NovelToon NovelToon
LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: NATstory

Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASA LALU BELUM SELESAI

jujur, Aku tidak membenarkan perselingkuhan,Namun aku juga tidak ingin terus-menerus menyalahkan masa lalu yang sudah tidak bisa diubah,Jika diberi pilihan, aku pun tak ingin dilahirkan dari hubungan yang keliru.

Pagi itu, aku terbangun oleh dering telepon dari Tante Mirna.

"Halo, Tante..."

Kebetulan Ibu Asih sedang bersamaku. Aku merasa inilah waktu yang tepat untuk mencari tahu seluruh kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Perlahan, kuarahkan layar ponsel ke arah Ibu Asih.

Wajah Tante Mirna langsung berubah saat melihatnya.

"Eh... Asih! Piye kabarmu?" sapanya gugup.

"Aku apik wae," jawab Ibu Asih tenang. "Saiki aku wis ketemu anakku."

Aku menarik napas panjang.

"Tante, sebenarnya benar nggak sih kalau dulu aku dibawa oleh Papa kandungku sendiri?" tanyaku hati-hati.

"Sekarang Ibu Asih ada di sini. Aku ingin mendengar jawabannya langsung dari Tante."

Tante Mirna terdiam cukup lama.

"Iya, Nduk,"jawabnya .

"Waktu itu kamu memang ikut Papa kandungmu sendiri."

Aku memejamkan mata. Ternyata selama ini dugaan itu benar. Awalnya Tante Mirna masih berusaha mengelak. Namun karena Ibu Asih berada di sampingku, satu per satu kebenaran mulai terbuka. Bahkan aku baru tahu bahwa Tante Mirna-lah yang dulu mengenalkan Ibu Asih kepada Papa.

Astaga...

Masa lalu macam apa ini?Kepalaku serasa pecah mencoba memahami benang kusut kehidupan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.

_________________________________________________

Hari demi hari berlalu.

Sedikit demi sedikit kebenaran mulai terungkap,Mama menemukan mutasi rekening Papa,Uang yang selama ini dikirim ternyata masuk ke rekening Tante Mirna.

Mama shock.

Sejak Papa meninggal, beliau semakin jarang keluar rumah. Keceriaannya memudar sedikit demi sedikit,seolah belum cukup,prahara baru kembali menghampiriku.

Suatu sore, Kak Rico tiba-tiba menelepon.

"Halo, Kak?"

"Kok surat rumah nggak ada, ya? Terus lemari Papa kayak habis dibongkar!" katanya dengan nada tinggi.

Aku terdiam sejenak.

"Maksud Kakak gimana? Surat rumah kan aku simpan di map warna biru, digabung sama surat-surat lain."

"Nggak ada! Jujur aja, di mana surat itu?!"

Nada suaranya membuatku merasa terintimidasi.

"Jadi Kakak nuduh aku yang bawa surat itu?" bentakku tak tertahan,Tiba-tiba nada suaranya berubah.

"Oh... sudah ketemu. Oke, makasih."

Telepon langsung ditutup.

Saat itulah aku mulai sadar. Perlahan, kedua kakak laki-lakiku mulai sering menyudutkanku. Sejak hari itu, aku memilih semakin jarang pulang ke rumah.

saat itu di kantor,

"Tik, ada yang cari kamu di luar," ujar rekan kerja ku, dan Aku menoleh dari arah jendela,dan turun menemuinya.

pria itu turun dari mobil sambil tersenyum lebar.

"Ko Frans?"

Tatapanku penuh keterkejutan,mantan pacarku, seseorang yang pernah begitu peduli dalam perjalanan hidupku,di saat hidupku berada di titik terendah, ketika aku hancur menerima kenyataan yang baru terungkap, dialah satu-satunya orang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.

"Maaf ya datang mendadak. Aku lagi tugas ke sini. Besok sudah harus kembali ke Kalimantan."

"Ada apa, Ko?"

Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan sebuah cek ke tanganku,Aku terdiam saat melihat nominal yang tertera,Rp1,7 miliar.

"Ini buat siapa?" tanyaku gemetar. "Kenapa sebanyak ini?"

"Tolong terima," katanya lembut.

"Aku nggak mempermasalahkan gagalnya pernikahan kita. Setelah tahu semua yang kamu alami, aku yakin suatu hari kamu akan membutuhkan ini."

