Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Mengajak Nayyara ke misi penyamaran.
Jam tiga sore Arka sudah kembali ke apartemennya karena dia harus mempersiapkan misi nanti malam, setelah tadi pagi dia bertempur dengan Adimas si white wolf yang akhirnya di selesaikan dengan zombie tulang belulang yang Arka kirim, semoga saja pengacara sok itu tak berani mencari masalah lagi dengan Arka.
Arka masuk ke apartemennya setelah menekan kode password yang dia hapal, masih memakai jas biru dan kemeja putih karena dia memang baru pulang dari kantor kejaksaan, Arka melepas sepatu dan maskernya di depan pintu, sembari membawa dua kantung belanjaan dari supermarket.
"Sayang aku datang!" Pria itu menuju dapur dan melepas jasnya di sofa, lalu meletakkan juga dua kantong plastik di meja pantry akan memasukkan ke dalam kulkas, namun Arka tiba-tiba cemas karena apartemen ini kenapa sepi sekali.
"Nayyara kamu dimana??!!" Arka langsung berlari ke kamar gadis itu dengan panik, dia membuka pintu kamar dengan keras dan terus memanggil kekasihnya. Isi kamar itu masih berantakan, dengan baju dalaman wanita yang ada di atas sofa dan kertas kanvas gambar, dengan aneka cat air dan kuas, juga laptop yang masih menyala memutar suara musik ada di atas ranjang.
Mungkin tadi Nayyara tengah melukis, mengingat besok dia akan aktif di Sanggar lagi, dan mulai mempersiapkan pamerannya di galeri.
Kemarin Arka memang juga membelikan gadis itu laptop baru, kertas kanvas dan keperluan melukis lain yang dibutuhkan Nayyara. Arka memang meminta Nayyara masih tinggal di apartemen ini, agar dia lebih bisa menjaga Nayyara, jika ada bahaya yang mengancam gadis itu.
"Nay!!" Terdengar suara air shower yang menyala dari kamar mandi, Arka lega setelah mendengar suara air dari kamar mandi. "Sayang!! Apa kamu sedang mandi?" Ketuk Arka di depan pintu.
"Mas, itu kamu ya? sudah datang!?"
"Iya, ini aku, nggak apa-apa aku tunggu ya!!"
Nayyara menyahut dari dalam kamar mandi, Arka Memilih menunggu gadis itu selesai, dia membuka korden kamar berwarna putih itu yang tadi masih tertutup rapat. Arka duduk di pinggir ranjang dan melihat belati hitam yang dia berikan pada Nayyara tadi pagi ada di atas meja nakas, berarti Nayyara memang baik-baik saja.
"Kamu sudah pulang mas? Tumben masih sore?" Nayyara keluar dari toilet dengan tubuh segar dan memakai bathrobe putih, dia menggosok rambut panjangnya yang masih basah, dan berdiri di depan meja rias.
"Aku panik sekali waktu memanggilmu tapi tak ada jawaban apapun?"
"Aku masih mandi, mana mungkin dengar? Tumben Kenapa sore sudah pulang?"
"Di kejaksaan lagi gak ada kerjaan, aku juga gak ada sidang hari ini, jadi aku langsung pulang setelah belanja, aku juga beli buah-buahan pesananmu tadi" Arka tersenyum lalu menghampiri gadis itu, dia melepas dasinya dan memeluk punggung Nayyara, sesekali mencium juga tengkuk gadis itu.
"Mas stop ah, rambutku masih basah" Sebal Nayyara karena Arka terus mengganggunya.
"Kamu harum sekali sayang, cantik banget, aku jadi ingin cium terus" Nayyara berdecak lalu menyingkirkan tangan Arka, namun pria itu malah makin gencar mencium lehernya, gadis itu berbalik lalu balas mencium bibir Arka juga, yang langsung menekan tengkuknya, dengan tangan kirinya dia memeluk pinggang ramping Nayyara, interaksi mereka ini membuat energi dari Nayyara berpindah pada Arka.
"Mandi dulu sana mas, uh Kamu bau sekali"
"Hei~ parfumku itu masih harum, mana mungkin aku bau..... hidungmu saja yang penciumannya rusak" Nayyara tertawa setelah meledek, dia memeluk leher Arka yang mulai mencumbui lagi bibirnya, Dua orang yang tengah di mabuk cinta itu memang tak pernah tahan sebentar saja berjauhan, nyaris hampir tiap jam Arka akan menelpon Nayyara jika dia tengah ada di kejaksaan, dia juga masih cemas jika jauh dari Nayyara akan ada bahaya yang mengintai gadis-nya.
