ia rasakan akhir-akhir ini.

*****

Malam harinya, Dinda pulang ke rumah dengan tubuh yang jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.

Namun begitu membuka pintu rumah—langkahnya langsung terhenti. Ervin duduk di ruang tamu bersama ayahnya.

Deg.

Jantung Dinda langsung berdetak tidak nyaman. Sedangkan pria itu langsung berdiri begitu melihat dirinya pulang.

“Kamu dari mana?” Nada suaranya terdengar pelan. Namun entah kenapa—tetap membuat Dinda lelah.

“Tadi keluar bentar," Dinda mengalihkan pandangannya saat Ervin menatapnya lekat.

“Bareng Raka?” tebak Ervin .

Wanita itu langsung mengangkat wajahnya. Sedangkan Ervin tertawa kecil hambar.

“Aku lihat story butik tadi.”

Suasana langsung berubah canggung. Ayah Dinda yang menyadari ketegangan itu akhirnya memilih berdiri perlahan.

“Kalian ngobrol aja dulu.”

Setelah pria paruh baya tersebut masuk ke kamar, kini hanya tersisa mereka berdua di ruang tamu.

Dan seperti biasa—udara terasa sesak.

“Aku cuma nemenin Glenka main,” jelas Dinda pelan.

“Aku nggak marah.”

“Terus?”

Ervin memandang wanita itu cukup lama. Matanya lelah sekali. “Aku cuma iri.”

Deg.

“Aku iri karena sekarang ada orang lain yang bisa bikin kamu senyum lagi.” Kalimat itu membuat dada Dinda langsung terasa nyeri.

Karena pria di hadapannya terdengar benar-benar hancur. Dan lagi-lagi, itu membuatnya ikut sakit.

“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Raka.” Entah mengapa, Dinda tiba-tiba berucap demikian. Padahal, itu tidak perlu.

“Aku tahu.” Ervin mengangguk paham.

“Terus kenapa ngomong kayak gitu?”

Ervin mengusap wajahnya kasar. Karena sejujurnya—ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi.

Setelah Dinda meminta pisah, pria itu seperti kehilangan arah sepenuhnya. Ia tidak bisa tidur. Tidak bisa fokus bekerja. Bahkan pulang ke apartemen terasa seperti hukuman baginya.

“Aku takut,” bisik Ervin akhirnya.

“Takut apa?”

“Takut kamu pelan-pelan bisa hidup tanpa aku.” Dan pengakuan itu sukses membuat suasana kembali hening.

Karena Dinda tahu—perlahan, hal itu memang sedang terjadi.

“Aku udah tanda tangan suratnya.”

Ucapan Ervin beberapa menit kemudian sukses membuat tubuh Dinda membeku.

“Apa?” Dinda merasakan jantungnya berdegup sangat cepat saat melihat pria itu mengeluarkan map cokelat dari tas kerjanya. Tangannya gemetar.

“Syarat cerai yang kemarin.”

Napas Dinda langsung terasa berat. Ia tidak menyangka semuanya akan bergerak secepat ini. Padahal beberapa hari lalu—dirinya masih berharap bisa kuat mempertahankan rumah tangganya.

Namun sekarang—surat itu benar-benar ada di depan mata. Dan semuanya terasa nyata.

“Aku nggak mau maksa kamu bertahan lagi,” lanjut Ervin dengan suara serak. “Kalau ini yang bikin kamu lebih tenang... aku bakal lepasin.”

Air mata Dinda langsung menggenang.

Sedangkan pria itu tertawa kecil penuh luka. “Walaupun sebenernya aku pengen egois dan nyuruh kamu tetap tinggal.”

Deg.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Sampai akhirnya Dinda berkata sangat pelan—“Mas nyesel?”

Pertanyaan itu membuat Ervin langsung mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya—air mata pria itu jatuh tanpa ditahan.

“Setiap hari.” Suara Ervin bergetar hebat. “Aku nyesel tiap detik.” Tangannya mengepal kuat di atas paha.