"Ko, nggak usah..."kataku menolak,

"Tika, kamu sekarang masih tinggal di kos dan belum punya rumah. Pakai uang ini untuk beli tempat tinggal, kendaraan, atau membuka usaha. Aku cuma ingin kamu bahagia."

mendengar itu, Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan,Ya Tuhan...

Baru hari itu aku benar-benar mengenal betapa besar kebaikan hati Ko Frans.

Sesuai amanah yang ia titipkan, aku membeli sebuah rumah secara tunai di Solo,Kupikir, dengan tinggal di sana, aku bisa lebih dekat dengan Ibu Asih di hari tuanya.

Aku membukakan beliau usaha kecil.

Aku ingin membahagiakan adik-adikku.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa memiliki tujuan lagi,Bukan untuk mengejar masa lalu,Melainkan untuk membangun kehidupan yang ingin kupilih sendiri.

_________________________________________________

Dulu aku tumbuh dengan baik.

pendidikan layak,perhatian Mama yang tak pernah setengah-setengah. Papa mengajarkanku disiplin, sementara Mama menanamkan empati sejak aku belajar mengenal dunia,Mereka tidak pernah menyembunyikan kenyataan bahwa aku bukan anak kandung mereka,justru di situlah aku merasa paling diterima.

Saat aku akhirnya memperoleh pekerjaan yang layak, kesempatan demi kesempatan terbuka. Pencapaianku terus bertambah. Secara materi, aku tak pernah kekurangan. Usahaku berjalan baik, investasiku stabil, dan dari luar, hidupku tampak utuh bahkan sempurna.

Namun tak ada yang tahu, ada ruang kosong di dalam diriku yang tak pernah benar-benar bisa kujelaskan.

Pertemuanku dengan orang tua kandung datang tanpa peringatan, seperti pintu lama yang tiba-tiba terbuka dan menampilkan masa lalu yang tak pernah kusiapkan hati untuk melihatnya.

Kini yang kulihat adalah senyum polos ponakan-ponakanku,senyum yang dipeluk oleh tanda tanya,Akankah kelak mereka bisa menyelesaikan sekolah?Ataukah mimpi mereka terhenti karena keterbatasan biaya?

pernah, Aku mencoba tidur di rumah Ibu Asih. Atap yang berdebu membuat pasir-pasir halus sesekali jatuh ke wajahku.

Saat berbaring, debu itu masuk ke hidungku. Aku ingin menutupi wajah dengan selimut, namun kutahan keluhanku. Aku tak ingin Ibu Asih melihatku lemah,Nyamuk berterbangan,Udara terasa pengap,Ruangan sempit dan kumuh,Miris rasanya jika dibandingkan dengan hidupku sejak kecil yang terbiasa tidur di kasur empuk, di kamar yang hangat dan nyaman.

Mungkin itulah sebabnya, ko Frans mempercayaiku dengan sejumlah uang,aku memilih menggunakannya dengan bijak,Sedikit demi sedikit, aku memperbaiki rumah Ibu Asih.

Meski beliau menolak tinggal bersamaku di rumah baru,aku tidak memaksanya. Syukurlah, rumah itu tidak jauh dari kampung tempat beliau tinggal. Cukup dekat untuk saling menjaga.

Aku melengkapinya dengan berbagai perabot baru,Meja makan,Kulkas,Televisi,AC,kasur yang lebih nyaman,Sofa untuk ruang tamu,Bahkan dapur tempat Ibu Asih memasak pun kuperbarui.

Ini adalah lembaran baruku,Aku hanya berharap mereka menyukainya,Aku hanya ingin mereka kenyang, tanpa harus cemas memikirkan apa yang akan dimakan esok hari.

Sementara itu, untuk diriku sendiri, aku membeli dua kavling tanah dan membangun rumah impian dari nol,Material terbaik,Lantai granit di seluruh ruangan,kamar mandi luas dengan bathtub dan pemanas air.mobil dan lainya.

Sebuah rumah yang kuimpikan menjadi tempat pulang yang utuh,Sambil menunggu rumah itu selesai dibangun, aku mengajak keluargaku berlibur,Tiket pesawat,hotel terbaik di Jakarta dan Bali,Belanja di butik,Makan di restoran mahal,Bahkan sempat ke Singapura meski hanya dua hari.

