NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Hadiah Perkenalan

Sejak membaca puisi Dira, mata Faza susah lepas dari perempuan itu. Bahkan, saat jam istirahat Faza terang-terangan memandang Dira. 

“Kenapa dia masih berada di kelas? Bukankah seharusnya dia ke kantin?” gerutu Dira kurang nyaman berada satu kelas dengan Faza. 

Bayang-bayang Faza melihat dirinya tanpa kerudung. Jelas membuat Dira mencoba menghindari Faza. 

Niat hati ingin marah pada Faza langsung lenyap. Berganti rasa malu disertai detak jantung gak karuan. 

“Sepertinya aku harus memakan bekalku di taman saja. Sebagai upaya mengantisipasi kesehatan jantungku.” 

Dalam keadaan buru-buru Dira berdiri dari tempat duduknya menuju keluar kelas sambil membawa bekal. Namun, belum juga sampai pintu, langkah kakinya terhenti saat menyadari sesuatu. 

“Oh iya, aku harus ngomong sesuatu ke dia. Mumpung tidak ada orang di kelas.” 

Dira mencoba menekan rasa malunya. Ia berjalan perlahan menuju bangku Faza. Meskipun pandangan matanya merasa enggan menatap laki-laki itu. 

Faza yang sejak masuk kelas hingga sekarang pandangan matanya tidak lepas dari Dira. Kini sudut bibirnya terangkat sedikit melihat tingkah laku lucu Dira. 

“Dasar bocah,” gumam Faza sengaja terus melihat Dira yang terus menunduk. 

“Berapa?” tanya cepat Dira ke Faza tanpa melihat ke lawan bicaranya. 

Mendapat pertanyaan tanpa melihat lawan bicara. Jelas Faza enggan menanggapi pertanyaan Dira. 

“Berapa biayanya?” Dira mengulangi ucapannya sambil menahan rasa kesal. 

Tampak jelas dari hembusan nafas, serta hentakan kaki beberapa kali. 

“Aku tanya padamu berapa? Kenapa diam saja?” 

Melihat rasa kesal tergambar jelas pada wajah perempuan cantik di hadapannya. Membuat Faza memiliki kesempatan untuk menggodanya.

“Kamu sedang mencoba menawarku?”

“Eh, bukan itu maksudku,” jawab cepat Dira gugup.

Karena kata-kata pancingan yang diberikan oleh Faza. Ternyata berhasil membuat Dira menatap langsung ke arahnya.

“Terus maksud dari ucapanmu apa?” tanya Faza sambil menaikkan intonasi serta senyum di sudut bibirnya. 

“Habis berapa untuk mengganti rantai sepedaku? Aku akan menggantinya.” 

“Tidak perlu, sudah aku bayar.” 

“Jangan, izinkan aku membayarnya,” tolak Dira cepat. 

Jelas Dira tidak ingin memiliki hutang budi terhadap Faza. Karena hal itu jelas membuat Dira merasa kurang nyaman. 

“Beneran kamu ingin membayar semua biayanya?” 

“Iya, habis berapa? Cepat katakan padaku!” tanya cepat Dira agar masalahnya dengan Faza cepat selesai. 

Sebab, sudut mata Dira menangkap keberadaan seseorang yang intens mengawasinya. 

“800 ribu rupiah.” 

“Apa?” 

“Apakah kamu memiliki masalah pendengaran?” 

“Aku hanya kurang jelas saja. Habis berapa? Coba ulangi sekali lagi!” pinta Dira deg-degan takut jika pendengarannya tentang harga rantai sepeda benar. 

“800 ribu rupiah.” 

“Kenapa mahal sekali? Biasanya aku tidak lebih dari 100 ribu rupiah. Itu pun juga sudah lumayan bagus.” 

“Jelas harganya mahal. Karena sepedamu itu seharusnya sudah dimuseumkan.” 

Dira langsung cemberut mendengar penuturan Faza. 

“Asal kamu tahu saja onderdilnya sudah busuk semua. Mulai dari ban, velg, rantai, dan lain-lain. Itu pun juga sudah paling murah. Memangnya kamu tidak merasa jika ayunan sepedamu jauh lebih ringan dari sebelumnya?” 

