Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Teratai Di Atas Abu
Bab 6 — Kitab Teratai Langit
“Duduklah, anakku...” suara kuno itu kembali terdengar, bergema lembut di seluruh ruangan yang dipenuhi bunga teratai hitam dan putih itu. Tanpa sadar, kaki Lian Hua melangkah maju, mendekati titik pertemuan di tengah kolam, tempat di mana bunga putih dan hitam tumbuh berhadapan namun tak pernah bersentuhan.
Di sana, melayang perlahan selembar gulungan kain tua berwarna keemasan, dihiasi ukiran bunga teratai yang sama persis dengan yang ada di liontinnya. Gulungan itu memancarkan cahaya lembut, seolah bernyawa sendiri, dan perlahan terbuka sendirian di hadapan Lian Hua. Tertulis di sana empat kata besar, ditulis dengan tinta yang berkilauan: Seni Teratai Langit.
“Ini adalah warisan tertinggi leluhurmu, teknik yang menjadi dasar berdirinya Klan Teratai Suci ribuan tahun silam,” suara itu bercerita perlahan, penuh wibawa. “Teknik ini bukan sekadar cara mengumpulkan dan menggerakkan tenaga dalam seperti yang dipelajari orang lain. Seni ini berlandaskan prinsip teratai: tumbuh dari lumpur, bangkit dari kehancuran, dan mekar kembali lebih indah dari sebelumnya. Ia diciptakan khusus untuk mereka yang jalannya terhalang, yang meridiannya rusak, yang dianggap tak bernilai oleh dunia.”
Jantung Lian Hua berdebar kencang. Ia membaca setiap tulisan dan gambaran di atas gulungan itu dengan saksama, menelan setiap kata seolah itu adalah air dingin di tengah padang gersang. Semakin ia membaca, semakin ia paham betapa luar biasanya teknik ini. Seni Teratai Langit tidak mengikuti alur meridian yang sudah ada, melainkan akan membentuk jalur-jalur baru sepenuhnya, mengukir jalan sendiri di dalam tubuh yang rusak. Ia akan memurnikan darah, memadatkan tulang, dan perlahan-lahan memperbaiki kerusakan yang ada—namun ada syarat berat yang tertulis jelas di sana.
“...Setiap tetes tenaga yang masuk, akan menghancurkan sedikit demi sedikit daging dan tulangmu sebelum membangunnya kembali. Rasa sakitnya bagai disayat ribuan pisau, bagai direbus dalam api, bagai ditindih gunung. Bagi yang tak memiliki tekad baja, latihan ini sama saja dengan mencari kematian,” baca Lian Hua lirih, tangannya gemetar memegang pinggiran gulungan itu.
Suara kuno itu kembali terdengar, kali ini bernada berat dan serius. “Bagian pertama yang kau terima ini bernama Bab Penyempurnaan Raga. Ia akan memulai pembentukan jalur baru dan memperbaiki kerusakan dasarmu. Namun ingatlah, rasa sakit yang akan kau rasakan jauh melebihi apa pun yang pernah kau alami. Bahkan orang yang memiliki ketabahan besar pun sering tak sanggup bertahan hingga akhir, dan berakhir hancur raga serta akalnya. Kau... masih mau melangkah ke jalan ini?”
Gulungan itu perlahan tertutup kembali, dan cahayanya meredup seolah menunggu keputusan dari pewarisnya. Di benak Lian Hua, melintas kembali bayangan malam berdarah itu: kobaran api, wajah gurunya yang jatuh tersembunyi pedang, tawa dingin para anggota Menara Darah Hitam, serta tatapan hina orang-orang yang menganggapnya sampah.
Ia teringat kata-kata A Bao, bahwa jalan biasa sudah tertutup baginya. Tanpa teknik ini, ia hanya akan menjadi anak lemah selamanya, takkan pernah bisa membalas dendam, takkan pernah bisa mengangkat kembali nama klannya yang telah hilang. Di satu sisi ada rasa sakit yang mengerikan, di sisi lain ada satu-satunya harapan yang tersisa.
Lian Hua mengangkat kepalanya, matanya yang tadi penuh ragu kini kembali tajam dan penuh api tekad. Ia berlutut di depan gulungan kuno itu, menundukkan kepala dalam penghormatan yang dalam.