Tak apa,Selama mereka bahagia, itu sudah cukup bagiku.

Waktu berlalu,Perlahan, aku mulai meletakkan kepercayaan dan perhatianku pada keluarga yang baru kutemukan,Namun ternyata, hidup kembali memberiku pelajaran.

Siang itu aku berdiri di depan rumah sambil memperhatikan pagar yang tak kunjung selesai.

"Mas Tio!! ujarku pada ,adik Ipar.

"hampir dua minggu. Kok pagar sekecil ini belum selesai juga?"Padahal Mas sudah minta tambahan dua tukang."tanyaku kesal.

"Iya, Kak. Masih nunggu proses pengeringan," jawabnya santai.

"Tapi ini sudah dua minggu, Mas. Harusnya bagian lain bisa dikerjakan. Anggaran saya jadi membengkak hanya untuk bangunan ini!

Setiap hari aku tidak pernah terlambat mengirim uang,Untuk upah,Untuk makan,Untuk kebutuhan seluruh keluarga,Namun yang kuterima justru konflik demi konflik,Setiap kali pulang, selalu ada yang mengadu,Saling menyalahkan,Saling menuding.

aku bertanya kepada Ibu

"Bu Tika ini tidak tumbuh bersama kalian sejak kecil,Kenapa semuanya mengadu ke Tika? Tika bingung harus percaya siapa. Sebenarnya ada apa dalam keluarga ini?"

Kecurigaanku mulai tumbuh,Bulan demi bulan berlalu,ada hal ganjil lainya yang aku ingin tau, Suatu sore aku memberanikan diri bertanya.

"Bu,tika dengar Ibuk sering ke kampung belakang rel kereta, ada apa disana?"

Ibu terlihat gugup.

"Oh... cuma nengok teman yang sakit."

"Siapa yang bilang begitu ke kamu?"

Aku menatapnya lama.

"Katanya Ibu main judi ya?"

Wajahnya langsung berubah.

"Terus perhiasan yang Tika kasih ke Ibu mana?"

Tak ada jawaban,Aku tidak pernah kurang mencukupi kebutuhan mereka,Isi kulkas selalu penuh,Uang pegangan selalu ada,Rumah nyaman.

Kebutuhan terpenuhi, tapi ke mana semua itu pergi?

teringat cerita lama dari Om wisnu,bahwa Ibu Asih pernah masuk penjara karena judi, tapi aku tak percaya,Dan saat itu, untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya ke mana sebenarnya uang yang kukirim selama ini.

Dari semua adik-adikku, hanya Adrian yang tidak pernah meminta apa pun,Justru karena itulah aku paling memperhatikannya.

"Sabar, Kak," ucap Adrian pelan.

Aku tersenyum pahit.

"apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dari kakak,aku memprioritaskan kalian supaya kalian bahagia. Rumah sudah diperbaiki. Ponsel kakak belikan. Renovasi aku urus,tapi kenapa gak ada yang bisa menjaga kepercayaan Kakak."

_________________________________________________

Waktu berlalu,Proses pembangunan Rumah selesai,Aku mengadakan syukuran sederhana dan mengundang beberapa tetangga, juga kak reno sebagai perwakilan keluarga yang ada di Jakarta

Namun aneh, sejak pagi hingga sore aku mengerjakan semuanya sendirian.

Tidak satu pun adik atau Ibu datang membantuku,

Justru mereka baru muncul saat acara hampir dimulai.

Aku lelah,Kenapa saat senang mereka datang berbondong-bondong, tapi saat aku membutuhkan bantuan, aku selalu sendirian?

Hari berganti,Perusahaan tempat ku bekerja mengalami rasionalisasi Karyawan, berberapa staff di resign kan,aku memutuskan tinggal di kampung membuka usaha sendiri, tapi stelah beberapa hari di sini, Rumah besar itu justru terasa sepi.

aku kembali ke Jakarta,Di sana aku menerima kabar yang membuat kakiku lemas,Sebagian perabot rumah Ibu Asih dijual,Ada utang baru yang harus dibayar,Padahal sebelumnya semua sudah kulunasi,Aku pulang ke Solo tanpa amarah,Hanya diam.

