NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Langkahnya berhenti tepat di depan sebuah ruang kerja besar dengan pintu kaca otomatis. Di depan pintu itu tertulis: CEO OFFICE — KANG JI HOON

Park Min-jae menarik napas singkat sebelum mengetuk panel samping dan masuk.

“Permisi, Presiden Direktur.”

Di dalam ruangan itu, seorang pria sedang berdiri di depan jendela besar dari lantai ke langit-langit. Tangannya memegang cangkir kopi hitam yang uapnya masih tipis naik ke udara. Ia tidak langsung menoleh. Dari belakang saja, aura pria itu sudah terasa berbeda. Tegas, tenang dan sulit didekati. Langit Seoul di belakangnya perlahan berubah warna, dari biru ke jingga keemasan, menciptakan siluet sempurna di balik sosoknya.

Kang Ji Hoon.

Saat ini ia mengenakan setelan jas hitam gelap dengan potongan yang sangat presisi, membuat tubuhnya terlihat proporsional dan kuat tanpa berlebihan. Kemeja putihnya tampak rapi tanpa satu kerutan pun, kancing atasnya terbuka sedikit, memberi kesan santai tapi tetap berwibawa. Di sisi dada jasnya tersemat bros berbentuk phoenix emas—simbol yang sering diasosiasikan dengan kebangkitan dan dominasi. Di pergelangan tangannya, jam tangan mewah berwarna gelap terlihat jelas, berkilau samar terkena cahaya matahari yang mulai redup.

Rambutnya tertata rapi ke belakang, hitam pekat, dengan sedikit volume alami yang membuatnya terlihat semakin tajam. Dan ketika ia akhirnya menoleh sedikit, terlihat jelas wajahnya yang tegas—garis rahang yang kuat, tatapan mata yang dingin namun tenang, serta kacamata tipis berbingkai metal yang menambah kesan intelektual sekaligus berbahaya. Tatapan itu tidak terburu-buru seolah dunia tidak pernah membuatnya panik.

“Presdir,” panggil Park Min-jae sekali lagi, lebih hati-hati.

Kang Ji Hoon akhirnya menoleh sepenuhnya.

Gerakannya pelan dan terukur. Matanya langsung tertuju pada asistennya tanpa perlu ekspresi berlebihan. Tidak ada pertanyaan terburu-buru, tidak ada rasa ingin tahu yang gelisah. Hanya perhatian yang tenang tapi berat.

“Ada apa,” suaranya rendah, stabil, tanpa tekanan emosional.

Park Min-jae sedikit membungkuk lebih dalam sebelum membuka tabletnya.

“Saya ingin memberitahu bahwa kita mendapat email masuk dari Indonesia, Pak. Dari perusahaan Winata Group.”

Nama itu membuat udara di ruangan terasa sedikit berubah. Tidak drastis tapi cukup untuk membuat fokus Kang Ji Hoon sedikit lebih tajam dari sebelumnya. Park Min-jae melanjutkan perkataannya dengan cepat. “Mereka menyatakan ketertarikan untuk menjalin kerja sama strategis. Pengirimnya langsung dari pimpinan Rendra Winata.”

Suasana terasa hening untuk beberapa detik. Kang Ji Hoon tidak langsung bereaksi. Ia hanya memutar pelan cangkir kopinya, menatap cairan hitam di dalamnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak perlu diucapkan. Lalu pelan, ia berkata:

“Winata Group…”

Suaranya rendah, hampir seperti mengulang nama itu di kepalanya sendiri dan membuat Park Min-jae mengangguk.

“Ya, Pak. Dan dari analisa awal, ini bukan kerja sama kecil. Mereka membuka peluang investasi lintas sektor, termasuk ekspansi internasional.”

Kang Ji Hoon tidak menjawab langsung. Ia justru berbalik lagi ke arah jendela besar. Pemandangan Seoul di luar sana terlihat seperti dunia yang tidak pernah berhenti berkembang. Lampu-lampu kota mulai menyala lebih terang, seperti urat kehidupan yang terus bergerak tanpa jeda.

“Menarik,” ucapnya akhirnya, pelan.

Satu kata saja tapi cukup membuat ruangan itu terasa lebih berat. Park Min-jae segera melanjutkan.

“Apa perlu saya jadwalkan pertemuan awal, Pak?”

Kang Ji Hoon meneguk kopinya sekali lagi sebelum menjawab. Gerakannya pelan, terukur, seolah tidak ada satu pun keputusan di dunia ini yang perlu dilakukan dengan tergesa-gesa. Setelah itu barulah ia berbicara.

“Jangan terlalu terburu-buru.”

Suara Kang Ji Hoon tetap tenang, rendah, tapi ada tekanan halus di dalamnya yang membuat Park Min-jae langsung mengangguk kecil.

“Baik, Presdir.”

Park Min-jae tidak berani langsung melanjutkan pembicaraan. Ia tahu, jika Kang Ji Hoon berkata “jangan terburu-buru”, itu bukan berarti ditolak. Itu berarti sedang diamati dan dipertimbangkan lebih dalam dari sekadar proposal bisnis biasa. Kang Ji Hoon akhirnya berbalik perlahan dari jendela. Tatapannya jatuh pada asistennya.

“Beritahu aku satu hal dulu,” ucapnya datar yang membuat Park Min-jae langsung menegakkan tubuh.

“Silakan, Pak.”

