Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Layar laptop di depanku hanya menyisakan kerlip kursor yang seolah menghitung setiap detik sisa hidupku sebagai Ghani. Di luar, hujan Yogyakarta mengguyur aspal dengan suara yang berat dan monoton, mirip dengan irama jantungku saat ini. Aku baru saja mematikan "Sam", identitas yang selama 3 tahun menjadi tameng sekaligus kutukanku. Sam adalah pria yang sanggup melenyapkan target dalam kegelapan tanpa sekali pun berkedip, tapi Sam juga pria yang menyeret Ghea masuk dalam pusaran bahaya.
Sekarang, yang tersisa hanyalah James. Seorang pria yang secara teknis tidak ada dalam basis data kependudukan mana pun, namun memiliki saldo rekening di titik nadir setelah pelarian berdarah di Rusia.
Sebuah pesan enkripsi masuk ke saluran privatku. Hanya ada satu baris alamat server dan satu kunci akses RSA 4096-bit. Aku masuk.
“Target: Vanguard Logistics. Peran: Arsitek Keamanan Sistem. Lokasi: Zurich/Frankfurt. Durasi: Infiltrasi jangka panjang (3 tahun). Kompensasi: 250.000 USD per tahun, di luar bonus operasional.”
Aku tertegun sejenak. Angka itu adalah napas buatan bagi finansialku yang sedang sekarat pasca misi di Rusia bersama Dimitri. Namun, yang membuatku benar-benar berhenti bernapas adalah syaratnya: aku harus menghilang. Total. Tidak ada kontak, tidak ada jejak, tidak ada kepulangan selama tiga tahun.
Aku melirik ke arah rumah Ghea. Aku mencintainya, kehangatannya yang tak pernah bisa dipadamkan oleh waktu. Justru karena kehangatan itulah, aku tahu aku harus pergi. Jika aku tetap di sini, musuh-musuh Sam dari masa lalu akan mencium bau darah yang selalu melekat padaku, dan mereka akan menyeret Ghea ke dalam kegelapan itu lagi.
Aku mengetik jawaban: “James accepted.”
Dua minggu berikutnya adalah proses penghancuran diri yang sistematis. Aku tidak berangkat dengan paspor Ghani. Aku berangkat sebagai Arthur Prawira, seorang konsultan IT lulusan Berlin dengan rekam jejak yang membosankan namun solid.
Aku menghabiskan malam-malam terakhir di Yogyakarta dengan hanya menatap punggung Ghea saat dia pulang ke rumahnya. Aku ingin menyentuhnya, aku ingin mendekapnya. Tapi tak bisa.
Aku tidak membawa banyak barang. Hanya satu tas taktis berisi laptop, beberapa perangkat enkripsi, dan sebuah foto Ghea yang sudah kusimpan di dalam folder tersembunyi yang terkunci biometrik. Foto itu diambil saat dia tertawa di pulau Re saat itu. Juga gelang batu alam hitam, blackstone, pemberiannya, yang tak pernah terpisah dari diriku, seolah jiwanya selalu bersamaku
Aku melangkah keluar dari kos murahku di pinggiran Yogyakarta. Hujan turun perlahan, membasuh jejak langkahku. Aku sengaja melewati jalanan dekat kampus Ghea untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan, di balik kaca mobil sewaan, aku melihatnya keluar dari gedung. Dia tampak lelah, tapi dia hidup. Dia aman.
'Tetaplah seperti itu, 'bisikku. 'Tetaplah berada di bawah cahaya, Ghea. Biarkan kegelapan menjadi bagianku saja.'
Aku berdiri di terminal keberangkatan internasional Soekarno-Hatta. Udara pengap dan aroma kopi bandara terasa mencekik. Aku mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, kacamata berbingkai hitam, dan ransel berisi laptop, penampilan sempurna seorang kutu buku teknologi yang tidak berbahaya.
Saat melewati gerbang imigrasi, jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut tertangkap, tapi karena setiap langkah menjauh dari tanah ini terasa seperti mencabut 0 jantung. Aku menyerahkan paspor Arthur Prawira. Petugas mencapnya tanpa melihat wajahku dua kali. Identitas Ghani telah resmi terkubur.
Di dalam kabin pesawat menuju Zurich, aku duduk di kursi kelas ekonomi dekat jendela. Saat pesawat mulai take-off, aku melihat kerlip lampu Jakarta yang semakin kecil di bawah sana. Aku tidak lagi merasa seperti manusia. Aku merasa seperti komponen mesin yang sedang dipindahkan ke lokasi baru.
