Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 30
Happy Reading Guys!
_____
"Apa yang kau lihat? Dia sudah pergi."
Suara Damian terdengar santai, tetapi entah kenapa membuat Sophia tersentak. Wanita itu baru menyadari bahwa sejak tadi pandangannya masih tertuju ke arah pintu keluar, ke arah yang sama tempat Arkan menghilang beberapa saat lalu.
Damian meliriknya sekilas, lalu menambahkan dengan nada yang terdengar mengejek.
"Lihat bola matamu itu. Rasanya seperti ingin ikut keluar mengejarnya."
Sophia langsung memalingkan wajah.
Ia berdehem pelan, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba muncul. Jujur saja, ia sendiri tidak sadar kalau dirinya terus memerhatikan Arkan hingga lelaki itu benar-benar menghilang dari pandangan.
Ketika menoleh, ia mendapati Damian sedang menatapnya lekat-lekat. Tatapan itu membuat Sophia merasa tidak nyaman. Ada sesuatu di dalam sorot mata lelaki itu yang sulit ia pahami.
Dengan hati-hati, ia segera melangkah mundur untuk menjaga jarak.
Sayangnya, Damian bergerak lebih cepat.
Sebelum Sophia sempat menjauh, tangan lelaki itu sudah melingkar lebih dulu di pinggangnya. Dalam satu tarikan kuat, tubuh Sophia langsung terdorong ke depan hingga merapat ke dada lelaki itu.
Mata Sophia membulat.
Ia bahkan tidak sempat bereaksi.
"Apa yang kau lakukan?!"
Refleks ia berusaha melepaskan diri. Kedua tangannya mendorong dada Damian, tetapi lelaki itu sama sekali tidak bergeming. Tubuhnya tetap tegak berdiri seolah dorongan Sophia tidak berarti apa-apa.
Jelas Sophia ingin mengumpat. Namun, satu tangan Damian langsung membekap mulutnya hingga semua protes yang hendak keluar berubah menjadi suara tidak jelas.
Mata Sophia semakin melebar.
Di sisi lain, Jack yang kebetulan melihat pemandangan itu hanya menghela napas panjang.
Tanpa mengatakan apa pun, ia memilih berbalik dan menghilang.
Seolah merasa hidupnya akan jauh lebih tenang jika tidak ikut campur.
Damian sama sekali tidak memedulikannya.
Tatapannya tetap tertuju pada Sophia.
Ia sedikit menundukkan kepala, memperpendek jarak di antara mereka hingga Sophia bisa melihat jelas pantulan dirinya di mata lelaki itu.
"Apa yang menarik dari suami orang?" tanyanya tiba-tiba.
Sophia mengernyit.
Tentu saja ia ingin membalas.
Masalahnya, mulutnya masih dibekap.
Damian tampaknya tidak peduli.
Ia justru melanjutkan perkataannya dengan nada yang terdengar semakin tidak menyenangkan.
"Kenapa kau selalu menempel padanya?"
Alis Sophia berkedut.
Kalau saja tangannya tidak sedang sibuk berusaha melepaskan diri, mungkin ia sudah menampar lelaki itu.
Damian menatap wajah kesal di hadapannya selama beberapa saat sebelum kembali membuka suara.
"Bisakah kau tidak memeluk orang asing," katanya pelan. Tangannya yang melingkar di pinggang Sophia justru semakin erat. "Aku bisa mencium aroma sialan itu di tubuhmu meskipun hanya sesaat. Itu membuatku risih."
Sophia membelalak.
Sesaat ia bahkan lupa harus marah atau terkejut.
Apa lelaki ini waras?
Begitu Damian sedikit melonggarkan cengkeramannya, Sophia langsung mengangkat kaki dan menginjaknya sekuat tenaga.
Damian mendesis pelan.
"Galak sekali."
Meski wajahnya tetap tenang, rahang lelaki itu terlihat mengeras menahan nyeri. Namun bukannya marah, lelaki itu justru terkekeh pelan.