“Iya sih,” jawab Dira kembali menundukkan kepalanya menahan malu. 

“Jadi bagaimana, kamu jadi bayar atau tidak? Yang jelas aku tidak pernah memintamu untuk membayarnya.” 

“Aku cicil saja.” 

“Terserah kamu.” 

“Karena biaya ke bengkel mahal. Jadi, aku cicil tiap bulan 100 ribu rupiah. Bagaimana?” 

“Aku bilang terserah kamu.” 

“Ini uangnya.” 

Dengan rasa lemas yang mendera saat tahu biaya bengkel 800 ribu rupiah. Dira memberikan uang 100 ribu miliknya kepada Faza. Jelas membuat Dira harus menyisihkan uang jajannya yang tak seberapa untuk mencicil biaya bengkel sepeda. 

Raut wajah sedih yang ditunjukkan oleh Dira. Membuat Faza tidak tega. Lagipula awalnya memang masalah rantai saja. Untuk masalah mengganti ban serta yang lainnya justru inisiatif dari Faza sendiri. 

“Kamu bayar 100 ribu rupiah saja,” ucap cepat Faza sambil menarik uang yang diberikan oleh Dira. 

“Kenapa? Aku bisa membayar...” 

“Karena service hingga mengganti ban serta lainnya inisiatif dari aku bukan kamu. Jadi, kamu tidak perlu membayar sisanya. Anggap saja apa yang aku lakukan hadiah dari perkenalan kita.” 

“Perkenalkan?” gumam Dira kurang paham arah pembicaraan Faza. 

Tanpa menunggu tanggapan dari Dira. Faza langsung berlalu keluar kelas meninggalkan Dira. Namun, saat akan mendekati pintu. Langkah kaki Faza terhenti seperti akan mengutarakan sesuatu. 

“Maaf untuk kejadian tadi subuh. Aku benar-benar menyesalinya. Makanlah bekalmu di dalam kelas. Biar aku saja yang keluar.” 

Faza yang menyadari ketidaknyamanan Dira saat berada satu ruangan tanpa adanya orang lain bersama dengannya. Jelas Faza memilih keluar kelas agar Dira bisa menikmati makanannya tanpa ada rasa canggung antara keduanya. 

Topik obrolan antara Dira dan Faza jelas akan menimbulkan pertanyaan setiap orang yang mendengar. Termasuk sosok perempuan yang saat ini tengah mengepal kuat menahan rasa kesal. 

“Kenapa Mami lama sekali bertindak? Aku benar-benar sudah tidak sabar melihat wajahnya yang songong itu tertekan,” gerutu Sisil. 

“Sepertinya aku harus secepatnya menghubungi Mami untuk membungkam perempuan centil dan sok kecantikan itu agar tidak dekat-dekat dengan Fazaku. Tingkah lakunya benar-benar sangat liar hingga membuatku ingin muntah.” 

Dalam keadaan marah hingga hampir meledak. Sisil menghubungi maminya untuk memberikan peringatan keras kepada Dira. Sesuai dengan kedatangan sang mami yang dengan sengaja meluangkan waktu untuk mengantarnya disela-sela kesibukan jalan-jalan ke luar negeri. 

“Iya, ada apa sayang? Apakah ada yang bisa Mami lakukan untuk…?”

“Mami cepat bertindak, kasih pelajaran perempuan liar itu! Dia benar-benar ingin membuatku muntah saat ini juga.”

“Sayang tolong sabar sebentar! Si Panda itu belum keluar. Dia bisa menggagalkan rencana kita.” 

“Kenapa Mami takut sama dia? Memangnya dia itu siapa?” geram Sisil sambil menggigit kukunya. 

“Bukankah Mami sudah sering menjelaskan padamu. Jika keluarga si Panda sialan itu memiliki aset di tempat belajar,” jelas Mami Sisil. 

“Keluarganya memiliki pengaruh cukup kuat dibandingkan papimu. Tolong bersabarlah sampai dia keluar. Agar rencana kita memberikan pelajaran ke perempuan miskin itu berhasil,” lanjut Mami Sisil. 

“Aku harus menunggu sampai kapan? Asal Mami tahu saja jika dia secara terang-terangan menggoda laki-laki yang menjadi crush ku. Dia sudah mendekati sampai ke titik pertemuan.” 