“Aku mau,” jawabnya lantang dan tegas, suaranya tak sedikit pun gemetar. “Sejak malam itu, nyawaku bukan lagi milikku sendiri. Aku sudah mati saat melihat klanku hancur. Sisa hidup ini kuserahkan untuk satu tujuan: menjadi kuat, dan menuntut balas. Sakit apa pun yang akan kuderita, sesakit apa pun jalannya... aku takkan mundur selangkah pun.”
Suara kuno itu terdengar kembali, kali ini disertai getaran halus yang memenuhi seluruh ruangan. “Baiklah... Mulai hari ini, kau akan menempuh jalan yang tak pernah dilalui banyak orang. Ingatlah: teratai mekar indah, namun akarnya harus tertanam dalam lumpur paling hitam dan pahit.”
Seketika itu juga, gulungan itu meleleh menjadi cahaya keemasan yang masuk ke dalam dahi Lian Hua, mengalir ke seluruh penjuru tubuhnya, dan pengetahuan lengkap bagian pertama teknik itu tertanam rapi di dalam benaknya. Pandangannya perlahan menjadi kabur, dan kesadarannya kembali ditarik keluar dari ruangan misterius itu, kembali masuk ke raga fisiknya di dalam gubuk tua itu.
Saat matanya terbuka, hari sudah mulai beranjak pagi. Di dekat perapian, A Bao masih tertidur pulas sambil memeluk labu anggurnya. Lian Hua duduk tegak, mengingat kembali setiap urutan napas dan gerakan yang diajarkan dalam Seni Teratai Langit. Tanpa ragu, ia mulai mengatur napasnya sesuai cara baru itu, memanggil hawa di sekeliling untuk masuk ke dalam tubuhnya.
Begitu hawa pertama kali masuk dan bergerak, wajah Lian Hua seketika berubah pucat pasi. Rasa sakit yang dijanjikan itu datang seketika, jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan. Rasanya seolah ada ribuan jarum panas yang menusuk masuk ke dalam tulang-tulangnya, seolah daging-dagingnya dikoyak dan dipotong-potong satu per satu dari dalam. Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya, giginya bergemeletuk menahan siksaan yang luar biasa itu.
Meridian yang rusak itu berteriak kesakitan saat hawa baru berusaha menembus, merobek sedikit bagian yang masih tersisa, lalu perlahan membentuk jalur baru yang lebih kokoh di sampingnya. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, dari hidungnya, bahkan dari pori-pori kulitnya. Seluruh badannya gemetar hebat, seolah nyawanya akan tercabut kapan saja karena siksaan itu.
Di sudut ruangan, A Bao terbangun kaget mendengar suara rintihan tertahan. Ia menoleh, dan matanya terbelalak melihat keadaan Lian Hua. Tubuh anak itu sudah berlumuran darah, wajahnya kerut menahan sakit, namun matanya tetap terbuka lebar, menatap lurus ke depan tanpa ada bayangan penyesalan atau keinginan berhenti sedikit pun.
“Anak bodoh... kau lakukan apa pada dirimu sendiri?!” seru A Bao hendak melompat bangkit untuk menghentikannya.
Namun Lian Hua menggeleng pelan, menahan rasa sakit yang memuncak itu, dan tetap mempertahankan posisinya. Napasnya tersengal-sengal, darah makin banyak keluar membasahi lantai kayu, seolah tubuh kecilnya itu akan hancur berkeping-keping kapan saja. Meski begitu, ia tak berhenti, tak mengubah gerakannya, dan terus memaksakan diri menahan siksaan itu demi setiap inci kemajuan yang ia dapatkan.
Di tengah rasa sakit yang nyaris mematikan itu, di tengah tubuh yang terasa mau hancur berantakan, Lian Hua menggenggam erat liontin di dadanya, dan bergumam lirih di dalam hati:
Sakitlah... hancurlah... Selama aku masih bernapas, selama masih ada sepotong daging yang tersisa di tubuhku... aku akan terus berlatih. Aku akan bangkit, tak peduli seberapa berat harga yang harus kubayar.