NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 MOBIL KELUARGA

Pagi itu, sinar matahari baru saja menyentuh kaca jendela kamar Abdul ketika suara getaran ponsel di atas meja samping tempat tidurnya memecah keheningan.

Bzzzt...

Bzzzt...

Kelopak mata Abdul perlahan terbuka. Sisa-sisa mimpi tentang pusat rehabilitasi medis masih terasa begitu jelas di benaknya. Gedung putih yang megah, para pasien yang berlatih berjalan, dan terutama angka besar yang terpampang di layar digital.

Rp1.500.000.000.

Abdul mengusap wajahnya perlahan lalu meraih ponselnya.

Begitu layar terbuka, sebuah notifikasi SMS dari Bank Suka langsung menyambutnya.

[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp1.500.000.000,00. Saldo Akhir Anda: ....]

Abdul terdiam.

Meskipun fenomena ini sudah terjadi berkali-kali, ia tetap tidak pernah benar-benar terbiasa.

Nominal yang masuk selalu sama persis dengan apa yang muncul di dalam mimpinya.

Sampai sekarang logikanya masih tidak mampu menjelaskan hal tersebut.

Namun dibandingkan rasa heran, yang lebih mendominasi pikirannya saat ini justru rasa syukur.

Terutama setelah mendengar penjelasan dokter kemarin.

"Peluangnya masih ada."

Kalimat itu membuat hati Abdul terasa jauh lebih ringan.

Ia membuka aplikasi mobile banking.

Angka saldo yang muncul kini sudah mencapai jumlah yang bahkan tidak pernah berani ia bayangkan beberapa bulan lalu.

Namun anehnya, semakin besar uang yang dimilikinya, semakin kecil keinginannya untuk membeli barang-barang mewah.

Pikirannya justru langsung tertuju kepada satu orang.

Bapaknya.

"Kalau harus terapi tiga kali seminggu, nggak mungkin terus-terusan naik ambulans sewaan."

Abdul bergumam pelan.

Ia kemudian bangkit dari tempat tidur dan keluar menuju ruang keluarga.

Di sana, Bapak Abdul sudah duduk di kursi rodanya sambil menikmati secangkir teh hangat yang dibuatkan Ibu Abdul.

"Pagi, Pak."

"Pagi..."

"Pak, nanti siang kita keluar sebentar ya."

Bapak Abdul mengangkat alisnya.

"Keluar?"

"Iya. Ada urusan penting."

Pria tua itu hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut.

 

Setelah sarapan, Abdul menghubungi Rian dan Jaka untuk mengawasi operasional konveksi.

Sementara itu, ia mengajak kedua orang tuanya keluar menggunakan mobil sewaan yang selama ini dipakai sementara.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah dealer kendaraan yang cukup besar di pusat kota.

Ibu Abdul langsung terlihat bingung.

"Dul..."

"Iya, Bu?"

"Kita salah jalan ya?"

Abdul tersenyum.

"Nggak kok."

"Loh terus ngapain ke sini?"

Abdul tidak langsung menjawab.

Ia justru turun lebih dulu lalu membantu membuka pintu belakang untuk kursi roda bapaknya.

Beberapa staf dealer langsung datang membantu.

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam ruang pamer yang luas dan sejuk.

Deretan mobil baru berkilau di bawah cahaya lampu showroom.

Ibu Abdul tampak semakin bingung.

Sementara Bapak Abdul hanya memperhatikan sekeliling dengan tenang.

Seorang sales wanita mendekat dengan senyum profesional.

"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"

Abdul mengangguk.

"Saya mau cari mobil keluarga yang nyaman."

"Untuk berapa penumpang, Pak?"

"Yang penting nyaman untuk orang tua saya."

Kalimat itu membuat sales tersebut langsung memahami kebutuhan Abdul.

Ia kemudian memperlihatkan beberapa pilihan kendaraan keluarga.

Abdul mendengarkan dengan serius.

Bukan soal fitur hiburan.

Bukan soal kemewahan.

Yang ia tanyakan justru:

- kenyamanan suspensi,

- akses keluar masuk kursi roda,

- ruang kabin,

- keamanan perjalanan jauh.

Setelah hampir satu jam melihat berbagai pilihan, Abdul akhirnya berhenti di depan sebuah mobil keluarga berwarna hitam metalik.

Kabin luas.

Kursi nyaman.

Dan yang paling penting, sangat cocok untuk kebutuhan bapaknya.