“Benarkah Winata Group sekarang sedang ramai dibicarakan di kalangan bisnis Indonesia?”

Pertanyaan itu sederhana tapi cara Kang Ji Hoon mengucapkannya membuatnya terasa seperti pemeriksaan awal sebelum sebuah keputusan besar. Park Min-jae langsung mengangguk.

“Benar, Pak.” Ia membuka tabletnya dengan cepat, seolah sudah menyiapkan informasi itu sebelumnya. “Dalam beberapa hari terakhir, nama Winata Group menjadi sorotan di media bisnis Indonesia. Terutama setelah mereka secara mendadak menghentikan semua bentuk kerja sama dan suntikan dana ke Mahendra Corporation.”

Kang Ji Hoon tidak bereaksi. Tapi tatapannya sedikit mengeras.

“Alasannya?”

Park Min-jae sedikit berhenti, lalu melanjutkan perkataannya dengan hati-hati.

“Skandal internal, Pak.”

Kang Ji Hoon hanya menatapnya, menunggu lanjutannya dan itu cukup untuk membuat Park Min-jae langsung melanjutkan kembali perkataannya.

“Menurut laporan yang beredar, penghentian kerja sama itu dipicu oleh konflik rumah tangga antara pihak Mahendra dan pihak Winata.”

Kang Ji Hoon sedikit mengangkat alisnya dengan tipis.

“Rumah tangga?”

“Ya, Pak.”

Park Min-jae menarik napas sebelum menjelaskan lebih detail.

“Putri dari pemilik Winata Group, Nona Kanisha, diketahui menikah dengan pewaris Mahendra Corporation, Arven Mahendra.” Nama itu masuk satu per satu, seperti potongan puzzle yang baru mulai tersusun di udara. Kang Ji Hoon tidak memotong tapi matanya jelas lebih fokus mencaritahu apa yang terjadi diantara kedua perusahaan itu. Park Min-jae melanjutkan. “Namun pernikahan tersebut berakhir dalam konflik besar setelah terungkapnya perselingkuhan yang dilakukan oleh Arven Mahendra.”

Kang Ji Hoon memutar pelan cincin jam di pergelangan tangannya. Gerakan kecil, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia sedang memproses informasi itu.

“Perselingkuhan,” ulangnya pelan, seolah menguji kata itu di pikirannya sendiri.

“Ya, Pak,” jawab Min-jae cepat. “Dan setelah kejadian itu, Nona Kanisha kembali ke keluarganya di Winata Group.”

Kang Ji Hoon tidak langsung bereaksi namun ada perubahan kecil pada ekspresinya. Sangat halus dan hampir tidak terlihat oleh orang biasa. Min-jae melanjutkan lagi, karena ia tahu informasi ini belum selesai.

“Dan bukan hanya itu, Pak. Sebelum menikah, Nona Kanisha bukan hanya putri pemilik perusahaan. Dia juga memegang peran penting di Winata Group.” Kang Ji Hoon terdiam. “Berdasarkan data yang kami kumpulkan, ia sempat dipercaya langsung oleh ayahnya, Rendra Winata untuk membantu mengelola perusahaan di level eksekutif. Bahkan beberapa divisi utama berkembang pesat di bawah pengaruh strateginya.” Ia menatap layar tabletnya sebentar, lalu menambahkan, “Beberapa analis menyebutkan bahwa di masa itu, nama Winata Group mulai naik signifikan karena kombinasi kepemimpinan Rendra Winata dan kemampuan bisnis Nona Kanisha.”

1
Anonim
BUNUH
Noey Aprilia
Ksih visual dong kk....
aku bs byangin sndri sih,tp ttp aja pnsran....😁😁😁....
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: siap kak kapan kapan aku spill visualnya
total 1 replies
partini
author nya pencinta Drakor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: ketahuan ya kak🤣🤣🤣
total 1 replies
Rain Aricia
Bagus banget sih ini, emosinya dapat. Mc nya gak menye2 dan langsung gerak🤩
Rain Aricia
Papanya aku suka, langsung gercep
Rain Aricia
Malu lah ya, masa jadi laki2 ga punya duit, mana dia selingkuh pake duit istrinya. Kocak kali dua sejoli ini🤣
Rain Aricia
Memang gilanya Arven itu, orang2 kayak gitu emang merasa ga ada dosa sih
Rain Aricia
Biasalah pa, ulahnya si lelaki tak tau diri itu
partini
si kamfreeet belum juga sadar
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
Noey Aprilia: sama2.....smnggtt...😘😘😘
total 2 replies
Suhadi Mulyo
The best 👍👍👍👍👍👍👍

dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih banyak kak 🙏😍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
mampus
Suhadi Mulyo
alasannya itu Mulu kamu ven
Suhadi Mulyo
teruskan pak, buat mereka sadar dan tahu diri kl perlu.
Suhadi Mulyo
menantu apanya? anaknya sendiri selingkuh masa bapaknya nggak tahu
Suhadi Mulyo
kata siapa keluarga? udah enggak ya, sorry nih 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
tanya saja sama anakmu, pak.
Suhadi Mulyo
dengerin, makanya jadi orang itu yang punya sedikit rasa syukur, udah dikasih bantuan plus istri cantik malah banyak tingkah 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
cowok selingkuh bermuka tebal🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
makanya jadi cowok tu jangan kebanyakan polah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!