Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas yang terenggut
"Bangun, Nomor 5006! Waktunya makan obat!"
Sebuah bentakan keras yang dingin dan tanpa emosi menghentak kesadaran Salsa. Pintu besi berdentang memekakkan telinga saat dibuka paksa dari luar.
Bersamaan dengan itu, seberkas cahaya lampu neon yang putih dan menyilaukan menusuk masuk, memaksa Salsa mengerjapkan matanya yang terasa perih. Kepalanya masih terasa seberat batu akibat sisa-sisa obat bius semalam, namun rasa dingin yang menusuk pori-pori kulitnya memaksa jiwanya untuk kembali terjaga sepenuhnya.
Salsa mencoba menegakkan punggungnya. Dengan sisa-sisa keangkuhan yang telah mendarah daging sebagai seorang putri konglomerat, ia mendongak menatap lurus ke arah dua orang pria yang baru saja melangkah masuk.
Mereka mengenakan jas putih khas dokter, namun tidak ada kehangatan atau binar kemanusiaan di wajah mereka. Di belakang mereka, seorang perawat pria bertubuh tegap berdiri sembari membawa nampan berisi semangkuk bubur hambar dan beberapa butir pil misterius.
Meskipun tubuhnya menggigil hebat karena hanya mengenakan gaun tidur satin tipis yang kini kotor dan robek, Salsa menolak untuk terlihat lemah. Ia menonjolkan rahangnya, menatap tajam kedua pria berjas dokter itu dengan tatapan menghina yang biasa ia gunakan untuk merendahkan orang lain.
"Siapa kalian?! Pergi dari sini! Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotor kalian!" Seru Salsa, suaranya parau namun sarat akan ancaman yang tajam.
"Apa kalian tidak tahu siapa papaku?! Aku adalah putri tunggal Brahmantyo! Sekali aku meneleponnya, aku bisa menghancurkan hidup dan karier kalian dalam sekejap! Kalian akan membusuk di penjara karena telah berani menyekapku!"
Kedua pria berjas dokter itu tidak tampak gentar sedikit pun mendengar ancaman kosong Salsa. Mereka justru saling pandang sekilas, melempar seulas senyum tipis yang meremehkan.
Salah satu dokter yang memegang sebuah map jepit kulit berwarna hitam melangkah maju, membuka lembaran kertas di dalamnya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Kami hanya menjalankan tugas medis, Nona" ucap dokter itu dengan suara datar, nyaris seperti robot.
"Kami memiliki perintah medis resmi yang sah di mata hukum. Berdasarkan berkas pemeriksaan dan rujukan yang kami terima, Anda, pasien Nomor 5006 dilaporkan mengalami gangguan jiwa berat dengan kecenderungan delusi akut serta perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain"
Mendengar untaian kata medis itu, Salsa tertegun sejenak sebelum akhirnya tawa histerisnya meledak. Tawa yang terdengar sangat sumbang, menggema di antara dinding-dinding beton yang lembab dan berlumut. Air mata ketakutan dan kemarahan mengalir di pipinya yang pucat, berpadu dengan tawa gilanya sendiri.
"Gila? Kalian sebut aku gila?!" Salsa menggelengkan kepalanya dengan brutal, rambut panjangnya yang kusut masai berantakan menutupi sebagian wajahnya.
"Aku tidak gila! Aku sangat sehat! Ini pasti ulah Arkan, kan?! Ini semua rencana licik suamiku! Mas! Arkan! Aku tahu kamu ada di luar! Suruh orang-orang sialan ini pergi dari hadapanku!" Teriak Salsa ke arah pintu besi yang terbuka, berharap suaminya akan muncul dari balik bayangan.
"Aku ingin memegang ponselku! Aku ingin menelepon ayahku sekarang juga! Ini penculikan! Kalian semua telah menculikku!" Salsa berteriak semakin histeris.
Ia berusaha untuk melompat bangun dari brankar besi itu untuk merebut map di tangan dokter, namun gerakannya langsung tertahan dengan sentakan keras.
Sret...
Rasa sakit menjalar di pergelangan tangan dan pergelangan kakinya. Salsa menunduk dan baru menyadari dengan penuh keterkejutan bahwa tali kekang kulit tebal yang mengikatnya semalam masih terpasang dengan sangat rapat, mengunci setiap jengkal pergerakannya di atas ranjang pesakitan itu.