"Nay, aku mau ajakin kamu ke rumah orang tua ku besok" Nayyara melepaskan bibirnya, lalu menatap Arka.
"Menikah?" Arka mengangguk, dia berpikir tak perlu lagi menundanya. "Eum, kalo bisa hari Jumat kita nikah, waktuku tinggal delapan hari lagi, kamu mau jadi istriku kan?" Nayyara menggigit bibirnya cemas.
"Mas, kenapa kamu nggak mau lakuin sekarang, aku rela kok nggak perlu nunggu kita nikah dulu..." Arka menggeleng, membelai rambut Nayyara lembut. "Aku cinta kamu sayang, aku ingin hubungan kita bukan cuma dari cinta, tapi juga ikatan sah" Nayyara manggut-manggut lalu memeluk Arka.
"Makasih mas, aku juga cinta kamu"
*
*
Hari telah menjelang malam dan Arka tengah mondar-mandir di dalam kamarnya, mengacak rambut hitamnya dan melirik gaun pesta untuk wanita yang tergeletak di atas ranjangnya.
"Aish, siapa yang bisa gue ajak ke pesta itu? Masa Jesylyn, yang ada dia bisa ngamuk ke gue, masa adek di ajakin kerja lagi cari buronan, ah ayo berpikirlah Arkanendra---"
Arka frustasi juga, beginilah nasib jaksa tampan yang takut pakai wanita bayaran, dia lalu bingung harus mengajak siapa ke misi nanti, apa dia ajak Nayyara saja, biar aman, kan Nayyara itu pacarnya, alias calon istri juga.
Nayyara yang malam ini berada di kamarnya sedang nonton film Drakor di laptop, hampir kena serangan jantung, dia memekik kaget karena seperti biasanya Arka masuk kesini tanpa permisi, dia membanting pintu dan menghela nafas panjang.
"Astaga kamu mas..--"
"Sstt huft cepat ganti bajumu Nay, ayo sekarang ikut keluar sama aku!" Lelaki itu menyodorkan dua bungkus paper bag dan mendorong Nayyara masuk ke toilet dengan setengah memaksa.
"Ke...ke mana mas? ya ampun tapi kan aku mau di rumah aja malam ini, kita mau kemana--"
"Aish pokoknya gantilah dengan baju ini, aku ajakin keluar sebentar, ayo cepat Nay!"
Nayyara geleng-geleng, setelah Arka menutup pintu kamar mandi dan menunggu di luar. Gadis itu heran juga kenapa susah sekali menolak permintaan pacarnya ini.
"Yak sudah belum ganti baju nya Nay?!"
Arka menatap gelisah jam tangan Vacheron Constantine di lengan kirinya.
Lama sekali Nayyara belum muncul juga dari dalam toilet. Dia menggedor pintu itu nyaris putus asa karena hampir setengah jam gadis itu di dalam. "Mas ya ampun ini baju macam apa?? Argh kenapa bajunya kurang bahan sama terbuka begini?"
Arka menatap terpesona gadis cantik itu dengan mata tak berkedip, saat Nayyara berdiri di depan pintu toilet, menunduk dengan risih pada gaun peach yang mirip lingerie itu.
"Ya ampun kenapa dia bisa jadi cantik dan seksi begini?" Arka meneguk susah ludahnya, astaga meskipun dia pernah pegang-pegang juga tubuh pacarnya, tapi dia bisa bergairah lagi gara-gara melihat Nayyara pakai baju seksi itu..
Tapi Arka jadi tak rela, membiarkan Nayyara memakai baju kurang bahan itu di pesta yang bahkan namanya pesta laknat. Akan banyak mata nakal pria melihat tubuh seksi pacarnya.
Oh tidak!!
Dalam hati Arka merutuki Brigjen sialan itu dengan makian dan sumpah serapah
'Rangga sialan! Bagaimana mungkin baju itu begitu seksi saat Nayyara yang mengenakan'.
"Nggak apa-apa nanti kamu bisa lapisi pakai jaket punyaku, sebentar aku carikan ya"
"Tapi buat apa aku harus pakai baju terbuka begini mas?? Kamu mau ajakin kemana sih" Nayyara yang meskipun penurut dan takut pada Arka, tapi dia sungguh tak rela keluar rumah dengan gaun aneh begini.
"Nggak mau ah, aku nggak mau pakai baju begini mas, ganti akan baju nya!" Nayyara menggeleng risih, namun Arka menahan lengannya Nayyara panik, dan menggeleng.
"Jangan sayang, pake ini aja!" Teriaknya.
"Hah??"