Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : TABUNGAN DELAPAN RATUS RIBU YANG LUDES UNTUK OBAT ALINA
...BAB 8...
...TABUNGAN DELAPAN RATUS RIBU YANG LUDES UNTUK OBAT ALINA...
Tiga hari setelah raport Dimas terbongkar, tubuhku menyerah.
Tiba-tiba demam tinggi menghantamku tanpa ampun. Kepalaku berdenyut nyeri, tenggorokanku terbakar. Aku meringkuk di ranjang, menolak disentuh siapa pun.
"Panggilkan dokter," perintahku pada pelayan. Suaraku serak.
Pelayan itu menunduk dalam-dalam. "Maaf, Nona. Dokter pribadi sedang berada di luar kota."
Aku melempar bantal ke dinding. "Kalau begitu biarkan aku mati saja!"
Pintu kamarku terbuka perlahan. Ibu Kirana masuk. Di tangannya ada baskom berisi air hangat dan kain tipis.
"Keluar," bentakku. Setiap kata terasa seperti bara. "Aku tidak butuh belas kasihanmu."
Ibu Kirana menghentikan langkahnya. Ia meletakkan baskom di meja, lalu mundur satu langkah.
"Baiklah, Nak," bisiknya. "Ibu di luar saja. Jika engkau butuh apa-apa, panggil Ibu."
Ia menutup pintu dengan pelan. Terlalu pelan, seakan takut menyakitiku.
Malam menjelang. Demamku mencapai empat puluh derajat. Kesadaranku naik turun. Dalam rintihanku, aku memanggil nama Mama. Menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Di antara kabur dan sadar, aku mendengar suara Ibu Kirana di telepon. Suaranya gemetar, rendah, namun putus asa.
"...Iya, Dokter. Anak saya demam tinggi. Tidak, saya tidak memiliki BPJS. Berapa biayanya? Dua juta rupiah?"
Dua juta. Untuk satu kali kunjungan dokter ke rumah.
"Tabungan saya hanya ada delapan ratus ribu, Dok_ Bolehkah saya mencicilnya?"
Aku ingin tertawa. Delapan ratus ribu? Itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu pasang sepatu hak tinggiku.
Lalu terdengar suara laci kayu dibuka. Suara perhiasan beradu satu sama lain.
"Pak, saya menjual kalung ini. Pemberian Mas Aditya untuk ulang tahun pernikahan kami tahun lalu. Berapa harganya?"
Kalung emas berliontin hati. Hadiah pertama dari Papa untuk Ibu Kirana. Satu-satunya perhiasan yang sering ia sentuh sambil tersenyum sendiri.
Keesokan paginya, aku membuka mata. Demamku telah surut. Di meja samping ranjang terhidang obat, air putih, dan secarik kertas.
Tulisan tangan Ibu Kirana, bergetar namun rapi.
_"Obatnya diminum tiga kali sehari setelah makan, Nak. - Ibu"_
Di bawah kertas itu, ada bungkus obat mahal. Harga pada struknya: 1.850.000.
Dan di atas nakas, tempat kotak beludru merah itu biasa diletakkan, kini hanya ada ruang kosong. Di tutup kotaknya masih ada tulisan tangan Papa yang sudah pudar: _"Untuk Istriku, Kirana. - A"_
Papa pulang menjelang siang. Setelah seminggu dari luar negeri hanya untuk mengawasi perusahaannya. Ia berlari ke kamarku setelah tahu aku sakit dan tidak bisa langsung pulang waktu itu, memelukku erat hingga aku sulit bernapas.
"Alina, maafkan Papa. Papa terlambat..."
"Papa," suaraku pelan, nyaris tidak terdengar. "Siapa yang merawat aku semalaman?"
Papa terdiam. Matanya melirik ke arah pintu. Ibu Kirana berdiri di ambang pintu, tubuhnya kurus, wajahnya pucat.
"Dokternya langganan keluarga kita, Nak. Bu Kirana yang telpon dan minta segera ke sini. Katanya urusan pembayaran bisa dibicarakan nanti," jawab Papa akhirnya. Suaranya berat. "Papa kira dokter itu tidak minta bayar cash."
Aku menatap Ibu Kirana. Bibirnya kering. Matanya bengkak, tanda semalaman ia tidak terpejam.
"Berapa sisa tabungan Ibu sekarang?" tanyaku. Suaraku dingin, sengaja kupasrahkan.
Ibu Kirana terkejut. Ia mengepalkan ujung kerudungnya. "Eh... tidak banyak, Nak. Hanya cukup untuk jajan Dimas seminggu ke depan..."
Aku tertawa. Tawa yang kering, kosong, dan menyakitkan.
"Lalu kenapa dihabiskan untukku dalam semalam. Sungguh, Ibu pandai sekali berakting."
Ibu Kirana mengangkat wajahnya. Air matanya sudah menggenang, namun ia tahan.
"Alina..."
"Berhenti," potongku.
Aku memaksa tubuhku yang lemah untuk duduk tegak. "Aku tahu permainan Ibu. Ibu berpura-pura miskin, berpura-pura berkorban, supaya Papa merasa bersalah. Supaya aku merasa berhutang budi."
Aku meraih struk obat itu dan melemparkannya ke lantai. "Ini uang Papa, bukan? Papa pasti yang menggantinya. Sandiwara Ibu sangat meyakinkan."
"Oh ya? Kalau urusannya nanti, kenapa Ibu minta dokter pulang buru-buru setelah suntik? Takut ketahuan kalau nggak ada uangnya?" bentakku.
Papa menatapku, lalu menatap Ibu Kirana. Alisnya bertaut bingung. Ia tidak mengerti maksudku.
"Alina," suara Papa mengeras. "Bu Kirana merawatmu semalaman. Ia tidak tidur. Kau tidak berhak bicara begitu padanya."
"Tidak, Papa," balasku. Mataku menatapnya tajam. "Aku tidak butuh Ibu tiri yang sok suci. Aku tidak butuh obat dari uangnya. Lebih baik aku mati daripada berutang budi padanya!"
Aku berbalik, masuk ke kamar mandi. Mengunci pintu. Lalu memuntahkan seluruh isi perutku. Bukan karena obat. Karena muak melihat wajahnya.
Dari balik pintu, aku mendengar suara isakan yang ditahan.
Ibu Kirana tidak membantah. Tidak menjelaskan. Ia hanya berbisik lirih sebelum langkahnya menjauh:
"Jika dengan begitu engkau merasa lebih tenang, Nak... Ibu rela dianggap pendusta."
Malamnya, aku mengintip dari celah pintu kamarku.
Ibu Kirana duduk di ruang tamu. Di pangkuannya ada buku tabungan lusuh. Halaman terakhir tertulis dengan tinta pudar: "Saldo: Rp 47.000".
Empat puluh tujuh ribu rupiah. Untuk dirinya dan Dimas, selama sebulan ke depan.
Di sebelahnya, ada kotak beludru merah terbuka. Kosong.
Ia tidak menangis. Ia hanya menatap kotak kosong itu dalam waktu yang lama. Lalu menutupnya pelan, seakan menutup sebagian hidupnya.
Aku menutup pintu. Dan tertawa kecil.
"Bagus. Biar tahu rasa. Berani-beraninya merebut Papa dariku."
Aku Alina Mahendra. Aku tidak pernah kalah.
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