"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan pertama ke menara wijaya
Kabar mengenai penempatan magang di kantor pusat Wijaya Group datang bagai petir di siang bolong bagi Aira. Ketika Dekan memanggilnya ke ruangan dan menyerahkan surat tugas resmi tersebut, Aira merasa seluruh badannya lemas. Dia mencoba meminta untuk dipindahkan ke perusahaan lain dengan alasan ingin mencari pengalaman di tempat yang lebih kecil, namun pihak kampus menolak dengan tegas, mengatakan bahwa ini adalah kehormatan besar yang tidak boleh ditolak karena nama baik universitas taruhannya.
Aira tidak punya pilihan. Dia terpaksa menerima keputusan tersebut dengan hati yang dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat.
Kini, usia kehamilan Aira telah memasuki bulan keempat. Beruntung bagi Aira, perawakannya yang kurus membuat pertumbuhan perutnya tidak terlalu mencolok bagi orang awam. Namun, tanda-tanda fisik itu tidak bisa dibohongi lagi. Perutnya mulai membuncit kecil, membentuk lengkungan halus yang menandakan adanya kehidupan di dalam sana.
Hari ini adalah hari kunjungan pertama sekaligus orientasi bagi beberapa mahasiswa terpilih yang akan memulai magang di Wijaya Group. Pagi-pagi sekali, Aira berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya dengan cemas.
Untuk menutupi perut buncit kehamilannya dari pandangan orang-orang, Aira dengan sengaja memilih pakaian yang tidak biasa dia kenakan. Dia memakai setelan kemeja kerja berwarna putih yang ukurannya sengaja dia pilih dua kali lebih besar dari ukuran aslinya (oversized), dipadukan dengan blazer hitam longgar yang panjangnya mencapai paha, serta rok kain bersiluet lebar yang tidak menekan bagian pinggangnya.
"Kamu pasti bisa, Aira. Jaga dedek bayi di dalam sana, jangan sampai ada yang tahu," bisik Aira sambil mengusap lembut perutnya di balik pakaian longgar itu sebelum melangkah keluar rumah.
Satu jam kemudian, Aira bersama dengan lima mahasiswa berprestasi lainnya telah berdiri di lobi megah Menara Wijaya. Gedung pencakar langit itu tampak begitu mewah dengan pilar-pilar marmer setinggi belasan meter dan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi. Suasana di dalam lobi sangat sibuk, dipenuhi oleh para pekerja kantoran dengan pakaian formal yang berjalan dengan langkah cepat.
Aira berjalan di barisan paling belakang kelompok mahasiswanya, mencoba untuk tidak menarik perhatian. Tangannya sesekali merapikan blazer longgarnya, memastikan lipatan kainnya menyembunyikan siluet perutnya dengan sempurna saat dia berjalan.
Seorang staf HRD menyambut mereka dan mulai memandu mereka mengelilingi beberapa lantai penting di gedung tersebut. Aira mendengarkan penjelasan staf tersebut dengan setengah hati. Pikirannya sepenuhnya terfokus pada satu hal: Apakah dia akan bertemu dengan Rayyan Wijaya hari ini?
Ketakutan Aira semakin memuncak ketika lift yang mereka tumpangi bergerak naik menuju lantai-lantai atas untuk melihat divisi kerja utama. Setiap kali lift berhenti, jantung Aira berdegup kencang, takut jika pintu terbuka dan menampilkan sosok pria tegap berusia 32 tahun yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi malamnya itu.
"Nah, sekarang kita berada di lantai 35, ini adalah area penghubung antara divisi eksekutif dan ruang rapat utama," jelas staf HRD yang memandu mereka sambil berjalan menyusuri koridor berkarpet tebal yang sangat sunyi dan mewah.
Aira berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, memegangi map dokumen di depan perutnya sebagai pelindung tambahan. Namun, tepat saat kelompok mereka berbelok di ujung koridor, suasana yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi sangat tegang.
Pintu ganda ruang rapat besar di ujung lorong terbuka lebar. Dari dalam sana, melangkah keluar rombongan pria dengan setelan jas mahal, dipimpin oleh seorang pria tegap yang auranya langsung mendominasi seluruh ruangan.
Pria itu adalah Rayyan Wijaya.
Aura kepemimpinan yang dingin dan mutlak memancar dari setiap langkah kakinya. Dia sedang berbicara dengan nada rendah yang tegas kepada beberapa direktur di sampingnya, sementara asisten pribadinya berjalan setengah langkah di belakangnya sambil memegang komputer tablet.
Melihat sosok tersebut, Aira seketika menghentikan langkahnya. Seluruh tubuhnya mendadak kaku bagai es, dan napasnya tercekat di tenggorokan.