Dokter berwajah dingin itu menghela napas pendek, lalu menatap Salsa dengan pandangan penuh belas kasihan palsu yang teramat memuakkan.
"Tidak akan ada panggilan telepon untuk ayahmu, Salsa. Dan suamimu tidak akan datang menyelamatkanmu" Ucap dokter itu, sengaja menekankan setiap kalimatnya untuk menghancurkan sisa-sisa kewarasan wanita di depannya.
"Suamimu sendiri, Tuan Arkan, yang datang ke lembaga kami dan menandatangani surat penyerahanmu ke sini. Dia memberikan kesaksian tertulis bahwa kau memiliki obsesi yang tidak sehat, agresif, dan sangat berbahaya bagi keselamatan orang-orang di sekitarnya"
Jantung Salsa seolah berhenti berdetak.
Dadanya terasa kosong, seperti dihantam oleh godam tak kasat mata.
"Mas Arkan? Mas Arkan yang menandatanganinya?" Batin Salsa.
"Dan mengenai ayahmu..." Dokter itu menjeda kalimatnya, menutup map jepitnya dengan bunyi kecipak yang pelan.
"Ah, kabarnya sejak pagi tadi seluruh perusahaan milik ayahmu sedang diselidiki atas kasus korupsi dan penggelapan dana skala besar. Rumah dan aset kalian sudah disita, dan ayahmu sendiri dilaporkan telah melarikan diri ke luar negeri sebagai buronan kakap. Tidak ada yang akan menjemputmu ke tempat ini, Salsa. Kau sendirian di dunia ini. Kau tidak punya siapa-siapa lagi"
Deg...
Dunia di sekitar Salsa seketika terasa runtuh dan hancur lebur menjadi kepingan abu yang tak berwujud. Kamar gelap yang lembab itu seolah berputar dengan sangat cepat, mencekik lehernya hingga ia kesulitan bernapas.
Ayahnya, pelindung satu-satunya, pilar kekuasaan yang selama ini membuatnya bisa berdiri tegak dan angkuh di depan semua orang, telah pergi meninggalkannya. Melarikan diri ke luar negeri tanpa membawanya.
Dan Arkan, pria yang ia panggil suami, pria yang beberapa jam lalu baru saja merenggut kesuciannya di atas altar keterpaksaan, adalah orang yang menjebloskannya ke dalam rumah sakit jiwa ini.
"Bohong... kalian semua berbohong!" Raung Salsa, matanya mendelik liar dipenuhi oleh penolakan yang absolut. Ia menolak mempercayai kenyataan pahit yang baru saja disajikan di depan matanya.
"Papaku sangat menyayangiku! Dia tidak akan pernah meninggalkanku! Dan Mas Arkan, dia mungkin membenciku, aku tahu dia sangat membenciku! Tapi dia tidak akan mungkin tega memasukkanku ke RSJ! Kalian semua bersekongkol untuk menipuku!"
Perawat pria bertubuh tegap melangkah maju, mencoba menyodorkan nampan makanan ke dekat dada Salsa yang naik turun dengan tidak beraturan.
"Makan dan minum obatmu sekarang, Nomor 5006!"
"Pergi!!!"
Dengan sisa kekuatan dari keputusasaannya, Salsa menghentakkan tubuhnya ke samping. Menggunakan sela-sela jarinya yang masih bisa bergerak sedikit, ia memukul nampan besi itu dengan brutal.
Prang!!!
Mangkuk porselen itu melayang menabrak dinding, pecah berkeping-keping. Bubur putih yang hambar kini tumpah mengotori lantai yang dingin, sementara butiran-butiran pil penenang berserakan ke segala arah.
Napas Salsa memburu, ia mendongak dan menatap kedua dokter itu dengan tatapan penuh dendam dan kebencian yang mendalam.
Dokter berwajah dingin itu sama sekali tidak menunjukkan kemarahan atas tindakan destruktif Salsa.
Ia hanya memundurkan langkahnya satu langkah untuk menghindari cipratan makanan, lalu menoleh ke arah perawat tegap di sampingnya.
"Pasien 5006 tidak kooperatif dan menunjukkan gejala ledakan emosi yang membahayakan" perintah dokter pria itu dengan suara yang teramat tenang namun kejam.
