Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran Baru 17
Keberangkatan Hajoon menuju ke Korea sama sekali tidak bisa dihindari. Dia harus menyelesaikan masalah yang ada di sana secara langsung karena pada hakikatnya dia adalah pimpinan.
Meski Hajoon menunjuk salah satu orang sebagai direktur utama, namun tetap saja campur tangannya sangat diperlukan sebagai CEO sekaligus Founder.
"Ras, sebenarnya aku agak khawatir meninggalkan kamu sendirian. Apalagi kamu baru aja masuk ke rumah itu,"ucap Hajoon saat hendak berpamitan kepada Laras untuk pergi ke Korea. Bukan tanpa alasan dia khawatir. Mengingat bagaimana sayatan di pergelangan tangan Laras yang masih terlihat jelas itu.
"Aku udah baik-baik aja, Bang. Aku beneran udah siap buat datang ke rumah itu dan merawat anak aku,"jawab Laras sambil menerbitkan senyuman.
Saat ini Laras memang lebih dari siap untuk pergi ke sana besok. Besok dia akan tinggal lebih lama untuk bersama dengan anaknya. Meski sebenarnya Laras ingin bersama Baby El selama 24 jam, tapi sekarang dia harus puas dengan pencapaian ini lebih dulu.
Hajoon paham, dia juga ikut senang jika laras memang merasa demikian. Tapi meskipun begitu, Hajoon tetap saja khawatir.
Kemarin ketika pergi ke kediaman Adiguna, Laras mengenakan make-up. Dimana hal itu cukup mengganggu bagi Hajoon.
Bukan soal tampilan Laras, akan tetapi produk yang digunakan Laras tersebut tak semuanya aman digunakan oleh seroang ibu menyusui. Terlebih jika Laras akan tinggal selama seharian di kediaman tersebut, pastilah akan ada waktu bagi Laras untuk menghapus make-upnya dan sangat menguras waktu untuk kembali bermake-up.
Inilah yang jadi perhatian Hajoon. Dia khawatir Laras akan cepat ketahuannya.
"Ras, ini soal make-up. Aku agak ngeri kalau mantan kamu itu bisa ngenalin wajah kamu lebih cepet dari yang kita duga. Kamu kan pasti bakalan kringetan, bakalan wudhu juga kalau mau sholat. Nah aku takut banget penyamaran kamu kebongkar." Hajoon langsung mengutarakan kekhawatirannya secara terbuka. Dia akan pergi besok, jadi harus mengatakan hal yang sedari tadi dipikirkannya.
"Bener juga ya, Bang. Aku malah nggak kepikiran sampai sana. Aku terlalu seneng ketemu sama Baby El sampai-sampai aku lupa soal itu. Ehm ... gimana ya enaknya?"sahut Laras.
Keduanya yang saat ini duduk di taman samping kediaman Brajamusti sama-sama terdiam. Tatapan Laras dan Hajoon, lurus ke depan melihat lampu taman yang menerangi taman di malam hari.
Sama-sama mencari jalan keluar dari kegelisahan yang dirasakan dan juga ketakutan akan terbongkarnya penyamaran.
Meski ini masih awal, akan tetapi Hajoon merasa bahwa harus dipersiapkan dan dipikirkan agar tidak menganggu rencana kedepannya.
"Ah Ras, aku punya ide. Nih maap ya bukannya mau mempermainkan sesuatu. Tapi kita emang butuh ini agar kamu selalu aman bersama Baby El di kediaman mantan suami mu itu,"ucap Hajoon tiba-tiba. Agaknya pria tersebut sudah menemukan jalan keluar dari apa yang tengah dipikirkannya.
"Apa itu Bang, coba katakan dulu. Siapa tahu ide Abang bisa jadi jalan yang terbaik buat aku,"jawab Laras penasaran.
"Cadar, kamu pakai cadar aja. Kemarin kamu datang pake jilbab besar kan? Nah lengkapi aja pake cadar sekalian. Alih-alih pake masker, pasti mereka akan memintamu buat nglepas itu masker pas saat-saat tertentu. Tapi kalau cadar, mereka nggak akan berani buat nglepas cadar kamu. Kata Eomma, Reza belum lihat kamu kan? Jadi aman. Kamu bisa pake dalih tidak ingin terlihat oleh pria yang bukan mahrom kamu. Gimana?"
