Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Undangan Pesta
Setelah kejadian di papan tulis yang membuat Profesor Hedelon nyaris kehilangan akal karena takjub, Luvya dan Sellia akhirnya diantarkan ke asrama khusus tamu penting di sayap barat akademi. Kamar mereka luas, dengan dua tempat tidur empuk berkelambu tipis, jendela besar yang menghadap ke arah menara sihir, dan aroma kayu cendana yang menenangkan.
Awalnya, di dalam kepala Luvya, ia sudah menyusun garis batas yang tegas. Tetap waspada. Jaga jarak. Jangan terlalu akrab dengan Sellia. Namun, kenyataan berkata lain. Begitu pintu kamar tertutup dan mereka hanya berdua, Sellia langsung memeluk lengan Luvya sambil terisak lega.
Apa boleh buat? Di dunia yang asing dan kejam ini, mereka adalah satu-satunya pegangan bagi satu sama lain. Selama Luvya bisa mengunci rapat-rapat rahasia tentang darah Vounwad yang mengalir di tubuhnya, ia rasa persahabatan ini adalah harga kecil yang harus ia bayar demi keamanan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan akademi datang membawa nampan berisi pakaian berbahan linen halus dan piring-piring perak berisi makanan hangat.
Luvya menatap hidangan di depannya. Ada sup krim kental dengan taburan peterseli, potongan daging panggang yang empuk, dan roti gandum madu yang masih mengepulkan uap. Tanpa sadar, air liur Luvya hampir menetes.
Ia segera duduk dan mulai makan dengan lahap. Persetan dengan etiket bangsawan untuk sejenak. Setiap suapan sup hangat itu terasa seperti kemewahan yang tak nyata.
Di masa lalunya sebagai Lily, perut lapar adalah teman sehari-harinya. Ia terbiasa menghitung sisa keping koin hanya untuk membeli sepotong roti keras yang sudah hampir berjamur. Makan sampai kenyang adalah mimpi yang jarang terwujud. Kini, saat ia memiliki kesempatan untuk menikmati makanan enak tanpa harus memikirkan harga, Luvya tidak akan menyia-nyiakannya.
"Pelan-pelan, Luvya. Nanti kau tersedak," ucap Sellia sambil tersenyum kecil, meski matanya masih sembab. Ia merasa terhibur melihat cara makan Luvya yang begitu bersemangat.
Luvya berhenti sejenak dengan mulut penuh roti, lalu bergumam, "Makanan ini terlalu enak untuk didiamkan, Sellia."
Sambil terus mengunyah, mata Luvya menatap pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Ia kini mengenakan gaun tidur berwarna krem yang bersih, rambut pirang pucatnya sudah disisir rapi. Ia terlihat seperti nona muda yang terhormat, bukan lagi gadis yang meringkuk ketakutan di sudut Kuil Penitensi.
Hidup ini jauh lebih baik sekarang, batin Luvya.
Namun, rasa mual di perutnya tiba-tiba muncul lagi karena rasa takut yang masih mengintai. Ia tahu, kemewahan ini diberikan oleh Hedelon, pria yang sangat membenci ayahnya. Ia sedang menikmati makanan enak di atas meja musuh besarnya.
Aku harus menjadi sangat berguna bagi Hedelon, tekad Luvya dalam hati. Selama aku lebih berharga daripada dendamnya, aku akan selamat.
Luvya menyeka sudut bibirnya, lalu menatap Sellia yang sudah mulai terkantuk-kantuk di tempat tidurnya.
......................
Hari-hari berikutnya di Akademi, Luvya mulai menemukan ritmenya sendiri. Meskipun ia sekamar dengan Sellia dan mereka menjadi sangat dekat karena nasib yang sama, aktivitas harian mereka sangat berbeda.
Setiap pagi, Sellia akan bersiap-siap dengan seragam barunya untuk pergi ke kelas. Pamannya benar-benar menyekolahkan Sellia bersama anak-anak bangsawan lainnya. Luvya sering melihat Sellia pergi dengan wajah yang campur aduk antara semangat dan rasa minder.
Sementara itu, Luvya justru lebih sering menghabiskan waktu di dalam laboratorium pribadi Profesor Hedelon. Di sana, Luvya menjadi sosok yang tak ternilai. Hedelon yang memiliki kekuatan sihir hebat seringkali buntu dalam urusan hitungan logis, dan di sanalah Luvya masuk. Ia membantu Profesor meneliti tanaman obat, mengerjakan soal-soal matematika yang rumit, dan berdiskusi soal konsep sains yang bagi orang dunia ini terdengar sangat asing tapi masuk akal.
"Kau benar-benar tidak bisa sihir, Luvya?" tanya Hedelon suatu kali sambil menatap tabung reaksi yang baru saja Luvya stabilkan formulanya lewat hitungan. "Otakmu ini seolah-olah sudah diprogram dengan pengetahuan dari peradaban lain."
Luvya hanya tersenyum tipis. "Mungkin itu kompensasi karena aku tidak punya kekuatan sihir, Profesor."