“Aku nyesel karena udah bikin perempuan yang paling aku sayang nangis tiap malam. Aku nyesel karena baru sadar harga kamu setelah semuanya rusak," isak tangisnya mulai terdengar hebat.

“Aku nyesel...” napasnya tercekat. “Karena ternyata nggak ada satu pun orang yang bisa gantiin posisi kamu.”

Tangisan Dinda pecah lagi.

Karena penyesalan Ervin terasa begitu tulus. Begitu nyata. Namun tetap tidak mampu menghapus luka yang ada.

“Empat tahun menikah...” suara pria itu semakin lirih. “Harusnya aku jadi rumah paling aman buat kamu.”

“Tapi aku malah jadi alasan terbesar kenapa kamu hancur.”

Dan kalimat itu terasa seperti pisau yang memutar di dada Dinda. Karena semua cinta mereka memang nyata. Hanya saja—kenyataan hidup menghancurkan semuanya terlalu jauh.

Malam semakin larut ketika Ervin akhirnya berdiri untuk pulang. Namun sebelum pergi, pria itu berhenti tepat di depan Dinda.

Tatapannya penuh luka. Penuh cinta. Dan penuh penyesalan yang terlambat.

“Kalau suatu hari nanti...” suaranya serak. “Ada orang yang bisa bikin kamu bahagia lagi...” Air matanya jatuh pelan.

“Tolong jangan takut buat mulai hidup baru.”

Deg.

Dinda langsung menutup mulutnya menahan tangis. Sedangkan Ervin tersenyum kecil penuh kehancuran.

“Karena kamu pantas dicintai lebih baik daripada cara aku nyakitin kamu.”

1
vita
jd penasaran apa yg d lakukan raka, apa berobat ya.
Happy Kids
pertanyaan macam apa ini
Happy Kids
inget bukkk.. yg bikin dinda gini ya anakmuuu.. gila ibuknya bener bener
Happy Kids
pret
Happy Kids
asli ni perempuan muna bgt. gatau malu.
Happy Kids
krn dirimu dah nemu yg baru wkwkkw jenita ups
Happy Kids
caper. aslinya bersorak soraii. orang kl emng nyesel nyakitin rumah tangga org lain hrs nya sadar diri. bukan malah living together 🤣 inimah nikmati aja dia alurnya 😅
Happy Kids
kasih tau tu anaknya. jgn kumpul kebo mulu
Happy Kids
apasiiii kepoo. bukan istri tp kaya nuntut laporan mulu. sbnernya dah niat bgt tu jenita ngerebut. tp sok sok an aku gamau nyakitin orang. hilih
Happy Kids
kan uda ada jenita yg masih kinyis kinyis trs kasih anak ke dia..
Happy Kids
kalau kaya gtu, dirimu yg semena mena dong wkwk slalu anggap bakal dimaafin mulu
Happy Kids
mreka tinggal bareng? kumpul kebo?
Happy Kids
munak aja ni anak org 🤣
Happy Kids
pulang? wajib bgt gtu? lagian ibu nya jenita katanya kecewa, tp dianya sendiri ngebiarin anaknya sering2 interaksi sama bojo orang 😅 pada ga punya pendirian dan prinsip. hrsnya dg gt dia ajak anaknya pulang dan awasi biar gausa aneh aneh. kl ngebiarin gini ya sama aja dia ga didik. pake sok sok an bilang gagal didik anak.
Happy Kids
anak org caper bgt
Happy Kids
nah mulai dia ga bisa lepas dr jenita. itulah. dahlah sama jenita aja
Happy Kids
katanya lelah nyakitin org. tp dianya nempelin ervin mulu dan berharap dicintai ervin. muna bgt dah
Happy Kids
punya otak? menurutmu?
vita
hanya bs kasih secangkir kopi n seiket bunga buat nemenin nulis ceritanya 💪💪💪💪
Karita Ta: Hai kaak vitaa, salam kenal dari karitaa yaa. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan tinggalkan jejaknya. Semoga hari-harimu menyenangkan yaa 😍🫰
total 1 replies
vita
sll suka sama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!