"Berikan dosis penenang tambahan dalam bentuk suntikan. Kita harus menstabilkan gelombang otaknya yang tidak stabil"
"Tidak! Jangan! Jauhkan benda itu dariku! Aku tidak sakit! Aku tidak gila!" Jerit Salsa parau, air matanya luruh semakin deras, membasahi wajah cantiknya yang kini tampak kuyu dan kotor. Ia meronta dengan liar hingga brankar besi itu berderit-derit keras menabrak lantai.
"Aku hanya ingin pulang! Tolong... lepaskan aku... aku ingin pulang ke rumahku!"
Namun, jeritan histeris dan permohonan Salsa tidak lebih dari sekadar angin lalu di tempat terkutuk ini. Perawat pria itu dengan mudah mengunci pergerakan bahu Salsa, menekan tubuh lemas wanita itu ke atas kasur tipis brankar dengan kekuatannya yang besar.
Dokter kedua melangkah maju, mengeluarkan sebuah tabung suntikan baru yang telah terisi cairan kimia bening yang pekat.
Jleb...
Untuk kedua kalinya, rasa nyeri yang dingin menusuk permukaan kulit lengan Salsa.
"Tidak... Mas Arkan... Papa..." Lirih Salsa, suaranya perlahan mulai melemah seiring dengan cairan penenang dosis tinggi itu didorong masuk ke dalam pembuluh darahnya.
Kali ini, efek obat yang diberikan jauh lebih agresif dan merusak jika dibandingkan dengan obat bius semalam. Hanya dalam hitungan detik, Salsa merasakan kepalanya seperti dipenuhi oleh gumpalan kabut tebal yang sangat pekat.
Pikirannya yang biasanya tajam, egois, angkuh, dan penuh dengan rencana-rencana licik untuk mempertahankan Arkan, perlahan-lahan mulai terasa tumpul. Logikanya mati rasa.
Setiap memori tentang kemewahan, tentang keangkuhan statusnya sebagai putri konglomerat, seolah-olah terkikis habis, terhapus oleh kekuatan kimia yang memaksa otaknya untuk tertidur dalam kepatuhan.
Tali kekang yang mengikat tangan dan kakinya kini tidak lagi terasa menyakitkan, karena seluruh indra perabanya telah dilumpuhkan. Pandangan Salsa berangsur-angsur menggelap, bayangan kedua dokter di depannya mulai memudar dan menyatu dengan kegelapan dinding beton ruangan.
Di ambang batas kesadarannya yang terakhir, sebelum jiwanya benar-benar tenggelam ke dalam koma buatan yang mematikan seluruh emosinya, bibir pucat Salsa yang kering bergerak samar.
Sebuah rintihan batin yang teramat getir, sebuah gugatan tak terdengar atas takdir hidupnya yang tragis, lolos sebagai bisikan terakhir.
"Kenapa...? Aku... aku hanya ingin dicintai oleh suamiku sendiri..." gumam Salsa, suaranya terputus-putus di tenggorokan yang tercekat rasa perih.
"Apa mencintai suami sendiri adalah sebuah kesalahan yang sah...? Apa aku memang harus menjadi gila... hanya karena menginginkan sepotong cinta dari pria yang memiliki ragaku...?"
Air mata terakhir Salsa luruh, mengalir melewati sudut matanya dan jatuh ke atas bantal yang dingin, tepat saat sepasang matanya terpejam rapat sepenuhnya.
Jiwa sang putri konglomerat kini telah resmi terkunci di dalam penjara tak kasat mata, terasing dari dunia luar yang telah menghancurkannya tanpa ampun, menyisakan dirinya sebagai selembar kertas kosong tak berharga dengan identitas baru, Pasien Nomor 5006.
mampus kau arkan...rasain kan, ngaku pintar tapi oooooonnnnnnnnnnn, setelah tau rahasia sebenarnya makin dalamlah itu penyesalanmu, makanya jangan jadi orang bucin....bucin sich boleh tapi jangan 100 % ma manusia. rasain lah kau arkan....
pusing pusinglah kau sendiri bagaimana cara mencari cara menyembuhkan salsa...sekarang tugasmu lagi itu. mbake update lagi dong 🤣🤣
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....