Sophia tidak peduli.
Ia langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh beberapa langkah.
Sophia menatap Damian seolah baru saja melihat spesies langka yang seharusnya tidak ada di muka bumi. Apa dia termasuk golongan kucing, yang suka mengendus-endus aroma asing di sekitarnya?
Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Berhenti mengatakan omong kosong. Sebaiknya kau pergi ke Rumah Sakit Jiwa, aku curiga ada kelainan aneh padamu!" umpatnya tanpa bisa menahan diri.
Damian mengangkat sebelah alis.
Sophia menunjuk wajah lelaki itu dengan kesal, tatapanya berubah tajam.
"Aku sudah memperingatkanmu seribu kali agar kita menjaga batas," ucapnya serius. "Kalau kau mengulangi hal seperti tadi lagi, aku tidak peduli dengan rekaman itu ataupun kesepakatan kita."
Damian hanya menatapnya diam.
Sophia melanjutkan dengan tegas.
"Aku akan memberitahu semua orang kalau pertunangan ini hanya sandiwara."
Ancaman itu keluar tanpa ragu sedikit pun.
Damian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Sophia.
"Menarik."
Sophia langsung merasa kesal mendengar nada suaranya.
"Apa yang menarik?"
"Kau marah karena aku memelukmu."
Damian melangkah satu langkah mendekat.
"Tapi kau diam saja saat Arkan melakukannya."
Wajah Sophia langsung mengeras.
Untuk sesaat, ia benar-benar ingin melempar sesuatu ke kepala lelaki itu. Bagaimana mungkin Damian masih berani membandingkan dirinya dengan Arkan. Keduanya bahkan tidak berada di posisi yang sama.
Arkan adalah pria yang pernah menjadi kekasihnya.
Pria yang pernah mengisi sebagian besar hidupnya.
Sedangkan Damian?
Sophia bahkan masih sering bertanya-tanya kenapa lelaki itu terus muncul dan merecoki kehidupannya.
Kalau dipikir-pikir, fakta bahwa ia bersedia menjalani pertunangan palsu ini saja sudah merupakan sebuah keajaiban.
Karena itu, mendengar perkataan Damian barusan hanya membuat suasana hatinya semakin buruk.
Sementara Sophia masih sibuk menahan kekesalannya, Damian tiba-tiba kembali membuka suara.
"Apa kau tidak ingin tahu apa yang dibahas Arkan di dalam?"
Sophia mengernyit.
Damian melanjutkan.
"Pembicaraan yang membuat mereka akhirnya bercerai."
Mata Sophia bergerak sedikit.
Ada rasa penasaran yang muncul tanpa bisa ia cegah.
Bagaimanapun juga, perceraian Arkan dan Sintia terjadi terlalu mendadak. Mustahil jika ia mengatakan dirinya tidak penasaran sama sekali.
Sayangnya, rasa penasaran itu langsung kalah oleh kekesalannya pada Damian.
Sophia mendecakkan lidah.
"Aku tidak tertarik."
Setelah mengatakan itu, ia segera berbalik dan berjalan pergi.
Langkahnya cepat, seolah tidak ingin memberikan kesempatan bagi Damian untuk mengucapkan kalimat aneh lainnya.
Damian tidak mengejar.
Ia hanya berdiri di tempatnya sambil memandangi punggung wanita itu yang semakin menjauh.
Tatapannya mengikuti setiap langkah Sophia hingga sosok ramping itu menghilang di balik koridor.
Barulah setelah itu ia menundukkan kepala.
Pandangan Damian jatuh pada tangannya sendiri.
Tangan yang beberapa menit lalu masih mencengkeram pinggang Sophia.
Entah apa yang terlintas di pikirannya, tetapi perlahan senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Beberapa saat kemudian, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Lalu berjalan pergi dengan langkah santai, meninggalkan koridor yang kembali sunyi.
B E R S A N B U N G ....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! (✿ ♡‿♡)