Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Yang Tertahan
Ada perasaan aneh yang mulai menjalar, dan sialnya, bukan hanya perasaan saja yang tetapi tubuh Jevi mendadak seperti tersengat aliran listrik, kaku seakan tidak bisa digerakan.
Wajah itu, wajah yang sama seperti 2 tahun lalu, hanya saja sekarang terlihat semakin dewasa dan matang, bukan lagi wajah remaja tampan yang imut, tetapi laki-laki tampan yang siap dengan masa depan.
Bohong kalau Jevi tidak sependapat dengan teman-temannya seperti apa seorang Keandra sekarang. Keandra pantas dikagumi dari segi apapun. Dan Jevi memastikannya sendiri saat ini.
0,00 sekian persen seakan tidak berlaku lagi. Nyatanya Keandra benar-benar berada di depannya saat ini, sorot matanya pun masih sama seperti dulu, jika Jevi melihatnya dengan teliti, terselip kerinduan dari sorot mata itu.
"Maaf kak, boleh minta waktunya sebentar?"
Akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Jevi, terdengar sangat kaku dan penuh pertimbangan, tetapi jika orang lain yang mendengar, sudah pasti mengira jika Jevi gugup karena yang sedang ditanya adalah seorang Keandra. Mahasiswa yang menjabat sebagai ketua BEM sekarang.
Buset Kean ngeri banget, bakal ada penolakan lagi ini
Gio mengamati interaksi Keandra dan Jeviza. Bedanya maba itu sekarang menatap ke arah lain. Sementara Keandra tidak lepas dari gadis di depannya.
Tanpa menjawab sepatah kata. Keandra mengambil bolpoin dan kertas yang untuk menandatangani. Lalu menyerahkan lagi pada Jevi.
"Te-terimakasih kak."
Keandra mengangguk, melirik Januar yang berada di sebelahnya.
"Tanya ke dia, tentang saya."
Setelahnya Keandra pergi begitu saja. Membuat Jeviza kehabisan kata-katanya.
Apa yang ingin Jevi katakan mendadak hilang dari radar otaknya, berganti menjadi senyum miring dari Vio yang duduk tidak jauh dari mereka. Senyum lega dan mengejek yang Vio perlihatkan.
"Lah, gue?" Januar menunjuk dirinya. "Ck," decak Januar sedikit kesal.
"Udah nggak apa-apa Je, yang penting kita udah dapat tanda tangan kak Kean," bisik Sisil melihat kekecewaan dari Jeviza.
Jevi melirik Sisil sebentar, lalu beralih pada Januar.
"Boleh memangnya kak?" tanyanya sangat sopan.
"Boleh aja sih, tanya aja ke gue tentang Kean," ujar Januar tidak punya pilihan lain.
Keandra pergi ke tempat yang lebih sepi. Rasanya sangat berat untuk menahan agar tidak menarik Jeviza ke pelukannya.
Jakunnya naik turun, ingatannya masih tentang pertemuannya dengan gadis itu beberapa saat lalu.
Wajah dan orang yang sangat Kean rindukan.
Tangannya mengepal di saku almamaternya. Tubuhnya bersandar pada dinding ruangan kampus, matanya terpejam, pikirannya penuh dengan sosok gadis masa lalunya.
I miss
Batinnya penuh akan kerinduan.
Meski sempat mengalami hal yang tidak mengenakan, kelompok Jeviza berhasil mengumpulkan tugas dari panitia OSPEK, lebih beruntung lagi Januar mau dimintai tolong oleh Naura untuk menjadi kakak pembimbing atau pendamping kelompok mereka.
Dengan usulan Sisil yang mencoret nama salah satu kakak tingkat yang tadi sudah dimintai tanda tangan dan tanya jawab, diganti dengan meminta tanda tangan Januar.
"Udah dikumpulin?" tanya Januar diangguki mereka.
"Sudah kak," balas Jeviza tersenyum tipis, senyum ramah tanpa ada maksud lain.
"Oke, kalian kembali kumpul di aula, nanti saya nyusul," terang januar persis seperti kakak pembimbing yang sanga bertanggung jawab.
"Siap kak, terimakasih sebelumnya sudah mau jadi kakak pembimbing kelompok kita," ungkap Jevi diangguki Januar dengan santai.