"Maafkan Ibu, Nduk..."

Ibu Asih berlutut di hadapanku.

"Ibu salah. Hukum Ibuk."

Aku segera menarik kakiku.

Aku tetap menghormatinya sebagai ibu,dan Sejak hari itu, semuanya kuhentikan,Tak ada lagi uang tunai,Tak ada lagi barang berharga.

Aku melunasi utang Ibu untuk terakhir kalinya,Yang masih kukirim hanya tinggal bahan pokok,Namun bahkan sembako itu dijual kembali kepada tetangga dengan harga murah.

Aku lelah,Uangku menipis,Energi marahku habis.

Aku memutuskan kembali ke Jakarta,Namun di sana, ujian lain sudah menungguku.

tak kusangka, Status surat tanah rumah baruku di Solo bermasalah,Padahal rumah itu sudah lunas.

Aku hanya tinggal menerima sertifikatnya, shock menerima kenyataan ini🥺

Sesak.

Aku tak punya pilihan selain menjual rumah itu dengan harga rugi.ekonomiku berantakan, mobil terjual,dari hasil penjualan itu,aku tetap saja,masih memikirkan Ibu dan adik-adikku,sebagian uang tetap kubagikan untuk mereka.

Siang itu disolo,aku meminta bantuan adik sepupuku yang baru datang dari kalimantan.

"Vin,tolong telepon adik aku Dila, Tanya apa saja kebutuhan rumah yang habis.kakak harus segera setor tunai hasil penjualan rumah,kita bagi tugas.

"baik kak!

Tak lama kemudian sebuah pesan masuk.

"Kak, biasanya Kakak kalau belanja langsung beli,Kenapa sekarang lewat vina?"Kami memang miskin, tapi kami tidak pernah meminta."!

Pesan berikutnya datang."Kakak belikan motor, aku tidak minta."

Uang yang Kakak kasih, aku tidak minta."

Jalan-jalan ke Singapura, aku juga tidak minta."

Aku masih punya harga diri."

lalu Aku terpaku.

Begitu mudahnya niat baik berubah menjadi tuduhan,Aku tidak membalas,Aku hanya datang, meninggalkan belanjaan, lalu kembali ke Jakarta.

Rencanaku tinggal lebih lama di Solo batal,Malam itu aku duduk sendirian.

Satu per satu peristiwa berputar di kepalaku,Aku sudah tidak sanggup lagi,Saat uangku menipis,Saat mobilku terjual,Saat aku menangisi nasibku sendiri,Aku berdoa dalam diam.

Ya Tuhan...Aku tidak akan datang lagi ke Solo,Kecuali jika Ibu Asih sakit.

Atau...

ketika ajal menjemputnya.

saat Tika menemukan keluarga kandungnya,ia datang bukan dengan tuntutan, melainkan dengan niat membahagiakan. Ia memberi rumah, uang, bantuan pendidikan, perjalanan, dan harapan.

tidak semua orang mampu menerima cinta dengan cara yang sehat. Kebaikan yang berlebihan justru membuka ruang bagi ketergantungan, manipulasi, dan luka yang tak pernah ia duga.

Pagi itu, telepon berdering. Aku terdiam sejenak menatap layar.

Selama ini aku tak pernah sepenuhnya menceritakan kebenaran hidupku pada pria yang telah dekat denganku selama tiga bulan terakhir

awalnya pria itu tampak cuek, tetapi sejatinya sangat perhatian.

Ia seorang dokter spesialis, mapan, dan matang. Namun satu kenyataan pahit tak bisa kuhindari: ia beristri,aku tahu ini adalah larangan. Aku paham risikonya. Tetapi kenyamanan yang kudapat darinya membuatku rapuh. Aku sudah tak sanggup lagi memendam semua beban sendirian.

Mas Dharma,begitu aku memanggilnya. Setelah cerita panjang yang melelahkan, aku sempat berpikir ia akan pergi. Aku yakin ia akan malu memiliki latar keluarga sepertiku. Namun dugaanku salah. Ia justru semakin mencintaiku.

Mas Dharma memindahkanku dari kos kecil ke sebuah apartemen.dan Ia menata kembali hidupku, melunasi hutang-hutangku,bahkan mengganti mobilku yang hilang,Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa diselamatkan..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!