Zurich menyambutku dengan suhu minus tiga derajat Celcius dan langit yang sewarna dengan baja. Kota ini sangat kontras dengan Jakarta yang bising, di sini semuanya teratur, sunyi, dan mahal.
Aku dijemput oleh sebuah sedan hitam di bandara Kloten. Supirnya tidak bicara, hanya memberiku sebuah amplop cokelat berisi kunci apartemen di Zurich West dan kartu akses sementara ke kantor Vanguard Logistics.
Apartemenku adalah sebuah ruangan minimalis yang steril. Tidak ada foto, tidak ada hiasan, hanya ada furnitur fungsional dan koneksi internet serat optik berkecepatan tinggi. Di sinilah James harus hidup selama tiga tahun ke depan.
Malam pertama di Zurich, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di lantai, menghadap jendela yang menampilkan deretan gedung perkantoran. Aku membuka laptop, bukan untuk bekerja, tapi untuk memeriksa protokol keamanan terakhir yang kupasang di rumah Ghea dari jarak jauh. Kamera CCTV kecil yang kusisipkan di dahan pohon depan rumah memperlihatkan Ghea sedang duduk di teras, matanya tampak kosong.
Aku tahu ini akan menjadi berat untuk Ghea, untukku, untuk kami berdua. Tapi ini adalah jalan terbaik yang bisa aku lakukan untuk memastikan keselamatannya.
Aku memasang Global Sentinel Protocol—sebuah sistem peringatan dini yang kuhubungkan ke seluruh basis data kepolisian dan intelijen di Indonesia. Jika nama "Ghea" muncul dalam radar ancaman apa pun, ponselku di Zurich akan bergetar.
Minggu-minggu awal di VanguarQd Logistics adalah ujian akting yang melelahkan. Aku harus berperan sebagai Arthur yang canggung secara sosial namun jenius dalam kriptografi. Di kantor, aku bertemu Markov, pria Rusia dengan bekas luka di alis yang menjabat sebagai kepala operasional. Dia menatapku seolah ingin membedah otakku.
“Kau bilang kau ahli dalam struktur enkripsi berlapis, Arthur?” tanya Markov dalam pertemuan pertama kami.
“Saya lebih suka menyebutnya sebagai seni menyembunyikan kebenaran di balik angka,” jawabku dengan nada datar yang sudah kulatih ribuan kali di depan cermin.
Ujian pertama datang lebih cepat dari dugaan. Markov memintaku untuk mengaudit firewall utama mereka yang baru saja mengalami serangan DDoS kecil. Aku tahu ini adalah jebakan. Mereka ingin melihat apakah aku akan mencoba mencuri data atau benar-benar memperbaikinya.
Aku bekerja selama 16 jam tanpa henti. Jariku menari di atas keyboard, menelusuri ribuan baris kode C++. Aku menemukan lubang keamanan yang sengaja mereka tinggalkan dan aku memutuskan untuk memperbaikinya dengan sangat rapi, sambil menyisipkan "pintunya sendiri" yang jauh lebih halus, yang tidak akan ditemukan oleh audit rutin mana pun.
Di akhir bulan pertama, Markov menepuk bahuku. “Kerja bagus, Arthur. Kau punya masa depan di sini.”
Malam itu, setelah pulang kerja, aku berjalan menyusuri pinggiran danau Zurich. Angin dingin menusuk tulang, tapi aku tidak merasakannya. Aku sedang menghitung. Satu bulan selesai. Tiga puluh lima bulan tersisa.
Saldo di akun operasional James mulai terisi. Gaji pertama sebagai arsitek keamanan Vanguard telah masuk.
Aku merogoh saku jaketku, menyentuh gelang batu hitam itu untuk yang kesekian kali. Kehangatan yang kurasakan saat menyentuhnya adalah satu-satunya hal yang membuatku berbeda dari robot-robot yang bekerja di Vanguard.
Sam adalah masa lalu yang penuh darah. Arthur adalah topeng yang membosankan. Tapi James... James adalah pria yang sedang menjalani hukuman pengasingan demi cinta.
Aku kembali ke apartemen, menyalakan server, dan mulai menanamkan baris kode pertama dari "Logic Bomb" yang, dalam tiga tahun ke depan, akan menghancurkan Vanguard dari dalam.
Saat aku memejamkan mata di tempat tidur yang dingin, aku membayangkan Ghea sedang bernapas dengan tenang di Yogyakarta. Aku tersenyum tipis. 'Selamat malam, Ghea,' gumamku.
Zurich tetap dingin, tapi di dalam diri James, ada cahaya yang terus menyala, cahaya yang akan membimbingnya menembus tiga tahun kegelapan ini menuju jalan yang bernama kepulangan.