Namun, di sela-sela kesibukannya, Luvya tidak pernah absen membaca surat kabar yang tergeletak di meja kerja Hedelon. Dari sanalah ia tahu dunia di luar sana sedang bergejolak hebat. Berita soal ekspansi besar-besaran Duke Vounwad sudah tersebar luas ke seluruh penjuru kerajaan, memicu kemarahan sekaligus ketakutan. Tak ketinggalan, kabar kematian misterius seorang pendeta tinggi di Kuil Penitensi juga menjadi tajuk berita yang panas.
Tapi, ada satu berita yang paling menyita perhatian Luvya. Sebuah artikel tentang Kael.
Pemuda itu dikabarkan ikut turun ke medan perang bersama Duke Vounwad. Surat kabar mendeskripsikannya sebagai sosok yang sangat mahir. Ia seorang jenius militer yang bergerak seperti sebuah pedang yang diberi nyawa. Kael tidak hanya memenangkan pertempuran, ia menghancurkan musuh-musuhnya dengan efisiensi yang mengerikan.
Luvya menatap gambar ilustrasi di koran itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Pedang yang diberi nyawa, ya? batin Luvya sambil meremas pinggiran kertas koran.
Ia tahu dari novel bahwa Kael adalah saudara angkatnya yang nantinya akan berpihak padanya. Namun melihat betapa mengerikannya reputasi Kael sekarang, Luvya sadar bahwa kekuatan itu adalah alasan kenapa Duke Vounwad begitu tak terkalahkan. Kael adalah senjata paling tajam milik ayahnya.
Kael, cepatlah selesaikan urusanmu di sana, pikir Luvya dalam hati. Karena suatu saat nanti, aku akan membutuhkan pedang itu untuk melindungi leherku sendiri, bukan untuk memuaskan ambisi Duke.
Luvya segera melipat koran itu saat mendengar langkah kaki Sellia yang pulang dari kelas. Ia harus kembali ke perannya, seorang gadis malang tanpa identitas yang hanya bisa bersembunyi di balik meja riset seorang profesor.
Pintu laboratorium terbuka, memecah keheningan diskusi sains antara Luvya dan Profesor Hedelon. Sellia melangkah masuk, namun kali ini ia tidak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berambut kuning cerah dengan bola mata berwarna cokelat yang hangat.
Luvya yang sedang memegang botol ekstrak tanaman langsung membeku. Tanpa perlu diperkenalkan, ia tahu siapa anak itu. Lucian Lindman.
Di usia lima belas tahun ini, Lucian belum memiliki aura kaku seorang jenderal seperti yang diceritakan di masa depan novel, namun garis wajah bangsawan tingginya sudah mulai terlihat. Luvya mendengus pelan dalam hati, mencoba bersikap acuh tak acuh dan kembali fokus pada catatannya. Baginya, Lucian adalah pusat dari plot romansa yang ingin ia hindari sebisa mungkin.
"Profesor, perkenalkan saya Lucian Lindman," ucap pemuda itu dengan sopan santun yang sempurna.
Hedelon menghentikan goresan penanya, lalu menatap mereka berdua dengan pandangan yang sulit diartikan. "Apa yang ingin kalian lakukan di sini?"
"Akan ada sebuah acara besar, Profesor. Saya datang untuk mengundang Sellia dan Anda secara pribadi ke kediaman keluarga Lindman," jawab Lucian tenang.
Mendengar itu, Hedelon menghela napas panjang dan berat. Reaksinya membuat Lucian dan Sellia sedikit terlonjak kaget. Sejujurnya, Hedelon sangat tidak suka terlibat dengan urusan keluarga kerajaan atau politik tingkat tinggi. Ia selalu menghindari undangan semacam ini demi ketenangan risetnya. Namun, ia melirik Sellia. Gadis itu tampak memiliki binar penuh harap di matanya, mungkin dorongan alami sebagai seorang bangsawan yang ingin kembali ke lingkungan sosialnya.
Hedelon membenarkan letak kacamatanya, lalu suaranya terdengar tegas namun pasrah. "Pergilah bersama Luvya. Paman harap kalian berdua dapat saling menjaga di sana."
Luvya yang sedari tadi mencoba menjadi hantu tak kasat mata di pojok ruangan, langsung tersentak. "A-aku? Aku juga ikut?"
"Ya, siapa lagi? Bukankah aku sedang bicara padamu?" sahut Hedelon ketus tapi bermaksud baik. Bagi Hedelon, Luvya adalah sosok yang jauh lebih waspada dan cerdas secara logika untuk menjaga Sellia yang masih terlalu polos.
Sellia langsung menghampiri Luvya dan memegang tangannya dengan riang. "Akhirnya! Kita akan berjalan-jalan bersama, Luvya! Aku senang sekali kau bisa ikut."
Luvya memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Ah... ya, aku juga senang, Sellia."
Namun, di dalam kepalanya, Luvya sedang berteriak frustrasi. Kenapa harus aku?! Menyebalkan sekali!
Luvya tahu betul alur novelnya. Kepergian mereka ke kediaman Lindman ini bukan sekadar pesta biasa. Ini adalah momen penting di mana Putra Mahkota Arken akan bertemu pertama kali dengan Sellia di sebuah pesta topeng rahasia. Itu adalah awal dari segala kerumitan takdir yang akan berakhir pada hukuman mati bagi sosok Luvya Vounwad di masa depan.