“Sayang, Mami mohon padamu agar ….” 

“Bukankah Mami akan terbang ke Eropa buat belanja dan juga jalan-jalan? Jadi, jangan minta aku untuk bersabar. Kalau Mami tidak bertindak saat ini juga. Jangan salahkan aku tidak ingin menyediakan barang dagangan untuk Mami. Aku pun juga bisa membongkar kelakuan Mami ke Papi.” 

“Baiklah jika memang hal itu yang kamu inginkan. Mami akan menuruti keinginan putri cantik Mami. Tolong tetap sediakan barang barang dagangan untuk customer Mami, dan jangan pernah cerita apapun ke Papimu.” 

“Aku tunggu kabar baiknya.”

Tanpa menunggu tanggapan dari Maminya. Sisil langsung mengakhiri panggilan teleponnya. Dengan wajah merah padam Sisil menuju ke kamar mandi untuk meluapkan kekesalannya mulai sejak pagi. 

“Bisa-bisanya perempuan miskin sepertimu melawanku. Aku pastikan kamu menyesal,” geram Sisil sambil melihat wajahnya di cermin.

Sesuai dengan permintaan Sisil, Wilona langsung menuju ke ruang kepala sekolah untuk bisa menemui Dira tanpa harus bertemu dengan Miss Panda. 

Tentu saja Wilona yang merupakan ibu dari Sisil mengendap-endap selayaknya maling untuk menghindari Miss Panda. Karena Miss Panda merupakan satu-satunya tenaga pengajar yang tidak bisa diintervensi Sisil beserta keluarganya.

Bahkan, Wilona harus menunggu paling gak 10 menit agar lolos dari keberadaan Miss Panda. 

“Tolong bantu saya agar Sisil bisa lolos dan diterima di universitas yang diinginkan. Apapun yang Anda inginkan akan saya berikan,” ucap Wilona agar keinginan berjalan lancar setelah berhasil masuk ke ruangan.

“Benarkah Anda akan memberikan apapun yang saya minta?” tanya sosok laki-laki dengan mata jelalatan terus mengawasi Wilona yang tampak sangat menawan dan menggoda. 

“Benar.” 

“Anda tahu apa yang saya mau, Nyonya.” 

“Dan Anda tahu harga saya, Pak Husni. Dan Anda tahu saya tidak pernah ingkar janji,” tutur Wilona dengan sudut bibir terangkat. 

“Saya menginginkan lagi.” 

Ya, karena pejabat tidak bermoral inilah. Dira pernah mendapatkan tekanan agar mengalah pada Sisil. Membuat Dira gagal menjadi wakil di perlombaan tingkat provinsi hingga hampir beasiswanya dicabut. 

“Kalau Anda menginginkan lagi. Tolong pertemukan aku kembali pada sosok yang dulu pernah melancarkan keinginan putriku tercapai.” 

“Baiklah, Nyonya, saya akan memanggil Dira untuk menemui Anda saat ini juga.” 

“Tolong jangan sampai Miss Panda tahu tentang hal ini.” 

“Tenang saja, Nyonya. Saya akan melakukan dengan sangat rapi seperti dulu. Karena saya juga tidak ingin berhubungan dengan keluarga donatur terbesar itu, yang akan menjadi masalah di kemudian hari.” 

Laki-laki tak bermoral yang ada di hadapan Wilona dengan cepat menghubungi orang kepercayaannya. Tujuannya jelas meminta Dira menghadap. Tentu saja setelah jam pelajaran Miss Panda selesai. 

“Dira.” 

“Iya, Bu.” 

“Dipanggil Pak Husni ke ruangan beliau sekarang juga.” 

“Baik, Bu.” 

Senyum di sudut bibir Sisil terangkat saat tahu jika rencananya akan segera berjalan sesuai harapan. 

Karena rencana sebelumnya berjalan dengan lancar tanpa diketahui oleh orang lain. Tentu saja Sisil percaya diri jika Dira akan mengikuti segala keinginannya. 

“Perempuan penggoda sepertimu memang tempat terbaik adalah tong sampah. Bisa-bisanya perempuan miskin dan tidak tahu malu sepertimu bersaing denganku. Maka, bersiaplah untuk hancur.” 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!