"Yang ini aja."

Sales itu berkedip beberapa kali.

"Maaf Pak?"

"Saya ambil yang ini."

"Kalau boleh tahu pembayarannya bagaimana, Pak? Kredit atau..."

"Tunai."

Sales itu langsung terdiam selama beberapa detik.

 

Sementara proses administrasi berlangsung, Ibu Abdul menarik lengan anaknya perlahan.

"Dul..."

"Iya, Bu?"

"Ini mahal banget kan?"

Abdul tersenyum.

"Masih aman kok, Bu."

"Tapi..."

"Bu."

Abdul menggenggam tangan ibunya.

"Selama ini Bapak harus susah naik turun kendaraan. Kalau nanti terapi rutin, masa setiap minggu kita harus sewa ambulans terus?"

Ibu Abdul terdiam.

Air matanya mulai menggenang.

Ia tahu anaknya benar.

Namun jauh di dalam hatinya, ia masih sulit menerima kenyataan bahwa kehidupan mereka telah berubah sejauh ini.

 

Menjelang siang, seluruh proses pembelian selesai.

Sebuah pita merah besar masih terpasang di kap mobil baru tersebut ketika staf dealer menyerahkan kunci kendaraan kepada Abdul.

"Tolong dijaga baik-baik ya, Pak."

"Terima kasih."

Abdul menerima kunci itu sambil tersenyum.

Lalu ia berbalik.

Berjalan menuju kursi roda bapaknya.

Tanpa banyak bicara, Abdul meletakkan kunci tersebut di telapak tangan kiri sang bapak.

Pria tua itu menatap bingung.

"Dul?"

Abdul tersenyum.

"Pak."

"Iya?"

"Mulai hari ini kita nggak perlu sewa kendaraan lagi kalau mau berobat."

Bapak Abdul menatap kunci tersebut.

Lalu menatap mobil yang terparkir beberapa meter di depan mereka.

Kemudian kembali menatap Abdul.

Dengan suara yang pelan dan sedikit bergetar, ia bertanya:

"Mobil... siapa?"

Pertanyaan sederhana itu membuat dada Abdul langsung terasa sesak.

Untuk sesaat ia teringat rumah lama mereka.

Atap bocor.

Dinding kusam.

Obat-obatan yang dulu sering dibeli secara utang.

Semua kenangan itu berputar begitu cepat di kepalanya.

Abdul berjongkok di depan kursi roda bapaknya.

Lalu menjawab dengan suara yang juga mulai bergetar.

"Mobil keluarga kita, Pak."

Mata Bapak Abdul langsung memerah.

Tangannya yang masih berfungsi menggenggam kunci tersebut erat-erat.

Air mata perlahan mengalir di pipinya.

Tidak ada kata-kata yang keluar.

Namun Abdul bisa melihat semuanya dari tatapan mata itu.

Rasa syukur.

Rasa bangga.

Dan rasa bahagia yang selama bertahun-tahun tertahan.

Di samping mereka, Ibu Abdul juga sudah tidak mampu menahan tangis.

Ia memalingkan wajah sambil mengusap matanya berkali-kali.

Melihat kedua orang tuanya seperti itu, Abdul justru tersenyum.

Baginya, momen ini jauh lebih berharga dibandingkan angka miliaran yang terus masuk ke rekeningnya setiap subuh.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Ia bisa memberikan kenyamanan yang layak kepada kedua orang yang telah membesarkannya.

Dan itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

 

Sore harinya, mobil keluarga baru itu akhirnya terparkir rapi di halaman rumah.

Para tetangga sekitar yang melintas sesekali melirik dengan kagum.

Namun Abdul tidak terlalu memedulikannya.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, ia duduk sendirian di teras rumah sambil memandangi kendaraan tersebut.

Di dalam rumah, terdengar suara tawa kecil Ibu Abdul yang sedang berbicara dengan bapaknya.

Suara sederhana itu membuat hati Abdul terasa hangat.

Ia tidak tahu apa yang akan dibawakan sistem misterius itu besok subuh.

Ia juga tidak tahu sampai kapan keajaiban ini akan terus berlangsung.

Namun satu hal yang pasti.

Selama rezeki itu masih datang kepadanya...

Ia ingin memastikan bahwa setiap rupiahnya bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk tersenyum.

Dan malam itu, dengan hati yang jauh lebih tenang dari biasanya, Abdul kembali mempersiapkan dirinya untuk tidur.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!