Aaah
Laras lansgung paham dengan apa yang dikatakan oleh Hajoon. Dia tidak menyangka bahwa Hajoon memiliki ide seperti itu.
Seperti yang dikatakan Hajoon sebelumnya bahwa dia tidak bermaksud mempermainkan sesuatu dan di sini adalah cadar. Saat ini pria itu hanya berusaha untuk membantu dan menjaga Laras.
Make-up memang sebuah jalan keluar pertama, namun itu akan membahayakan bagi baby El, karena make up yang digunakan tak semuanya aman untuk ibu menyusui. Sedangkan Laras membutuhkan riasan yang komplek untuk menyamarkan wajahnya. Lalu operasi plastik, jelas Hajoon tidak ingin menyarankan hal tersebut. Itu adalah tindakan mengubah ciptaan Tuhan dimana dosanya tidak berani ditanggungnya.
Maka jalan keluarnya adalah menutupi wajah Laras dengan cadar, sehingga hanya mata saja yang terlihat bagi orang lain.
"Gimana Ras, apa kamu setuju sama ide aku?" tanya Hajoon dengan hati-hati. Saat ini hanya ide itu yang terlintas di kepala Hajoon. Ia sungguh merasa sangat khawatir dengan Laras terlebih besok dia akan pergi ke Korea entah untuk berapa lama.
"Aku setuju, Bang. Tapi jam segini mau nyari dimana coba cadarnya?" sahut Laras.
Hajoon tersenyum. Bukan hal yang sulit untuk melakukan itu. Dia hanya tinggal menghubungi asisten pribadinya untuk mencarikan cadar yang dibutuhkan.
Dan tanpa menunggu sampai besok, bahkan hanya selang satu jam dari perintah yang Hajoon turunkan, Adli sudah datang ke kediaman Brajamusti membawa cadar dengan berbagai warna.
"I-ini Bos, udah kan?" ucap Adli sambil menyerahkan barang yang diminta atasannya. Nafas pria itu terengah-engah, seolah baru saja lari marathon sejauh berkilo-kilo meter.
"Wuiiih mantab. Gercep sekali anak buahku ini. Sip, tenang aja besok aku kasih bonus," jawab Hajoon dengan tawa khas bos yang menyiksa anak buahnya.
Hahaha
Adli pun ikut tertawa, bukan tertawa senang melainkan tertawa penuh kepahitan. Dia tahu menjadi asisten Hajoon termasuk berat. Apalagi Hajoon mengepalai dua perusahaan sekaligus. Namun itu memang sepadan dengan gaji yang diterimanya.
Maka dari itu jika akan mengeluh, Adli selalu ingat saldo rekeningnya.
"Maaf Pak Adli. Anda jadi kesulitan karena saya,"ucap Laras yang merasa tidak enak. Dia diberitahu siapa Adli dan apa posisi Adli di sisi Hajoon. Ketika melihat wajah Adli yang tampak kelelahan, dia merasa sangat tidak enak terhadap pria tersebut.
"Oh tenang aja Mbak Laras, nggak usah minta maaf ya. Ini sudah jadi pekerjaan saya. Asalah Bos senang, maka semua aman hahaha,"jawab Adli dengan tawa getirnya.
Padahal dia tengah menyiapkan apa saja yang dibutuhkan di negeri gingseng. Akan tetapi panggilan dadakan masuk ke ponselnya. Melihat siapa yang menghubunginya saja sudah membuat Adli tahu bahwa tugas dadakan akan didapatkannya.
Jadi setiap ada panggilan dengan nama 'BOS" Adli bahkan sudah langsung meraup kunci motor atau mobilnya dan bersiap meluncur kemana pun perintah diturunkan.
"Terimakasih ya," ucap Laras sekali lagi.
"Iya Mbak, sama-sama. Senang bisa membantu. Nah Hyung Bos, pamit dulu ya. Masih banyak yang perlu disiapkan buat pergi besok."
"Hmmm."
Adli bergegas pergi, dan melakukan pekerjaannya yang lain. Sedangkan Hajoon dia memberikan cadar-cadar itu kepada Laras.
"Aku harap kamu baik-baik aja selama aku pergi ya, Ras. Kalau ada apa-apa bilang sama Eomma atau Appa. Dan berhati-hati lah di sana."
"Iya Bang, makasih. Akau akan hati-hati."
TBC