"Santai, selagi kalian minta tanda tangan gue, siap aja gue." Januar merapihkan almamaternya dan melenggang pergi.
"Nggak nyangka, narsis banget gila." Sisil melihat kepergian Januar yang semakin jauh.
"Tapi mau bantu kan? Dari pada kak Kean, abis tanda tangan pergi gitu aja," celetuk Tevi langsung ditatap dramatis oleh Sisil.
"Tapi dia mau tanda tangan woy, lo nggak denger tadi kak Janu bilang apa? Semua yang dimintai tanda tangan kak Kean, ditolak semua, fix kelompok kita paling hoki."
"Setuju deh gue sama Sisil, ya biarpun sempet kecewa, tapi setidaknya masa depan gue masih mau tanda tangan," ungkap Naura membuat Sisil mendelik.
"Masa depan lo? mimpi aja, kak Kean jodoh gue ya?"
Keduanya merebutkan Keandra untuk menjadi pasangan hidup, berbeda dengan Tevi yang menggeleng pelan dan sadar diri tidak ingin terlalu memimpikan sosok Keandra yang sudah pasti susah untuk dimiliki.
Tevi melirik ke arah Jevi yang juga hampir sama seperti dirinya, tidak merebutkan sosok yang dielu-elukan itu.
"Jev? Lo nggak mau berebut kak Kean juga?"
Pertanyaan Tevi sukses membuat Jevi menoleh, menatap Tevi dengan pandangan aneh.
"Padahal lo lebih berpotensi buat dapetin kak Kean dari pada mereka," ujar Tevi jujur.
Sisil dan Naura menghentikan aksi merebutkan Keandra, menatap Tevi dengan tatapan horor.
"Tevi anying," umpat Sisil meremas pipi Tevi yang terlihat paling berisi di antara mereka.
Merebutkan Keandra?
Mereka tidak tahu saja kalau Jevi pernah memilikinya, menjadi gadis yang paling beruntung selama satu tahun di sekolah, sebelum akhirnya Jevi sadar, jika Kean tidak hanya menyukainya, tetapi juga menyukai teman sekelasnya.
Ah, sial.
Mengingat itu membuat dada Jevi merasakan sesak lagi. Ia lalu menatap Tevi dengan tatapan penuh percaya diri.
"Dia bukan tipe gue."
"Hah? Bego," jawab Sisil tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
...****************...
Hari ke dua OSPEK telah usai, tidak ada drama hukuman lagi meski kelompok Jevi kembali mendapat sindirian halus dari Vio karena hampir saja lupa meminta salah satu kakak tingkat untuk menjadi pembimbing kelompok.
Tetapi Jevi mendapat keberuntungan di hari ini, Arlo mengirim pesan akan menjemputnya, Laki-laki itu meminta Jevi untuk menunggu di halte depan kampus. Sementara dirinya akan menemui seseorang terlebih dahulu.
"Je, nggak mampir dulu ke kos kita?" tawar Sisil mendapat gelengan Jevi.
"Kapan-kapan aja deh Sil, masih anak baru gue harus baik-baikin kakak sepupu dulu," balas Jevi membuat Sisil tertawa mengejek.
"Tadi aja, ngang-ngong, ngang-ngong, sekarang lo ada brengsek-brengseknya juga ternyata."
"Enak aja, gue nggak separah kalian, tapi gue juga ngga sepolos itu," jelas Jevi diangguki Sisil.
"Ya udah kalau gitu, gue temenin sampai kakak lo dateng."
"Nggak usah Sil, lo mending balik aja, capek kan seharian ini sama kegiatan OSPEK?"
Sisil terdiam, lalu mengangguk setuju.
"Ya udah, gue tinggal ya? Baik-baik lo, kalau masih lama ke kos gue aja Je, pintu kamar kos gue selalu terbuka buat lo," ujar Sisil mulai melajukan motornya.
Gadis itu membawa motor untuk bisa sampai ke kosnya. Sebenarnya tidak terlalu jauh, jika berjalan kaki hanya memakan waktu 10 menit saja.
Jevi melambaikan tangannya, senyumnya tipis tetapi terlihat sangat tulus sekali, sebelum akhirnya senyum itu pudar melihat adanya seseorang.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!